
Kemala dan Arya saat ini sedang berada di rumah sakit, sebab mereka mendengar kabar jika Ibunya sudah siuman. Cukup lama Ibu Kemala koma yaitu 8 bulan akibat pendarahan otak karena suaminya dulu membentur dan memukulinya dibagian kepala. Sehingga membuat saraf di otaknya ada yang terganggu.
Kemala begitu terharu melihat Ibunya membuka mata, walau belum mengenali dirinya dan anggota keluarganya. Hanya satu yang disebut sang Ibu ya itu nama sang suami, Sehendra.
Kemala bingung harus menjelaskan pada Ibunya jika sang Ayah sudah tiada. Andai sang Ibu tahu Ayahnya meninggal karenanya, mungkin Ibunya akan marah dan kecewa padanya jika tahu yang sebenarnya.
“Ibu ... ini Mala. Ibu ingat Mala, kan.” Kemala mengusap pipi Ibunya. Namun sang Ibu hanya terdiam tatapannya masih kosong fdan bibirnya terus menyebut sang suami.
Kemala menangis melihat kondisi Ibunya yang mencari keberadaan Ayahnya. Kemala memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya. Ia bangkit dan menghambur kepelukkan Arya.
"Mas, bagaimana ini. Bagaimana kalau Ibu tahu jika Ayah sudah tidak ada?” Kemala menangis di pelukkan Arya.
“Katakan sejujurnya saat kondisi ibu sudah membaik. untuk saat ini diam dulu tapi terus komunikasi untuk merangsang Ingatan Ibu.”
"Semua ini gara-gara Kakak!" ujar adik Kemala yang tidak tahu menahu pangkal permasalahannya.
"Rika! Apa maksudmu?” saut bu lek.
"Iya, semua ini gara-gara Kakak yang tidak patuh sama Ayah! Ayah jadi marah lalu kakak tidak terima dan melaporkan ke polisi seperti waktu itu!”
'Plak’ Bu lek menampar Rika.
“Kalau kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya, lebih baik diam. Selama ini kamu tidak tahu kebusukan Ayahmu dan kamu tidak tahu,kan sebenarnya Kakakmu ini bukan anak kandung Ayahmu. Asal kamu tahu, berapa puluh tahun kakakmu ini disiksa Ayahmu hanya untuk balas dendam masa lalu, padahal Kemala itu tidak tahu apa-apa masa lalu Ayahmu. Gara-gara Ayahmu Kemala terpisah dari keluarga kandungnya. Dan ibumu, Ibumu itu terlalu cinta mati dengan Ayahmu, padahal kamu tahu sendiri bejatnya Ayahmu.”
Akhirnya Bu lek menceritakan semuanya pada Rika, agar gadis 17 tahun itu tahu fakta yang sebenarnya bahwasa Kemala bukanlah anak atau Kakak kandungnya. Bu lek juga menceritakan bagaimana kejamnya Suhendra menyiksa dan menculik Kemala bersama anak tirinya dan bagaimana sang Ayah mati di tembak polisi.
"Sekarang kamu paham! Masih untung Kakakmu itu tidak membenci kita sebagai keluarga Ayahmu. Bisa saja, kan Kakakmu itu sudah tidak peduli dengan keluarga kita. Dan biaya sekolah kamu dan rumah sakit Ibumu ini, yang menanggung itu suami Kakakmu.”
"Tapi kalian tidak tahu bagaimana kehilangan seorang Ayah! Bagiku Ayah segalanya karena Ayah selalu baik denganku!” Rika tidak terima dan tidak percaya jika sang Ayah lah yang bersalah.
"Rika, Cukup!” teriak Pak lek. Rika melihat tajam ke arah Kemala dan mempunyai dendam sendiri. wajar jika Rika sangat kehilangan sosok Ayah, karena dimatanya Suhendra adalah Ayah yang baik baginya, sebab hanta dengan Kemala Suhendra tega berbuat keji.
"Sudah, pak lek. Rika ... maafkan kakak. Iya, kakak yang salah. Kakak minta Maaf.” Kemala berusaha mendekati Rika, tetapi Rika menghindar dan justru menepis tangan Kemala yang hendak memegang tangannya.
"Lebih baik Kakak pergi.”
"Rika....”
"Pergi!”
__ADS_1
Akhirnya Kemala keluar bersama Arya. Saat keluar Arya melihat Rafi berlari ke arahnya.
"Kak Arya!” Panggil Rafi. Rafi heran kenapa adik sepupunya yang berprofesi dokter di rumah sakit keluarganya itu terlihat berlari dan panik.
"Kak!” panggilnya saat sampai di hadapan Arya
"Apa?”
