PESUGIHAN (TUMBAL NYAWA)

PESUGIHAN (TUMBAL NYAWA)
TIBA DI PONDOK KI BARON


__ADS_3

PAGI Hari yang sebentar lagi menjelang siang itu terasa gelap tak secerah biasa nya. cuaca mendung sejak pagi memang sudah muncul, tetapi cuaca mendung itu belum tentu akan terjadi turun hujan. Ibu Lastri sedang menatap ke arah langit mendung itu diluar rumah nya. suami nya Yanti sedang memanaskan mobil untuk pergi ke kantor polisi dan setelah itu akan pergi ke rumah nya Wahyu. Yanti terlihat mendekati ibu nya yang masih menitikan air mata karena ia sedang memikirkan anak nya itu.


"ibu, sudah jangan ditangisi lagi. sudah iklaskan kepergian Lastri bu." lalu ayah nya Yanti keluar dari rumah dan mendekati istri dan anak nya.


"ayo kita berangkat, ibu mengapa menangis lagi?" tanya suami nya ibu nya Yanti.


"ibu rindu Lastri ayah, hixhix. mengapa secepat itu Lastri meninggal, padahal dia sedang hamil muda."


"sudah jangan dulu dipikirkan bu, kita pergi sekarang ke rumah nya Wahyu untuk menanyakan nya langsung kepada si Wahyu itu."


"baiklah." ujar ibu nya Lastri dan kini mereka segera bergegas masuk ke dalam mobil untuk pergi ke kantor polisi dan setelah itu pergi ke rumah nya Wahyu.


Diperjalanan menuju pondok nya Ki Baron, Wahyu dan Ayu sedang berbincang membahas soal rencana mereka itu.


"apa yang akan kita lakukan jika mereka akan berniat jahat kepada kita sayang? apa kita bisa melawan mereka dengan cara kekerasan???"


"kita harus memikirkan resiko nya juga sayang, jangan bertindak sebelum kita tahu motif sebenar nya apa ki Baron menyuruh ku datang kesana bersama mu."


"apakah Erwin juga telah bersekongkol dengan dukun itu sayang?" tanya Ayu.


"seperti nya ada benar nya mereka sekongkol, kita harus berhati-hati sayang."


"lalu jika mereka menyergap kita bagaimana sayang? akan sangat sulit bagi ku untuk memanggil nenek ku."


"benar juga, kalau begitu apa kau bisa memanggil nenek mu di dalam mobil ini?"


"aku akan mencoba nya sayang." lalu Ayu pun melakukan pemanggilan arwah nenek nya lagi kepada tusuk konde seperti yang pernah ia lakukan itu sebelum nya.


Mobil Erwin yang berjalan didepan mobil nya wahyu itu pun membelok ke sebuah kampung dan mobil Wahyu pun mengikuti nya. kampung yang mereka tuju adalah kampung terpencil tempat pondok Ki Baron berada. Wahyu menengok ke belakang dan bertanya kepada Ayu,

__ADS_1


"bagaimana sayang? bisa tidak?"


"belum sayang, mungkin sebentar lagi." ujar Ayu dan ia lanjut menyebut nama nenek nya itu di tusuk konde yang ia pegang.


Wahyu sudah merasakan ketegangan ketika memasuki kampung itu. tetapi ia mencoba terlihat biasa saja didepan Ayu. kini mobil Erwin sudah memasuki hutan menuju pondok nya ki Baron. lalu mobil nya berhenti didekat jalan setapak menuju rumah nya Ki Baron. Erwin keluar dari dalam mobil dan menunggu mobil Nya Wahyu tiba. sambil menunggu mobil Wahyu tiba, ia melihat ke arah gundukan daun pelepah pisang kering yang menutupi sesuatu itu yang pernah ia lihat dulu.


"hmm sekarang aku baru mengingat nya! seperti nya itu mobil nya si Wahyu tempat istri nya itu kecelakaan disana! aku harus berpura-pura tak tahu menahu akan ada nya mobil rusak yang tertutup daun kering itu!" setelah membatin begitu, mobil Wahyu pun tiba didekat mobil nya Erwin.


Wahyu nampak tegang ketika menatap Ayu yang belum sama sekali berhasil memanggil arwah nenek nya itu.


