
“Mas, mbak Utari masuk rumah sakit?” tanya Kalina.
“Darimana kamu tau?” tanya Abi melihat sang istri yang juga melihatnya.
"Tadi aku telepon Kemala, tanya kabar sedang apa, katanya lagi di rumah sakit, Dia bilang Ibunya sudah sadar terus bilang kalau Mbak Utari kecelakaan.”
Abi membuang pandangannya lalu tersenyum tipis. Abi bersikap biasa saja membuat Kalina heran, Kenapa sang Suami tidak lagi peduli.
"Kok, Mas biasa saja, Mas tidak menjenguk mbak Utari?”
"Untuk apa? Ada anak-anaknya disana. Aku dan Utari sudah tidak ada ikatan apapun.”
“Mas ... tapi mbak Utari, kan Ibu dari anak-anak Mas.”
Abi tertawa lalu beranjak dan menghampiri Kalina yang duduk di kursi didepan mesin jahit.“ Anak-anakku bersama Utari sudah dewasa, sudah tua. Sudah tidak membutuhkan perhatian orang tuanya. Mereka sudah mempunyai pasangan dan kehidupan masing-masing, sama seperti kita.”
Kalina tersenyum lalu meraih tangan Abi.“ Kamu pasti hanya ingin menjaga perasaanku, kan. Tidak apa-apa kalau memang hanya ingin menjenguk, nanti kita ke sana.”
"Tidak, Lin! Aku tidak mau. Situasinya masih panas. Sudah biarkan saja. Urus rumah tangga kita saja. Kamu jangan memikirkan yang tidak perlu kamu pikirkan, Pikrakan Keluarga kecil kita saja. ” Abi mengusap lembut pipi Kalina.
"Iya, Mas. Maaf! Aku hanya prihatin dengan Mbak Utari.”
Abi tersenyum lalu mengecup kening Kalina, Abi memang sudah tidak ingin lagi ikut campur dengan urusan mantan istrinya. Ia hanya ingin fokus dengan keluarganya yang sekarang, menata hidup dimasa tua dan mempersiapkan biaya untuk putri kecilnya yang masih butuh banyak biaya. Ia sadar setelah bercerai dengan Utari, Abi benar-benar dari nol, dan tidak mempunyai apapun. Semua aset dari ia masih bujangan diambil alih oleh Utari dan harta bersama sudah di bagi-bagi untuk anak-anaknya.
Bahkan sampai saat ini Abi masih menggunakan mobil milik orang tuanya, dan masih mengumpulkan dana untuk membeli kendaraan dan memberikan tempat tinggal yang layak untuk ansk istrinya. Ia juga sedang membuka jalan untuk sang istri agar keinginan sang istri menjadi seorang disainer bisa terwujud dan mempunyai brand sendiri. Bukan untuk menyaingi Utari yang sudah mempunyai nama dan brand sendiri akan tetapi Abi akan selalu mendukung orang yang dicintainya. Ia yakin Kalina mempunyai konsep sendiri tanpa harus bersaing dengan Utari.
"Sekarang tidur ya, sudah malam. Maafkan aku belum bisa membahagiakan kamu dan Nasya.”
"Mas ini ngomong apa, sih! Bersamamu di masa tua saja sudah membuat aku bahagia. Cuma satu yang aku khawatirkan, Nasya. Kita sudah tua tapi Nasya masih SD. Bagaimana nasibnya nanti kalau kita sudah tidak ada?”
"Masih ada kakak-kakaknya, Om, tantenya juga banyak."
__ADS_1
"Tapi itu merepotkan Om dan tantenya, Mas. Apalagi kakaknya.”
"Tidak sayang, Om, tantenya, apa lagi Kakaknya tidak akan menelantarkan Nasya dan selagi aku masih hidup, Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak kita dan bekal hidup serta ilmu bagaimana cara menghadapi kehidupan.”
“Terima kasih, Mas.” Kalina memeluk Abi begitu erat.
Disisi lain Arya di rumah sakit menjaga Utari sedangkan Kemala pulang ke rumah. Arya berbaring di sofa panjang sambil melihat sang Mama yang sedang tidur.
Arya masih tidak habis pikir dengan kelakuan sang Mama yang semakin tua, semakin menjadi. Tapi Arya bertekad kali ini Mamanya harus bertobat apapun alasannya. Ia tidak ingin sang Mama terjerumus lebih dalam lagi kejalan sesat.
Pagi hari, Arya sudah bangun dan duduk disofa sambil melihat dokter memeriksa kondisi sang Mama. Dan kebetulan dokter yang memeriksanya adalah Raffi, sepupu Arya.
