
SUARA Burung hantu terdengar bersahutan dan membuat orang yang mendengar nya menjadi merinding. suara burung hantu itu terdengar disebuah pemakaman umum yang dimana pemakaman itu berada dibelakang pondok nya ki Baron. cuaca keadaan dipemakaman itu nampak gelap karena sebentar lagi waktu malam hari akan tiba. kala itu, Ki Baron sedang berada dipemakaman itu dan ia sedang ritual bertapa menghadap sebuah makam tua yang letak nya berada di bawah sebuah pohon beringin. sesajen seperti bakaran kemenyan dan bunga kembang tujuh rupa serta minyak mistik nampak terlihat dinampan bilik bambu dan ada didepan ki Baron.
Ki Baron masih khusyuk tak terganggu suara burung hantu dan suara-suara mahluk gaib yang menyerupai suara hewan seperti burung, katak, jangkrik serta tikus. kemudian angin berhembus dari arah depan nya dan bertepatan dengan hadir nya sosok yang ia tunggu-tunggu. sosok itu berpakaian serba hitam dan perawakan nya layak nya manusia biasa dan wajah nya seperti seorang kakek tua.
Kehadiran sosok kakek tua itu membuat Ki Baron menghentikan ritual nya dan segera bersujud.
"terima kasih kau sudah datang, ayah." ucap Ki Baron memanggil sosok itu dengan nama ayah nya.
"ada apa kau memanggil ku?" tanya suara serak sosok kakek tua itu.
"aku mohon bantuan mu ayah."
"mau minta bantu apalagi kau!? apakah ilmu yang aku turunkan kepada mu itu tak bisa berguna sama sekali hah!?"
"bukan begitu ayah, ada satu alasan mengapa aku memanggil ayah."
"apa itu!?"
"aku tak bisa menerawang orang yang aku ingin lihat, rumah nya bagai terlindung perisai gaib yang amat susah dimasuki. para mahluk gaib peliharaan ku semua nya lari terbirit-birit bahkan ada yang sanpai terluka ketika memaksa masuk ke rumah itu."
"lalu apa hubungan nya dengan ku? apa kau mau mempertanyakan soal kehebatan ilmu yang sudah aku turunkan itu kepada mu? apa kau ragu soal ilmu penerawangan yang aku turunkan kepadamu?"
"bukan begitu ayah. aku percaya akan ilmu yang ayah turunkan itu. aku selalu berhasil melakukan apa yang pasien ku inginkan, bahkan santet jarak jauh selalu berhasil. ilmu pelet, terawang gaib tak pernah gagal dan orang yang datang untuk melakukan pesugihan pun semakin banyak. tapi, ada satu yang membuat ku heran, kesaktian ku sama sekali tak bisa menembus rumah salah satu orang yang telah melakukan pesugihan dengan Raja Genderuwo melalui perantara ku Ayah."
__ADS_1
"hmm jadi kau ingin mengadu kepada ku bahwa ada orang yang telah melakukan pesugihan dengan mu namun rumah nya bagai ada yang memagari nya???" Ki Baron mengiyakan nya dan sosok arwah dukun tua itu berkata.
"mengapa kau tak menyuruh si Raja Genderuwo itu saja yang datang menghabisi orang itu?"
"Raja Genderuwo tak mau turun tangan sendiri, ia sudah menyuruh anak buah nya untuk mencabut nyawa orang itu. tetapi anak buah Raja Genderuwo tak ada yang berhasil dan kebanyakan dari mereka terluka berat dan kembali dengan penuh kekecewaan."
"lalu mengapa kau yang repot harus turun tangan? mengapa tak si Genderuwo itu saja yang melakukan nya?!" Ki Baron menatap wajah sosok ayah nya itu dan bertanya,
"mengapa ayah bilang begitu? bukankah ayah menyuruhku untuk selalu mematuhi perintah Raja Genderuwo jika aku ingin memiliki kekayaan tanpa menumbalkan siapapun???"
"memang benar, tapi mau sampai kapan kau diperbudak si Genderuwo itu? apa ilmu yang aku berikan kepada mu tak mampu menaklukan Raja Genderuwo itu untuk kau jadikan peliharaan mu?" Ki Baron akhir nya terdiam mendengar nasehat dari arwah ayah nya yang sudah lama meninggal itu.
