PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 8 MENJALANI


__ADS_3

Kemala saat ini sedang berada di rumah sakit menggantikan Bu leknya. Ibunya juga masih belum terlihat ada kemajuan, masih sama seperti semula. Kemala menangis disamping sang Ibu. Ingin sekali Kemala menceritakan semuanya, akan tetapi ia hanya bisa memendam rasa pahit yang ada dalam hati dan hidupnya. Entah bagaimana reaksi sang Ibu jika tahu dirinya sudah menggadaikan kehormatannya dan akan menikah sirih dengan bosnya. Apa Ibunya akan menerimanya. Tapi jika tidak menikah dengan bosnya siapa lagi yang mau dengannya dan siapa yang akan membiayai sang Ibu di rumah sakit.


Sementara itu Arya mencari tahu siapa sebenarnya Kemala, dan kenapa sang Ayah tega selalu menyiksanya. Arya begitu Iba melihat Gadis 25 tahun itu menderita. penderitaannya lebih dari apa yang di rasakan mantan istrinya, Bella. Jika Bella tidak mempunyai siapapun setidaknya Bella berkecukupan dan pintar dan tidak mengambil jalan pintas. Akan tetapi siapapun pasti tidak akan pernah mau menjadi seorang Kemala maupun Bella. Semua mempunyai kisah masing-masing dan jalan pikir masing-masing.


Arya menemui pak lek Kemala di kediaman Kemala. Tampak rumah Kemala yang begitu sederhana dan apa adanya. Bahkan lebih sederhana dari milik Bella.


“Maaf, tuan Arya. Beginilah rumah Kemala. Apa adanya. Masih berantakan karena Kemala sibuk bekerja dan adiknya sibuk sekolah. Ayahnya sudah hampir dua mingguan tidak pulang, kalau pun pulang hanya meminta uang dari Kemala. Itu juga sebab Kemala tidak betah di rumah,” jelas Pak lek Kemala.


“Tidak apa-apa, Pak.” Arya tersenyum tipis lalu melihat sekeliling dinding rumah Kemala, ada juga foto keluarga Kemala dan saat Kemala Wisuda.


“Oh, iya. Apa Kemala sudah bicara dengan Pak lek prihal maksud kedatangan saya.”


“Sudah! Tapi sebenarnya saya tidak setuju jika hanya menikah tanpa tercatat negara, tetapi saya hargai keputusan Kemala dan tuan. Kami juga takut jika Ayah kemala mengetahui rencana pernikahan kalian.”


“Semua atas persetujuan Kemala. Jika Pak lek tidak keberatan segera nikahkan kami nanti malam dan Ibu Kemala akan saya pindahkan ke rumah sakit keluarga saya. Bagaimana?”


“Secepat itu tuan?” Pak lek heran kenapa pernikahannya ingin segera dilaksanakan, bukankah Kemala mengatakan minggu depan. Apa sudah terjadi sesuatu?


“Bukankah lebih cepat lebih baik?”


“Maaf, apa sudah terjadi sesuatu?”


Arya tertawa dan membenarkan semuanya.“ Jadi Kemala belum menceritakan semuanya?”


“Saya tidak menyangka tuan bisa berbuat seperti itu pada gadis yang usianya jauh lebih muda!” Pak lek bangkit dari duduknya dan hendak menyerang Arya.


Arya hanya tersenyum sambil memegang tangan pak lek yang hendak memukulnya.“ Kemala sendiri yang menawarkan diri pada saya dan saya sudah membayarnya lebih dari 150 juta. Masih beruntung saya mau menikahinya. Jika tidak, siapa yang mau dengannya!” Arya bangkit lalu berdiri dengan santai sambil menghempaskan tangan Pak lek, dua bodyguard Arya serentak hendak mendekati pak lek, Namun di cegah Arya.


“Kalian tetap di tempat!” Arya mengangkat tangannya pada dua bodyguardnya.

__ADS_1


Pak lek terdiam mencoba mengerti tindakan keponakan itu. Karena mungkin Kemala sudah sangat bingung dengan biaya rumah sakit yang harus ia lunasi segera mungkin. Pak lek tahu Arya bukalah orang sembarangan.


“Baiklah, Nanti malam saya akan nikahkan kalian,” ucap pak lek menahan amarahnya.


Arya tersenyum lalu menggunakan kacamata hitamnya dan meninggalkan rumah pak lek Kemala begitu saja.


Sementara itu Di tempat lain, Abi sedang gelisah memikirkan Arya yang akan menikahi OG di kantornya tanpa sepengetahuan Mamanya. Abi berjalan kesana kemari di depan meja kerjanya, membuat Kalina merasa terganggu.


Kalina bangkit dari duduknya lalu mengambil segelas air di mejanya dammn menghampiri Abi.


