PESUGIHAN (TUMBAL NYAWA)

PESUGIHAN (TUMBAL NYAWA)
PERSEKONGKOLAN


__ADS_3

KEMUDIAN Ki Baron bertanya kepada Ayu,


"perkenalan nama mu nona manis."


"nama saya Ayu, mas dukun." jawab Ayu bernada manja dan membuat dukun itu tertawa terkekeh.


"suara mu dan nama mu setara dengan wajah mu yang Ayu itu nona manis."


"terima kasih mas dukun." ujar Ayu menjawab nya dengan malu-malu.


"panggil aku kakang saja, tak perlu pakai mas dukun segala."


"baik kakang." ujar Ayu lagi, Wahyu yang sejak tadi diam pun merasa ada yang aneh terhadap pribadi Ayu.


"mengapa sikap nya Ayu berbeda seperti biasa nya?" ujar batin Wahyu, kemudian Erwin beranikan berkata.


"maaf sebelum nya jika saya menyela ki Baron, memang nya ada perlu apa ya ki Baron memanggil kami?"


"hmm aku sampai lupa, baiklah akan aku jelaskan." ujar ki Baron.


Kemudian ia menatap ke arah Wahyu yang menatap Ayu yang ada dibelakang nya itu,


"mas Wahyu..."


"iya saya ki..."


"apa kau tahu mengapa aku menyuruh mas Erwin ini untuk mengajak mu kemari?"


"saya kurang tahu ki."


"kau telah melakukan pelanggaran didalam perjanjian pesugihan itu dengan raja Genderuwo!"


"pelanggaran apa ki!? saya rasa tak pernah sama sekali saya melanggar larangan itu ki."

__ADS_1


"jangan berbohong didepan ku! jelas-jelas mahluk gaib peliharaan ku yang ku simpan dirumah mu semua nya terluka dan mengadu kepada ku kemari! kau telah memasang pagar gaib dirumah mu kan? jawab!" bentak Ki Baron marah dan membuat Wahyu serba salah harus menjawab nya.


Ayu sejak tadi diam saja dan ia cenderung menundukan kepala nya. Erwin menatap Wahyu sebentar, kemudian bertanya.


"apakah benar apa yang dikatakan Ki Baron itu, Wah?"


"aku sama sekali tak melakukan hal yang dilarang itu Win! aku bersumpah!"


"jangan mengelak kau mas Wahyu! aku sudah mencoba meraga sukma untuk masuk ke dalam rumah mu, tetapi aku terhalang pagar gaib dirumah mu! raja Genderuwo pun murka anak buah nya ada yang terluka ketika berada dirumah mu! kemarahan raja Genderuwo itu ia lampiaskan kepada ku agar aku memanggil mu untuk membayar semua kelalaian mu itu!" Wahyu menatap tegang ke arah Ki Baron.


Lalu Wahyu bertanya kepada ki Baron,


"apa yang harus saya bayar ki?" ki Baron saat itu langsung menatap Ayu yang posisi nya masih duduk menundukan kepala dibelakang Wahyu. Erwin menatap wajah Ki Baron yang terlihat seringai senyum napsu nya itu.


"seperti nya ki baron ini ingin menikmati tubuh nya si Ayu ini! ini tak boleh aku biarkan! harus nya aku yang menikmati nya bukan si dukun tua bangka ini!" ujar batin Erwin. tetapi saat itu Erwin mendapat bisikan telepati dari Ki Baron,


"kau juga mengincar wanita cantik ini bukan? kau akan kalah jika melawan ku untuk merebut wanita ini dariku! tapi jika kau mau membantu ku untuk membuat si Wahyu itu pingsab atau bunuh saja jika itu memungkinkan! setelah aku menikmati tubuh wanita ini, giliran kau yang menikmati tubuh nya! setelah itu raga wanita ini akan aku pakai untuk memanggil raja Genderuwo agar ia datang kemari untuk menemui ku! apa kau paham?" Erwin pun mengangguk kepada Ki Baron.


Saat itu suara ponsel Wahyu terdengar berdering dan Wahyu melihat nama yang tertera diponsel nya itu.


