
“Arya!” panggil Abi saat Arya hendak masuk lift bersama putra, sang paman.
Arya menoleh ke arah sumber suara. "Iya, Pa!”
Abi menghampiri Arya.“ Aku dengar Mamamu ku bawa ke piskiater? Memang Mamamu kenapa?” tanya Abi sambil menekan tombol lift, keduanya masuk saat pintu lift terbuka.
"Iya, pa! Mama kejiwaan sedikit terganggu, Ingatan kembali saat masih muda dan terus menyebut nama papa.”
“Kenapa kamu tidak memberitahu papa!”
“Tidak perlu, Mama tanggung jawabku, Papa fokus saja dengan Kalina dan Nasya, papa tidak mau, kan. Kalina cemburu.”
"Papa hanya ingin tahu kondisi ibu dari anak-anak Papa, itu saja, tidak lebih.”
“Bagus! Cukup Kalina, Ok!”
"Malah ngajari, sontoloyo!” Abi menepuk punggung Arya.
"Kamu itu yang harusnya cukup Kemala saja. ora usah tebar pesona kesana-kemari kayak alamat palsu.”
"Ya tidak apa-apa! Aku, kan masih muda!” Arya tertawa melihat sang papa.
tak lama terdengar deheman Putra menandakan dirinya tidak nyaman dengan candaan adik dan keponakannya itu. Karena ia juga merasa memiliki lebih dari satu wanita. Arya dan Abi sontak terdiam dan saling sikut menyikut.
“Arya, Nanti tolong ke ruanganku!” ujar putra datar sambil melihat jam tangannya.
“Iya, paman.”
Putra kemudian keluar dari lift saat pintu lift terbuka lalu di ikuti Abi dan Arya berjalan di belakangnya lalu menuju ke ruangan masing-masing. Arya meletakkan tasnya dan berfikir, ada apa sang paman memanggilnya, apa masalah proyek atau hal lain.
"Ah, sudahlah temui saja.” Arya kemudian bergegas menuju ruangan putra.
Arya masuk ke ruangan putra setelah mengetuk pintu.“ Ada apa paman?” tanya Arya. Putra melihat Arya dengan tatapan dingin dan datar seperti biasa.
__ADS_1
“Duduk!”
Arya pun duduk dan sedikit merinding jika melihat tatapan pamannya itu.“ Kau yang mengenalkan Aldo dengan Adikmu, Aira?”
"Tidak, paman. Mereka pertama bertemu saat di ruanganku dan berlanjut saat acara empat bulanan Kemala. Aku hanya bilang pada Aldo jika menyukai Aira, aku suruh untuk mendatangi Paman. Itu saja.”
“Adikmu itu masih bocah, Arya. Baru 23 tahun. Belum pernah pacaran, sekali menyukai pria kenapa usianya sama sepertimu!” Putra menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, Ia tidak rela putri kecilnya dari istri keduanya itu mendapatkan pria yang begitu dewasa dari usia sang anak.
“Paman setuju atau tidak, Masalah usia tidak menjadi masalah, kan paman! Aku dan Kemala juga terpaut jauh, Jane dan suami juga sama, kak Siena dan kak Nathan juga sama, bukan? Mereka hidup bahagia dan banyak anak. Tidak perlu jauh-jauh, Tante Bianca dan om Reza juga jarak mereka juga termasuk jauh, bikan. Aldo pria bertanggung jawab, Rekam jejaknya juga baik, intinya tidak seperti kita berempat, Kan?”
“Kau ingin mengatakan aku, Papamu dan Juna brengsek?”
“Semua orang juga tahu, paman.”
Putra melihat Arya lalu tersenyum miring, mengingat dirinya dan kedua adiknya Abi dan Juna serta sang ponkan yang saat ini dihadapannya itu memang playboy kelas kakap.
“Aku hanya tidak rela jika Aira dibawa ke Kalimantan. Dengan siapa ia disana!”
“Paman belum memberi jawaban lamaran Aldo.”
"Ok, itu terserah paman. Mereka sama-sama suka, Aldo juga bukan type pria seperti kita. Paman juga tahu, kan Aldo semasa SMA.”
“Rasa suka bukan berarti tiba-tiba melamar anak gadis orang begitu saja. Banyak yang harus Aira pertimbangkan, perbedaan usia, status Aldo yang seorang duda.”
