
“Diam dulu, Mas. Tidak perlu ikut pegang. Ini gak bisa masuk, lubangnya kecil. Sudah sini biar aku saja yang masukin pelan-pelan,” ucap Kemala membuat Tasya terbelalak mendengar di balik pintu dapur.
“Lagian begini di dapur! Aku, kan mau masak.”
“Sudah belum? di **** dulu biar gampang masuk!" ujar Arya. Membuat jantung Tasya deq-deqan takut ada yang melihat kelakuan mereka berdua di dapur.
“Kalian berdua ngapain di da....” Tasya tidak melanjutkan kalimatnya lantaran Kemala dan Arya melihatnya.
“Ini Mbak kancing baju Mas Arya lepas, jadi saya mau masukin benang ke jarum, mau jait kancingnya,” ucap Kemala lalu melanjutkan memasukkan benang ke lubang jarum.
Tasya menggaruk kepalanya sedangkan Arya tertawa terpingkal-pingkal karena tahu apa yang ada dalam pikiran sang adik.
“Pikiramu jorok!" Arya masih tertawa di hadapan Kemala yang sedang memasang kancing bajunya dan menjaitnya.
“Habisnya omongan kalian itu absurd, Siapa saja pasti salah paham. Udah Ah? Aku mau buat kopi buat ayang." Tasya membelakangi mereka dan membuat kopi untuk sang suami
Kemala masih menjahit kancing baju Arya dan Arya hanya bisa memandangi sambil mengusap-usap pinggang sang istri.
“Mas bisa diam tidak. Dadanya nanti ketusuk jarum. Mana aku harus jinjit,” grutu Kemala. mendengar sang istri menggerutu dan kesusahan memasang kancingnya sebab Arya begitu tinggi sedangkan dirinya hanya sedada sang suami. Arya tersenyum lalu mengangkat Kemala ke meja.
“Uwaa!! Mas!!"
“Nah, gak jinjit lagi! lagian 25 tahun kayak anak SMA." Canda Arya meraih pinggang Kemala.
“Badan Mas saja ya tinggi besar! He ... sudah rapi.” Kemala tersenyum lalu memeluk Arya.
“Tapi kamu suka, kan."
“Apaan sih mas.” Kemala tersenyum malu dan masih memeluk Arya.
Kemala begitu bahagia mendapatkan kasih sayang dari Arya selama ini. Kasih sayang yang tidak pernah ia rasakan dari sang Papa. Arya membalas pelukannya dan mencium pucuk rambutnya. Memandangi wajah istrinya.
“Euleh, euleh! Mesranya, Sampai gak lihat orang disini. Ya Mbok!” sindir Tasya melihat geli sang kakak bersama salah satu asisten rumah tangga Arya yang baru saja masuk ke dapur.
“Ndak apa-apa, Non. Malah Mbok seneng lihatnya." keduanya tertawa begitu juga Kemala dan Arya yang masih berpelukan.
__ADS_1
“Ya sudah, Mas. Aku siapkan sarapan dulu ya,” ujar Kemala hendak turun dari meja.
“Tidak usah, Hari ini biar si Mbok saja yang membuat sarapan.” Arya mendekatkan wajah dan mencium bibir Kemala.
‘Pakk!' Tasya menepuk punggung Arya. “ Iseh esuk, Ojo ceplokan."
“Ganggu wae! Sana-sana!" usir Arya, Tasya hanya tertawa sambil menggoda Kemala dan sukses membuat Kemala tertunduk malu sekaligus senang.
“Mas! Sudah, malu! Turunin aku!” rengek Kemala menggoyangkan bahu Arya.
Arya tersenyum lalu mengangkat Kemala untuk turun dari atas meja. Arya merangkul Kemala menuju kursi meja makan dan duduk sembari menunggu Si Mbok membuat sarapan sederhana. Si Mbok membuat jus jeruk hangat dan roti bakar keju.
Sangat terlihat jelas saat ini Arya begitu tergila-gila dengan Kemala. Bahkan ia juga tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Begitu juga Kemala, semakin hari ia mencintai suaminya yang usianya terpaut cukup jauh dari. Bukan itu saja, Kemala semakin menyayangi Arya, sebab Arya begitu perhatian dan selalu membuat dirinya nyaman dan Aman.
Mereka makan bersama, tidak ketinggalan anak-anak serta Tasya dan suaminya. Mereka saling bercanda dan menggoda satu sama lain. Hingga Arya di kejutkan deringan ponsel miliknya. Arya melihat layar ponselnya yang rupanya dari sopir sang Papa.
“Baron?" Arya kemudian menjawab sambungan ponselnya.
“Ya, Ron! Ada apa!”
“Astaga! Baiklah Saya segera kesana!" Arya memutuskan sambungan Ponselnya.
“Sayang kamu di rumah saja. Kak, Kaka ikut saya. Tasya di rumah saja!” ujar Arya pada Kemala agar di rumah bersama Tasya dan Mengajak Suami Tasya ke rumah Kalina.
