
WAHYU Yang merenung sembari senyum-senyum sendiri itu ditatap aneh oleh Ayu. kemudian Ayu segera menepuk pundak Wahyu dan menegur nya,
"kamu kenapa sayang senyum-senyum sendiri???"
"ehhh! maaf sayang. tadi aku teringat akan Lastri."
"Lastri lagi Lastri Lagi! huhhh!" ujar Ayu cemberut jengkel. Wahyu paham akan tingkah Ayu yang seperti itu, kemudian Wahyu memeluk Ayu dan berkata.
"maaf sayang, aku teringat Lastri karena dulu aku pernah mengajari Lastri menyetir mobil."
"lalu aku kapan sayang?" tanya Ayu lagi.
"hmm, sambil menunggu mobil yang kita pesan itu datang. aku akan mengajari mu mengendarai mobil memakai mobil yang hitam besok."
"janji ya besok!?"
"iya janji sayang."
"tapi bagaimana jika nanti mas Wahyu malah pergi ke kantor?"
"paling hanya sebentar saja sayang, paling siang aku sudah pulang. nanti sore nya aku akan mengajari mu menyetir.
"hmm baiklah sayang." ujar Ayu tak banyak menuntut lagi dan kini mereka lanjut menonton televisi seraya mereka lanjut mengobrol membahas tentang cara-cara mengemudi yang benar dan dijelaskan oleh Wahyu kepada Ayu.
Di dekat meja rias, terlihat sosok nenek tua yang melihat kedekatan cucunya dengan Wahyu. ia merasa kasihan melihat cucu nya itu telah hidup kotor tak sesuai dengan apa tang telah diajarkan oleh sosok nenek nya itu ketika masih hidup. sosok nenek tua itu nampak kecewa terhadap cucu nya itu, tetapi sosok nenek tua itu tak membenci cucu nya dan ia akan terus menjaga cucu nya itu sampai akhir hayat sang cucu.
Disatu sisi, malam gelap telah membuat suasa rumah pondok Ki Baron nampak angker. bekas-bekas arang pembakaran sate daging burung gagak masih terlihat menyala membara. saat itu Erwin sudah selesai membakar sate itu dan kini sudah berada didalam pondok nya Ki Baron. Erwin duduk menghadap sesajen sate daging burung gagak yang sudah dibakar bersama Ki Baron. bau daging sate burung gagak itu bercampur dengan bebauan kemenyan dan wangi kembang tujuh rupa. Ki Baron sedang komat-kamit membacakan mantera pemanggil Raja Genderuwo dan Erwin hanya menunduk saja dengan tubuh nya mulai gemetaran. ia takut jika Raja Genderuwo itu murka kepada nya dan menghabisi nyawa nya. tetapi sebelum nya Ki Baron telah berkata akan melindungi nya dari amukan Raja Genderuwo tersebut.
Angin kencang mulai berhembus diluaran pondok Ki Baron. lampu-lampu obor diruangam pondok itu mulai bergoyang-goyang tertiup angin yang entah darimana datang nya. tiba-tiba tercium bebauan singkong bakar yang amat menyengat diruangan tersebut. Ki Baron dan Erwin sudah bisa menebak bahwa bebauan tersebut pertanda Raja Genderuwo itu telah tiba ditempat tersebut. Ki Baron sudah melihat didepan sesajen yang ia berikan sudah ada Raja Genderuwo. fisik nya tak sebesar raksasa pada umum nya, sosok Genderuwo itu telah menyesuaikan wujud nya sebesar manusia pada umum nya. tetapi segala rupa dan bentuk nya tetap menyeramkan seperti wujud Genderuwo pada umum nya, berbulu hitam seperti gorila, mata nya merah menyala dan gigi nya bertaring tajam serta memakai mahkota emas dikepala nya.
__ADS_1
"hatur sembah kepada Raja Genderuwo." ujar Ki Baron seraya menunduk hormat dan merapatkan tangan di atas kepala nya. Erwin pun ikut melakukan hal yang sama, kemudian terdengar suara berat dan besar.
"ku terima hatur sembah mu itu, Ki Baron. ada apa kau memanggil ku hah!?" Raja Genderuwo itu lalu duduk seraya memakan sate daging burung gagak itu.
