
WAHYU Masih menunggu Ayu yang sedang berpikir mencari jalan keluar atas permasalahan Wahyu itu. disela makan nya itu Ayu berkata,
"coba mas Wahyu minta rekaman soal kebusukan si Erwin itu kepada polisi itu."
"rekaman yang mana???"
"rekaman waktu perkelahian mas Wahyu sama si Erwin itu. nanti rekaman itu berikan kepada kedua orang tua mas Wahyu untuk mereka dengarkan nanti."
"oh iya! cerdas sekali pikiran mu sayang. aku baru ingat akan barang bukti rekaman itu. tetapi itu berada di ponsel nya kak Randi suami nya kak Yanti."
"hmm yasudah mas Wahyu hubungi saja dulu kak Randi itu, syukur-syukur rekaman itu masih ada."
"baiklah sayang, kamu lanjut makan saja dulu."
"iya sayang." ujar Ayu dan Wahyu pun segera menghubungi kak Randi suami nya kakak nya Lastri.
Dirumah nya Lastri, saat itu sedang mengadakan pengajian hari pertama Lastri dimakamkan. yang menghadiri acara pengajian itu hanya warga kampung itu saja dan penduduk nya cukup ramai.
Randi yang duduk didekat istri nya itu merasakan ponsel nya bergetar. istri nya menatap nya dan berkata berbisik,
"ponsel mu bergetar sayang. pasti ada yang ingin menghubungi mu." kemudian Randi pun permisi sebentar untuk pergi ke dapur.
Setelah pergi ke dapur, Randi melihat nama orang yang menghubungi nya itu.
"ada dia menghubungiku?" lalu Randi pun mengangkat panggilan ponsel tersebut.
"halo? ada apa kau menghubungi ku Wahyu?"
"halo kak Randi, maaf jika aku mengganggu kak Wahyu."
"iya ada apa, jangan lama-lama. aku dan keluarga Yanti sedang mengadakan acara pengajian tujuh hari nya Lastri."
"oh maaf jika begitu kak Randi, aku hanya bisa ikut mendoakan di sini saja. tujuan ku menghubungi kak Randi hanya ingin menanyakan rekaman soal perseteruan ku dan si Erwin yang terekam diponsel mu itu kak."
"oh soal itu, aku cek dulu ya."
"iya kak." lalu Randi pun mengecek ponsel nya dan agak lama Wahyu menunggu, Randi berkata.
"tak ada Wahyu, sudah aku cari tadi difolder penyimpanan."
"masa sih kak? lalu siapa yang menghapus nya kalau kak Randi tak menemukan nya???"
"seperti nya terhapus oleh polisi yang menjadi pemimpin kasus kematian Lastri itu."
"ah masa sih kak?"
"coba saja kau tanyakan kesana Wah. sudah ya, aku mau ikut gabung pengajian lagi."
"yasudah kak terima kasih." lalu Randi pun memutuskan panggilan ponsel tersebut.
Ayu yang mendengar jelas obrolan telepon itu bertanya,
"bagaimana mas?"
"kata nya tidak ada, dia mengaku tak merasa menghapus nya. aku disuruh untuk menanyakan nya kepada pak polisi itu."
"coba kau tanyakan saja sayang." Wahyu nampak ragu, kemudian berkata.
__ADS_1
"aku ragu, sudahlah seperti nya itu tak perlu kita lakukan sayang."
"lalu bagaimana cara mu membuat orang tua mu mempercayai mu lagi mas???"
"aku akan mencoba menghubungi mereka."
"apa mas Wahyu tak punya saudara???"
"saudara ku yaitu kakak ku sudah meninggal ketika kami masih sekolah dasar akibat kecelakaan tertabrak mobil ketika mengejar layangan putus ke jalan raya."
"kasihan sekali, yang sabar ya mas." Wahyu hanya mengangguk saja dan berkata lagi,
"hanya aku satu-satu nya yang menjadi tulang punggung keluarga. aku sering mengirim uang untuk biaya sehari-sehari mereka ke kampung lewat kantor pos dan mereka enggan mengangkat panggilan ponsel ku, padahal aku hanya ingin menanyakan kabar mereka saja."
"hmm coba mas Wahyu panggil saja sekarang."
"tapi..." ujar Wahyu nampak ragu.
"sudah coba dulu sayang, tak ada salah nya kan untuk dicoba???"
"baiklah, aku akan mencoba nya." lalu Wahyu menghubungi nomor telepon rumah orang tua nya.
Agak lama Wahyu menghubungi panggilan tersebut, kemudian ada yang mengangkat nya.
