PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
KEMALA DI CULIK


__ADS_3

Kalina mengantarkan makanan untuk Abi ke kantor, Ia menggunakan masker agar tidak di kenali karyawan tempat dimana ia dulu bekerja. Kalina menitipkan makanan tersebut di pos satpam.


“Permisi, pak.” Kalina berdiri di pos satpam.


“Eh, iya, Bu. Bisa saya bantu?” tanya satpam tersebut.


“Ini pesanan tuan Abi, boleh tolong diantarkan ke ruangannya, Pak.” Kalina sedikit gugup saat meminta tolong pada satpam kantor sang suami.


“Maaf, Anda siapa ya? Kami tidak mau sembarangan mengantarkan makanan atau minuman dari yang tidak kami kenal apalagi untuk bos-bos disini,” ucap satpam sambil melihat kalina dari atas sampai bawah.


“Maaf, pak saya asisten rumah tangganya di rumah. Saya di suruh antarkan ini. Tapi, saya tidak berani masuk kedalam.”


Satpam tersebut melihat Kalina penuh selidik, Ingin melarang, akan tetapi satpam tersebut juga takut jika benar wanita dihadapannya itu adalah suruhan orang rumahnta sang bos, Satpam itu bangkit dari duduknya.


“Lebih baik kamu tunggu di lobby saja. Ayo saya antar!”


“Tapi, pak!”


“Tidak perlu takut. Nanti biar pihak resepsionis yang memberitahu pak Abi. Apa bener kamu suruhan orang rumahnya atau tidak.“


Kalina terdiam dan hanya mengikuti langkah satpam tersebut masuk kedalam kantor, sebenarnya ia juga tahu peraturan di perusahaan, bahwa tidak sembarang orang bisa masuk dan mengirim makanan tanpa konfermasi dengan orang yang bersangkutan.


“Mbak Yeyen, tolong sambungkan ke ruangan tuan Abi, ada asisten rumah tangganya yang mengantarkan makanan. Tanyakan pada beliau apa benar, tuan Abi menyuruh orang rumahnya untuk mengantarkan makanan?” ucap satpam pada resepsionis.


Yeyen melihat seksama Kalina dari atas sampai bawah, Sepertinya Yeyen curiga dengan Kalina karena tinggi badan dan postur tubuhnya tidak asing. Akan tetapi ia juga ragu sebab penampilan Kalina biasa saja, seperti orang rumahan biasa pada Umumnya.


Yeyen menghubungi ruangan Abi dan menanyakan apakah sang tuan memerintahkan salah satu asistennya untuk mengantarkan makanannya, Abi hanya menyuruh orang yang di maksud resepsionis tersebut ke ruangannya.


“Ibu, silahkan ke lantai 27 nanti ada ruangan bertuliskan nama tuan Abi,” ucap Yeyen pada Kalina.


Kalina hanya mengangguk sopan lalu ia bergegas ke lift karyawan di antarkan oleh satpam untuk masuk ke lift. Hati Kalina begitu berdebat, ia takut di kenali karyawan kantor. Karena rata-rata semua karyawan suaminya hanya tahu jika ia penyebab perceraian Abi dan Utari, mereka tidak mengetahui cerita yang sebenarnya. Akan tetapi ia harus melakukan itu, yaitu mengantarkan makanan untuk sang suami, sebab tidak ingin sang suami makan sembarangan seperti dulu.

__ADS_1


Kalina keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Abi, Ia begitu gugup saat banyak karyawan yang melihatnya. Kalina berjalan menunduk dan terus membenarkan maskernya.


“Siapa itu? Arahnya mau ke ruangan tuan Abi, apa kekasih tuan Abi?” bisik salah satu karyawan pada rekan kerjanya.


“Pacar tuan Abi, mungkin?”


“Gila! Anak sama Papanya pesona memang kuat! baru duda sebentar saja sudah dapat pengganti daun muda semua!” pekik Salah satunya, dan mereka terus melihat Kalina berjalan sampai menghilang di balik pintu ruangan Abi.


Kalina bersandar di pintu setelah masuk dan memegang dadanya sambil mengatur nafasnya, Abi dan Arya melihat ke arah pintu saat dirinya masuk. Abi heran dengan Kalina, kenapa begitu ketakutan.


