
Arya berjalan kesana kemari di depan ruang operasi. Ia cemas dengan kondisi Abi dan Kalina yang sedang di tangani dokter. Ia juga memikirkan sang Mama yang saat ini entah masih di rumah Kalina atau sudah pergi. Arya tidak menyangka sang Mama bisa senekat itu untuk balas dendam. Mama yang dulu ia kenal lembut kini berubah bak singa kelaparan. Ia juga tidak bisa menyalahkan sang Mama, kenapa bisa seperti itu, ia juga tidak membenarkan tindakan sang Mama yang mengancam nyawa seseorang.
Abi menikahi asisten pribadinya karena sang istri tidak lagi memperhatikan dirinya dan lebih sering bersama teman dan geng arisannya, bahkan saat sang anak menikah sering kali ikut campur urusan rumah tangga Arya, hingga rumah tangga Arya hancur. Sebelum menikahi Kalina, Abi selalu protes kenapa sang istri lebih sibuk dengan teman-temannya hingga lupa kewajibannya sebagai istri. inilah yang memicu Abi menikahi wanita lain.
“Keluarga Nyonya Kalina?" seru suster yang baru saja keluar.
“Ya sus,” jawab Arya menghampiri suster di depan ruangan oprasi.
“Maaf, Anda suaminya?”
“Bukan, saya Anak dari suaminya."
“Ouh! Maaf. Silahkan tuan, dokter ingin bicara dengan tuan."
Arya bergegas masuk ke ruangan dan menemui dokter yang menangani Kalina. Arya semakin cemas saat melihat raut wajah dokter.
“Dok, bagaimana kondisi Kalina dan calon bayinya?" tanya Arya.
“Maaf tuan, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, Janin Nyonya kalina tidak bisa diselamatkan. Maafkan kami harus melakukan tindakan karena ini juga menyangkut nyawa sang Ibu. Sang ibu banyak kehilangan darah saat di perjalanan menuju kemari, beruntung persediaan darah yang sesuai dengan pasien masih ada di rumah sakit.” jelas dokter.
“Astaga, Mama!" batin Arya yang tidak menyangka tindakan Mamanya sudah menghilangkan calon adiknya dan hampir merenggut nyawa Kalina dan sang Papa.
“Iya, dok. Terima kasih atas segala usahanya. Tapi kondisi pasien bagaimana?”
“Pasien belum sadarkan diri karena pengaruh bius dan sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang rawat inap."
“Baik dok. Terima kasih.” Arya menyalami sang dokter, sang dokter kemudian meninggalkan Arya.
“Maaf tuan, janin Nyonya Kalina mau di kubur hari ini juga atau nanti?" tanya suster.
“Memangnya sudah berapa bulan, sus?”
“Sekitar 5 bulan lebih."
Deq, Arya memejamkan matanya, ia teringat almarhum anaknya bersama Bella yang meninggal akibat kecelakaan.
“Segera kami urus, sus. Tolong persiapkan semua apa saja yang di butuhkan, setelah selesai nanti temui saya.”
__ADS_1
“Baik tuan.” Abi kemudian meninggalkan ruangan dimana Kalina ditangani, ia kembali di mana Abi sedang di oprasi.
“Mas! Bagaimana keadaan Papa dan Bu kalina?” tanya Kemala yang baru saja datang bersama Tasya.
Arya memeluk Kemala dan mencium pucuk rambutnya.”Papa masih di oprasi untuk mengeluarkan peluru di pundaknya. Kalina... dia kehilangan calon bayinya.”
“Astaga!" Kemala tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari bibir sang suami. Kemala duduk di kursi dan meneteskan air mata. Ia prihatin dengan situasi yang di alami Kalina. Ia hanya berempati sesama wanita walau ia tahu tindakan kalina menjadi orang ketiga dari pernikahan Mertuanya itu tidak dibenarkan. Terlepas dari itu semua Kalina juga istri dari mertuanya dan anak-anaknya mereka terlahir setelah adanya pernikahan.
“Sya, apa kamu bertemu dengan Mama?" tanya Arya duduk di samping sang adik yang sedang menangis di pundak suaminya.
“Tidak, kak. Saat tiba di rumah Kalina, hanya sopir dan pembantu saja yang di rumah. Rumah Kalina begitu kacau, semua berserakan. Aku memerintahkan orang kita untuk mencari keberadaan Mama. Astaga! Nasya bagaimana?” Ujar Tasya tiba-tiba teringat sang adik yang tidak tau apa-apa.
“Kak, Nasya bagaimana?"
“Sudah, Baron nanti akan menjemputnya dan mengurus Nasya, aku sudah berpesan dengan Baron untuk menjemputnya.” Arya sudah menghubungi sopir Abi untuk menjemput Nasya ke sekolah dan Mengurusnya di rumah.
“Mas, aku ke kantin ya. Aku belikan minum,” ujar Kemala pada Abi.
“Iya.“
“Uang.“
“Kamu gak bawa dompet?“ tanya Arya dan Kemala menggeleng.