"Raf, bagaimana kondisi Bibimu?”
"Alhamdulillah, kak. Sudah membaik. cidera di tangannya tidak begitu parah.”
Arya tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Rafi serta sang Mama. Arya menepuk pundak Rafi tanda terima kasih. "Thanks!”
Rafi tersenyum dan menepuk lengan Arya."Sama-sama, Kalau begitu aku lanjut bekerja."
Arya melihat sang Mama yang sedari tadi menghindari tatapannya, seolah tidak ingin Arya bertanya tentang apa yang terjadi.
"Mama sudah puas apa belum, setelah kejadian ini. Apa ada penyesalan?” tanya Arya.
"Apa yang aku sesali, Mobil rusak? Masih bisa dibeli!” jawabnya ketus.
"Ma, tolonglah. Jangan bermain Api dengan pria yang lebih muda, Mama itu hanya di manfaatkan. Mama sudah seperti ini, Mana pria muda itu, apa menemani Mama, menjaga Mama. Usia Mama sudah tidak muda lagi, Stop bersenang-senang dan menambah dosa. Apa untungnya pacaran di usia seperti Mama. Tidak ada lelaki Muda yang mau serius untuk jenjang pernikahan bersama, Mama.”
"Kamu mau bilang Mama sudah tua.”
"Tapi itu kenyataan, kan Ma. Mama itu usianya hanya beda dua tahun dari Papa. Mama sudah 60 tahun lebih. Apa yang Mama cari.”
__ADS_1
Utari memandang Arya dengan kesal, ia juga tidak menyangkal ucapan Arya, ia juga tidak tahu apa yang ia cari selama ini dengan berpacaran dengan pria yang usianya lebih muda dari sang anak sendiri.
"Papamu saja masih bisa dapat yang muda, kenapa Mama tidak boleh bersenang-senang!” Utari masih gengsi untuk mengakui jika yang ia lakukan semua adalah salah dan ia tahu hal itu, tetapi demi menjaga image-nya sebagai wanita kaya raya dan mempunyai segalanya dan keinginannya tinggal menujuk jari, ia gengsi untuk mengakui kesalahannya. Ditambah tidak mau su kalah dengan mantan suaminya.
"Ma ... Papa itu laki-laki, mau usia Papa 80 tahun juga masih bisa mendapatkan seorang gadis. Beda dengan Mama. Laki-laki muda hanya ingin harta Mama.”
“Diam kamu! Tidak perlu mengajari Mama.”
"Arya tidak akan diam lagi, Ma! Cukup dengan permainan konyol Mama yang menambah dosa, Arya dan Tara yang menanggung dosa Mama kelak, bukan Papa lagi! Mama masih ingat akhirat tidak!” Arya begitu kesal melihat Utari yang seolah acuh dan masa bodoh dengan ucapannya.
Arya pun bergegas keluar dan tidak ingin banyak bicara lagi. Arya berjalan menuju kantin untuk memesan kopi, saat berjalan dilorong Arya berpas-pasan dengan Kemala.
"Mas!”
"Sayang!” Arya memeluk Kemala
"Mau kemana?” tanya Kemala.
"Mau ke kantin. Mau pesan kopi.”
"Tidak perlu, Aku sudah bawakan kopi dan sarapan buat Mas dan Mama. Dan juga baju ganti.”
"Ya sudah, Ayo ikut.” Arya merangkul Kemala menuju suatu ruangan.
Sesampainya di ruangan, Kemala duduk dan melihat sekeliling ruangannya. Ia heran kenapa sang suami mengajaknya ke ruangan yang begitu besar dan seperti ruang keluarga.
"Mas, ini ruangan apa?”
"Ruangan khusus keluarga Sanjaya. Opa sengaja membuat ruangan ini, khusus untuk keluarga saja. Di sebelah sana ada ruang perawatan kalau ada keluarga yang sakit. Nanti kalau kamu mau lahiran bisa menempati ruangan ini.”
"Tidak, Mas. Berlebihan, Tapi kenapa Mama tidak di ruangan ini?” tanya Kemala heran.
__ADS_1
Arya tersenyum sambil mengambil gelas kopinya.“ Apa harus aku jelaskan lagi, Status Mama di keluarga Opa Bram? Aku bisa saja memindahkan Mama. Tapi ruamh Sakit ini punya prosedur sendiri, apalagi menyangkut keluarga pemilik rumah sakit.”
"Oh, Iya Mas, aku mengerti.” Kemala tersenyum paham. Jika tempat yang ia datangi saat ini memang khusus untuk keluarga Sanjaya saja. di luar itu tidak ada yang bisa menempati ruangan tersebut.