“Mas...! Ada apa? Kenapa gelisah? Lagi mikirin apa?” tanya Kalina tersenyum melihat sang suami.


Abi menghela nafas panjang lalu mengambil segelas air dari tangan Kalina lalu meminumnya. Abi terdiam sejenak lalu ia duduk di sofa di ikuti Kalina.


“Coba ceritakan. Mas kenapa?” Kalina mengusap lembut pipi Abi dan tersenyum manis. Kalina akan tersenyum manis saat Abi gelisah memikirkan sesuatu, karena dengan itu Abi akan tidak begitu cemas dan rilex.


“Arya mau menikah dengan Office girl baru itu!”


“Hm!”


“Tapi memang dia cantik sih?”


“Mas ....! Apaan sih. Namanya masih masih muda ya cantik.” keduanya tertawa dan Kalina menghambur ke pelukan Abi.


Kalina merubah posisinya membelakangi Abi dan bersandar di dadanya. Abi mengusap perut Kalina yang kına sudah tampak membuncit.


“Mas, besok malam jadwal aku ke dokter kandungan. Mas bisa temani?”


“Mas usahakan, ya. Kamu tahu sendiri kalau sudah sampai rumah. Aku tidak bisa kemana-mana lagi.”

__ADS_1


“Ya ... kalau tidak bisa tidak apa-apa . Aku mengerti kok, Mas.” Kalina mencium pipi Abi lalu tersenyum.


Kalina mencoba mengerti posisinya, tidak mungkin ia meminta lebih, walau ia mempunyai hak yang sama sebagai seorang istri. Baginya Abi adalah segalanya, disaat keluarganya terpuruk, hanya Abi yang mau menolongnya hingga akhirnya seirung waktu benih cinta itu ada.


Bagaimana Kalina tidak jatuh hati. Abi begitu perhatian dengan Almarhum Mamanya saat Mamanya sakit dahulu, Abi lah yang menolong dan membiayai pengobatan sang Mama sampai sembuh. Dari saat itu sang Mama meminta Abi untuk menikahi Kalina dan kebetulan Abi juga menaruh hati terhadap Kalina. Sejak saat itu hubungan mereka berlanjut ke jenjang pernikahan hingga 11 tahun dan mempunyai anak perempuan bernama Nasya Sanjaya. Mereka hampir tidak pernah bertengkar dan selalu harmonis. Mungkin karena jarang bertemu dan Kalina sadar menjadi yang kedua. Mana mungkin Abi bisa selalu bersamanya. Bahkan semut di dinding rumahnya tahu hal itu. Ia hanya bisa menjalani seperti air mengalir.


Kalina selalu mengalah jika Abi membicarakan tentang istri pertamanya, Utari. Ia tahu sang suami mencintai istri pertamanya sebelum menikahinya. Memang saat menikah dengan Abi, Kalina sudah berusia 34 tahun dan masih gadis, Kalina hanya selisih 5 Tahun dari Arya. Kalına berterima kasih pada Arya yang menghormati keputusan sang Papa untuk menikahinya.


“Ya sudah, aku kembali bekerja. Aku tidak mau tiba-tiba, Istri pertama kamu datang.” Kalina bangkit dari duduknya lalu sekilas mencium pipi Abi. Abi hanya tersenyum tipis dan mengucap bibir Kalina.


“I love you!” lirih Abi.


“Love you too, Mas” Kalina duduk kembali di tempat kerjanya.


Abi kemudian berbaring di sofa sejenak memejamkan matanya, tiba-tiba Suara sang istri pertama memekakkan telinganya.


“Papa!!” seru Utari sambil membawa makanan di rantang.


Abi terkejut dan seketika bangkit,” Astaga Mama ... untuk saja Papa tidak ada riwayat jantung.”


Utari hanya tertawa kecil lalu duduk di samping sang suami yang tampak kesal.” Sorry, Pa. Mama terlalu bersemangat. Mama kan rindu sama Papa.”


Abi sekilas melihat Kalina yang juga melirik cemburu. “Setiap hari, kan papa, pulang, Ma. Mama saja yang kadang tidak di rumah, Malah di rumah Arya. Papa kan jadi sendirian.”


“Iya, Pa. Tapi Cucu kita juga butuh sosok Ibu, Pa. Arya sudah Mama kenalkan beberapa anak teman Mama, Selalu menolak.”


“Sudah, Ma. Jangan mencampuri urusan Arya lagi. Arya sudah dewasa.”


“Tidak bisa begitu dong Pa. Mama juga harus tahu dan harus memilihkan Ibu yang tepat untuk Cucu kita.”

__ADS_1


Abi menghela nafas panjang, ia sudah tidak bisa lagi memberitahu istrinya yang semakin tua semakin menjadi.


__ADS_2