Kemudian terdengar kakek tua itu berkata,
"tapi ayah apa ilmu yang sekarang aku miliki ini mampu untuk menundukan nya?"
"kau bisa melakukan nya Baron dan pakai siasat untuk menaklukan nya."
"siasat?"
"benar, kau harus menggunakan siasat untuk menaklukan raja Genderuwo itu. jika berhasil, Raja Genderuwo itu akan menjadi budak mu dan kau akan menjadi tuan nya."
"beri tahu aku soal siasat itu ayah, aku ingin mengetahui nya." kemudian sosok ayah nya Ki Baron pun lenyap dari hadapan Ki Baron dan membuat Ki Baron menggerutu kesal.
__ADS_1
"malah minggat dia! belum juga memberitahukan siasat nya itu!" ujar Ki Baron dan ia akan ritual lagi untuk memanggil sosok ayah nya, tetapi tiba-tiba Ki Baron mendengar suara gaib dari sosok ayah nya.
"gunakan perempuan untuk menundukan nya, undang raja Genderuwo itu ke pondok mu dan setelah raja Genderuwo itu menjelma menjadi seperti raga manusia. baru kau serang dia dengan cara menikam nya memakai keris yang sudah kau olesi tanah kuburan yang masih baru dikuburkan. bukankah disini ada makam orang yang baru dikuburkan bukan? lakukan apa yang aku sebutkan tadi dan jika kau gagal aku tak akan membantu mu." suara gaib itu berhenti sampai disitu saja dan Ki Baron pun mengingat-ingat ucapan dari siasat arwah ayah nya yang telah lama meninggal itu.
Ia segera bangun dan berjalan ke arah makam nya Lastri yang beberapa hari baru saja dikubur. Ki Baron berdiri dan berkata,
"gara-gara suami mu aku mendapat kecaman dan hinaan dari si Raja Genderuwo itu! padahal aku sudah mencoba memasuki alam impian suami mu agar datang kemari membawa perempuan yang saat ini masih menjadi pacar nya! hmm aku baru sadar, mengapa tak ku panggil saja si Erwin itu untuk menghubungi si Wahyu agar membawa pacar nya kemari. hahaha aku yakin rencana siasat yang diberikan mendiang ayahku itu akan berhasil!" lalu Ki Baron segera mengambil tanah dimakam nya Lastri itu dan menaruh nya dinampan sesajen nya dan setelah itu dibawa kembali ke dalam pondok nya.
Dirumah nya Wahyu, Ayu nampak sedang memasak didapur untuk makan malam mereka. Wahyu ada dikursi meja makan dan ia sedang memainkan ponsel nya. Wahyu sedang membalas pesan dari Tiana bahwa semua tanggungan dari korban kecelakaan kerja sudah Tiana bereskan. kemudian Wahyu berkata kepada Tiana agar ia harus lebih berhati-hati dalam bekerja dikantor nya. Tiana nampak senang mendapat perhatian seperti itu, tetapi tak ia nampakan.
"terima kasih bos Wahyu, lalu bos Wahyu sedang apa?" lalu Wahyu menatap Ayu yang sedang sibuk memasak itu.
"aku sedang menemani Ayu memasak." balas Wahyu melalui pesan ponsel nya.
"oh begitu, beruntung sekali wanita yang bernama Ayu itu ya."
"mengapa kau berkata begitu? apa kau cemburu?" tanya Wahyu blak-blakan dan membuat Tiana tak bisa menutupi nya lagi.
"jujur, aku suka kepada bos Wahyu." jawab Tiana dan Wahyu hanya tersenyum saja dan membalas nya.
"aku hargai kejujuran mu itu Tiana, tetapi jangan sakiti perasan mu dan pacar mu." Tiana seketika menatap ponsel nya dengan heran dan membatin.
"darimana mas Wahyu tahu bahwa aku sudah punya pacar?!" Tiana tak membalas lagi karena ia masih memikirkan hal yang aneh bagi nya itu.
__ADS_1