
WAHYU Tetap tak bisa melampiaskan kemarahan nya itu, ia tetap bersabar dan mencoba ingin menolak nya dengan ucapan.
"maaf Ki Baron, apakah tak ada wanita lain yang ingin Ki Baron cicipi kemolekan tubuh nya? aku bisa mencarikan wanita penghibur yang jauh lebih cantik dan seksi dari calon istri ku itu."
"aku tetap ingin menikmati tubuh calon tumbal mu itu, mas Wahyu."
"tapi Ki..." ucapan Wahyu terpotong oleh Ki Baron.
"ingatlah ucapan ku yang dulu mas Wahyu! jangan sampai kau terlalu mencintai calon tumbal mu itu! bisa-bisa kau yang merasakan sakit nya kehilangan seperti yang pernah kau alami kepada Lastri! ingat itu baik-baik mas Wahyu!" ucap Ki Baron tegas dan Wahyu pun diam tak bisa berkutik diceramahi seperti itu.
Pada saat itu Wahyu mendengar suara tangisan seorang perempuan. ia menoleh ke arah belakang nya dan disana terlihat sesosok perempuan duduk memeluk lutut nya dan membelakangi Wahyu. pakaian perempuan itu mirip seperti pakaian terakhir Lastri sebelum meninggal.
"Lastri!? dia masih hidup!?" ujar nya kaget dan Wahyu segera berbalik ke arah Ki Baron,
"Ki apakah ini cuman mimpi!?" pertanyaan Wahyu tak mendapat jawaban karena Ki Baron sudah tak ada lagi.
Wahyu segera memalingkan wajah nya lagi ke arah Lastri yang menangis itu. Wahyu mencoba melangkahkan kaki nya ke arah Lastri dan akhir nya ia bisa bergerak.
"badan ku sudah tak kaku lagi dan suara ku sudah normal! mungkinkah ini kenyataan???" ucap Wahyu pelan dan ia langsung berjalan ke arah Lastri.
"Lastri..., kau kah itu???" tanya Wahyu dan Lastri tetap menangis. didepan nya ada sebuah kuburan yang retak lebar dan Wahyu segera ingat bahwa kuburan itu adalah makam nya Lastri yang ia kubur bersama Ki Baron.
Wahyu segera menepak pundak Lastri dan seketika itu juga Lastri segera memalingkan wajah nya ke arah Wahyu. wajah Lastri pucat dan bola mata nya putih semua, ditambah dengan darah yang masih mengucur dari luka didahi nya yang robek itu membuat wajah Lastri begitu menyeramkan. Wahyu kaget dan berteriak keras ketika kaki nya diseret ke dalam kuburan yang retak itu.
__ADS_1
"tidaaak! jangan Lastri! maafkan akuuuuu!" teriak Wahyu didalam tidur nya itu.
Ayu yang baru selesai menyiapkan masakan dimeja makan pun mendengar teriakan Wahyu dari dalam kamar nya. sontak Ayu berlari dan membuka pintu kamar, disana Wahyu sudah bangun dan terduduk. tatapan nya nampak bengong sembari memegang kepala nya seperti orang yang sedang sakit kepala.
"sayang kau kenapa!?" tanya Ayu yang khawatir.
"Lastri! maafkan aku!" ucap Wahyu menatap Ayu.
"Lastri!? sayang aku ini Ayu bukan Lastri!" tegas Ayu dan seketika itu juga Wahyu langsung tersadar dari bengong nya itu.
"aduh kepala ku terasa pusing." ujar Wahyu dan Ayu segera bertanya,
"kau tadi kenapa berteriak sayang? apa kau habis bermimpi buruk?"
"iya seperti nya, aku bermimpi bertemu Lastri dan..." ucapan Wahyu terhenti karena ia sadar bahwa apa yang ada didalam mimpi nya itu berkaitan dengan Ayu.
"seperti nya kau sangat cinta sekali kepada Lastri." ucap Ayu yang merasa diri nya tak dicintai oleh Wahyu.