"halo ini siapa ya???" tanya suara perempuan setengah tua.
"ini Wahyu bu, ini ibu Murti bukan?"
"Wahyu!? oh kemana saja kau nak. ini bibi Rumi, adik nya paman mu."
"oh bibi Rumi, maaf bibi. aku baru sempat menghubungi ke rumah. ibu dan bapak ada tidak bi???" hening sejurus dan Wahyu menatap Ayu yang menatap nya. kemudian terdengar suara jawaban dari ponsel tersebut,
"iya bi? bagaimana apa ibu dan bapak ada???"
"mereka ada, mereka tak mau mengobrol dengan mu."
"apakah mereka masih marah kepada ku bi? padahal aku mau meminta maaf kepada mereka atas kesalahan ku ini."
"seperti nya mereka marah bukan karena kau telah terjerat tali pesugihan Wahyu."
"lalu soal apa bibi???"
"kedua orang tua istri mu itu adalah orang yang telah menabrak mendiang kakak mu dulu!"
"astaga! bibi tahu darimana???" sentak Wahyu kaget dan Ayu pun ikut kaget juga.
"dulu, ketika kakak mu tertabrak mobil. orang yang menabrak mobil itu melarikan diri lari dari tanggung jawab. lalu polisi segera melacak plat nomor mobil yang tabrak lari dan berhasil ditemukan. ayah dan ibu mu ingin melihat orang yang menabrak kakak mu itu disell tahanan dan saat itulah kedua orang tua mu ingat ketika pernikahan mu dan Lastri dirumah ini. kedua orang tua mu tak mau menghadiri acara pernikahan mu itu, apa kau masih ingat???"
"iya bibi aku masih ingat."
"maka dari itulah ayah dan ibu mu benci sekali kepada istri mu dan kepada mu juga."
"mengapa ayah dan ibu tak membicarakan hal ini kepadaku dari dulu bi???"
"mereka tak mau menganggu masa kebahagiaan mu Wahyu. lalu sekarang bagaimana dengab istrimu? apa dia mendengar obrolan kita ini???" Wahyu menatap Ayu yang baru saja selesai makan itu, kemudian Wahyu menjawab pertanyaan bibi nya.
"Lastri sudah meninggal dalam kecelakaan yang dialami nya bi."
__ADS_1
"apa!? sejak kapan? apa kau tak mengarang cerita Wahyu???"
"untuk apa aku mengarang cerita bibi, Lastri sudah meninggal ketika kecelakaan mobil dan keluarga nya menuntut ku untuk bertanggung jawab atas kematian Lastri." lalu Wahyu pun menceritakan kejadian ketika ia dibawa ke kantor polisi untuk di adili bersama keluarga nya Lastri.
Semua yang terjadi sebelum nya Wahyu ceritakan kembali kepada bibi nya itu dan tanpa Wahyu ketahui, ayah dan ibu nya Wahyu berada di dekat bibi nya. mereka sedang duduk mendengarkan suara Wahyu yang sedang menjelaskan permasalahan atas tuduhan keluarga nya Lastri kepada nya. setelah selesai menceritakan soal itu, tiba-tiba terdengar suara lelaki berkata.
"itu adalah karma dari kami! orang tua istri mu telah kami sumpahkan bahwa suatu saat anak merekalah yang akan merasakan karma orang yang tersakiti. sekarang dendam kami sudah terbalaskan!" Wahyu tahu itu suara ayah nya, lalu ia berkata.
"tapi ayah, mengapa ayah tak memaafkan ku???" hening sejenak kemudian terdengar suara perempuan menangis dan berkata,
"sudah ayah, maafkan saja anak kita. mungkin jalan hidup nya memang salah. tapi itu juga anak kita satu-satu nya yang menjadi tulang punggung keluarga. hixhix." Wahyu kenal bahwa suara itu adalah suara ihu nya.
"ibu? maafkan Wahyu ibu, apa ayah masih saja benci kepada Wahyu bu???" pertanyaan Wahyu itu tetap tak mendapat jawaban, kemudian panggilan ponsel itu pun terputus.
Wahyu meletakan ponsel itu dimeja makan, kemudian ia memegang kepala nya yang pusing itu. kemudian Ayu bertanya,
"bagaimana sayang? seperti nya ayah mu sangat berat memaafkan mu."
"iya, ayah ku sipat nya memang keras kepala. mirip dengan sipat ayah nya Lastri."
"hmm begitu, ada baik nya kau hubungi lagi saja mas besok. siapa tahu besok pikiran ayah mu sudah dingin dan mau memaafkan mas Wahyu."