“Sayang!” ujar Abi.


“Mas!” Kalina membuka masker lalu berjalan ke arah meja Abi.


“Siang Arya!” sapa Kalina, Arya hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya.


Abi meraih jemari Kalina lalu tersenyum,“ Gugup?” tanya Abi.


“Silahkan, aku sudah makan.” Arya melihat menu makanan yang di bawa Kalina untuk papanya. Nasi merah, Sayur bening, ikan goreng, dan buah pepaya, pisang serta jus tomat kesukaan Abi.


“Mas, ini jus tomatnya.” Kalina membuka tutup gelasnya dan memberikan jusnya pada Abi.


Abi mengambilnya lalu melihat sekilas, Dirinya teringat saat awal bertemu dengan Utari. Berawal dari lemparan tomat dan ia jatuh hati. Akan tetapi saat ini ia begitu membenci buah tomat tersebut.


“Untukmu saja.” Abi memberikan jus tersebut pada Arya.


Arya dengan senang hati menerimanya, karena ia juga menyukai jus tomat. Kalina hanya heran, kenapa sang suami tidak meminum jusnya.


“Mulai sekarang jangan pernah membuat jus tomat atau membuat makanan yang di campur tomat. Aku tidak menyukai tomat lagi, ganti yang lain, ya!”


“Tapi ... kenapa Mas?”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Sudah tidak suka tomat.”


“Ya sudah, aku kembali ke ruanganku. Selamat makan siang, pa! Lin, terima kasih jusnya. Besok lagi ya!” Arya bangkit sambil tertawa kecil di ikuti Kalina, lalu meninggalkan Abi dan Kalina dengan membawa jusnya.


Arya tersenyum melihat Papanya sudah ada yang mengurus, bahkan makanannya di jaga oleh Kalina. Arya masuk kedalam ruangan lalu melihat ponselnya yang tertinggal di atas meja kerjanya. Banyak sekali panggilan Kemala di ponselnya. Arya pun langsung menghubungi Kemala kembali.


“Halo sayang ... Rindu sama aku ya!” ucap Arya saat sambungan ponselnya diangkat.


“Mas, tolong aku!” terdengar suara isak tangis Kemala.


“Kemala, apa yang terjadi?“ tanya Arya begitu panik mendengar Suara Kemala menangis.


“Tidak terjadi apa-apa, Cukup kau datang ke alamat yang sudah aku kirim, atau istrimu dan anak-anakmu itu. MATI!”


“Sakit, Yah! Jangan Yah. Jangan sakiti anak-anakku!”


“Papa!” jerit kedua anak Arya


Arya mendengar jeritan Kemala, sudah pasti saat ini Kemala dibawa Ayahnya yang tidak tahu diri itu. Arya menyesal sudah mengizinkan Kemala ke rumah sakit sendirian.


“Brengsek! lepaskan Kemala!” seru Arya di balik sambungan ponselnya.


Terdengar suara tawa di balik ponsel Kemala, lalu tak lama orang tersebut mematikan sambungan Ponselnya.


“Brengsek!” umpat Arya lalu membuka pesan singkat di ponselnya. Setelah membaca alamat yang diberikan oleh orang yang menculik Kemala, Arya bergegas pergi.


“Kau ingin bermain-main dengan keluarga Sanjaya, Bandit!!” Gumam Arya saat melajukan mobilnya, kemudian ia menghubungi beberapa sepupunya untuk meminta bantuan. Pertama ia menghubungi Raffi, Bima, dan juga sang Adik Tara. Tak lupa Ia juga menghubungi Abi.


“Ya Tuhan, Apa mau Ayah angkat Kemala yang tidak tahu diri itu. Jika aku tau akan seperti ini lebih baik aku membunuhnya saat itu juga! Aqqq, Brengsek!!” umpatnya.


Pikiran Arya tidak tenang, tetapi ia di tuntut untuk tenang dan tidak panik. Ada tiga nyawa yang harus ia selamatkan, jika ia bertindak kegabah, mungkin akan berakibat fatal untuk ketiga orang yang ia cintai.

__ADS_1


“Bailah Ayah mertua tidak tahu diri, Aku turuti permainan kotormu!” Arya kemudian mempercepat laju mobilnya.


__ADS_2