
Wahyu yang mendengar ucapan dari Ayu itu mengusap-usap punggung Ayu dan berkata agar tetap tenang dan sabar akan masa yang telah dilalui nya itu. tetapi saat itu Wahyu membatin,
"pantas sosok nenek tua itu dapat menunjukan wujud utuh nya didepan ku! ternyata ia dulu nya adalah mantan seorang dukun yang beraliran putih! berbeda dengan Ki Baron yang menjadi seorang dukun sesat beraliran hitam itu!" kemudian Ayu berkata tanya setelah perasaan nya sudah tenang.
"memang nya untuk apa mas Wahyu menanyakan soal itu???"
"yah hanya sekedar penasaran saja sayang."
"oh begitu." ujar Ayu manggut-manggut dan waktu tak lama lagi akan berganti dengan malam hari.
"sayang mandi yuk sudah sore." ajak Wahyu yang melihat sinar mentari di ufuk barat hampir tenggelam.
"yuk sayang, aku sampai lupa bahwa ini sudah sore." ujar Ayu dan Wahyu hanya tersenyum saja, lalu sepasang kekasih itu pun turun ke lantai satu untuk mandi sore bersama.
Erwin sudah membeli sate daging burung gagak dan sudah tiba juga di pondok nya Ki Baron. ia melihat Ki Baron sedang berada disamping rumah nya di bawah pohon beringin, terlihat asap mengepul dari pembakaran serabut kelapa yang sedang dibakar oleh Ki Baron itu. saat itu Ki Baron sedang menyiapkan tempat untuk membakar sate daging burung gagak yang dibawa oleh Erwin itu. Erwin segera memarkirkan mobil nya dan kemudian Erwin mendekati Ki Baron sembari membawa satu kantong plastik berisi sate daging burung gagak.
"permisi Ki, ini saya sudah membawakan sate nya." Ki Baron yang berjongkok membelakangi Erwin itu menyahut.
"bawa kemari."
"baik Ki." lalu Erwin pun mendekati Ki Baron dan memberikan sate daging burung gagak itu.
"mengapa kau lama sekali? sudah hampir malam kau baru tiba disini!" ujar Ki Baron dan Erwin menjawab nya,
"maaf Ki, dijalan tadi macet."
__ADS_1
"yasudah, sekarang kau bakar sate daging burung gagak ini. aku akan masuk dulu untuk menyiapkan kemenyan dan sesajen kembang tujuh rupa.
"baik Ki." ujar Erwin dan ia lanjut membakar sate daging burung gagak itu.
Disatu sisi Wahyu dan Ayu masih berada didalam kamar mandi. mereka belum mandi dan sedang bercumbu mesra sejak tadi. kedua nya sedang melakukan hubungan badan dan napas kedua nya nampak memburu. Wahyu sedang memegang pinggang Ayu dari belakang dan menggenjot Ayu hingga Ayu mendesah ke enakan. suara erangan kenikmatan dari kedua nya itu nampak terdengar samar-samar diarea isi rumah itu. biasa nya hantu-hantu yang mengisi rumah itu sering kepo dan ingin melihat hubungan badan tersebut. seperti yang pernah dilakukan oleh Wahyu dan Lastri, mereka semua nya mengintip karena penasaran.
Sosok Genderuwo yang biasa nya sering menampakan wujud berubah menjadi Erwin pun tak nampak wujud nya. sosok Genderuwo itu entah kemana pergi nya, karena setelah dikalahkan oleh sosok khodam nenek-nenek yang telah diketahui itu adalah arwah nenek nya Ayu sosok Genderuwo itu terluka berat dan entah kemana pergi nya. didalam rumah Wahyu hanya ada sosok nenek tua itu saja, ia tak suka melihat orang yang sedang melakukan hubungan badan itu. sosok nenek itu sejak tadi sudah mencoba untuk menghalau kedua nya agar jangan melakukan Hubungan Terlarang itu karena kedua nya belum resmi menikah.