"siapa yang menghubungi mu sayang?"


"sebentar permisi dulu Ki, kau tunggu disini dulu bersama Erwin sayang." Ayu hanya mengangguk saja. Wahyu sudah keluar pondok dan mengangkat panggilan ponsel itu,


"halo kak Randi ada apa?"


"kau sedang dimana Wahyu? aku sedang berada dirumah mu, sejak tadi aku tekan bell rumah mu kau tak segera membuka nya." seketika itu juga Wahyu terdiam dan teringat Randi yaitu suami kakak nya Lastri.


"tumben sekali dia datang ke rumah ku? apa dia tahu bahwa Lastri sudah meninggal? apa hanya karena ingin main saja?" ujar hati Wahyu bertanya-tanya.


Didalam pondok, Ki Baron menatap Erwin yang sedang mengobrol dengan Ayu.


"Ayu, apa kau tak menyesal menjadi pacar nya Wahyu?"

__ADS_1


"untuk apa aku menyesal mas?" tanya Ayu polos.


"Wahyu itu orang miskin! asal kau tahu nona manis, semua harta nya itu ia dapatkan dari pesugihan dengan ku!" ujar Ki Baron dan Erwin pun mulai terpikir untuk bersekongkol dengan Ki Baron.


"betul itu Ayu, benar apa yang dikatakan Ki Baron."


"benarkah?" tanya Ayu dengan pura-pura polos dan Ki Baron pun bangun untuk mendekati Ayu.


"benar sayang, lebih baik kau dengan ku saja."


"tapi..." ucapan Ayu terhenti karena ki Baron segera membekap mulut Ayu dan memeluk nya dengan erat.


"kunci pintu agar si Wahyu itu tak bisa masuk!" ujar Ki Baron menyuruh Erwin.


"baik ki!" dengan sigap Erwin segera mengunci pintu rumah itu.


Wahyu yang sedang mengobrol dengan Randi soal maksud kedatangan nya itu ke rumah nya mendengar suara pintu terkunci dari dalam. kemudian ia mendengar suara jeritan Ayu meminta tolong,


"Ayu! mengapa dia berteriak!" ujar Wahyu dan ponsel nya Wahyu pun tergeletak jatuh. Randi yang saat itu sedang berada didepan rumah Wahyu bersama keluarga Lastri dan para polisi itu mendengar suara teriakan Wahyu yang memanggil nama ayu.


"dimana dia sekarang, Ran?" tanya ayah nya Lastri.


"dia tak memberitahukan tempat nya pak." kemudian ketua polisi pun berkata,


"berikan ponsel mu biar kami lacak mas." lalu Randi pun memberikan ponsel nya kepada ketua polisi itu untuk dilacak.


Wahyu masih berusaha membuka pintu itu. tapi pintu terkunci dari dalam dan Wahyu pun berusaha mendobrak nya dengan menendang nya. Ayu sudah dibawa oleh Ki Baron ke dalam kamar pribadi nya ki Baron. wajah Ayu habis diciumi oleh Ki Baron dan dada Ayu yang sekal itu diremas-remas.


"sudah jangan melawan, nikmati saja dan layani aku!" Ayu berusaha mengelak dari pelukan dukun cabul itu. Erwin mendengar teriakan Wahyu memanggil nama nya, namun Erwin tak menjawab nya.


Ayu pun berusaha untuk lepas dari dekapan ki Baron itu, tiba-tiba tubuh ki Baron terpental menabrak lisbang ranjang nya.


"aduuuh! sialan kau!" geram ki Baron melihat Ayu melarikan diri keluar kamar dan disana ada Erwin yang menghadang nya.

__ADS_1


"kena kau! mau lari kemana kau hah? sinilah sayang, kita main kuda-kudaan saja. hehehe." ujar Erwin dan segera menyergap Ayu hingga dipeluk nya. Ayu mulai kehabisan tenaga dan suara nya meminta tolong nya mulai lemah. Erwin pun mencium leher Ayu yang jenjang itu dan meremas buah dada nya yang sekal itu, Ayu masih berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan nya Erwin dan tubuh nya terasa sudah lemah sekali.


__ADS_2