"Bibi Utari masuk UGD!”
"Apa?”
“Mama kenapa, Mas Rafi?” tanya Kemala.
“Kecelakaan!”
"Ya Tuhan, Mas ayo temui Mama?”
Mereka bertiga segera menuju UGD untuk melihat kondisi Utari. Sesampainya di sana Arya melihat Utari terbaring dengan beberapa luka di tubuhnya dan sedang di tangani dokter dan perawat jaga.
"Astaga Mama,” Gumam Arya sambil memeluk Kemala. karena Kemala begitu takut melihat kondisi Utari.
"Aku juga tidak tahu, sayang. Biar dokter yang menangani Mama.”
"Kak, ini orang yang membawa Bibi ke rumah sakit.” Rafi memberitahu Arya orang yang menyelamatkan Utari
"Bagaimana kejadiannya?” tanya Arya.
“Saya tidak tahu persis tuan, tiba-tiba mobil yang di tumpangi Ibu itu menabrak trotoar,” jelas orang tersebut.
"Apa beliau sendiri?”
"Ibunya bersama pria muda, pria muda itu di ruangan sebelah, mungkin putranya.” Pria tersebut menujuk ke arah ruang sebelah dan mengira pria tersebut adalah anak dari Utari.
Arya mengusap wajah dan tampak begitu marah, kemudian ia menuju ke ruangan sebelah untuk melihat pria muda tersebut. Arya melihat pria muda tersebut juga sama seperti Utari, terluka di daerah pipi dan tangannya. Namun pria tersebutasih sadar.
Kemala melihat pria itu dan ia mengerutkan dahinya, Kemala heran, pria itu bukan pria yang sama yang di ajak ke rumah Arya. Ini pria yang berbeda.
Arya mendekati pria tersebut. Ia ingin menanyakan kenapa bisa terjadi kecelakaan.“ Apa yang terjadi, kenapa kau bisa bersama Mamaku?”
__ADS_1
"Mas, ini siapa, sepertinya bukan pria yang dulu diajak Mama ke rumah!” Kemala berbisik pada Arya.
Arya memperhatikannya dan baru sadar jika pria tersebut orang yang berbeda. Pria ini tampak lebih muda dari pria sebelumnya.
“Kami baru pulang dari rumah saudara Mamamu. Kami bertengkar dijalan dan sedikit mabuk. Akhirnya Mamu membanting setir dan setelah itu menabrak trotoar,” balas pria tersebut terbata-bata.
Arya kemudian mengambil ponselnya dan keluar dari ruangan pria tersebut, Kemala hanya mengikuti langkah sang suami.
Arya duduk di ruang tunggu bersama Kemala sedangkan Raffi menangani Utari. Arya menghubungi Abi untuk memberitahu bahwa Utari masuk rumah sakit.
" Halo, Pa.”
“Hm. Ada apa, tumben pagi-pagi telepon?” tanya Abi.
"Mama kecelakaan, sekarang ada di rumah sakit.”
Abi memejamkan matanya dan sejenak terdiam memikirkan kondisi mantan istrinya. “ Bagaimana kondisi Mamamu?”
"Masih di UGD, pa.”
“Ya, Papa hanya bisa mendoakan, semoga Mamamu cepat pulih.”
“Papa tidak menjenguk, Mama.”
“Tidak, Arya. Kami mempunyai kehidupan masing-masing. Papa sudah tidak mau ikut campur dengan urusan Mamamu. Kau anaknya, tolong urusi Mamamu.” Abi kemudian mematikan ponselnya. Sebenarnya ia ingin melihat kondisi Utrai, tetapi ia tahu posisinya dan statusnya yang sudah bukan siapa-siapa bagi Utari. Ia hanya ingin menjaga perasaan sang istri. Istri yang mencintai dirinya apa adanya.
"Mas, ini kopinya.” Kalina tiba-tiba datang dengan membawakan kopi.
Abi tersenyum lalu menerima kopi dari tangan Kalina.“ Terima kasih, sayang!”
Kalina duduk disamping Abi. "Mas, ini kan hari libur. Nasya sepertinya mau jalan-jalan. Mas ada waktu?”
"Pasti ada dong, buat putri kecilku pasti ada waktu. Ayo, mau kapan?”
"Tidak sekarang, Mas. Nanti sore.”
"Baiklah. Oh Iya. Mana anaknya.”
"Ada di dapur, lagi belajar cuci piring.”
__ADS_1
keduanya tertawa membayangkan putrinya mencuci piring. Rupanya Nasya sudah beranjak dewasa dan sudah mau membantu sang Mama di dapur.