"Lastri memang cinta pertama ku dan aku sangat mencintai nya, susah senang kita alami bersama. aku tak menyangka akan secepat itu Lastri meninggalkan ku untuk selama-lama nya. setelah kematian nya aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar aku bisa melupakan Lastri. tetapi entah mengapa ia selalu hadir didalam mimpi ku ini, padahal aku sudah berusaha untuk melupakan segala nya tentang Lastri." ucapan Wahyu itu membuat Ayu terharu, kemudian ia berkata.
"apakah kau akan terus-terusan mengenang Lastri, mas Wahyu? jika begitu lalu apa guna nya aku ada di sini???" Wahyu menatap wajah Ayu yang murung itu, lalu ia berkata.
"sayang, aku mencintai mu seperti aku dulu mencintai Lastri. aku memilih mu karena aku yakin kau bisa menggantikan posisi Lastri dihidup ku."
__ADS_1
"lalu apa yang kurang dari ku mas? aku selalu melayani apa yang kau butuhkan mas. aku telah mencuci pakaian mu, mencuci perabotan bekas makan dan masak, lalu menyapu dan mengepel rumah ini, memasak makan siang untuk mu dan aku pun telah mengompres kening mu agar demam mu cepat turun. lalu apalagi yang kurang dari ku? apa aku harus memakai pakaian yang selalu dikenakan oleh Lastri itu mas?" ucapan Ayu itu membuat Wahyu terdiam beberapa menit, kemudian Wahyu berkata.
"tak ada satu pun yang kurang dari mu sayang, maafkan aku yang selalu membahas Lastri didepan mu. sekarang aku akan berusaha untuk mencintai dirimu saja dan tak akan ada lagi wanita yang mampu menggantikan mu. apapun yang kau inginkan katakan saja kepada ku sayang, aku akan selalu menuruti keinginan mu itu."
"janji ya mas?" tanya Ayu mulai hilang rasa murung nya.
"iya janji sayang ku." ucap Wahyu seraya memeluk Lastri.
"ichhh baju mu basah sayang. ganti pakaian dulu gih." ujar Ayu yang menarik diri dari pelukan Wahyu dan Wahyu pun baru menyadari bahwa baju nya telah basah oleh keringat.
"yasudah kamu ganti pakaian dulu sayang, aku tunggu diruangan meja makan. disana aku sudah memasak untuk kita makan siang bersama."
"baiklah sayang, muachh." ujar Wahyu yang mengecup pipi Ayu dengan lembut.
Ayu kini sudah pergi ke ruangan meja makan, Wahyu sedang berganti pakaian. ketika ia membuka lemari baju nya, disana ada sosok nenek-nenek tua yang menatap nya dan Wahyu sama sekali tak melihat nya karena ia tak bisa melihat wujud mahluk gaib. setelah Wahyu selesai memakai pakaian nya, ia segera menemui Ayu dimeja makan. kini mereka berdua makan siang sembari mengobrol soal perusahaan yang Wahyu pimpin itu. kala itu memang ada panggilan ponsel dari asisten nya Wahyu soal Wahyu tak masuk kerja. setelah Wahyu menjelaskan bahwa diri nya sedanf sakit, panggilan ponsel pun tak lama berakhir.
"memang nya siapa yang menghubungi mu mas?"
"oh itu asisten kantor ku, dia yang mengurusi semua perusahaan ku jika aku sedang tak masuk kerja."
"apa dia wanita yang dicemburui oleh mantan istri mu itu mas?" Wahyu teringat akan bualan nya soal kematian Lastri itu diakibatkan oleh rasa cemburu nya kepasa asisten nya itu.
"iya benar sayang, wanitu itu memang yang dicemburui oleh Lastri. sudah jangan bahas soal itu lagi sayang."
__ADS_1
"yasudah sayang." ujar Lastri dan mereka kini lanjut makan siang sampai selesai.
Disatu sisi, Ki Baron sedang didatangi oleh seorang tamu laki-laki. tamu itu adalah salah satu orang yang telah melakukan pesugihan dengan Raja Genderuwo dengan perantara dukun sesat itu. lelaki muda itu bernama Erwin dan ia adalah teman nya Wahyu yang telah menyarankan Wahyu agar ia melakukan pesugihan dengan Ki Baron.