PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
41 PENYESALAN UTARI


__ADS_3

Arya selesai mengurusi administrasi Utari kemudian mengantarkan Utari untuk pulang kerumah. Namun saat berjalan di lorong rumah sakit Arya dan Utari berpas-pasan dengan Abi dan Kalina. Abi yang sedang cek up kesehatan ditemani Kalina untuk pertama kali setelah Abi resmi bercerai dengan Utari.


"Pa, Mau kemana?” tanya Arya.


Abi sekilas melihat Utari begitu juga Utari yang melihat Abi begitu mesra dengan Kalina. Utari melihat Abi tengah merangkul pinggang Kalina.


"Biasa, cek up kesehatan. Sekalian Kalina mau periksa kandungannya."


"Ha? Memangnya hamil lagi?” tanya Arya tidak habis pikir dengan pasangan tua tersebut.


"Tidak, Arya. Hanya periksa saja. Karena beberapa bulan ini setiap datang bulan terasa nyeri, aku takut efek waktu keguguran dulu,“ jawab Kalina sambil sekilas melihat Utari yang duduk diam di kursi rodanya.


"Oh, aku pikir, aku mau punya adik, aku harap jangan.”


'Plak' Abi meneplak kepala Arya bagian belakang.


"Aduh! Malu, Pa!”


"Kalau iya kenapa, Tidak merepotkan kamu, kan. Mungkin lucu ya, setua kamu punya adik lagi!” Abi tertawa begitu juga Kalina dan Arya tapi tidak dengan Utari ia hanya diam dan merasa jijik dengan pernyataan Abi. Tetapi dalam hatinya ia begitu iri melihat Kalina yang datang ke rumah sakit di temani sang suami. Apalagi Utari tahu betul jika Abi begitu mementingkan dan perhatian dengan keluarga.


"Terserah Papa, Papa yang buat!” saut Arya lalu tertawa kecil kemudian meninggalkan Abi sambil mendorong kursi roda sang Mama.


"Banyak anak banyak rejeki!” seru Abi sebelum Arya begitu jauh. Namun Arya hanya mengacungkan jempolnya.


Utari sedikit menoleh ke arah belakang melihat Abi dan Kalina yang berjalan, Ada rasa sesal dihati Utari mengapa dulu ia bermain Api dengan pria muda dan mengabaikan sang suami. Hingga Abi diam-diam menikahi Kalina.


"Penyesalan memang datang terlambat, Ma.“ ucap Arya sambil terus berjalan tanpa melihat ekspresi wajah sang Mama yang saat ini sudah meneteskan air mata, di tambah melihat pacarnya yang kemarin kecelakaan bersamanya di jemput wanita lain dan masih begitu muda.


Utari hanya diam dan hanya itu yang bisa ia lakukan. Menyesal, sudah pasti. Tetapi penyesalan memang datang diakhir.


"Mama mau pulang kerumah Arya atau Tara?” tanya Arya saat di dalam mobil.


"Ke rumah Mama sendiri. Rumah orang tua Mama,” balas Utari pelan.

__ADS_1


"Tapi disana Mama dengan siapa?"


"Ada pembantu disana."


"Ma..."


"Tidak usah banyak bertanya Arya, Mama mau sendiri an di rumah Nenek Kamu!”


Arya menghela nafas Panjang lalu melajukan mobilnya, Arya tahu hati sang Mama sedang tidak baik-baik saja. Tapi Arya tidak bisa berbuat banyak, jika harus memaksa sang Mama ikut bersamanya, ia tahu sang Mama belum menyukai Kemala. Mungkin untuk sementara waktu Arya membiarkan sang Mama merenung semua kesalahannya.


Sesampainya di rumah Arya membantu sang Mama turun dari mobil dan memapahnya masuk kedalam. Di dalam rumah Utari sudah di sambut pembantu rumahnya. Pembantu yang hanya membersihkan rumahnya setelah itu pulang jika rumah sudah bersih.


"Silahkan, Bu. Kamarnya sudah saya bersihkan.”


Utari mengangguk lalu Arya mengantarkan Utari ke kamar. Utari duduk bersandar disandaran tempat tidur.


"Bi, tolong masak buat makan siang ya, mulai hari ini saya tinggal disini," titah Utari pada pembantunya.


