PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
42 BUKAN MANUSIA SEMPURNA


__ADS_3

Arya berjalan menuju ruangannya, ia hanya tersenyum saat beberapa karyawannya menyapa dirinya, sesekali ia juga mengerlingkan matanya pada karyawan baru dan itu dilihat sang Papa dari balik jendela besar ruangannya, Abi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak. Sesampainya di ruangannya ia terkejut melihat Abi sudah ada di ruangannya di pagi hari.


"Papa bikin orang kaget saja!” cicit Arya sambil terus berjalan ke mejanya.


"Tumben kamu datang sedikit terlambat.” Abi duduk di kursi di semberang meja Arya.


"Biasa, minta jatah pagi dulu.”


"Hm! Pantes pagi-pagi udah semangat tepar pesona.” Kedua terkekeh.


"Oh, iya. Bagaimana keadaan Mamamu?” tanya Abi.


"Ck! katanya sudah tidak peduli. Masih ingin tahu kabar Mama!”


Abi melihat Arya lalu tersenyum tipis, hanya ingin tahu saja apa salahnya. Tidak mudah Arya 40 tahun hidup bersama lalu melupakan begitu saja. bukan untuk ingin kembali, tapi lebih ke rasa kasihan sama Mamamu.”


"I see. Kabar Mama baik. Tapi sudah beberapa hari ini Mama ada di rumah almarhum Nenek. Kemarin katanya setelah pulih, Mama mau ke Belanda, mau berkunjung ke saudara Kakek disana, sekaligus menenangkan diri dan liburan.”


"Kamu tidak ikut, Sekalian Zarah ke makan kakek kamu di belanda.“


Arya berfikir sejenak, ia tidak mungkin meninggalkan Kemala yang sedang hamil dan membutuhkan dirinya. Apalagi saat ini Kemala begitu manja di kehamilan 4 bulan.


"Sepertinya tidak, Pa. Bagaimana dengan Kemala, mans mungkin aku meninggalkan dia dengan anak-anak."


"Whatever! Ya sudah, kalau begitu Papa mau kembali bekerja."


"Ok, oh iya, terima kasih ya, Pa.”


Abi mengerutkan keningnya dalam rangka apa sang anak berucap 'Terima kasih'


"For what?”


"Papa sudah menjadi Ayah yang terbaik untuk kita semua.” Arya sambil menyodorkan beberapa berkas pada Abi.


Abi tersenyum lalu ia bangkit dari duduknya sambil menerima Map tersebut.“ Papa hanya menjalankan peran sebagai orang tua. Papa masih banyak kekurangan, Arya. Mungkin di mata kalian, Papa yang terbaik, tapi Papa bukan suami terbaik untuk Mamamu. papa tidak bisa membimbing Mamamu, apalagi mempertahankan rumah tangga Papa dan Mama. Manusia tidak ada yang sempurna.” Abi menepuk lengan sang Anak kemudian keluar dari ruangan Arya sambil membawa berkas yang di bawa Arya.


"Papa benar, manusia tidak ada yang sempurna.” Arya tersenyum lalu melihat foto pernikahan bersama Kemala, ia juga mengingat rumah tangganya bersama kedua mantan istrinya. Terlebih bersama Bella yang hancur karena ulah sang Mama dan tidak tegas dirinya dalam bersikap.


"Bella, Reyhan. Semoga dirimu selalu bahagia. Papa Arya juga merindukanmu, Reyhan.”


Arya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, menepis bayangan Bella dan Reyhan. bagaimanapun dari bayi Reyhan bersamanya dan ada ikatan tersendiri di hatinya.


"Permisi, tuan.” Salah satu karyawannya masuk ke ruangan Arya.

__ADS_1


"Masuk! Ada apa, apa sudah waktunya meeting?”


"Maaf, tuan. Ada tamu dari kemarin mencari Anda!” ucap karyawan tersebut.


"Siapa?"


"Tuan Aldo!”


Arya mengerutkan dahinya dan mengingat nama tersebut, sepertinya tidak asing tetapi Arya lupa siapa Aldo."Suruh dia masuk!”


"Baik, tuan.” Karyawan tersebut keluar untuk memanggil orang yang bernama Aldo.


"Hai, Arya!” sapa Aldo saat masuk ke ruangan Arya.


"Ais... kau! Aku pikir siapa?” Mereka berdua bersalaman dan sekilas saling memeluk.


Aldo adalah teman Arya semasa SMA dan juga seorang pengusaha di bidang perkebunan. Ia datang hanya sekedar silaturahmi.


