
"Kalau begitu saya permisi tuan,” pamit Audy mengulurkan tangannya. Arya sejenak memandangi tangan Audy lalu menyambutnya.
"Iya, terima kasih.” Arya segera mungkin menarik tangannya. “Ibu guru tidak perlu khawatir dengan kondisi Zea. Dia sudah mendapatkan perawatan terbaik dari Mamanya.”
"Iya, tuan. Saya hanya khawatir saja dan saya merasa bersalah.”
Arya tersenyum tipis lalu memanggil satpam rumahnya dengan isyarat tangan. Pak satpam pun bergegas menghampirinya.
“Pak, tilong bukakan gerbang. Ibu ini mau pulang.”
“Baik, tuan. Mari Bu!” .
Audy sedikit kesal, Namun tidak ia perlihatkan. Rasanya ingin sekali tetap berada dirumah Arya, Audy berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalam. Saat menyalakan mobil ia sekilas melihat Arya yang sudah berjalan masuk kedalam rumah membuat dirinya bertambah kesal.
"Arrqq! Sial! Sudah dandan cantik, ngelirik sedikit kenapa! Istrinya juga lebih cantik aku!” Grutu Audy sambil keluar dari halaman rumah Arya.
Sementara itu Arya menemui sang istri yang sedang memandikan Zidan dan Zea. Walau Zea tidak menyukainya, Kemala tetap mengambil peran sebagai seorang Ibu.
“Aku mau sama mbak Narti saja pakai bajunya.” Zea merebut bajunya dari tangan Kemala.
"Ma, Zidan saja yang ganti baju sama Mama.” Zidan membawa bajunya pada Kemala.
“Sini sayang.” Kemala memakaikan baju pada Zidan.
“Oh, iya. Tadi Mama udah masak kesukaan Zidan, Nanti dihabiskan ya.” Kemala sekilas melirik Zea, berharap Zea juga bertanya menu apa untuknya.
Benar saja, Zea melirik Kemala dan matanya berbinar saat Kemala mengatakan sudah memasak Masakan kesukaan Zidan. Sebab ia juga menyukai masakan Kemala, terkadang Zea diam-diam mengambil makanan yang dimasak Kemala dan memakannya diam-diam disudut ruang makan.
“Wah ... Zidan mau, Ma!” Zidan begitu kegirangan lalu meneluk Kemala.
“Nanti habiskan ya,” ucap Kemala membalas pelukan Zidan.
"Hm ... kalian sedang apa?” tanya Arya saat melihat Kemala dan Zidan berpelukan. Arya kemudian menghampiri mereka sambil menarik lembut Zea.
“Awas, Pa. Zea mau makan sama Mbak Narti.” Zea kemudian menyingkirkan tangan Arya.
"Gak nunggu Papa sama Mama?” tanta Arya melihat Zea berjalan keluar.
__ADS_1
Zea berhenti dan menoleh kebelakang.“ Gak!“ Zea kemudian keluar di ikuti Narti.
“Anak itu persis seperti Mamanya,” batin Arya tersenyum mengingat Laura yang keras kepala.
“Mas kenapa senyum-senyum?” tanya Kemala heran melihat sang suami tersenyum melihat ke arah pintu padahal Zea sudah tidak terlihat dipintu.
“Aku teringat Laura, persis seperti Zea,”
"Oh ...! Aku kira keingat tadi malam,” ucap sedikit kesal karena Arya menyebut nama almarhum istrinya. Kemala kemudian meninggalkan Arya bersama Zidan. Arya tersadar sudah menyebut nama almarhum istrinya pun mengejarnya.
"Sayang, tunggu!” Arya menarik lengan Kemala.
"Zidan, kamu makan dulu ya, minta sama Mbak Narti. Nanti Papa sama Mama nyusul.”
“Iya, Pa!”
"Ada apa, Mas?” tanya Kemala pura-pura bersikap biasa saja dan menahan rasa cemburu terhadap istri-istri Arya terdahulu. Apalagi Kemala masih mendapati Arya sering mengigau saat tidur dan menyebut nama Bella.
“Kamu marah aku menyebut Laura.”
"Tidak! Tapi aku kesal, saat Mas menyebut nama Bella saat mengiga!” Kemala mendongak menatap sang Suami.
"Kapan?”
“Hampir tiap malam.” Kemala kemudian melepaskan tangan Arya dan hendak menuju ruang makan, tetapi Arya menariknya kembali.
"Tapi itu, kan tidak sadar sayang!”
