
Pagi harinya Arya terbangun saat mendengar Aira bernyanyi. Memang adik sepupunya itu biang keributan, ia akan diam jika sang Papa Putra menatapnya. Dengan tatapan dingin Putra ia akan terdiam dan menunduk.
Terdengar Aira bernyanyi dangdut milik artis kawakan Uut Permatasari yang berjudul Putri panggung.
“Pak Lurah, tamu kehormatan
Bang mandor, tamu istemewa
Penonton, saya suka anda
Mas Aldo, tamu hati saya*...
“Hah! kok nama orang itu aku sebut,” gumam Aira berhenti sejenak. Asisten rumah tangga Arya juga ikut terkekeh melihat tingkah adik sepupu majikannya tersebut. Namun Aira tetap melanjutkan nyanyiannya.
Aldo yang memang sedang menginap pun tersenyum mendengar nyanyian Aira dari kamarnya. Rasanya ia ingin tertawa mendengar suara nyanyian Aira. Arya yang sedari tadi duduk diam di kasurnya pun perlahan beranjak kekuar kamar Ingin menghampiri Aira.
Arya berjalan menghampiri Aira di dapur. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sang adik yang berjoget sambil membuat minuman. Arya berjalan ke arah Aira dan membekap mulutnya. Hingga Aira gelagapan.
“Brisik! ini masih pagi!” pekik Arya.
"Apaan sih, Kak! Ini sudah siang! Kakak aja bangunnya kesiangan.“ Aira mengerucutkan bibirnya lalu melanjutkan membuat minuman jus.
"Kamu buat apa?” tanya Arya.
"Buat ramuan cinta. Memangnya kakak gak liat aku buat jus jeruk buat semuanya!”
"Ora usah ngegas!” Arya kembali membukan mulut Aira. Aira memberontak dan menarik tangan Arya. Aira memukul lengan Arya dengan kesal.
"Awakmu nyebut jenenge Aldo, Awakmu naksir tah?”
"Emange ora oleh, Yo gak Popo to! Mas Aldo, kan duda. Aku singel! Cuwocok tuwenan!”
"Walah gayamu! Kemayu! Sekolah duwur-duwur luar negeri, Naksir dudo!”
"Sekarepku!”
"Wes tuwek kae!”
"Seng penting ganteng!” jawab Aira sambil memberikan segelas jus pada Arya.
"Mas jodohin aku sama Mas Aldo ya. Urusan papa nanti aja.” Aira membujuk Arya agar menjodohkan dirinya dengan Aldo. Aira tidak peduli jika usia Aldo sudah seumuran Arya.
"Di pikir-pikir. Nikah itu gak seindah cinta tai kucing. Apalagi perbedaan usia itu juga gak mudah. Opo Meneh modelan awakmu, Iseh ceroboh. ngambekkan. Terus jadi perempuan itu Yo mbok jual mahal dikit gitu, loh!”
“Lah ... jual murah wae ora payu!”
__ADS_1
"Bocah diomongi kok Yo ngeyel! contoh Mbakmu Tasya, Gak sembarangan cari suami!” Arya melenggang meninggalkan Aira yang masih memasang wajah kesal.
"Lah, duda juga dapatnya!” Pekik Aira. Aira melihat Arya meninggalkan dapur sambil membawa segelas jus jeruk.
Arya menggelengkan kepalanya lalu menuju kamar Aldo. Arya mengetuk pintu kamarnya. “ Al! Kau sudah bangun?”
"Ya!” Aldo membuka pintunya.
"Ini untukmu, dari penggemarmu.” Arya menyodorkan segelas jus jeruk hangat.
Aldo tersenyum lalu menerima jus dan meminumnya sedikit. "Adikmu sudah mempunyai pacar atau calon suami?” tanya Aldo langsung tanpa basa basi. Baginya basa basi itu tidak penting dan hanya membuang waktu.
"Belum, Kalau kau serius. temui paman Putra, bicara dengannya kalau kau ingin serius dengan Aira.”
"Baik, sekiranya kapan tuan Putra mempunyai waktu senggang.”
“Datang saja kerumahnya. Hari ini jadwal Beliau ke rumah istri mudanya. Kau datang saja bersama Aira. Tap ingat, Al. Jika kau sakiti Adikku yang paling kecil itu. Kau berurusan denganku terlebih keluarga besarku.” Arya tersenyum lalu menepuk pundak Aldo.
"Kau tau aku, kan. Jika sudah mencintai satu wanita.”
"Aku pegang ucapanmu!” Arya kemudian meninggalkan Aldo yang maduh berdiri di ambang pintu.
