PESUGIHAN (TUMBAL NYAWA)

PESUGIHAN (TUMBAL NYAWA)
AWAL KRONOLOGI LASTRI MENINGGAL


__ADS_3

SETELAH Erwin dibawa keluar dari ruangan interogasi itu, ketua polisi menyuruh Wahyu meneruskan ucapan nya lagi. dari keluarga Lastri berkata kepada pak polisi itu untuk tak perlu meminta Wahyu untuk bercerita lagi, mereka menyarankan berharap pak polisi memutuskan untuk sesegera memenjarakan Wahyu karena Wahyu bisa saja berbohong atau membual mengarang cerita memalsukan kematian Lastri. tetapi keputusan pak ketua polisi tak bisa diganggu gugat, maka Wahyu tetap disuruh untuk melanjutkan kronologi awal Lastri meninggal dunia itu.


"Lastri pergi dari pondok dukun itu dan masuk ke dalam mobil. aku segera mengejar nya dan berteriak akan menjelaskan soal persoalan pesugihan yang aku lakukan itu. tetapi Lastri tetap bersikeras tak mau mendengarkan teriakan ku dan Lastri akhirnya mengemudikan mobil itu tanpa bisa mengontrol emosi nya. pada akhri nya mobil yang dikendarai Lastri menabrak pohon besar itu dan janin yang dikandung nya pun pecah karena terhimpit badan mobil yang menabrak pohon itu dengan keras. aku segera menolong nya mengeluarkan Lastri dari mobil, namun aku tak bisa menyelamatkan Lastri. hixhixhix." Wahyu pun menangis pilu dan Ayu mengusap-usap punggung Wahyu untuk tetap tegar.


Dari keluarga Lastri pun menatap Wahyu yang mereka sangka Wahyu itu sedang berpura-pura.


"jangan berpura-pura sedih kau! aku tahu kaulah penyebab kematian anak ku itu!" ujar ayah nya Lastri yang hendak menghajar Wahyu dan pak Polisi segera menenangkan ayah nya Lastri itu agar tidak main fisik untuk menghajar Wahyu. Wahyu hanya bisa meratapi kesedihan itu dan tak bisa dipungkiri lagi untuk dirinya menjelaskan lagi karena penjelasan nya hanya sampai disitu saja.


Kemudian pak Polisi yang bertugas mewawancara Wahyu pun bertanya kepada Ayu,


"lalu mbak Ayu ini, darimana awal bisa bertemu mas Wahyu???" Wahyu lalu menatap Ayu yang akan menjawab nya itu, Ayu paham maksud dari tatapan Wahyu itu kemudian ia berkata kepada Wahyu seraya mengusap pipi nya.


"sudah tak usah khawatir sayang." lalu Ayu menjawab pertanyaan ketua polisi itu.


"saya awal bertemu mas Wahyu ini ketika mas Wahyu berada di club malam tempat saya bekerja. mas Wahyu bercerita kepada saya ketika kami sudah saling mengenal bahwa mas Wahyu datang ke club malam itu hanya sekedar untuk membuang keresahan jiwa nya atas meninggal istri nya itu. mas Wahyu merasa bersalah sekali atas meninggal nya istri yang paling ia sayangi itu dan ia bingung harus curhat kepada siapa soal masalah nya itu selain kepada saya."


"mengapa dia tak menghubungi kami sebagai pihak dari keluarga nya Lastri???" tanya Yanti, kakak nya Lastri.


"iya mengapa kau malah lari dari masalah dan tak mau memberitahu kami? apa kau takut kami jebloskan ke dalam penjara???" ujar suami nya Yanti yang bernama Randi itu.


Wahyu pun menatap keluarga nya Lastri dan menjawab dua pertanyaan itu,

__ADS_1


"maafkan aku jika aku tak berani memberitahu soal kematian Lastri. aku saat itu seperti orang linglung karena pikiran diriku telah di pengaruhi oleh Ki Baron selaku pelaku perantara pesugihan itu. aku tak bisa melaporkan kematian Lastri, padahal hati kecil ku ingin sekali aku memberitahukan kematian Lastri kepada Kalian dan kepada pihak berwajib."


