
KERIS Panjang milik Ki Baron itu langsung di ambil oleh nenek nya Ayu itu dan menudingkan ujung keris itu ke arah Ki Baron.
"kau harus menebus kematian orang-orang yang telah kau bunuh dengan santet mu itu dukun sesat!"
"sialan kau nenek tua! siapa kau ini ikut campur urusan ku hah!?"
"aku adalah arwah dari orang tua orang yang kau santet itu!"
"jahanam! rupa nya kau sosok yang telah membunuh ayah ku! kau telah membalikan santet ayah ku hingga ayah ku tewas!"
"oh rupa nya kau anak dari dukun keparat yang sudah modar itu! sekarang kau yang akan menyusul ayah mu itu!" nenek Iroh tangan nya mulai bergetar terlihat sedang berusaha menahan tenaga gaib dari keris itu. Ki Baron berusaha mengendalikan keris itu memakai tenaga dalam batin nya. tetapi ia gagal dan lalu ki Baron segera melakukan gerakan silat dan kemudian melemparkan sesuatu ke arah nenek Iroh. santet berwarna kuning kemerahan sebesar biji sawo itu melesat ke arah nenek Iroh, tetapi nenek Iroh tak menghindar melainkan hanya diam dan serangan santet itu menghantap papan bilik bambu dan meletup memercikan api.
Ki Baron mendelik melihat serangan santet nya itu menembus tubuh nya nenek nya Ayu, kemudian nenek iroh melesat ke arah Ki Baron seraya menghujamkan ujung keris panjang nya itu. Ki Baron ingin menghindari nya, namun sayang tubuh nya bagai kaku tak bisa digerakan.
jlebbb "arghhh!" sentak Ki Baron yang tubuh nya tertancap ujung kering panjang nya dan tusukan itu sangat dalam.
Ki Baron mencoba menarik keris yang menghujam tubuh nya itu, namun ia tak bisa menarik nya dan tubuh nya melemah hingga ia ambruk jatuh.
"kikikikikik, rasakanlah kematian mu yang penuh dosa itu dukun sesat! kau akan dituntut oleh dineraka nanti oleh orang-orang yang telah kau bunuh dengan santet mu itu!" ujar suara nenek nya Ayu yang berada disamping nya dan Ki Baron menatap nya lalu ia memuntahkan darah segar dimulut nya.
"huekk! ka..kau..." Ki Baron tak bisa meneruskan ucapan nya lagi karena nyawa nya sudah cekak alias sudah meninggal dunia.
Pondok ki Baron mulai terbakar sebagian dan sosok nenek nya Ayu pun berkata,
"tinggal si Genderuwo itu yang harus aku kalahkan! aku harus mendatangi istana nya di alam siluman!" saat itu sosok nenek iroh telah menghang dan pondok Ki Baron semakin terbakar hebat. Wahyu dan Erwin melihat pondok Ki Baron terbakar dan Wahyu segera sadar bahwa di dalam ada Ayu. ia hendak berlari ke arah pondok, namun Erwin menendang nya dan mereka pun berkelahi lagi.
Wahyu masih berusaha untuk menangkis pukulan Erwin hingga merek bergelut ditanah dan masing-masing sudah bonyok wajah nya.
__ADS_1
"lepaskan aku sialan! Ayu ada didalam!"
"biarkan dia mati bersama dukun biadab itu didalam! kau juga harus mati brengsek!" bentak Erwin yang kini menjejak kaki Wahyu hingga Wahyu berteriak kesakitan. Erwin segera bangun dan mengambil patahan ujung keris yang tajam didekat nya.
Wahyu hendak bangun, namun kaki nya tak bisa digerakan karena memar akibat di injak oleh Erwin. saat itu pintu mobil Wahyu terbuka dan Ayu keluar dari dalam mobil itu. ia melihat Erwin menerkam Wahyu dan Wahyu berusaha menahan terkaman ujung keris itu. Ayu panik dan melihat sepotong kayu bakar di dekat mereka berdua, kemudian Ayu mengambil nya dan memukul kepala Erwin dengan kayu itu.
pletakk! "arghh!" sentak Erwin dan Wahyu segera menendang Erwin memakai kaki kanan nya dan Erwin meringis memegang kepala nya.
