PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 30 JATI DIRI KEMALA


__ADS_3

Arya memberhentikan mobilnya di tempat yang di Maksud Suhendra, Ayah angkat Kemala. Sejenak ia mengamati tempatnya lalu menghubungi Raffi dan Bima serta Abi, ia memberitahu Kondisi dan situasi sekitar. Arya melihat ada beberapa anak buah Suhendra yang sedang bersembunyi melihat kedatangannya, Semua ia jelaskan pada Papa dan sepupunya.


Arya kemudian turun dan terus waspada, mengamati gerak gerik lawan dari ekor pandangan matanya. Ia terus berjalan menuju tempat dimana yang di maksud Suhendra. Tak lama deringan ponsel Arya berbunyi, rupanya dari ponsel Kemala, sudah pasti itu dari Suhendra.


“Halo!” jawab Abi berhenti sejenak dari langkahnya.


“Kau sudah datang, wahai menantuku! Apa kau sudah menyiapkan semua yang aku minta, Mobil dan uang?” ujar Suhendra yang rupanya ia meminta tebusan, sebab mengetahui Arya bukanlah orang sembarangan. Rupanya disaat pelariannya itu, diam-diam Suhendra mencari tahu siapa sebenarnya suami sang Anak angkatnya itu.


“Itu hal mudah, serahkan Anak dan istriku! Atau aku akan membunuhmu!” jawab Arya di sambungan ponselnya.


"Jangan terburu-buru anak muda. Kau melangkah saja dulu kedepan, lihat lah anakmu.” Suhendra mematikan sambungan ponselnya, kemudian Arya melangkah masuk dan mencari keberadaan Anak dan istrinya.


Arya melihat gudang kosong tersebut lalu membuka tiap ruangan dan akhirnya ia menemukan anak dan istrinya terikat dan mulut mereka di bekap.


“Mala!” serunya hendak menghampiri mereka. Namun, Anak buah Suhendra menghadangnya.


“Tidak semudah itu, bung! Kau harus merasakan apa yang dulu kami rasakan!”,ucap anak buah Suhendra yang kemudian memberikan bogem mentah ke arah wajah Arya.


Arya terhuyung lalu melihat tajam orang yang memukulnya, Arya melepaskan jasnya laku melihat Anak dan istrinya. Saat Arya menarik kerah kaos orang yang memukulnya dan hendak membalas bogemannya, Ayah Kemala berteriak kearah Arya.


“Hai, berani kau sentuh anak buahku, Ku habisi istrimu!” Suhendra menjambak rambut Kemala sampai Kemala menjerit dalam mulut yang bekap.


Arya mengurungkan niatnya dan melihat Kemala dan anaknya menangis. Tak lama Arya pun di hajar anak buah Suhendra tanpa ampun. Suhendra melepaskan lakban yang menutup mulut Kemala.


“Mas!” Serunya melihat sang suami dihajar.


“Ayah lepaskan Mas Arya dan anak-anak, urusan Ayah denganku. Apa yang Ayah inginkan akan Mala penuhi, asal Ayah lepaskan mereka,” ucap Kemala memohon sambil berusaha melepaskan ikatan tali tangannya.


“Tidak semudah itu melepaskannya, Aku ingin suamimu itu juga merasakan apa yang aku rasakan saat ia menyekapku dengan alasan dirimu. Sekarang kau jug menjadi alasan aku untuk menghajarnya. Kau memang anak pembawa sial!”


“Ayah, maafkan Kemala, jika Kemala banyak melakukan kesalahan, Tapi tolong lepaskan Mas Arya dan anak-anaknya. Mereka tidak terlibat dengan masalah kita.”

__ADS_1


Suhendra mengangkat tangannya memberi tanda pada anak buahnya agar berhenti menghajar Arya. Suhendra melihat Kemala dengan penuh selidik, Akhirnya Kemala mengetahui jika dirinya bukan Ayah kandungnya.


“Jadi kau sudah tahu, siapa dirimu sebenarnya?” tanya Suhendra dan di angguki Kemala.


“Kau juga sudah tahu jika kau sebenarnya cucu seorang pengusaha?”


“Apa?” Kemala terdiam mencerna ucapan Ayah angkatnya, Apa yang sebenarnya terjadi selama ini dan apa yang ditutupi Suhendra dan dendam apa yang membuat dirinya tega menyiksa Kemala dari kecil.


Arya juga heran, apa yang dimaksud Suhendra. Ia perlahan bangkit sambil memegangi dadanya yang terkena pukulan. Suhendra tertawa melihat wajah Kemala yang begitu penasaran siapa dirinya yang sebenarnya.


“Ouh ... Jadi kau belum semua tahu siapa dirimu yang sebenarnya? Aku beritahu, Ya ... mungkin sudah waktunya. Tapi sebenarnya aku sudah lama ingin memberitahumu, tetapi aku lebih senang melihatmu tersiksa! Karena itu balasan setimpal untuk Orang yang sudah menabrak istriku yang dahulu sedang mengandung.” Suhendra kembali tertawa sambil menepuk-nepuk pipi Kemala.


“Katakan siapa aku sebenarnya, Ayah?”


“Kau, kau .... cucu Nyonya Bella dan Daniel Morgan. Pengusaha advertising, Sahabat Oma suami kamu! Kau anak Aron Morgan, Putra Daniel morgan dan Nama aslimu adalah Belinda Selena Morgan. Aku munculikmu saat kau usia dua tahun, dan Ibu itu istri baruku saat aku sudah menculikmu. Ibu mu tidak tahu fakta yang sebenarnya.”