“Itu terserah paman. Saya juga tidak punya hak untuk mengatakan tidak atau iya, walaupun saya bisa menjadi wali nikah Aira. Permisi.”
Arya keluar dari ruangan Putra dengan sedikit kesal. Bisa-bisa sang paman masih meragukan Aldo. Mungkin itu hal wajar bagi seorang ayah yang mengkhawatirkan anak gadisnya, akan tetapi menurut Arya, Putra berlebihan. Bukankah lebih baik ada seorang pria yang melamar anak gadis dengan cara gentelmen dan Serius meminang sang putri. Apalagi pria tersebut sudah mapan dalam segala hal.
“Hal seperti ini aku juga yang pusing!” desis Arya kesal saat sampai di ruangannya.
Rasanya ingin sekali ia kembali ke masa kecil tanpa memikirkan beban dan permasalahan orang banyak apa Lagi urusan keluarganya. Dari dulu Arya seperti Papannya yang selalu memecahkan semua masalah keluarga dan terkadang masalah sendiri tidak terurus dan justru tidak tahu harus menyelesaikan bagaimana.
Tak lama terdengar ketukan pintu dan masuklah Aira. “Kakak, bantu Aira dong kak. Masak lamaran Mas Aldo di gantung sama Papa, tidak ada jawaban Iya atau tidak!” Aira berdiri di belakang Arya.
__ADS_1
“Nanti saja kita bicarakan, Ra. Kakak juga pusing, Papamu baru saja membicarakan kalian.”
“Terus, terus, terus!” Aira penasaran apa jawaban sang Papa pada Arya. Aira membalikkan tubuh Arya dan wajahnya penuh harap.
“Sama saja, Papamu sepertinya tidak setuju. Lagian kamu juga aneh, suka kok sama yang sudah tua.”
“Memangnya tidak bolah? sedangkan Papa saja sama mama jaraknya juga jauh, papa sekarang 65 mama 50, apa bedanya sih! Om Abi sama Tante Kalina juga sama saja, kan. Memangnya Pria tua saja yang boleh suka sama yang daun muda. Mamangnya Aku tidak boleh suka pria yang lebih tua seperti Mama. Kalau gak boleh, itu namanya egois dong! Awas saja kalau papa seminggu ini tidak memberi jawaban pasti sama Mas Aldo. Aku mau kawin lari sama Mas Aldo.”
"He ... sembarangan! dijaga bicaranya.”
“Habisnya, Papa egois.” Aira pun begitu kesal lalu meninggalkan ruangan Arya.
Arya menggelengkan kepalanya dan menarik nafas dalam-dalam. Pagi-pagi bukannya urusin pekerjaan, lah ... malah ngurusi masalah Lamaran. Nasib jadi yang lebih tua. Banyak yang harus di urusi. Ya Allah Gusti pareng ono sabar!” gumam Arya mengusap kasar wajahnya.
"Terserah, aku mau menyelesaikan pekerjaan dulu.” Arya pun duduk di kursinya kemudian membuka laptopnya.
Baru saja hendak menghidupkan laptopnya tiba-tiba Bima datang.“ Bro! Aira nangis, Aku kudu Piye. Nangis kae neng ruanganku.”
"Adikmu, kan. Ya urusi lah! Aku Iki wes mumet Karo masalahku Dewe, isih wae di tambah masalah Aira.”
“Ar! Kue Reti Aira koyo Opo, kan . Nurute gur Karo kue tah!”
Arya bangkit lalu keluar dari ruangannya membuat Bima hanya melongo melihatnya berjalan keluar tanpa melihatnya. Tak lama Bima menyusul Arya yang ternyata menuju ruangannya.
Arya masuk ke ruangan Bima dan melihat Aira menangis di sofa.“ Ra, jangan seperti ini. iniasih di bicarakan dengan baik-baik. Tapi tidak sekarang. Sekarang selesaikan pekerjaan kantor dulu. ok. Nanti Malam Kakak ke rumah mamamu.”
Aira masih terdiam dan mengusap air matanya. tak lama ia bangkit dan memeluk Arya. Ia begitu senang memiliki kakak sepupu seperti Arya yang begitu peduli walau sedang sibuk.
****
putra Sanjaya
__ADS_1