PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 11 BERHARAP BUKAN MIMPI


__ADS_3

Kemala sedang berada di halte dan menunggu angkotan umum. Ia pulang memang terpisah dari Arya, Karena memang sudah kesepakatan perjanjian sebelum menikah demi menyembunyikan status mereka. Saat menunggu angkutan umum tiba-tiba seseorang menjambak rambutnya.


“Dasar anak tidak tau diri!”


Kemala merintih kesakitan dan berusaha melapaskan Jambakan tangan pria tersebut dari rambutnya. Rupanya itu adalah sang Ayah yang sudah mengetahui jika anaknya menikah tanpa meminta izin dengannya.


Semua orang yang melihat begitu ketakutan, karena Ayah Kemala datang tidak hanya sendiri, melainkan dengan anak buahnya.


“Ayah, sakit! lepaskan rambut Mala!”


“Dengar anak sialan! Kau sudah aku besarkan, dan saat menikah kau melupakan Ayahnya begitu saja. Hah!” Ayahnya masih mencengkeram rambut Kemala.


“Maafkan Kemala, Yah! Iya Kemala yang salah.”


“Mana uang yang di berikan suami kayamu itu. Berikan pada Ayah!”


“Uang yang mana, Yah. Suamiku orang biasa pekerjaannya sama denganku!”


Kemala terpaksa berbohong karena tidak ingin Ayahnya menyentuh sang suami apalagi sampai melukainya dan tidak ingin sang Ayah mengetahui jika Arya bosnya, Kemala takut Arya akan dimanfaatkan uangnya.


“Bohong! Tetangga pak lekmu yang mengatakan semuanya. Dasar anak sialan.” Ayahnya memukul wajah Kemala berulang kali sampai Kemala tersungkur.


“Stop! kalian gila! Dia perempuan, kenapa main hajar!” cegah seseorang yang berada di halte.


Anak buah Ayah Kemala pun langsung menghampiri pria tersebut dan juga menghajarnya.


“Kau siapa? Ini urusan Ayah dan anak yang tidak tahu diri!” ucap Ayah Kemala mendorong pria yang membela Kemala.


Ayah Kemala menghampiri Kemala yang setengah sadar dan tersungkur di halte. Ayahnya merampas tas dan mengambil semua uang Kemala yang di berikan Arya tadi pagi lalu melemparkan tas tersebut di wajah Kemala, setelah itu Ayahnya pergi begitu saja dengan anak buahnya.


Setelah mereka pergi, Kemala di tolong Ibu-ibu yang juga sedang di halte. Ibu-ibu tersebut ada yang memapah Kemala untuk duduk di kursi halte ada juga yang mengambilkan tasnya.


Tampak Kemala begitu kesakitan, wajahnya memerah, hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Air matanya terus mengalir di sudut mata sayunya. Kemala merasakan sakit Dari seluruh tubuh mungilnya. Rasanya ia ingin sekali mengakhiri hidup.


Abi sang mertua tidak sengaja melihat kerumunan di halte pun menyuruh sopirnya untuk memperlambat laju mobilnya. Betapa terkejutnya saat melihat Kemala menangis dan wajahnya babak belur. Abi segera memerintahkan sang sopir menepi lalu ia membuka jasnya kemudian ia turun dari mobil.

__ADS_1


“Kemala! Kamu kenapa bisa begini?” tanya Abi cemas.


“Maaf, tuan Anda siapa?” tanya Ibu-ibu yang berada di halte dan juga yang menolong kemala.


“Maaf, Bu ini boş saya, saya bekerja di gedung itu." lirih Kemala sambil menujuk gedung tinggi di sebrang jalan.


"Aduh pak. tolong di bawa ke rumah sakit, tadi ada yang memukulinya, merampas uangnya. Orang itu mengaku Ayah Mbak ini.” sambung Si Ibu.


“Tidak perlu, tuan. ini tidak ada apa-apa. Biar di obati di rumah saja.” Kemala bangkit dan akhirnya ia tidak sadarkan diri, beruntung Abi langsung menangkapnya.


“Kemala! Astaga! tolong bantu bawa ke mobil, Riyan! Buka pintu mobilnya!” Titah Abi di akhir Kalimatnya pada sang sopir.


Abi akhirnya membawa Kemala ke rumah sakit terdekat. saat di perjalanan Abi menghubungi Arya.


“Ya, Pa!” suara Arya terdengar di sambungan ponselnya.


