
Arya memandangi keluarga besarnya satu persatu saat hari pernikahan Aira dan Aldo, hanya sang Mama yang tidak ada di barisan saat sesi foto-foto. Begitu juga Istri pertama Putra ia tidak ikut berfoto melainkan hanya duduk di sudut tempat acara. Entah kenapa sang Bibi tidak mau ikut berfoto. Setelah selesai sesi foto, Arya menghampiri istri pertama Putra.
"Bibi, Kenpa tidak mau ikut foto?” tanya Arya duduk di sebelah Lisa.
“Bibi kan orang luar di keluarga istri kedua pamanmu. Walau Bibi istri Pamanmu, tapi tetap saja orang luar sama seperti Mamamu, jika Bibi di ceraikan Pamanmu, putra. Bibi hanyalah orang biasa. Lagian Bibi tidak di ajak berfoto tuan rumah. Bibi datang kemari hanya menghormati suami Bibi, pamanmu.”
Arya melihat Lisa yang tersenyum manis, senyum yang seolah terpaksa. Arya tahu, walau Lisa mengikhlaskan Putra menikah lagi, hati wanita mana yang rela di duakan.
"Kenapa Bibi, masih bertahan dengan paman?” tanya Arya.
Lisa tersenyum dan membuat guratan keriput wajahnya terlihat jelas, Namun masih ada sisa kecantikannya di masa muda."Bima dan Bibi tidak mempunyai siapa-siapa selain pamanmu. Kau tahu Bibi hanya mempunyai satu anak, yaitu Bima. Bibi begitu sulit memberikan keturunan lagi untuk Pamanmu, sedangkan pamanmu ingin sekali mempunyai anak perempuan dan sekarang Pamanmu sudah menikahkan adikmu, kan. ” Lisa tersenyum dan mengusap pundak Arya. Arya melihat ada rasa yang tercekat di tenggorokan Lisa. terlihat jelas Lisa ingin menangis menahan sakit bertahun-tahun. Tetapi ia bisa apa?
“Bibi, kalau mau menangis, menangis saja. Menangis saja di pundak Arya, Bi. Tidak apa-apa. Maafkan paman Putra, Bi.”
“Air mata Bibi rasanya sudah kering Arya! Bibi sudah tua tidak pantas menangis lagi. Sudah, kembalilah bergabung. Bibi mau ke toilet.” Lisa bangkit dari duduknya dan menuju toilet.
Arya hanya bisa memandangi Lisa berjalan menuju toilet. Arya yakin Lisa pasti menangis disana. Arya bangkit kemudian bergabung kembali bersama yang lainnya.
"Aldo, selamat ya, aku harap kau selalu menjaga adikku. Dan ... jangan kau duakan.” Arya menyalami Aldo.
“Aku tak sebrengsek sepertimu!”
"Ku pegang ucapammu! Aku tahu aku brengsek, tapi sebrengseknya seorang kakak, tidak akan pernah rela melihat adiknya disakiti.”
"Mas!” panggil Kemala tiba-tiba, Kemala menghampiri Arya dengan membawa piring berisikan kue dan makanan ringan lainnya serta buah
"Ini.” Kemala menyerahkan salah satu piringnya pada Arya.
Arya menerimanya lalu mereka duduk di kursi, Kemala makan kudapan kue hidangan begitu lahap terutama buah segarnya. Arya tersenyum mengusap perut sang istri kemudian memberikan buah yang ada di piringnya untuk Kemala.
“Ini lagi!”
__ADS_1
“Mas?”
“Kuenya saja.”
Kemala begitu senang kemudian ia memakan buah dari sang suami.“ Terima ya Mas.”
Arya mengedarkan pandangannya kembali melihat keluarga besar istri kedua Putra dan juga melihat Istri kedua pamannya itu begitu cantik dan masih muda, seumuran dengan Kalina. Tampak Putra begitu bahagia melihat putrinya bahagia di hari pernikahannya.
“Sayang, Aku kesana dulu ya. Mau bicara dengan Paman sebentar.”
"Hem! Iya, jangan lama-lama ya.”
Arya tersenyum lalu bangkit duduknya menghampiri Putra. Arya ingin membicarakan sesuatu tentang Lisa, sang Bibi.
“Paman, bisa bicara sebentar?”