Ayu segera menolong Wahyu untuk bangun dan Erwin membentak Ayu,
"perempuan lacur! berani-berani nya kau memukul ku!"
"cuih! dasar lelaki tak tahu diri kau!" bentak Ayu dan ia segera memapah Wahyu untuk pergi ke dalam mobil. namun dikejauhan terdengar suara sirene polisi mendekati hutan itu, mereka bertiga menatap tegang ke arah pintu masuk hutan dan mobil polisi berhenti disana.
"kebetulan ada polisi! aku harus berpura-pura kesakitan agar aku dinyatakan korban kekerasan dari pasangan sialan itu!" ujar batin Erwin dan ia langsung berakting memegang kepala nya yang kesakitan.
"angkat tangan kalian!" lalu Wahyu dan Ayu pun mengangkat tangan, kecuali Erwin. para polisi itu melihat kobaran api yang melahap pondok kayu itu, kemudian mereka mendekati Wahyu dan Ayu.
"apa yang sedang kalian lakukan di sini hah?" lalu terdengar Erwin menyahut.
"mereka berdua ingin membunuh saya pak. tolong saya." ratap Erwin dan Wahyu segera berkata,
"jangan memfitnah ku kau brengsek! kau yang ingin membunuh ku!''
"sudah hentikan! kalian akan kami bawa untuk kami proses tindaj lanjuti atas kejadian ini! lalu mana lelaki yang bernama Wahyu?"
"saya pak." jawab Wahyu dan kemudian pak Polisi menyuruh anak buah nya untuk memborgol Wahyu.
__ADS_1
"pak mengapa mas Wahyu yang diborgol? jelas-jelas si Erwin itu yang salah!"
"mas Wahyu diduga telah membunuh istri nya yaitu Lastri dan dari pihak keluarga nya sudah melapor kepada kami." seketika itu juga Wahyu yang sudah dibangunkan oleh polisi lain nya pun tersenyum jahat kepada Wahyu.
"mampus kau! hahaha!" ujar batin Wahyu dan saat itu mobil keluarga nya Lastri tiba disana.
Mereka menatap ke arah datang nya mobil itu dan ayah nya Lastri sudah lebih dulu keluar. ia berjalan cepat ke arah Wahyu dan kemudian menampar Wahyu dengan keras.
"pembunuh kau!" bentak ayah nya Lastri sembari menitikan air mata.
"maafkan saya pak, saya salah."
plakkk! ayah nya Lastri menampar nya lagi seraya membentak nya.
"kau telah membuat Lastri meninggal setan! kau harus dibunuh! heahh"
"hentikan pak!" ujar Ayu yang berusaha menarik cekikan tangan ayah nya Lastri di leher nya Wahyu.
Pak Polisi pun ikut menahan kemarahan ayah nya Lastri itu, kemudian ibu nya Lastri, kakak perempuan nya Lastri bersama suami nya itu mendekati ayah nya Lastri.
"maafkan saya pak, Lastri meninggal karena kecelakaan mobil dan itu semua salah saya yang selama ini telah menutup aib ku."
"apa aib mu itu hah? apa kau telah melakukan pesugihan dan mengorbankan nyawa anak ku hah!!?" tanya ayah nya Lastri yang sudah tahu akan pesugihan Wahyu dari obrolan ponsel nya Wahyu dan Erwin yang tergeletak sebelum nya.
Wahyu tak bisa mengelak lagi, ia pun memohon meminta maaf kepada keluarga nya Lastri.
"lalu kau kubur adik ku itu dimana Wahyu?"
__ADS_1
"dibelakang pondok yang terbakar ini, ada pemakaman. aku menguburkan nya dengan seorang dukun pemilik pondok ini, mungkin dukun itu sudah mati ikut terbakar dipondok nya atau telah melarikan diri." ujar wahyu menjelaskan dan kemudian polisi menyuruh Wahyu untuk menunjukan dimana makam itu berada. ayah nya Lastri ikut bersam polisi untuk melihat makam itu dengan Wahyu yang menunjukan nya.