“Kampret! Nang di kuwe?” tanya Abi bercampur cemas.


“Ono opo, tah? Aku wes neng omah Karo bocah-bocah.”


“Hah! Halah! Malah di matiin telpone!” Arya bergegas keluar dari kamar dan hanya mengenakan celna pendek dan kaos oblong. Ia meraih kunci mobil yang ia letakkan di laci meja televisi.


“Zea! Zidan! Ma! Aku pergi dulu. Ada hal penting!” Arya berlari tanpa melihat sang Mama dan kedua anaknya melongo melihatnya.


“Hal penting apa, kalau kerjaan kenapa gak sekalian di kerjakan. Persis kayak Papa, kamu itu!” grutu Utari sambil melihat Arya menghilang di balik pintu.


Sepanjang perjalanan Arya begitu cemas, seharusnya ia tidak membiarkan Kemala pulang sendirian lagi. Walau ia tidak mencintainya tepatnya belum mencintainya. Tetapi, setelah Kemala menyadang status sebagai istrinya, Kemala adalah tanggung jawabnya.


Sesampainya di rumah sakit ia langsung ke IGD. Ia masuk dan melihat sang Papa yang sedang duduk di kursi tunggu.


“Pa! Bagaimana keadaan Mala?” tanya Arya cemas, panik, bercampur menjadi satu.


“Kau lihat saja sendiri, dia belum sadar.”


Arya menyibak satu persatu tirai di IGD dan menemukan Kemala yang wajahnya penuh luka. Mata dan pipi serta pelapisnya lebam. Arya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia tidak percaya ada yang setiga ini menghajar seorang wanita. terlebih istrinya. Arya meraih jemari tangan Maka dan mengusapnya. Ia memperhatikan pergelangan tangan istrinya yang begitu kecil. Membayangkan bagaimana tubuh mungil ini bisa melawannya, sudah pasti tidak bisa.

__ADS_1


“Permisi, Apa Anda Keluarga pasien?” tanya suster yang datang membawa berkas administrasi.


“Iya, sus. Saya Suaminya.”


Suster tersebut melongo melihat Arya lalu melihat Kemala. Sungguh perbedaan usia yang sangat jauh.


“Kenapa melihat saya seperti itu, Sus?”


“Ah, Tidak apa-apa, tuan. Tolong administrasi di urus lebih dulu.” suster tersebut lalu menyerahkan kertasnya kemudian pergi meninggalkan Arya.


Arya menghela nafas panjang sambil melihat Kemala. Kemudian ia keluar menemui sang Papa.“ Pa, pinjam dulu kredit card. Aku lupa bawa dompet.”


Abi melihat Arya sekilas begitu panikkah sang Anak sampai lupa membawa dompet. Abi kemudian mengeluarkan dompet dan memberikan kredit cardnya pada Arya.“ Password tanggal pernikahan Mama dan Papa,” ujar Abi.


Arya pun segera menuju bagian administrasi untuk membayar semua tagihan pengobatan sang istri. Setelah membayar semua Arya kembali ke IGD.


“Ini, Pa. Nanti aku ganti!” Ujar Arya memberikan kartu kreditnya pada Abi.


“Tidak perlu. Ya sudah, kalau begitu Papa pulang dulu. Kamu jaga itu istri kamu. Papa mau pulang ke rumah Kalina. Adikmu Demam.” Abi menepuk pundak Arya lalu meninggalkan Arya. Arya kemudian menghampiri Kemala.


“Kemala? Kamu sudah sadar?” tanya Arya melihat Kemala hendak bangkit.


“Tuan,” lirihnya sambil memegangi kepalanya. Arya segera membantu Kemala berbaring dan mengusap lembut rambutnya.


“Istirahat dulu. Maafkan aku sudah menyuruhmu pulang sendirian.” Arya mengusap kening Kemala.


Kemala tersenyum tipis,” Tidak apa-apa. Saya sudah biasa seperti ini.” Kemala bangkit dan duduk melihat Arya yang saat ini begitu peduli dengannya.


“Iya, tapi ini yang terakhir kali. Besok kamu tidak lagi boleh bekerja, dan urusan Ayahmu menjadi urusanku.” Arya kemudian memeluk Kemala.


Kemala terharu dengan perlakuan Arya yang mau memeluknya di saat ia membutuhkan pelukan ketenangan. Kemala menangis dan memeluk erta suaminya. Berharap saat ini bukanlah mimpi


***


__ADS_1


__ADS_2