"Apa?” jawabnya datar.
"Ya sudah, kalian bicara berdua. Aku temui tamu yang lain.” Istri muda Putra pun meninggalkan mereka.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Putra datar seperti biasa dan masih di tempat duduknya
"Bibi Lisa.” Arya duduk di samping Putra.
"Kenapa dengan Bibimu?”
"Paman, Apa selama ini Paman tahu isi hati, Bibi setelah Paman menikahi Bibi Sarah?”
“Maksudmu?”.
“Maksudku, Apa Paman yakin Bibi bener rela di madu?”
__ADS_1
"Bibimu sudah memberikan izin, Yah ... awalnya memang cara paman yang salah, tapi seiring waktu Bibi menerima dan memberikan izin pada Paman. why? there is something wrong?"
“Aku juga tidak lebih baik, paman. Tapi aku tau, Wanita manapun tidak akan pernah mau di duakan. Jika wanita mengatakan bisa atau sanggup di madu, itu hanya di bibirnya saja. Bibi Lisa memberikan izin karena Bibi begitu mencintai paman dan mempertahankan rumah tangganya hanya demi anak. Coba paman lebih sering di rumah Bibi Liza, lihatlah guratan wajahnya. Lihat lah sorot matanya yang paling dalam. Bibi memang sudah tua paman, tidak secantik dulu. Tapi percayalah Beliau sangat kesepian walau ia merasa masih mempunyai suami. Apalagi Bibi tinggal di rumah sendirian bersama beberapa asisten rumah tangga, Bima ... Bima sudah berkeluarga dan mempunyai rumah sendiri. Bibi butuh teman di masa tuanya, paman.”
"Kau tidak perlu mengajari paman tentang hal ini. Paman yang lebih tahu tentang Bibimu!”
“Paman yakin mengetahui semuanya?” Arya tersenyum miring melihat Putra yang memamg sedari dulu keras kepala dan dingin, bahkan terkenal tidak mempunyai perasaan belas kasihan pada siapapun.
“Apa tadi Paman mengajak Bibi berfoto bersama? Apa Bibi Sarah pernah bicara dengan Bibi Lisa, hanya sekedar menanyakan kabar? Apa tadi Bibi Sarah menyambut kedatangan Bibi Lisa? Apa Paman tahu Bibi tidak mengambil makanan yang dihidangkan dipesta ini, Bahkan minum pun tidak.”
Arya tersenyum lalu menepuk pundak Putra.“ Jangan sampai menyesal setelah Bibi tiada, Paman. Bibi sudah 65 tahun. Saat menikah dengan Paman, ia begitu berharap menua bersama paman dan menikmati masa tuanya, tapi nyatanya. Bibi memendam sesuatu yang tidak paman ketahui.”
Arya kemudian meninggalkan Putra yang terdiam. Entah apa saat ini yang ada di pikiran Putra. Putra kemudian bangkit dari duduknya dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Lisa. Nihil Lisa tidak ada di tempat duduknya.
Arya kemudian mengajak Kemala dan anak-anak pulang karena acara sudah hampir selesai. Arya berpamitan pada Sarah dan kedua mempelai.
"Bibi, kami pulang ya," pamit Arya menyalami Sarah.
“Cepat sekali, Menginap disini ya!”
"Terima kasih, Bi. Tapi Mama di ruang Sendirian, Maaf Mama tidak bisa datang. Hari ini Mama sibuk di butik.”
"Iya, tidak apa-apa. Bibi memaklumi kesibukan Mama Utarimu.”
Arya hanya tersenyum lalu beralih pada Aira dan Aldo.“ Ra, Aldo! Kami pamit. Sekali lagi selamat atas pernikahan. Di tunggu hari resepsinya bulan depan.”
"Iya terima kasih, Iya tunggu saja undangannya. Dan terima kasih sudah menjadi jalan untuk kami berdua.”
Arya tersenyum melihat Aldo dan Aira tampak bahagia. Berkat Dirinya mereka bisa bersatu, tentunya Aldo bisa meyakinkan Putra.
"Ok! Kami pamit.” Mereka semua bersalaman.
__ADS_1
Setelah berpamitan Arya dan anak istrinya pun bergegas pulang karena hari makin sore sedangkan sang Mama sudah pasti menunggu kepulangannya.