
“Zea!” panggil Arya yang begitu panik saat mendengar dari gurunya jika Zea masuk rumah sakit lantaran terjatuh dari prosotan saat jam istirahat sekolah.
Zea saat ini berada di UGD bersama Audy, guru sekolah sekaligus wali kelasnya. Zea menangis saat selesai dagunya dijahit.
“Papa, sakit!” Zea memeluk Arya.
Audy begitu terkesima melihat Arya, selama ini Ia tidak mengetahui Papa Zea, ia hanya bisa melihat Arya dari Surat kabar dan majalah bisnis. Dan setelah melihat langsung, Audy begitu terkesima dengan ketampanan Arya.
“Maaf tuan, atas kejadian ini. Kami sudah lalai mengawasi Zea saat sedang bermain.”
“Tidak apa-apa. Saya mengerti pekerjaan Anda mengajar dan mengawasi banyak murid.” Arya melihat Audy sekilas dan masih memeluk Zea.
"Zea!” seru Kemala yang baru saja tiba saat di kabari pihak sekolah. Kemala menghampiri Zea dan Arya.
“Sayang, mana yang sakit. Maaf Mama baru sampai, tadi macet dijalan.“ Kemala mengusap lembut rambut Zea.
“Tidak penting Tante datang kemari. Ada Ibu guru yang jaga Zea!” ketus Zea menepis tangan Kemala.
Kemala melihat Arya. Arya hanya bisa mengedipkan matanya tanda Zea baik-baik saja. Sedangkan Audy hanya melongo melihat Zea bersikap ketus terhadap mama tirinya.
“Zea tidak suka ada Tante Mala. Pergi!”
"Zea ... Tidak boleh seperti itu sama Mama” ujar Arya.
"Tante bukan Mama Zea! Mama Zea cuma Mama Lau!”
“Zea ... tidak boleh seperti itu sama orang tua, sayang. Harus hormat ya,” sela Audy mengusap punggung Zea lalu melirik Arya yang sedang mengusap punggung istrinya. Audy baru mengetahui jika Zea tidak mengakui Ibu sambungnya. Mengetahui hal itu tanpa sadar Audy tersenyum dalam hati, entah apa yang ia pikirkan seolah mendapat kesempatan.
“Zea, harus sopan sama Mama. Mama itu sayang sama kamu.“ Arya mencoba menasehati Zea. Zea hanya diam melirik Kemala yang juga diam tidak bisa berbuat banyak untuk mengambil hati Zea. Sudah segala macam cara Kemala mengambil hati Zea, akan tetapi Zea selalu ketus seperti sang Mama.
“Maaf, Bu guru. Apa Zidan masih disekolah? atau ikut kemari, Kemana Narti?” tanya Kemala.
“Zidan masih disekolah. Tadi mau ikut tapi saya larang dan Narti juga masih disana menunggu Zidan. Saya datang kemari bersama kepala sekolah dan kami yang bertanggung jawab penuh. Maafkan kami sudah lalai menjaga anak Anda, Nyonya.”
__ADS_1
Kemala tersenyum ingin sekali ia marah, kenapa pihak sekolah bisa lalai dan teledor dalam mengawasi anak-anak. Akan tetapi Kemala tidak mempunyai keberanian untuk marah apalagi emosi.
“Iya, Bu. Kami memaklumi, karena menjaga banyak murid itu tidak mudah, tetapi untuk kedepannya, tolong lebih di perhatikan lagi keselamatan anak-anak. Saya pribadi takut orang tua murid ada yang tidak terima jika kejadian ini terulang.”
“Iya, Nyonya. Pasti! Ini adalah pembelajaran kami untuk memperbaiki semuanya.”
“Papa, pulang!” rengek Zea.
"Iya, tapi minta maaf dulu sama Mama.”
“Memangnya Zea salah apa? Kenapa harus minta maaf, Zea tidak pernah merepotkan Tante itu!”
Arya begitu malu melihat dan mendengar ucapan putrinya itu, ucapan siapa yang sang putri tiru. Arya menatap tajam ke arah Zea, Namun Zea acuh. Kemala hanya tertunduk dan tersenyum tipis lalu mengusap lengan Arya.
“Tidak apa-apa. Zea tidak salah dengan Mama.” Kemala kemudian keluar dengan hati begitu kecewa dengan Zea. Anak sekecil itu sudah berhasil membuat dirinya menangis, apa iya tidak pantas menjadi ibu sambungnya? Entah lah, hanya Zea yang tahu alasannya.