Tetapi tetap saja sosok nenek itu gagal karena kedua nya sudah diburu napsu yang amat besar. sang nenek pun akhir nya dongkol sendiri dan hanya bisa berdiam diri dipos satpam dekat gerbang. disana ia sedang mengobrol dengan sosok pocong yang awal nya merasa takut ketika didekati oleh sosok nenek tua itu. tetapi sosok nenek itu menjelaskan tujuan nya bukan untuk mengganggu sosok pocong itu, melainkan hanya untuk mengajak nya mengobrol saja. disana mereka sedang mengobrol seperti layak nya manusia biasa,
"hei pocong, sejak kapan kau tinggal di tempat ini?" tanya sang nenek dengan nada seorang nenek tua tapi tak cempreng.
"aku sudah ada sejak rumah ini dibangun nek." jawab suara si pocong dengan nada suara seperti orang yang sedang kumur-kumur.
"oh jadi kau sudah lama tinggal dirumah ini?" pocong itu mengangguk sopan dan sosok nenek tua itu berkata lagi,
"aku terusir nek, awal nya aku tinggal didalam kamar mandi rumah itu. tetapi semenjak kemunculan sosok Genderuwo dan para begundal nya, aku terusir dan ditempatkan ditempat kotor seperti ini."
"hmm jadi begitu, apa kau sering mengganggu penghuni rumah disini?"
"hanya kadang-kadang saja nek."
"hmm begitu, awas saja jika kau mengganggu cucu perempuan ku. kau akan aku buat menderita seperti si Genderuwo itu!"
"ampun nek tak akan aku usil kepada siapa lagi nek! ampuuuun!" ujar pocong itu menunduk meminta ampun karena ia takut kepada sosok nenek tua itu.
__ADS_1
Sosok pocong itu takut kepada sosok nenek tua itu karena ia melihat jelas pertarungan nenek tua itu dengan sosok Genderuwo yang biasa mengikuti Wahyu. pertarungan itu tak lama, hanya dua jurus saja sosok Genderuwo itu sudah dibuat lari pontang panting dan terluka berat. sosok nenek tua yang dulu nya adalah seorang dukun sakti itu kini disegani oleh mahluk-mahluk halus yang ada disekitaran rumah besar itu.
Wahyu dan Ayu nampak ngos-ngosan dalam puncak kenikmatan nya dalam bersetubuh. merek berciuman dengan mesra dan Ayu pun berkata,
"kapan kau akan menikahi ku mas Wahyu?"
"nanti akan aku pikirkan kapan waktu yang tepat untuk menikahi mu."
"jangan lama-lama sayang, aku ingin segera mempunyai anak dari hubungan kita ini."
"iya sayang, aku akan secepat nya menikahi mu." lalu Wahyu mengecup kening Ayu dan kemudian pun mereka segera mandi.
Sehabis selesai mandi dan berpakaian untuk tidur malam, sepasang kekasih itu kini sedang berada dikamar. mereka sedang berbaring diranjang sembari menonton televisi. disela menonton televisi mereka pun berbincang lagi dan diawali oleh Ayu.
"sayang..."
"iya apa sayang?"
"besok seperti nya barang yang aku pesan akan datang."
"oh bagus itu sayang."
"tapi...."
"tapi apa sayang???" Wahyu pun menatap wajah Ayu yang sedikit cemberut.
__ADS_1
"aku ingin bisa mengendarai mobil sayang, apa kamu bisa mengajari ku sayang?" Wahyu nampak ragu, seketika itu juga ia terbayang akan kenangan nya bersama Lastri.
Kala itu Wahyu sedang mengajari Lastri menyetir dijalan komplek perumahan mewah itu. Lastri nampak senang sekali diajari cara menyetir mobil oleh Wahyu hingga Lastri hampir bisa menguasai nya. Lastri pernah ingin membawa mobil sendiri ke jalan raya, tetapi Wahyu melarang nya karena Lastri belum terlalu lancar mengemudi dan takut terjadi kecelakaan.