Tak lama Arya menoleh ke arah Aldo. "Oh iya, sebentar lagi sarapan bersama, bersiap-siaplah!” ucap Arya sebelum jauh ia melangkah. Aldo hanya mengacungkan jempolnya.
Arya pun menuju kamarnya untuk mandi dan melihat sang istri, apakah masih tidur atau sudah bangun. Arya masuk dan melihat sang istri sedang mengambil handuk dan hendak mandi.
"Iya, Mas. Mas mau mandi juga?”
"Boleh, ayo!”
"Ih ... apaan sih, Mas. Nanti gak mandi, kalau mandi bareng. Mas pasti minta aneh-aneh!” rengek Kemala.
"Gak boleh nolak!"
"Gak mau kalau di kamar mandi. Lagian ada tamu, Mas. Ada Papa, ada Mama Kalina.”
"Sepuluh menit saja!” Arya memeluk Kemala dari belakang.
"Mas...."
“Ayolah, Adiknya sudah berdiri!” Arya mengarahkan tangan Kemala ke bagian intinya.
Kemala tertawa lalu membalikkan tubuhnya.“ Janji sepuluh menit saja ya.”
Arya mengangguk lalu melancarkan aksinya. Arya begitu senang Kemala tidak pernah menolak setiap ajaknya untuk menuntaskan hasratnya. Dan inilah yang membuat Arya semakin belajar lagi mencintai Kemala. Arya memenuhi janjinya dan hanya bermain sepuluh menit dan mereka pun langsung mandi dan bersiap untuk sarapan pagi.
__ADS_1
Sesampainya di meja makan Arya dan Kemala sudah melihat anggota keluarganya duduk di kursi meja makan. Kecuali keluarga dari pihak Kemala yang memang langsung pulang setelah acara empat bulanannya tadi malam.
Abi tersenyum melihat anak dan menantunya itu tampak begitu bahagia, apalagi senyum dan pandangan Arya terus tertuju pada Kemala. Abi berharap Kemala lah wanita terakhir Arya.
"Pagi semua! Sapa Arya sambil menarik kursi untuk Kemala.
"Pagi!” balas semunya.
Kemala duduk tersenyum melihat sang suami yang juga duduk di kursi. Tak lama Kemala mengambil sarapan untuk Arya.
"Mas mau seleai kacangnya?” tanya Kemala saat membuatkan roti selainya.
"Coklat saja!”
Kemala kemudian mengambil selai coklat di ujung pisau rotinya lalu mengoleskan ke roti tawar. Saat Kemala membuat sarapannya Arya melihat Aira yang mencuri pandang ke arah Aldo yang sedang asyik mengobrol dengan Abi.
Arya berdehem lalu melihat Aira, begitu dengan semuanya. “Ra, hari ini Kakak tidak bisa antar kamu pulang, Kakak ada pekerjaan.”
“Tidak apa-apa, nanti naik taksi saja.” Aira kemudian melanjutkan makannya sedangkan Arya memberi isyarat pada Aldo dengan mengangkat alisnya kenarah Aldo.
"Mau aku Anter?” Aldo mencoba menawarkan diri untuk mengantarkan Aira.
Aira seketika melongo melihat Aldo, ia tidak percaya Aldo menawarkan untuk mengantarkan dirinya dan itu yang ia harapkan.
"Malah melongo, Mau tidak!”
Aira seketika menetralkan ekspresi dan tersenyum malu. "Em ... boleh, kalau tidak merepotkan, Tuan.”
Aira Tersenyum malu, Namun hatinya bersorak gembira. kemudian ia pun melanjutkan sarapannya di ikuti yang lain.
Setelah selesai sarapan mereka berkumpul di ruang tengah sedangkan Aira bersiap-siap, Sebab ia belum mandi. Arya dan yang lainnya justru membahas Aira dan Aldo.
"Kau mau serius sama keponakanku?” tanya Abi memastikan.
"Apa saya terlihat main-main di usia saya yang sudah seumuran dengan Arya, Om. Saya juga ingin di cintai dan mencintai, walau aku juga tidak akan pernah bisa melupakannya almarhum istri saya.”
"Ok! Om paham. Temui papanya jika kau serius! Dan jangan menyakiti hatinya. Bimbing dia karena dia maduh sangat muda.”
"Pasti Om. Aku akan membahagiakan Aira. Dan menjadikan Aira wanita terakhir dalam hidup Aldo.”
Semua tersenyum melihat kesungguhan Aldo terhadap Aira.
***
Monggo mampir ke cerita baruku. Sudah update 4 bab.
__ADS_1