"bagaimana ini sayang, arwah nenek ku belum muncul-muncul juga!"


"coba terus jangan putus asa, aku akan turun dulu untuk memberi mu waktu."


"baiklah." ujar Ayu dan kini Wahyu sudah keluar dari dalam mobil untuk menemui Erwin.


"kau sedang melihat apa Win?" tanya Wahyu.


"oh itu, seperti nya itu mobil ku yang rusak ketika dikendarai Lastri dan menabrak pohon besar itu."


"oh jadi itu tempat istri mu itu meninggal?" Wahyu hanya mengangguk saja dan kemudian Erwin bertanya,


"pacar mu kemana? bukan kah dia ikut dengan mu dimobilmu?"


"iya dia..." baru saja Wahyu bilang begitu, Ayu sudah keluar dari dalam mobil nya Wahyu.


Ia tersenyum ke arah Wahyu dan Erwin, saat itu Erwin berkata.


"cantik sekali pacar mu itu Wah, beruntung sekali kau bisa memiliki nya."

__ADS_1


"ah kau bisa saja, yang nama nya perempuan itu memang cantik." ujar Wahyu, lalu Ayu mendekati kedua nya seraya berkata tanya.


"kita kemana sekarang?"


"kita akan masuk ke dalam hutan itu, disana ada pondok tempat guru kami tinggal." ujar Erwin sengaja menutupi nya, dalam hati ia membatin.


"seperti nya pelet yang aku lakukan kepada nya telah berhasil, bukti nya dia tersenyum manis begitu kepadaku." kemudian terdengar Ayu berkata,


"hmm kalau begitu, ayo kita kesana." ujar Ayu dan kemudian Erwin segera mengajak Wahyu serta Ayu untuk pergi ke pondok nya Ki Baron. posisi Erwin berjalan didepan dan Wahyu serta Ayu berjalan di belakang nya. cuaca dihutan itu nampak gelap karena cahaya sinar matahari tertutup rimbun nya dedaunan pohon yang rindang dan menyeramkan itu, ditambah saat itu cuaca nya yang sedang mendung.


Wahyu nampak aneh melihat Ayu yang seringkali tersenyum sendiri menatap Erwin yang berjalan didepan nya, kemudian Wahyu membatin.


"mengapa dia senyum-senyum sendiri? apakah dia terkena pelet si Erwin lagi? lalu apakah dia berhasil memanggil arwah nenek nya itu?" kemudian Wahyu membisikan kata kepada Ayu,


"bagaimana?" Ayu hanya mengangguk saja dan Wahyu pun sudah membuang rasa tegang nya itu.


Mereka bertiga berjalan menuju pondok nya Ki Baron dan saat itu Ki Baron sudah mengetahui kedatangan mereka. Ki Baron mengintip di balik lubang pintu nya itu dan ia pun tersenyum mekar sembari berpikir bayangan mesum soal Ayu,


"setelah aku berhasil melumpuhkan kedua lelaki bodoh itu, akan aku perkosa wanita cantik itu! setelah itu baru aku gunakan untuk menjebak si Raja Genderuwo itu untuk melawan nya! hahaha!" setelah membatin begitu, Ki Baron segera membuka kunci pintu itu dan ia segera duduk ditempat nya dengan sikap berwibawa.


Suara ketukan pintu terdengar oleh Ki Baron, kemudian Ki Baron berseru.


"masuk..." lalu pintu pondok pun terbuka, kemudian Erwin, Wahyu dan Ayu pun masuk. mereka bertiga duduk diatas tikar yang menghadap ke arah Ki Baron, disana ki Baron sedang duduk bersila sembari menghisap tembakau nya. asap tembakau bercampur asap kemenyan menjadi satu, membuat suasana didalam ruangan itu begitu kelam dan pekat aroma spiritual nya. setelah Erwin dan Wahyu menghaturkan hormat kepada Ki Baron kecuali ayu, Ki Baron pun menatap ke arah Ayu dan dengan lagak wibawa nya, ia berkata tanya kepada Wahyu.


"apakah ini perempuan cantik pengganti istri mu itu mas Wahyu???"


"iya Ki." jawab Wahyu dan Ki Baron pun manggut-manggut sembari tersenyum ke arah Ayu.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2