"Baik, Bu.” Si Bibi pun langsung keluar dari kamar Utari.


"Tidak usah, kamu pulang saja, nanti anak-anakmu mencarimu, istrimu juga lagi hamil, kan. Mama mau menenangkan pikiran. Mama juga mau menyelesaikan pekerjaan Mama yang belum selesai.”


"Ma....”


"Pulanglah, Mama tidak apa-apa." Utari tersenyum tipis lalu mengusap pundak sang anak.


"Baiklah. Kalau ada apa-apa hubungi Arya atau Tara."


"Hm."


Arya kemudian menyalami Utari kemudian ia pulang ke rumah. Saat Arya pulang, Utari menangis menyesali semua perbuatannya. mengenang masa-masa kecil saat bersama orang tuanya dan kakaknya, ia juga mengenang awal pertemuannya bersama Abi sampai menikah dan mempunyai anak. Utari mengambil ponselnya dan melihat foto masa mudanya saat bersama mantan suaminya.


"Maafkan aku, Abi. Maafkan aku, aku khilaf dan sudah mengabaikan dirimu bahkan menduakanmu sebelum kamu bersama Kalina. Semua sudah terlambat, Hubungan kita sudah berakhir. Maafkan aku. Jujur aku merindukanmu masa-masa kita muda dulu.”

__ADS_1


Utari hanya bisa menangis sambil mendekap erat ponselnya. Ia kini kesepian dan tidak tahu harus memperbaiki hubungannya dengan keluarga Abi dari mana.


Disisi lain Arya begitu khawatir dengan Mamanya. Sepanjang perjalanan pulang ia terus memikirkan sang Mama yang kini memilih tinggal sendiri di rumah lama, rumah peninggalan orang tua Utari. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Mamanya.


Sesampainya di rumah, rupanya Kemala sedang membaca buku tentang kehamilan di temani Zidan yang duduk di sampingnya, sedangkan Zea tertidur dan berbaring di sofa satunya dengan posisi tengkurap. Arya tersenyum dan diam-diame menghampiri ketiganya. Arya mencium pucuk rambut Kemala dari belakang membuat Kemala tersentak dan menoleh kebelakang.


"Mas! Bikin kaget saja! Aku pikir tadi siapa?” seru Kemala.


"Papa!“seru Zidan dan meminta gendong.


"Maaf sayang,vamu pulang tidak memberitahumu.” Arya mengusap lembut pipi Kemala.


"Papa, Zea tadi marah sama Mama gara-gara Mama pegang foto Mama Lau.”


"Tidak apa-apa, Zidan. Mama tidak apa-apa. Tidak usah mengadu sama Papa, Adek Zea baik sama Mama, hanya saja Mama tidak boleh memegang foto Mama Lau,” jawab Kemala tersenyum dan melihat sang suami yang kini duduk di sampingnya sambil memangku Zidan.


"Maafkan Zea ya. Zea Mungkin belum bisa menerima kamu sebagai Ibunya. Aku berharap dengan kesabaranmu, suatu Saat Zea mengerti dan menerimamu seutuhnya sebagai Mama dan istri papanya. ” Arya mencium pipi Kemala sambil mengusap perutnya.


"Tidak apa-apa, Mas. Nantinya lambat laun Zea pasti mengerti. Zea anak pintar. ”


Arya tersenyum dengan kesabaran hati sang istri yang tahan dengan sikap sang anak yang terkadang keterlaluan padanya. Jika sudah seperti itu Arya hanya bisa menasehati sang anak agar bisa berbuat sopan pada Kemala.


"Oh,. iya Mas. Bagaimana keadaan Mama,” tanya Kemala yang masih di tempat duduknya


“Sudah pulang dari rumah sakit. Tapi, Mama pulang ke rumah Nenek tidak mau pulang ke rumah sendiri."


"Oh, tapi Mama sama siapa di rumah Almarhum Nenek?” Kemala khawatir dengan kondisi Utari dan saat inialah tinggal sendirian.


"Ada pembantu disana.”


"Mas, Apa tidak sebaiknya kita menani Mama di sana."


"Mama sedang tidak mau diganggui!”

__ADS_1


"Oh." Kemala terdiam sambil meletakkan bukunya di meja.


__ADS_2