
“Utari apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Abi lemah.
“Melihat kalian tersiksa! Seperti hancurnya hatiku yang sudah kamu khianati!”
“Mbak, tolong lepaskan Mas Abi! Mas Abi belum makan dan harus minum obat,” mohon Kalina yang melihat Abi begitu lemah karena memang ia belum makan dan minum obat.
“Biar saja sekalian mati, jadi ... baik aku dan kamu tidak ada yang memilikinya, kan!" Utari tertawa lalu bangkit dari duduknya menghampiri Kalina. Kalina menangis masih memohon pada Utari agar melapaskan Abi.
“Baiklah, Aku beri waktu lima menit untuk kau memberi makan si tua itu. Tapi dengan syarat!” ujar Utari menjambak rambut Kalina.
“Iya, Mbak. Apapun itu syaratnya saya penuhi.”
“Bagus! Syaratnya, Serahkan semua apa yang diberikan tua bangka itu padamu, termasuk rumah ini. Kedua, tinggalkan tua bangka itu dan pergi jauh dari kehidupannya!"
“Utari!!” teriak Abi tidak terima dengan sikap istrinya yang semena-mena dengan istri keduanya.
“Kenapa? Kau keberatan!”
“Tidak Mbak? Saya tidak keberatan! Iya, saya akan menyerahkan rumah ini." Kalina hendak bangkit untuk mengambil sarapan untuk Abi, tetapi Utari menahan lagi.
“Hanya rumah ini yang kau dapat?"
“Iya, Mbak. Hanya rumah ini yang saya dapat dari Mas Abi!"
“Bohong! Mana mungkin kau hanya mendapatkan rumah sepetak ini, hah! Pasti ada yang kau sembunyikan."
“Tidak, Mbak. Tidak ada yang saya sembunyikan.” Kalina berusaha melepaskan tangan Utari yang mencengkram tangannya.
“Utari lepaskan Kalina. Aku hanya memberikan rumah ini saja padanya,” suara Abi mulai terbata-bata.
Kalina melihat Abi dan begitu cemas. Ia memohon pada Utari agar segera memberikan obat untuk Abi.“Mbak tolong Mbak, izinkan saya memberikan obat untuk Mas Abi. Tolong Mbak! ”
“Aku beri waktu lima menit."
__ADS_1
Kalina tertatih menuju ruang makan untuk mengambil sarapan Abi, lalu mengambil obatnya. Asisten rumah tangga menangis melihat kondisi Kalina yang sudah tidak berdaya tetapi ia berusaha untuk menyelamatkan suaminya. Asisten pun tidak bisa berbuat apapun sebab ia juga di ikat di kursi dan sang sopir yang menghubungi Arya pun ketahuan preman setelah menghubungi Arya, ia di ikat bersama sang Asisten.
Kalina kembali menghampiri suaminya dengan jalan tertatih membawa semangkuk bubur dan obat serta segelas air.
“Mas minum dulu ya!" ucap Kalina pelan dan masih menangis. Abi menggeleng ia merasa sudah pasrah dengan kondisinya.
“Mas...,” Kalina membantu Abi minum. Abi tidak tega melihat kondisi Kalina, ia tahu ia sedang menahan sakit di perutnya. Abi hanya bisa berdoa semoga Kalina dan calon bayinya baik-baik saja.
“Makan ya, Mas. Nanti minum obat, Hm." Kalina menyuapi Abi dengan perlahan.
Utari yang melihat pemandangan di depan matanya itu, hatinya begitu mendidih, ingin rasanya membunuh keduanya.
“Waktunya mau habis Kalina, cepat suruh tua bangka itu menghabiskan makanannya. Jika tidak!” Utari mengarahkan pistol ke arah Abi.
“I-iya, mbak. Sedikit lagi.” Kalina menyuapi Abi dengan tangan gemetaran karena ia juga belum sarapan dan hanya meminum susu. Setelah selesai menyuapi Abi, cepat-cepat Kalina memberikan obat untuk Abi.
“Mas, minum obatnya dulu ya. Jangan pikirkan aku, Aku gak apa-apa.” Kalina membantu Abi meminum obatnya.
“Sudah?" tanya Utari
“Ok! Ambil semua surat-surat rumah ini. perhiasan yang diberikan suamiku dan semua yang dari suamiku. Jika kau menyembunyikan salah satunya. Aku akan permalukan kalian dan melaporkan kalian ke polisi.”