"Apa kabar, bro!” tanya Aldo sambil duduk di kursi.


"Ya begini lah. Dalam rangak apa datang ke sini?” tanya Arya.


“Ada pertemuan, ya bisnis lah. Biasa sekalian liburan Oh iya, aku lihat-lihat kau makin berumur, makin gagah saja sekarang,” puji Aldo melihat Arya yang semakin hari semakin gagah, tampan dan berwibawa.


"Kau bisa saja! Kau juga sama. Di usia kita ini memang Sedang matang-matangnya.” Mereka berdua pun tertawa mengingat usia mereka yang sudah 40 tahun, Akan tetapi mereka begitu di gandrungi banyak wanita yang jauh lebih muda.


“Aku sudah lama menduda, aku berpisah dengan istriku 5 tahun lalu!”


"Oh, Sorry!”


"No problem! Istrimu sendiri? Aku dengar kamu sudah menikah lagi?”


"Ya, begitulah. Istriku saat ini sedang hamil 4 bulan.”


“Kakak!” teriak seseorang yang masuk tiba-tiba.


"Astaga Aira! Kamu bisa ketuk pintu dulu, tidak!”


Aldo melihat Aira dan tersenyum tipis. Aira juga melihat Aldo sekilas. Aira adalah anak Putra dari istri kedua, usianya baru 23 tahun dan baru saja bergabung di perusahaan setelah selesai kuliah dari luar negri.


"He ... maaf kak. Ini berkas dari Papa. Nanti meeting jam 11 siang di restoran tempat biasa, dilanjut makan siang dengan klien baru."


"Ya sudah. Kamu kembali kerja, oh iya tolong bilang sama OB suruh bawakan kopi dua ke ruanganku.”

__ADS_1


"Ok! Sampai ketemu nanti. permisi! Mari tuan!” Aira tersenyum ke arah Aldo lalu ia keluar ruangan.


"Siapa, Karyawanmu, kok manggilnya Kakak, adik kamu?” tanya Aldo penasaran.


"Adik sepupu. Anak paman Putra dari istri keduanya.”


"Ouh! Cantik!” ucap Aldo tanpa sadar memuji kecantikan Aira.


Arya hanya tersenyum tipis mendengar ucapan temannya itu dan memaklumi pujiannya itu hanya sebatas kekaguman seorang pria terhadap wanita. Akan tetapi yang sebenarnya Aldo benar-benar kagum dengan Aira dan ingin mengenalnya lebih jauh.


"Ya sudah, kalau begitu aku permisi. Maaf sudah mengganggu jam kerjamu.” Aldo bangkit dari duduknya di ikuti Arya mereka pun bersalaman.


"Santai saja. Oh iya, malam Jumat ini datang lah ke rumah, aku mau mengadakan 4 bulanan kehamilan istriku!”


"Ok, aku usahakan. Tapi aku tidak janji. You now, aku juga sibuk!”


"Halah, sibuk apa?”


Aldo tertawa kecil lalu berbisik di telinga Arya.“ Sibuk cari anak gadis!” Kedua tertawa.


"Pokoknya sebelum kau kembali ke Kalimantan, kau harus mampir dulu ke ruamhku. Nanti aku kenalkan dengan istri baruku!"


"Ok! Sampai ketemu nanti!” Aldo kemudian pamit.


Setelah Aldo pergi Arya kembali bekerja seperti biasa, Menyelesaikan pekerjaan seperti biasa. Setelah itu Ia bersiap untuk ke restoran untuk meeting. Tetapi sebelumnya bia ke ruangan Bima.


"Bim, bahan meeting untuk nanti Mana?” tanya Arya sambil berjalan masuk ke ruangan Bima.


"Sama Aira! Berangkat Sekarang?”


"Iya, nanti-nanti malah macet orang istirahat makan siang. Ayo Ra!” ajak Arya.


"Iya!” balas Aira sambil bangkit dari duduknya dan membawa tas serta berkasnya.


Mereka bertiga keluar dan berjalan menuju lift.


"Kak, tadi di ruangan kakak siapa?” tanya Aira pada Arya saat di dalam lift.


Arya melihat Aira sekilas lalu fokus ke layar ponselnya kembali.


"Temanku? Kenapa?”


"Gak tanya saja!”

__ADS_1


"Ora usah genit-genit. lagi kerja juga. Fokus kerja dulu.”


"Dih, sopo seng genit. Kakak itu yang genit.” Aira mengerutkan bibirnya dan melihat kesal Arya.


__ADS_2