
MALAM Itu, Ayu sudah tertidur disamping Wahyu dan sosok nenek Iroh sudah menghilang kembali ke dalam tusuk konde yang kini sudah disimpan didalam laci meja rias kamar itu oleh Ayu. Wahyu saat itu membuka mata nya dan mendapati Ayu tertidur sembari memeluk nya dari samping. Wahyu masih teringat akan obrolan nya dengan Lastri di alam impian nya itu.
Ia kemudian mengusap-usap lembut rambut Ayu seraya membatin.
"terima kasih kau sudah hadir dihidup ku Ayu, mungkin jika aku tak menemukan mu. entah bagaimana hidup ku ini ke depan nya tanpa seorang penyemangat. setelah kehilangan Lastri, aku tak ingin kehilangan lagi siapapun itu. aku akan berjanji untuk memutus ikatan pesugihan ini demi masa depan ku dan keluarga ku." Wahyu lalu bergerak mau bangun, tetapi badan nya tertahan oleh Ayu yang memeluk nya.
Wahyu pun menyingkirkan pelan-pelan tangan Ayu, namun saat itu mata Ayu terbuka dan bertanya.
"kau mau kemana mas?"
"aku mau ke kamar mandi sayang. cupp." ujar Wahyu dan mengecup kening Ayu. kemudian ia turun dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi yang ada didapur. Ayu pun ikut bangun juga untuk menyalakan televisi, kala itu baru jam dini hari sekitar jam lima pagi hari.
Ketika Ayu mencari siaran televisi, ia melihat ada berita kebakaran sebuah club malam yang nama nya telah tertulis diberita tersebut.
"bukankah itu nama club malam nya pak Rehan!? mengapa bisa sampai kebakaran begitu!?" ujar Ayu dan kini ia melihat berita televisi itu yang sedang disiarkan secara langsung. keadaan club malam itu sudah berhasil dipadamkan, namun beberapa tempat masih terbakar bara api yang menyala.
Bangunan dua lantai itu nampak terbakar habis dan tembok nya masih berdiri kokoh, hanya saja seisi ruangan club malam itu sudah habis terbakar tak tersisa. dari dalam club malam itu nampak beberapa petugas pemadam kebakaran yang membawa beberapa kantung jenazah dan belum diperlihatkan identitas orang yang menjadi korban itu. saat itu Ayu nampak serius sekali menonton berita televisi itu dan Wahyu baru masuk dan melihat Ayu yang sedang menonton televisi itu.
"tumben jam segini sudah ada berita televisi sayang?"
"sini sayang, club malam tempat aku bekerja dulu kebakaran."
"ah masa sih?" lalu Wahyu pun melihat baner nama club malam yang sudah terbakar dan hanya sisa gosong nya saja itu.
"oh iya benar juga! memang nya apa penyebab tempat itu terbakar sayang???"
"entahlah, aku belum tahu mengapa tempat itu bisa kebakaran."
"apa jangan-jangan..." ucap Wahyu terhenti sembari menatap Ayu.
__ADS_1
"jangan-jangan kenapa!?" tanya Ayu dan Wahyu bertanya soal nenek nya Ayu.
"nenek mu kemana?"
"nenek sudah kembali lagi ke dalam tusuk konde itu, karena selama ini tusuk konde itu adalah tempat arwah nya tinggal."
"hmm begitu, apa kebakaran club malam itu ada hubungan nya dengan cerita yang nenek mu sampaikan itu sayang???" Ayu merenung sejenak dan kemudian teringat akan obrolan nya dengan nenek nya kala Wahyu terkena teror santet.
Ayu menatap televisi itu dan kemudian menatap Wahyu seraya berkata,
"seperti nya apa yang dikatakan nenek ku itu benar sayang, orang yang menyantet mu itu adalah pak Rehan yang menyuruh seorang dukun. nenek berhasil membalikan santet itu kepada si pengirim nya dan mas Wahyu akhir nya bisa diselamatkan oleh nenek." Wahyu manggut-manggut dan berkata,
"hmm seperti nya mereka terkena karma nya sendiri dan kiriman santet itu berbalik kepada mereka hingga membuat club malam itu kebakaran. tapi, apa si Rehan itu dan orang-orang yang ikut campur dalam urusan penyantetan ku itu masih hidup?"