“Zea ... tidak boleh seperti itu ya.... Mama, kan baik sama Zea, Sayang sama Zea dan Kak Zidan,” ucap Audy menasehati. Namun matanya tak lepas dari wajah tampan Arya.
“Bu guru, Kalau gitu saya dan Zea permisi. Terima kasih sudah membawa Zea ke rumah sakit.”
Arya kemudian keluar sambil menggendong Zea dan menemui kepala sekolah yang sedang berbicara dengan Kemala, setelah itu mereka pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Arya menidurkan Zea di kamarnya, Sebab sepanjang jalan ia tertidur lelap di kursi belakang. Sementara Kemala menuju kamar untuk istirahat. Ia juga lelah karena bawaan sang bayi.
Kemala berbaring disofa sambil memikirkan ucapan Zea yang selama ini Zea lontarkan padanya. Apalagi setelah kejadian penculikan tersebut, Zea semakin tidak menyukai Kemala. Tapi apa benar semua itu murni dato pikiran Zea sendiri. Rasa-rasanya tidak mungkin seorang anak berusia 5 tahun buda tidak menyukai sikap manis Kemala terhadapnya selama ini. Apa ada seseorang yang mempengaruhinya, pikir Kemala.
Kemala tanpa sadar meneteskan air mata, dengan cara apa lagi ia mengambil hati anak sambungnya itu. Arya melihat istrinya berbaring disofa pun menghampirinya dan mengusap lembut rambutnya.
“Aku sudah menasehati Zea, Maafkan anak itu. Wataknya memang seperti Mamanya, keras dan tidak mau mengalah.” Arya tersenyum melihat Kemala.
“Tidak apa-apa. Mungkin aku bukan IBU yang diinginkan Zea.”
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Maksudku ... em ... Lupakan. Oh iya, Aku pengen rujak yang tadi dibeli.”
“Baiklah, Ayo!”
“Gendong...,” ucap Kemala manja. Arya tertawa kecil lalu membalikkan tubuhnya lalu menggendong Kemala di punggungnya seperti anak kecil. Beruntung perutnya belum terlihat membuncit.lll
Arya menurunkan Kemala di ruang makan. Kemudian ia mengambilkan rujaknya dan menyajikan dipiring.
“Wah ... ini enak, Mas. Hemmm!” Kemala mulai memakan rujaknya dengan lahap.
Arya tersenyum dan teringat Bella saat ngidam rujak. Andai waktu itu ia tidak terburu-buru menceraikannya Mungkin saat ini Bella masih di sampingnya. Arya menggelengkan kepalanya menepis ingatan tentang Bella. Kemudian ia ikut makan rujaknya tersebut dan merasakan asam saat mengingat buah mangga setengah matang tersebut.
“Asem!” Arya pun langsung melepehnya. Sedangkan Kemala tertawa kecil.
“Namanya juga rujak, Mas. Pasti sedikit asam. Tapi enak. Oh iya, Mas Bu guru Audy cantik ya?”
“Hm.” Arya mengambil buah yang menurutnya tidak asam lalu memakannya.
“Suka?”
“Biasa saja! Cantik Istriku!”
Kemala hanya memajukan bibir bawahnya lalu keduanya tertawa. Tanpa tahu ada seseorang yang memperhatikan mereka, siapa lagi kalau bukan Daniel, Opa Kemala.
Daniel begitu bahagia melihat cucunya di perlukan begitu baik oleh Arya. Ia tidak khawatir ada yang menyiksanya lagi. Mungkin dalam waktu dekat Daniel akan menyerahkan semua hartanya untuk cucu satu satunya, Kemala. Karena hanya Kemala ahli warisnya. Di tambah Arya adalah cucu menantu, sudah pasti akan membantu Kemala untuk memimpin perusahaannya.
“Kalian sedang apa?” tanya Daniel sambil berjalan menghampiri Keduanya. Kemala dan Arya melihat ke arah Daniel.
"Opa, Opa datang kenapa tidak memberitahu Kemala?
“Apa Opa harus membuat janji untuk bertemu cucu Opa sendiri?” Daniel duduk di samping Kemala.
“Bukan begitu opa Opa, Setidaknya Kemala menyiapkan sesuatu untuk Opa.”
__ADS_1
“Tidak perlu repot-repot. Oh Iya besok kamu datang ke rumah Opa ya, ada sesuatu yang ingin Opa berikan padamu, sebelum Opa kembali ke London.”
Kemala mengangguk dan tersenyum. Ia juga ingin tahu seperti apa rumah yang dulu ia tempati sewaktu kecil.