"halah itu hanya alasan mu saja bajingan!" sentak ayah nya Lastri lagi dan ibu nya Lastri yang tiada henti-henti nya menitikan air mata berkata,


"sudah ayah, semua sudah terjadi. kita harus iklaskan kepergian Lastri. biarkan pihak berwajib yang mengatasi masalah ini ayah."


"ucapan ibu ada benar nya juga, kami sudah mendengar semua penjelasan Awal dari kronologi kematian Lastri dari mas Wahyu ini. sekarang kami akan melihat laporan dari barang bukti yang ada didepan kami ini." ujar ketua polisi yang kini sedang melihat kertas laporan dari barang bukti yang ada didepan nya.


"ponsel yang mati ini bukankah ponsel mu mas Wahyu???"


"iya itu memang ponsel ku, terakhir aku memegang nya ketika aku dihubungi oleh kak Randi." pak Polisi manggut-manggut, kemudian ia berkata seraya memegang patahan keris.


"lalu keris yang patah ini, ada dua sidik jari yang ditemukan. yaitu seorang lelaki setengah tua bernama Baron Atmaja dan Erwin Septiadi."


"hmm begitu, jadi senjata ini adalah alat yang dipakai oleh mas Erwin itu untuk melukai mu?"


"iya pak, keris itu ia dapatkan dari ki Baron untuk membunuh ku. dua orang itu berencana akan menghabisiku dan berniat ingin memperkosa Ayu. aku membela diri dan terjadilah perkelahian ku dan Erwin."


"lalu sepotong kayu bakar ini, ada sidik jari mas Wahyu dan mbak Ayu ini. apakah sepotong kayu ini dipakai untuk memukul?"


"saya yang memakai nya untuk menahan serangan Erwin yang memakai keris pak, disaat nyawa ku terancam dan hampir kena tusukan ujung keris itu. Ayu menolong ku dengan memukul kepala Erwin dengan sepotong kayu bakar itu."

__ADS_1


"hmm jadi begitu cerita nya, persis sekali dengan suara keributan yang kami rekam ini." lalu ketua polisu meminta ponsel nya Randi yang sudah merekam obrolan perkelahian antaea Wahyu dan Erwin.


Ketua polisi menyuruh Erwin untuk masuk lagi, kemudian petugas polisi membawa Erwin masuk lagi dan duduk agak jauh dari Wahyu dan Ayu. Erwin menatap Wahyu dengan tajam dan Wahyu pun menatap nya juga, namun tatapan nya tak setajam Erwin.


"mas Erwin, coba kau jelaskan darimana kau dapatkan senjata tajam keris yang patah ini?"


"itu bukan milik ku pak! tapi milik si bajingan Wahyu itu yang nekat ingin membunuh ku!" jawab Erwin menyangkal nya.


"sudahlah kau akui saja keris itu kau dapat darimana! apa kau tak melihat kemeja tangan panjang ku yang tergores ini? apa kau pikir goresan ujung keris yang ingin kau hujamkan kepada ku itu tak melukai tanganku? lihatlah ini!" lalu Wahyu menggulung kemaja lengan panjang nya itu yang dikanan dan terlihat tangan Wahyu koyak dalam dan panjang.


Mereka yang melihat lengan Wahyu koyak seperti itu nampak ngeri, kemudian ketua polisi berkata.


"apa sebenar nya yang menyebabkan kalian berkelahi sampai-sampai memakai keris dan sepotong kayu ini?"


"dia ingin memperkosa Ayu pak!" tuding Wahyu kepada Erwin dan Erwin membantah nya.


"jangan asal menuduh kau! jelas-jelas kaulah biang kerok yang mengawali perseturuan dengan ku!" lalu Ayu menengahi perdebatan kedua nya.


"sudah cukup! aku sebagai saksi dari perkelahian kalian berdua mendengar bahwa mas Erwin ini telah menjerumuskan mas Wahyu ke dalam pesugihan Genderuwo agar mas Erwin bisa mengalihkan tumbal pesugihan nya kepada keluarga nya mas Wahyu."


"hei perempuan lacur! tahu apa kau? kau dan Wahyu baru saja beberapa hari bertemu!"

__ADS_1


"kami sudah mendapatkan bukti nya mas Erwin!" ujar ketua polisi yang memegang sebuah ponsel milik nya suami nya Yanti.


__ADS_2