
Arya duduk disofa menunggu kedatangan Kemala. Rupanya setelah sang Anak tidur, Arya langsung pergi ke hotelnya. Arya masih penasaran dengan kisah hidup Kemala, yang sepertinya banyak di rundung permasalahan keluarga. Apalagi Ayahnya tega memukul dan menyiksa Kemala seperti bukan anak kandungnya sendiri.
Arya mendengar langkah kaki masuk kedalam kamarnya. Ia tersenyum melihat Kemala yang sudah datang. Arya sepertinya biasa, masih menyembunyikan identitasnya. Arya memakai topeng Zero. Kemala tersenyum melihat Arya, kali ini ia sedikit berani. Sudah kepala tanggung, rusak ya sudah rusak saja sekalian.
“Kau sudah datang. Kali ini kau terlihat seksi,” puji Arya. Kemala tersenyum dan duduk di sampingnya. Kemala mengambil gelas wine dari tangan Arya lalu meminumnya.
“Bisa kita mulai, tuan?”
Arya merasa tertantang melihat keberanian Kemala yang saat ini begitu agresif. Arya menarik tengkuk Kemala dan mereka mulai bercumbu di atas sofa.
Arya memandangi punggung Kemala, tampak ada bekas luka memar bekas sebetan beda, walau dengan pencahayaan yang tidak begitu terang luka itu begitu jelas di mata Arya. Arya mengusap punggungnya dengan lembut dan mengecupnya.
“Semua akan baik-baik saja, Mala,” batin Arya dan yak lama mengakhiri permainannya.
Arya memeluk mesra Kemala, mencoba memberikan kenyamanan. Tak lama Arya membuka topengnya. lalu tersenyum melihat Kemala yang masih memejamkan mata mengatur nafasnya. Pelahan Kemala tersenyum lalu membuka matanya. Arya menghidupkan Lambu kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Kemala.
“Kemala!" panggil Arya dengan suara seperti di kantor. Kemala terkejut dan melebarkan matanya. Sontak dengan ragu ia menolah kebelakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat wajah bosnya.
“Tuan Arya!” Kemala bangkit dan duduk sedikit menjauh sambil menutupi tubuhnya Dangan selimut.
“Ya, ini aku. Kenapa?”
“Jadi tuan yang selama ini tidur dengan saya?”
Arya tersenyum lalu mendekati kemala.” Iya, karena aku dari awal menyukaimu.” Arya menarik lembut Kemala lalu mendekapnya.
Jantung Kemala rasanya ingin kepada dari tempatnya. Bagaimana tidak awal pertama bertemu Arya ia juga sudah tertarik dengan rupanya yang rupawan, dewasa dan tegas serta peduli dengan semua karyawannya. Tetapi tidak lama Kemala sedikit mendorong Arya. Ia malu sudah menjadi karyawan yang tidak memiliki moral.
“Tuan, Maafkan saya. Saya harus pulang.” Kemala berusaha turun dari tempat tidur. Namun Arya mencegahnya.
“Mau kemana? Aku tahu dalam pikiranmu itu. Tenang saja. Di kantor kita seperti biasa. Aku tahu kamu melakukan ini demi Ibu kamu, kan? Aku akan membiayai pengobatan Ibu kamu, jika perlu memindahkan ke rumah sakit besar agar mendapatkan penanganan yang maksimal.”
__ADS_1
“Tapi tuan, uang yang tuan berikan sudah lebih dari cukup.”
“Kemala. Bahkan jika kau mau menjadi simpanku. Hidupmu dan Ibumu serta adikmu akan saya jamin. Tidak perlu lagi menjadi penyanyi Club.”
Kemala berfikir sejenak, Ia melihat raut wajah Arya yang tampak serius, tetapi Ia tidak akan pernah mau menjadi simpanan saja. “Saya tidak mau menjadi simpanan,” ucap Kemala pasti.
“Lalu?” tanya Arya.
“Nikahi saya!”