“Tadi Mbak Tasya asal narik aku biat nyusul Mas. Jadi tidak sempat ambil tas.“
Arya tersenyum lalu mengeluarkan dompetnya dari kantong celananya lalu mengeluarkan 3 lembar uang warna merah muda pada Kemala untuk membeli minuman.
“Mas, ini kebanyakan kalau cuma untuk membeli minuman.“
“Tidak apa, beli juga makanan atau cemilan buat adik ipar kamu itu.“ Arya melihat Tasya lesu di pelukan sang suami.
“Ok.“ Kemala tersenyum lalu Arya mengusap lembut kepalanya. Kemudian Kemala bangkit dan berjalan menuju kantin.
Saat Kemala ke kantin tidak lama Utari ternyata datang dan langsung menghampiri Arya. " Arya!" panggil Utari.
“Mama!“ Arya melihat Utari dengan wajah tanpa ada rasa penyesalan dan masih dengan raut wajah angkuh dan marah yang terpendam.
__ADS_1
“Bagaimana Papamu? Sudah mati? Terus wanita setan itu apa juga ikut mati?" tanyanya ketus pada Arya.
Arya mengadakan wajahnya ke langit-langit rumah sakit, ia begitu menahan amarah terhadap sang Mama, yang semakin tua tidak menyikapi masalah dengan elegan dan kepala dingin dan justru semakin menjadi-jadi.
Tasya melihat sang Mama, pandangannya tentang Mamanya juga sama seperti Arya, tapi Tasya saat ini masih aduh menahan emosinya, karena bagaimana pun Utari adalah Mamanya dan ia kini sedang mengandung.
“Mama bisa tidak, ada rasa belas kasihan terhadap Papa dan Kalina, sedikit saja!“ ujar Arya penuh penekanan.
“Belas kasihan!“ Utari tertawa sambil mengibaskan satu tangannya ke arah Arya.
“Untuk apa aku belas kasihan dengan duo pengkhianat itu. Salah atau tidaknya Mama, mama tetap pemenangnya. Mama bisa saja melaporkan Kalina dan Papamu ke polisi dengan pasal perkawinan."
“Iya, Arya tau itu. Tapi dalam kepercayaan kita hukum suami menikah lagi tanpa izin istri pertama sah secara syariat dan itu dibolehkan. Sebab, laki-laki diperbolehkan poligami yakni menikahi perempuan lebih dari satu dan mereka sah di mata tuhan, Ma. Hanya saja tidak sah di hukum negara kita."
“Terserah apa katamu! Yang jelas wanita murahan itu harus pergi dari kehidupan Papa. Mama tidak peduli!“ Utari melipat tangannya, pandangannya beralih ke arah Kemala yang baru saja datang membawa beberapa minuman.
Kemala begitu takut melihat Mertuanya, ia menunduk saat Utari memperhatikan wajahnya. Utari berjalan ke arah Kemala, membuat Kemala semakin ketakutan.
“Oh! Kau masih mendekati Putraku? Kau yakin Putraku itu mencintaimu? Kau itu bukan tipe Putraku. Atau jangan-jangan kau juga mengincar harta Putra ku seperti kalina? Apa yang sudah kau dapat selama menggoda Aryaku?"
“Mama! Jangan keterlaluan! Kemala itu isteriku, istri pilihanku!"
“Siapa yang merestui kalian menikah? Kau tahu dia Siapa? Pendidikan terakhirnya apa? Dari keluarga baik-baik atau tidak? Bebet, bibit, bobotnya apa? Kamu sudah tahu, hah? Latar belakangnya apa? Baik atau tidak untuk anak-anakmu."
“Cukup, Ma! Mama selalu menghina pilihanku! Apa Mama sudah lupa latar belakang Mama sendiri yang hanya anak tukang sayur, pendidikan mama hanya D3 perhotelan sebelum Mama bertemu papa. Mama sadar tidak, yang mengangkat derajat mama itu keluarga Papa? Jangan lupakan asal usul Mama sendiri!"
Tasya yang mendengar semuanya hanya bisa menangis, kenapa sang Mama bisa sejahat dan seburuk itu menilai seseorang. Bahkan sebelum tahu sang Papa menikah lagi.
‘Plakk!' Utari menampar Arya. “ Beraninya kau membentak Mamamu hanya karena wanita rendahan sepertinya!“ Utari menujuk Kemala.
“Cukup! Ini rumah sakit, Tolong jaga sikap kalian.“ Suara Putra tiba-tiba menggelegar di lorong ruang operasi.
Sejenak suasana menjadi hening setelah semua mendengar suara Putra, kakak kandung Abi. Hanya terdengar suara langkah kakinya yang melangkah menghampiri Utari dan Arya. Putra mengetahui semuanya karena Tasya memberitahunya.
“Arya, kau urus jenazah janin anak Kalina. Lalu kau pulang, urusi adikmu Nasya dan anak-anakmu sendiri. Yang di sini urusanku.“ ujar Putra pada Arya akan tetapi tatapan matanya tetus melihat Utari.
Utari tertunduk melihat Putra, sebab sedari dulu memang Putra yang ia takuti.
__ADS_1