Arya mengingat nama yang disebut Suhendra dan mengingat sahabat sang papa Aron. Yang dulu anaknya hilang tanpa jejak hingga membuat isteri Aron sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia begitu juga Aron sendiri. Namun Daniel masih hidup dan kembali ke negaranya, London. Setelah Bella. dan Aron wafat, perusahaan advertisingnya di serahkan pada orang kepercayaannya.


Kemala terdiam dan tidak percaya dengan kenyataan yang ia dengar bahwa ia di culik dari keluarga kandungnya dan semua itu bermula saat Ayah kandung Kemala, Aron. Tidak sengaja menambrak Istri pertama Suhendra. Padahal saat itu Aron sudah bertanggung jawab penuh. Akan tetapi Suhendra tetap sakit hati dan menyimpan dendam dan ia lampiaskan pada Kemala yang kala itu masih kecil dan sampai saat ini. Bahkan adik Suhendra pun tidak mengetahui hal yang sebenarnya, sebab dahulu mereka tinggal terpisah dikota berbeda


Arya menggunakan kesempatan disaat semua lengah dengan cerita Suhendra. Arya perlahan mundur dan mencari celah untuk membebaskan orang yang ia cintai. Anak dan sang istrinya. Arya mengambil sebuah balok dan perlahan mendekati Suhendra dari belakang dan


’BUKK!' Arya memukul Suhendra di bagian kepalanya. akan tetapi Suhendra hanya terhuyung dan melihat ke arah Arya. sontak anak buah Suhendra langsung beramai-ramai mengepung Arya dan mengajarnya. Sementara Suhendra masih merasakan pusing dan terhuyung menghampiri Kemala dan anak-anak mereka.


Kemala akhirnya berhasil melepas ikatan tali di tangannya kemudian melepaskan dengan cepat tali yang mengikat Zidan. Namun, saat hendak melapaskan ikatan tali Zea, Kemala di Jambak Suhendra dan di seret.


“Zidan lindungi Zea. Kalian lari!” teriak Kemala pada kedua anak sambungnya itu.


Zidan mengerti, akhirnya melepaskan ikatan Zea dan berusaha tenang, Setelah selesai ia mengajak Zea berlari mencari tempat aman. Mereka berdua bersembunyi di sudut yang terhalang beberapa kotak kardus yang tersusun.


Melihat Kemala diperlakukan bak binatang, Arya sekuat tenaga membalas dan bergantiain menghajar anak buah Suhendra. Ia tidak peduli dengan rasa sakit pada tubuhnya sendiri.

__ADS_1


“Lapaskan istriku!” teriak Arya menendang Suhendra hingga terpental membentur tembok. Suhendra terhuyung dan kesakitan lalu tersungkur di lantai.


“Mas,” lirih Kemala menghambur kepelukkan Arya.


“Woy!” teriak Raffi yang baru saja datang bersama Abi dan Bima, serta pihak kepolisian. Mereka menghajar anak buah Suhendra yang berusaha bangkit dan akan menyerang Arya. Sedangkan Abi menghampiri Cucu-cucunya yang bersembunyi.


“Woy, wis! Mati anake wong!” teriak Abi pada Rafi dan Bima.


“Urung puas aku!” Jawab Raffi sambil meraih kemeja Salah satu anak buah Suhendra.


“ Telat! Lah yo, Ono polisi tah!” balas Arya yang masih memeluk Kemala.


Beberapa polisi meringkus tersangka termasuk Suhendra. Mereka di bawa keluar. Sebelum Suhendra di bawa, Suhendra melihat Kemala dengan penuh kebencian yang begitu dalam. Ia menginginkan Kemala mati seperti Almarhum istri dan anaknya. Tiba-tiba Suhendra mengambil pistol polisi dan langsung mengarahkannya ke arah Kemala.


‘Dorrrr! Dorrr!” Suhendra menembak Kemala dan mengenai pinggangnya. Bersamaan dengan itu Suhendra akhirnya ditembak polisi dan tewas di tempat.


Arya sejenak terpaku melihat Kemala yang ada di pelukannya, ia meraba bekas tembakan sang istri lalu melihat darah yang ada di tangannya. Arya meneteskan Air matanya melihat wajah Kemala yang justru tersenyum padanya.


“Maafka aku, Mas!” lirih Kemala dan langsung jatuh tidak sadarkan diri dalam dekapan Arya.


“Mala!!" teriak Arya. “ Sayang, bangun sayang. Semua sudah berakhir. Mala!”


“Kak, cepat bawa ke ambulans!” seru Rafı yang datang menggunakan Ambulans dari rumah sakit, ia sengaja membawa salah satu Ambulan rumah sakit untuk berjaga-jaga terjadi sesuatu.


“Ambulans?” tanya Arya heran kenapa ada ambulans.


“Alah! ora usah kokean mikir, aku seng gowo Ambulan.” Raffi bergegas berlari menuju keluar untuk membuka pintu ambulannya


“Mama!” teriak Zidan di gendongan Abi. Sedangkan Zea masih menangis di gendongan Bima.


“Ayo kak, cepat bawa ke Ambulan. Jangan bengong?” seru Bima . Arya bergegas membopong Kemala dan membawanya keluar.

__ADS_1


Kepala polisi menemui Abi dan mengatakan akan segera menindak lanjuti laporany setelah Kemala mendapat penanganan. Setelah itu Abi dan Bima menuju rumah sakit menyusul Arya dan Kemala.


__ADS_2