Seketika raut wajah Arya berubah, ia tidak menyangka wanita di depannya ini akan meminta lebih. Arya mencengkeram kedua Pipi Kemala dan melihatnya tajam. Beraninya ia meminta status yang tidak mungkin ia berikan begitu saja. Latar belakangnya saja Arya belum mengetahui secara pasti. Namun Arya juga berfikir, gadis di depannya saat ini mungkin sudah putus asa dengan semua yang sudah terjadi dalam hidupnya. Penyiksaan yang di lakukan Ayahnya ini lah mungkin yang membuat Kemala mengambil jalan pintas. Apalagi kehormatannya sudah ia gadaikan demi keluarganya.
Kemala tersenyum tipis melihat Arya lalu menarik tangan Arya dari pipinya. ia tahu, Mana mungkin seorang bos besar dan terhormat mau menikahinya, walau kehormatannya sudah ia serahkan padanya.
"Tidak apa-apa. Jika tuan tidak mau. Saya sadar, posisi saya. Saya melakukan ini semua juga Memang demi Ibu saya dan untuk sekolah adik saya.”
“Baiklah tapi hanya sebatas pernikahan di atas kertas. Tetapi jangan pernah berharap aku bisa mencintaimu. Aku memang tertarik denganmu tapi tidak untuk mencintai. Tenang saja, Hakmu sebagai istri akan aku penuhi dan juga keluargamu. Tentunya Kau juga harus memberikan hak ku.”
“Baik, saya setuju!” jawab Kemala dengan tegas. Kemala sudah tidak memikirkan lagi dirinya. Yang terpenting Ibu dan adiknya yang saat ini masih sekolah menengah atas.
“Deal, kita menikah minggu depan. Aku akan temui Ayahmu.”
"Jangan temui Ayah. Ayah pasti tidak akan pernah setuju saya menikah.”
“Kenapa?”
“Ayah tidak akan pernah mau menikahkan saya, tuan!” Kemala menangis mengingat semua ucapan sang Ayah yang tidak mau menikahkan dirinya dengan alasan jika dirinya hanya pembawa sial dan jika sampai itu terjadi sang Ayah tidak akan segan-segan menghabisi calon sang anak seperti tahun sebelumnya.
“Kau tenang saja. Biar orangku yang menangani Ayahmu, agar ia bisa menikahkan kita.”
Kemala menggeleng sambil memegang lengan Arya. “Jangan tuan. Jangan Ayah. Temui pak lek saya saja. Adik ayah.” Kemala takut nyawa Arya teracam dan dirinya sudah pasti vakan disiksa sama seperti saat bersama kekasihnya yang dahulu. Beruntung kekasihnya dahulu tidak sampai meregang nyawa.
__ADS_1
Arya melihat lekat sorot mata Kemala, terlihat jelas ada rasa ketakutan tersendiri. Rasa takut yang tidak bisa di ungkapkan.
Kemala menarik selimutnya dan menutupi rapat-rapat tubuhnya. Sesekali melihat Arya yang kini sudah duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Walau begitu, tangannya bermain di paha Kemala.
“Stop, tuan! Jangan semakin ke atas.”
“Kenapa?”
Kemala tersenyum tipis.“Geli, sakit.”
“Tapi kamu menikmati, kan.”
“Bukan itu tuan. Bekas luka saya sakit. Ini!” Kemala menyibsk selimutnya dan memperlihatkan beberapa luka di pahanya. Luka bekas sabetan ikat pinggang.
Arya melihatnya tidak percaya, kemudian Ia menarik selimutnya dan melihat semua bekas luka di hampir sekujur tubuh Kemala.
“Yang ini luka baru?” tanya Arya melihat paha dan lengan Kemala yang terdapat luka baru. Kemala hanya mengangguk sambil meringis menahan sakit saat Arya meraba luka tersebut.
“Kapan?”
“Tadi sebelum berangkat ke club, Makanya saya selama memakai dres lengan panjang.”
Arya melihat Kemala begitu kasihan lalu ia mengambil ponsel dan memfoto semua lukanya.
“Apa yang tuan lakukan?” tanya Kemala sambil menarik selimutnya kembali.
“Ini untuk barang bukti, Mala. Ayah kamu bisa kamu laporkan.”
“Tidak, tuan. Ibu saya sangat mencintai Ayah. Bagaimana jika Ibu sadar dari koma dan tahu ayah di penjara. Saya bisa di amuk Ibu saya.
Arya menghela nafas panjang lalu mengusap kasar wajahnya, Ia tidak tahu keluarga seperti apa yang di miliki Kemala
__ADS_1