PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 22 BUKAN KARENA HARTA


__ADS_3

Putra membawa Utari di ruang rapat rumah sakit, Putra berdiri melihat Utari dengan tatapan tajam dan terkesan dingin. Utari hanya bisa terdiam dan menunduk.


“Sebutkan kesalahan adikku?“ tanya Putra datar.


“Ini urusan rumah tanggaku, kak. Kaka tidak perlu repot-repot mencampurinya!“


Putra duduk di ujung meja.“ Memang bukan urusanku, tapi kau sudah membawa senjata milik Abi untuk tindakanmu itu. Kau pikir bisa seenaknya membawa senjata untuk mengacam seseorang. Adikku terkena tembakan dan karena ulahmu yang kegabah itu, Kalina kehilangan calon bayinya.”


“Jadi kakak membela pelakor itu?”


“Aku tidak membela siapapun, Kalina hadir di hidup Abi, mungkin saja itu teguran untukmu, karena aku lihat sebelum Abi dekat dan menikahi Kalina, kau sering mengabaikannya. Menurutku bukan sepenuhnya salah Abi kau juga dan Kalina juga! Tapi bukan itu yang aku permasalahan. Itu urusan rumah tangga kalian. Yang aku permasalahan adalah. Mana sejata Abi.“ Putra turun dari Meja dan mengadahkan tangannya.


“Sudah diambil Arya!“


“Yang dua lagi!”


Utari sekilas melihat putra lalu membuka tasnya dan menyerahkan dua pistol ke tangan putra. Putra tidak menyangka Utari akan nekat seperti ini, sampai-sampai mengambil tiga senjata di tempat penyimpanan senjata keluarga mereka, padahal yang bisa masuk di tempat tersebut adalah Abi dan dirinya serta Bianca.


Sebenarnya putra juga sama seperti Abi memiliki dua istri akan tetapi saat usia pernikahan dengan istri keduanya memasuki 5 tahu. Putra berterus terang dengan sang istri, dan sang istri mengikhlaskan Putra memiliki istri dan isteri keduanya harus di sembunyikan dari keluarga besar. Dari sekian banyak Keluarga besar, hanya Abi dan Arya yang mengetahui jika Putra memiliki dua istri.


“Baiklah, sekarang apa maumu setelah semua ini. Apa kau puas dengan keguguran Kalina dan Abi saat ini antara hidup dan mati? Utari, kau boleh marah, tapi tolong kendalikan emosimu. Jangan sampai Abi membenci tindakanmu. Kau tau Abi bagaimana,kan?Jika yang kau khawatirkan harta suamimu itu habis dengan istri keduanya, kau salah Utari. Kalina tidak mendapatkan apapun, kecuali rumah yang saat ini ia tempati. Kalina tulus mencintai suamimu! Bukan karena harta.”


Arya melihat tajam Utari lalu meninggalkannya di ruang rapat dokter sendirian. Sementara itu Abi sudah sadarkan diri dan saat ini di temani Tasya dan suaminya. Kondisi Abi masih lemah Namun ia terus memanggil nama Kelina, karena ia khawatir melihat Kalina babak belur di hajar Utari.


“Sya, Kalina bagaimana?“ tanya Abi lirih.


“Ada di ruangan sebelah, Pa.”


“Papa, mau melihatnya.” Abi berusaha bangun. Tetapi Tasya mencegahnya.


“Pa, Papa baru sadar, besok saja ya.”


“Sekarang, Tasya!”


Tasya melihat sang suami, suaminya mengangguk lalu mengambilkan kursi roda. Suami Tasya membantu Abi turun dari brankar dan duduk di kursi roda. Tasya dan suaminya mengantarkan Abi ke ruangan rawat inap Kalina.


Saat Tasya membuka pintu, Abi melihat Kemala menangis dalam posisi tidur setengah bersadar di sandaran brankar. Kalina menangis karena tahu bayinya sudah tiada.

__ADS_1


“Kalina," panggil Abi lalu menghampirinya.


Air mata Kalina semakin deras membasahi pipinya. Abi mengusap air matanya lalu menggenggam tangannya.


“Maafkan aku, Lin.”


“Mas tidak salah, aku yang salah. Aku yang meminta Maaf dan aku minta maaf tidak bisa menjaga calon anak kita." Kalina terisak sambil menggenggam tangan Abi.


Abi mengerutkan keningnya, apa yang di maksud Kalina. Abi melihat Tasya yang berdiri di belakangnya.


“Kalina keguguran, Pa!“ ujar Tasya mengusap pundak Abi.