"di dalam berita itu tak ada saksi yang bisa dipertanyakan, karena keadaan nya sudah sepi ketika didatangi oleh para pemadam kebakaran. aku melihat dan mendengar dari presenter televisi itu, kata nya ada korban yang terbakar da belum diketahui identitas nya."
"semoga saja itu si Rehan dan juga begundal nya sayang, jika itu benar berarti kita sudah aman dari bahaya ancaman mereka sayang."
"apa itu???"
"nenek ku bilang, ada orang yang akan datang kemari untuk mengajak kita pergi ke tempat dukun tempat mu melakukan pesuguhan itu." Wahyu pun merenung sejenak, kemudian ia teringat akan teman nya.
"apakah orang itu Erwin? jika benar, berarti ada sesuatu yang akan direncanakan oleh nya dengan Ki Baron."
"jika itu benar, apa yang harus kita lakukan sayang? aku takut kita dijebak disana jika kita ikut orang itu ke tempat dukun yang kamu katakan tadi."
"sebentar, aku ingat sesuatu." ujar Wahyu dan ia sedang mengingat-ingat pertemuan nya itu dengan Lastri di alam impian nya.
Ayu masih menunggu Wahyu mengingat sesuatu yang ia pikirkan itu, kemudian Ayu melihat televisi lagi karena berita televisi tersebut menayangkan bahwa pemilik club malam itu bersama beberapa orang lain nya menjadi korban kebakaran itu. ditemukan juga sebilah keris yang menancap disalah satu korban bertampang preman. Wahyu pun menatap televisi itu dan berkata,
__ADS_1
"syukurlah kalau orang tua brengsek itu mati!" lalu Ayu berkata,
"bagaimana sayang? apa kau sudah memikirkan jalan keluar nya???"
"sudah sayang, aku ingin bercerita sedikit tentang Lastri kepada mu."
"cerita lah, aku akan mendengarkan nya." ujar Ayu tak merasa risih sedikit pun.
Kemudian Wahyu menceritakan apa yang ia obrolkan ketika bertemu dengan Lastri di alam impian nya itu. apa yang Lastri bicarakan itu kepada nya, Wahyu ceritakan lagi kepada Ayu. semua yang Wahyu ceritakan kepada Lastri di dengar baik-baik oleh Ayu, kemudian Wahyu bertanya.
"bagaimana tanggapan mu???"
"aku merasakan ketulusan hati dan kasih sayang Lastri yang sangat besar kepada mu mas. ia ternyata telah menyesal karena tak mau mendengarkan alasan mu hingga akhir nya ia pun meninggal karena kesalahan nya sendiri. lalu, apakah benar Lastri mengatakan bahwa jika ingin memutus ikatan pesugihan itu harus menaklukan raja Genderuwo itu dan dukun perantara nya???"
"iya sayang."
"berarti sama persis dengan apa yang dikatakan oleh nenek ku itu!"
"benarkah!? lalu apa yang dikatakan nenek mu?"
"ia akan membantu mu untuk mengalahkan raja Genderuwo itu dan juga dukun yang menjadi perantara pesugihan mu sayang." Wahyu manggut-manggut dan berkata,
"baiklah jika begitu, jika benar orang yang akan datang kemari itu Erwin dan ia berniat akan mengajak kita ke pondok nya Ki Baron. kita akan turuti keinginan nya itu dan kita harus berpura-pura tak tahu rencana si Erwin itu. bagaimana sayang kau setuju?"
"aku setuju sayang, nenek ku pun menyuruh kita mengikuti kemauan orang itu dan nanti aku akan membawa jimat tusuk konde untuk sewaktu-waktu aku memanggil nenek ku untuk membantu kita dalam kesulitan."
"baiklah sayang, sudah kita putuskan." ujar Wahyu dan Ayu hanya mengangguk saja, kemudian mereka pun segera tidur lagi karena mereka berdua merasakan masih mengantuk. waktu sebentar lagi jam setengah enam dan televisi dimatikan, mereka berdua tidur lagi dan sosok arwah nenek Ayu yang biasa hadir tanpa menampakan wujud nya disitu tak terlihat wujud nya sama sekali.
...*...
__ADS_1
...* *...