"baiklah kalau begitu." ujar Wahyu dan kemudian Ayu segera membereskan makan malam mereka berdua.
Wahyu sudah pergi ke dalam kamar nya, ia sedang berbaring seraya menatap langit-langit flapon kamar. ia merenungkan soal keluarga nya yang ada dikampung terutama kedua orang tua nya. ia masih bingung harus bagaimana cara nya agar orang tua nya memaafkan nya dan mengakui nya sebagai anak mereka. tak lama Ayu masuk ke dalam kamar itu dan duduk ditepi ranjang, ia melihat Wahyu yang sedang merenung itu.
"mas?"
"iya ada apa???"
"aku ingin membicarakan sesuatu."
"apa itu???" tanya Wahyu yang melihat Ayu.
"seperti nya aku mulai hamil anak mu mas."
"apa!? serius kamu!?" tanya Wahyu kaget bercampur senang. Ayu mengangguk dan menjawab nya,
"akhir-akhir ini aku sering kali mual-mual dan aku sudah yakin itu tanda nya aku sedang hamil."
"syukurlah kalau begitu sayang. besok kita cek ke dokter kandungan ya."
"tapi bagaimana dengan hubungan kita sayang? kita masih berpacaran dan belum menyandang status suami istri." Wahyu termenung sejenak, kemudian memegang pundak nya Ayu.
"kau tak usah khawatir sayang, besok kita akan pergi ke KUA."
"serius sayang? tapi siapa saksi nya???"
"tak usah khawatir soal itu, aku akan menyuruh Tiana dan karyawan kantor lain nya untuk menjadi saksi pernikahan kita."
"baiklah sayang aku ikuti rencana mu saja." ujar Ayu dan Wahyu pun mengecup kening Ayu. setelah mereka berbincang begitu, mereka pun tidur malam hingga besok pagi menjelang.
Keesokan hari nya, Wahyu dan Ayu sudah bersiap-siap untuk pergi ke KUA terdekat. Tiana sudah ia hubungi dan rencana semalam Wahyu sudah dibicarakan kepada Tiana. diperjalanan menuju KUA yang sudah Wahyu pesan tempat nya, ia menghubungi orang tua nya lagi. saat itu yang menjawab adalah ibu nya sendiri dan Wahyu mengatakan secara langsung bahwa ia akan menikah lagi dengan wanita yang bernama Ayu itu. ibu Wahyu nampak senang, namun tiba-tiba ada suara ayah Wahyu membentak.
"sudah aku bilang! jangan angkat panggilan dari anak sialan itu! brakkk!!" seketika panggilan pun terhenti karena telepon rumah dirumah orang tua Wahyu dibanting oleh ayah nya.
Ayu nampak melihat raut wajah Wahyu yang murung itu, ia pun berusaha menenangkan kesedihan Wahyu itu dan Wahyu akhir nya bisa menerima semua itu dan telah menyadari bahwa sangat susah untuk memberikan kepercayaan kepada seseorang yang sudah terlanjur dibohongi dan sakit hati oleh kita. Wahyu kini hanya bisa pasrah saja pada nasib dan takdir yang ia jalani, Wahyu sudah terlanjur dicap jelek oleh orang tua dan keluarga nya karena telah melakukan pesugihan. namun, penyesalan memang selalu datang nya terlambat dan saat ini sampai seterus nya Wahyu tak akan gegabah melakukan sesuatu tanpa tahu resiko nya.
__ADS_1
Kini Wahyu sudah berada diKUA dan beberapa saksi pernikahan mereka sudah hadir. Tiana pun ada juga, setelah Wahyu menyatakan akad didepan para saksi dengan menikahi Ayu. kini mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. setelah itu, barulah Wahyu menyewa tukang tenda untuk membuat acara pernikahan dirumah nya dan surat undangan akan diibuat dan ditebar nanti oleh Tiana kepada rekan-rekan bisnis Wahyu. kini, Wahyu dan Ayu sudah resmi menjadi sepasang suami istri. kisah kelam seseorang dimasa lalu memang tak akan selama nya kelam dimasa depan. selagi kita mau berusaha untuk mencari cahaya dari kekelaman masa lalu itu, suatu saat dengan berusaha pasti akan berhasil. itulah motivasi Ayu yang ia ajarkan kepada Wahyu yang hidup nya sempat putus asa akibat pesugihan yang ia lakukan itu hingga menyebabkan orang yang ia sayangi menjadi korban atas perbuatan nya itu. kini Wahyu dan Ayu akan menjalani ikatan hubungan rumah tangga selayak nya pasangan suami istri yang akan memiliki keturunan.