“I-iya Mbak, saya Ambil semua.”
Kalina rela memberikan semuanya agar nama baik suami tetap terjaga. Jika ia tidak mendapatkan apapun atau memang harus berpisah dengan Abi atas paksaan Utari ia rela, Karena ia tahu akibat menikah diam-diam dengan suami seseorang.
“Kalina jangan,” lirih Abi mencegah Kalina.
“Tidak apa-apa, Mas. Rumah uang dan perhiasan bisa dicari lagi, tapi untuk kesehatan Mas saat ini lebih penting." Kalina menuju kamarnya untuk mengambil apa yang di minta Utari.
Utari tidak terima jika Istri muda suaminya itu ikut menikmati hasil kerja sang suami. Biar bagaimanapun harta suami ada hak istri sah dan itu sudah ada di undang-undang pernikahan. ingin digugat bagaimana pun, Utari tetap menang dan Kalina tahu akan hal itu, maka dari itu ia mengalah.
“Ini Mbak, surat rumah ini dan ini perhiasan yang pernah Mas Abi berikan pada saya.”
__ADS_1
Utari menarik surat dan kotak perhiasan dari tangan Kalina dengan kasar lalu ia tertawa, sebab ia berfikir begitu murahnya harga diri Kalina. Hanya di hargai rumah yang menurutnya sepetak dan perhiasan yang tidak seberapa di matanya.
“Hanya segini harga dirimu? Pelakor bodoh. Harusnya kau itu pintar menguras harta suamiku. ” Utari tertawa lalu ia bangkit menghampiri Abi.
“Abi, Aku tunggu kamu di rumah dan kamu kosongkan rumah ini, Kamu tidak berhak tinggal di rumah ini. sekarang semua ini menjadi milikku!” ujar Utari pada Abi dan Kalina sambil menodongkan pistol ke arah Kalina.
“Mama!" teriak Arya saat tiba dan melihat sang Mama sedang menodongkan pistol ke arah kalina.
“Cukup, Ma!" Arya berjalan menghampiri Utari.
“Apa yang Mama lakukan di rumah orang dan membuat keributan."
“Keributan? Rumah orang? Ini rumah Mama, rumah ini hak Mama!"
“Mama....!" geram Arya. Arya kemudian mencoba merebut pistol dari tangan Utari Namun Utari menghindar dan terjadi tarik menarik hingga akhirnya pelatuk pistol tersebut tidak sengaja tertekan oleh telunjuk Utari dan mengenai bahu Abi.
“Mas!” teriak Kalina melihat Abi tertembak.
Utari dan Arya terdiam dan melihat sang papa yang tidak sadarkan diri karena memang kondisi Abi sudah tidak memungkinkan. Preman bawaan Utari satu persatu melarikan diri saat peluru tersebut mengenai bahu Abi.
“Papa!" seru Arya lalu mengambil alih pistol tersebut dan mengeluarkan sisa pelurunya dan membuang asal, sedangkan pistolnya Arya selipkan di pinggangnya lalu cepat-cepat menolong sang Papa.
Arya melepaskan ikatan Abi sedangkan Suami Tasya melepas ikatan sopir dan asisten rumah tangga Kalina. Sementara Utari terduduk lemas melihat sang suami tidak sadarkan diri.
“Mama keterlaluan!" Seru Arya lalu membawa Abi keluar di bantu Suami Tasya di ikuti Kalina.
Kalina sudah tidak peduli dengan rasa sakit perutnya ia terus menangis melihat Abi dibawa kedalam mobil Arya.
Saat Arya hendak menutup pintu mobil, tiba-tiba Kalina juga terjatuh tidak sadarkan diri. Beruntung sang Asisten menangkapnya dari belakang.
“Nyonya! Tuan tolong, Nyonya Kalina."
“Astaga! Arya, Kalina pendarahan!" ujar Suami Tasya saat melihat darah mengalir di sela kaki Kalina.
__ADS_1
“Ayo bawa ke rumah sakit, Kak!"
Mereka berdua membawa Kalina dan Abi kerumah sakit. di perjalanan Suami Tasya menghubungi pihak rumah sakit untuk bersiap-siap menuggu kedatangan Papa dan Kalina.