"maaf sebelum nya Tuan Raja, aku memanggil mu hanya karena ingin menghaturkan permintaan maaf ku terhadap mu Tuan Raja Genderuwo, karena pengikut ku ini telah membuat mu murka akibat kesalahan anak muda ini." ujar Ki Baron seraya menatap ke arah Erwin dan Erwin langsung berkata,
"maafkan saya Tuan Raja Genderuwo, saya tak bermaksud ingin membuat kesalahan karena telah melanggar perjanjian pesugihan dengan mu tuan Raja." tatapan mata Raja Genderuwo yang merah menyala itu menatap Erwin dengan tajam, kemudian ia berkata.
"hmm jadi kau orang nya yang telah mencoba ingin memutuskan ikatan pesugihan dengan ku itu melalui seorang ustad hah!?"
"be..benar Tuan Raja, maafkan saya. saya telah menyesal." ujar Erwin berkata merendah dan penuh penyesalan.
Raja Genderuwo itu lalu minum air yang ada didalam kendi, kemudian ia berkata.
"harus nya kau saat itu sudah aku bunuh! tetapi anak buah ku melaporkan bahwa kau masih mempunyai kedua orang tua! jadi tumbal yang harus nya aku renggut dari mu adalah istri mu, aku alihkan kepada kedua orang tua mu agar kau tahu bahwa aku tak pernah main-main dalam melakukan hukuman bagi orang yang telah melanggar perjanjian pesugihan dengan ku!"
"apakah permintaan maaf anak muda ini diterima Tuan Raja?"
"bisa saja aku memaafkan kesalahan nya itu, tapi ada satu syarat!"
"apa itu Tuan Raja???" tanya Ki Baron lagi.
"tumbalkan istri nya sekarang juga!" mendadak mata Erwin mendelik menatap sosok Raja Genderuwo itu.
Ki Baron langsung berkata lagi,
"apakah tak ada tumbal yang lain selain istri anak muda ini Tuan Raja?"
"ada.., kau boleh menumbalkan orang lain tapi harus wanita yang masih perawan." ucapan Raja Genderuwo itu membuat Erwin teringat akan ucapan Wahyu yang berniat ingin menumbalkan karyawan perempuan nya.
__ADS_1
"maaf saya menyela ucapan Tuan Raja, apakah saya bisa menumbalkan karyawan perempuan yang bekerja ditempat saya untuk menggantikan istri saya Tuan Raja?" sosok Genderuwo itu menatap mata Erwin lekat-lekat seakan ingin melihat apa yang pernah dilihat oleh Erwin.
"boleh juga, aku melihat banyak wanita yang masih perawan ditempat pekerjaan mu itu!"
"tapi Tuan Raja, bagaimana cara saya menumbalkan karyawan saya? saya tak mau rencana saya ini diketahui oleh mereka."
"mudah saja, nanti anak buah ku yang akan membuat pekerja mu itu mati dengan cara nya sendiri. seolah-olah itu atas keteledoran nya sendiri! huahahah!" Raja Genderuwo itu pun tertawa terbahak-bahak dan Ki Baron menatap Erwin seraya berkata.
"ingat! jangan sampai kau melanggar peraturan dalam pesugihan ini lagi!"
"Baik Ki, saya berjanji."
"awas saja jika kau mengulangi kesalahan mu itu! aku tak akan segan lagi untuk membunuh mu!"
"baik Tuan Raja." ujar Erwin patuh.
"yasudah, aku mau pulang ke kerajaan ku. nanti anak buah ku akan melaksanakan tugas nya! nanti setiap malam bulan purnama aku akan mengambil tumbal mu itu anak muda!"
"baik Tuan Raja, terima kasih telah memaafkan saya."
"terima kasih Tuan Raja telah sudi rela datang ke tempat ini lagi." ujar Ki Baron.
"Ki Baron, jangan sampai kau lalai lagi dalam mengawasi orang-orang yang telah melakukan pesugihan dengan ku itu!"
"baik Tuan Raja." setelah Ki Baron berkata begitu, Sosok Raja Genderuwo itu pun menghilang.
...*...
...* *...
__ADS_1