“Ada apa, Mas?" tanya Kemala yang ikut cemas kat melihat sang suami yang juga panik.
“Mama membawa beberapa orang ke rumah Kalina dan mengamuk di sana."
Tasya tersedak dan melihat Arya.“ Serius?”
“Kau tahu Mama, kan?" Arya bangkit kemudian berlari kecil di ikuti Suami Tasya.
Kemala dan Tasya melongo melihat suami-suami mereka pergi. “Kemala, sepertinya kita tidak bisa diam di rumah. Aku yakut Mama nekat.” ujar Tasya.
“Tapi , Mas Arya menyuruh kita di rumah Mbak!"
__ADS_1
“Ah! Persetan. Ayo ikut!” Tasya menarik Kemala keluar dari rumah, Namun sebelumnya Tasya mengambil kunci mobilnya.
Sementara itu di kediaman Kalina, suasana begitu mencekam. Utari menyandra Kalina dan sang suami, Hati Utari begitu sakit mengingat pengkhianatan Abi selama 11 tahun terakhir. Dirinya seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun sampai sang suami menikah lagi pun ia tidak mengetahui sama sekali dan memang dirinya Bodoh.
Utari menampar pipi Kalina tanpa ampun sampai Kalina tersungkur di lantai, Utari tidak peduli jika Kalina sedang mengandung anak suaminya. Sedangkan Abi tidak bisa berbuat apapun karena di ikat orang bawaan Utari, dan entah darimana Utari mendapat beberapa preman untuk membantu aksinya balas dendam. Abi tidak bisa melawan karena ia masih sangat lemah. Beruntung Nasya sudah berangkat ke sekolah, jika tidak mungkin akan menjadi amukan Utari.
“Ampun Mbak! Saya salah! Maafkan saya sudah menjalin hubungan dengan Mas Abi." Mohon Kalina sambil memegangi perutnya.
“Maaf, kamu pikir mudah memaafkan kelakuan wanita murahan sepertimu! Murahan yang mau dengan suami orang!" balas Utari dengan nada tinggi sambil mengangkat dagu Kalina dengan menggunakan pistol.
“Ma! Cukup! Kalina sedang hamil, jangan perlakukan dia seperti itu.”
“Hei... lalu aku harus bagaimana tuan Abi sayang! menjambaknya seperti ini!” Utari menarik rambut Kalina sampai Kalina kesakitan dan mengikut arah Jambakan Utari.
“Tolong lepaskan, Mbak! Sakit!" Kalina memegangi tangan Utari yang menjambaknya.
“Utari jangan keterlaluan kamu! letakkan pistol itu dan lepaskan Kalina!” teriak Abi.
Utari tertawa lalu menghempaskan Kalina begitu saja hingga tersungkur. Kamudian Utari berjalan menghampiri Abi. Utari tertawa sinis dan menatap tajam ke arah Suaminya.
“Mana taringmu yang dulu, Abi. Sudah tumpul? Kenapa sekarang melawan beberapa orang saja sudah kalah, UPS! Aku lupa kalau kamu cuma jago di ranjang bersama istri simpananmu itu. Bagaimana rasanya. Sepertinya ini kah?” Utari mengrayangi bagian inti Abi dan mengusap-usap membuat Abi semakin geram dengan kelakuan isteri pertamanya itu.
“Nikamat? Kalau begini nikmat tidak?” Utari meremas bagian inti Abi begitu kuat hingga Abi menjerit kesakitan. preman bawaan Utari pun tertawa melihatnya.
“Nikmat, Kan? Nikmat dong, masak tidak?” Utari tertawa lalu seketika merubah ekspresi wajahnya dengan tatapan marah kemudian menampar Abi dan memukuli wajahnya.
Kalina yang melihat berusaha bangkit dan menghampiri Abi. ” Cukup, Mbak! Mas Abi kondisinya masuh lemah, tolong jangan perlakukan beliau seperti ini. Cukup aku saja yang Mbak pukul.” Mohon Kalina di hadapan Utari sambil berlutut dan menangis serta menahan rasa kontraksi di perutnya.
Utari hanya tertawa lalu ia duduk di kursi di hadapan Abi lalu melihat Kalina yang menangis melihat Abi babak belur oleh ulah Utari.
“Mas, Mas gak apa-apa. Mana yang sakit, dadanya sakit lagi atau tidak?" Kalina memegang rahang sang suami dan dadanya untuk memastikan bagian mana saja yang sakit.
Abi melihat Kalina dengan dengan pandangan kebur dan berusaha baik-baik saja. “ Tidak apa-apa,” lirih Abi.
Utari begitu jijik melihat pemandangan di hadapannya dan juga menahan air matanya. Tak lama ia menembakkan peluru ke langit rumah membuat semuanya terkejut.
__ADS_1