"Iya! tidak sadar, Makanya kalau mau tidur jangan suka mengingat namanya. Nyebelin!”
Kemala sedikit mendorong Arya hingga terhuyung kemudian meninggalkan Arya yang masih tidak percaya jika ia sering mengigau menyebut nama Bella.
"Masak, sih?” Arya menggelengkan kepalanya kemudian menyusul ke ruang makan.
Arya duduk di tempatnya dan melihat wajah sang istri yang masih kesal, walau begitu Kemala masih mengambilkan makanan untuknya sambil sesekali menimpali celotehan Zidan.
Mereka makan bersama dan masih saling diam, kecuali Zidan dan Zea yang saling meledek satu sama lain. Arya sesekali melihat wajah sang istri yang begitu kesal padanya.
__ADS_1
"Zidan, Zea selesai makan nanti, kalian siap-siap ya. Hari ini kita kerumah Opa dan Oma Kalina,” ucap Arya mengalihkan perhatian Kemala, pasalnya Kemala begitu senang jika bertemu Kalina dan Abi.
"Aku tidak ikut ya, Mas.”
"Loh, kenapa?”
"Lagi Gak MOOD!!” balas Kemala kesal sambil menatap tajam Arya, kemudian ia bangkit dan meninggalkan ruang makan.
Arya menghela nafas panjang, ia tahu ini pasti bawaan hormon ibu hamil. "Salah lagi...! Arrqq.” Arya mengusap wajahnya dan melihat kedua anaknya yang juga menatapnya heran. Kenapa sang Mama sepertinya marah dengan Papanya.
"Mama kenapa, Pa? tanya Zidan.
“Sepertinya Mama sedang kurang sehat. Kalian lanjutkan makan ya, Papa lihat Mama dulu!” Arya kemudian menyusul Kemala ke kamar.
Arya meninggalkan ruang makan dan menyusul Kemala ke kamar. Saat dikamar, Arya melihat sang istri sedang berdiri di depan jendela besar kamarnya dan melihat bunga-bunga mawar yang ada di halaman samping dekat kamarnya.
Arya berjalan mendekati Kemala dan memeluknya dari belakang.“Maafkan aku. Aku tahu kamu pasti cemburu. Tapi jujur itu di luar kendaliku.”
Kemala masih terdiam sambil meraih tangan sang suami dan menghadap ke arahnya. “Awalnya aku memaklumi, Karena memang Bella adalah bagian perjalanan cinta dan hidupmu begitu juga Ibu anak-anak. Tapi, saat ini aku istrimu, aku mencintaimu, dan aku berharap, Mas bisa mencintai tanpa ada bayang-bayang masa lalumu, Mas. Aku tahu kamu juga sudah berusaha untuk mencintaiku lebih dari masa lalumu. Tapi, aku tidak tahu isi hayimu yang paling dalam itu sebenarnya seperti apa? Hanya kamu yang tahu persis isi hatimu sendiri.” Kemala mengarahkan tangan Arya ke perutnya.
"Ini buah cinta kita, dan Mas tahu? Saat aku kamu jadikan istri, aku mulai jatuh hati padamu. Aku selalu berusaha menjadi istri yang kamu inginkan. Tetapi aku sadar aku tidak bisa seperti Bella, aku punya sisi sendiri, Mas.”
Arya mengusap lembut Pipi Kemala lalu mencium kening sedikit lama. Setelah itu Arya memeluk Kemala." Maafkan aku, Aku salah, tapi jujur kamu orang terakhir dihatiku, terakhir dan untuk selamanya. ”
“Janji.”
“Janji sayang. Apapun yang terjadi, Kamu akan terus disisiku.”
"Walau ada Ibu guru menyukai, Mas?” tanya Kemala yang memang mencium gelagat guru sang anak yang menaruh hati pada sang suami.
"Hai ... Guru siapa. Mau sepuluh guru pun aku tidak akan tertarik. Untuk apa aku tertarik, istriku yang ini kan lebih muda, cantik, dan imut.”
Kemala tersenyum sambil mempererat pelukannya.“ Tapi, kan ibu guru itu lebih cantik, lebih seksi. sama seperti Bella.”
“Em ... iya sih!”
“Mas!” Kemala mendongak dan melihat Arya tertawa.
__ADS_1
"Tapi enakan punya kamu!” bisik Arya membuat Kemala tertunduk malu lalu memeluk sang suami.
Arya tersenyum melihat sang istri yang sedang bertingkah aneh, bertanya sendiri, membandingkan sendiri dan merasa tersaingi sendiri.