Abi memijit pangkal hidungnya, ia juga meneteskan air mata dan menyayangkan sikap Utari sampai membuat Kalina keguguran.


“Utari!!“ Teriak Abi begitu emosi dan hendak bangkit dari kursi roda, tetapi Tasya menahannya.


“Pa, tenang! Percuma Papa marah. Akan menambah masalah tambah panjang, pa. Papa tahu Mama seperti apa?“


“Tapi Mamamu sudah keterlaluan, Sya!”


“Pa, kita juga tidak bisa menyalahkan Mama sepenuhnya. Mama berbuat seperti itu karena nalurinya sebagai istri yang Suaminya medua. Tolong! Papa fokus saja dengan kesehatan Papa. Nanti kita selesaikan baik-baik, kalau situasinya sudah memungkinkan. Mama masih di liputi amarah, Pa.“


“Baik, Pa. Tasya tunggu di luar. Ayo Mas!“ Tasya meraih lengan suaminya dan berjalan keluar ruangan.


Abi bangkit dari kursi rodanya dan langsung memeluk Kalina. Mereka menangis berdua atas kehilangan bayi yang mereka harapkan. Begitu hancur hati Kalina dan pupus sudah ingin memiliki anak dari orang yang ia cintai. Apalagi anak yang ia kandung berjenis kelamin laki-laki seperti yang ia harapkan.


Sementara itu Arya dan Kemala berada di rumah, Arya duduk di ruang tengah sambil melihat sang anak bermain di temani Narti, Nasya dan Kemala.


Arya sesekali tersenyum saat melihat tingkah lucu sang anak yang sedang bermain, Namun pikiranny masih memikirkan orang tuanya. Arya menghela nafas panjang dan memijit pangkal hidungnya. Memikirkan itu semua membuat kepalanya sakit.


“Mala, sayang!“ panggil Arya.


Kemala menoleh melihat suaminya. “ Ya, Mas!”


“Kemari!"


Kemala beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Arya, Arya menepuk sofa agar sang istri duduk. Setelah Kemala duduk Arya berbaring di pangkuan Kemala dan menarik tangannya agar mengusap-usap rambutnya.

__ADS_1


“Mas, kenapa?” tanya Kemala sambil mengusap rambut sang Suami.


“Kepala Mas sakit.” Arya memeluk perut Kemala.


“Aku ambilkan obat ya?"


Arya menggeleng dan justru tangannya masuk kedalam kaos Kemala mengusap punggungnya.“ Boleh minta obat lain?” Arya melepas kaitan penutup dada Kemala.


“Mas ..., kenapa di lepas?“ pekik Kemala menepuk lengan Arya.


“Mau.”


“Iya, tapi jangan disini. lagian ini siang Mas.”


Arya mengangkat kepalanya dan melihat wajah Kemala yang berubah bersemu merah karena malu. “ Ke kamar yuk!“ ajak Arya.


“Mas....”


“Ayo!“


Keduanya bangkit lalu bergandengan tangan menuju kamar, namun sebelum sampai ke kamar Arya menoleh ke arah anak-anak lebih dulu kemudian melihat Narti. Arya menyuruh Kemala maduk ke dalam kamar lebih dulu.


“Narti!” panggil Arya.


“Ya tuan. pastikan anak-anak jangan mengetuk pintu kamarku dulu! Mau dinas!”


“Hah? Oh iya, tuan siap! berapa menit tuan?” tanya Narti di iringi tawa kecil karena tahu maksud sang majikan.


“Gak lama, setengah jam.”


“Siap tuan. Kembar lagi ya tuan!”


“Ah, kau ini.” Arya menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam kamar dan menguncinya.


Kemala tertawa melihat sang suami karena mendengar percakapan dengan Narti. Arya berjalan menghampiri Kemala sambil membuka kemejanya lalu membuangnya asal. Sedangkan Kemala Sedati tadi sudah membuka bajunya dan bersembunyi di balik selimut.


Arya sedikit demi sedikit menarik selimutnya dan melihat gunung kembar Kemala. Ia tersenyum begitu juga Kemala.“ Mas mau obat sakit kepala yang seperti ini.”

__ADS_1


“Hm.” Arya mulai menerkam Kemala dan mereka pun melakukannya siang hari.


Suara rintihan nikmat Kemala sejenak membuat Arya melupakan semua beban dan masalah dalam keluarganya. Setidaknya untuk sesaat dan rasa sakit di kepalanya hilang.


__ADS_2