
RAJA Genderuwo sebenar nya menyuruh Ki Baron untuk menindaki kelakuan Wahyu itu karena ia mendapat laporan dari anak buah nya. anak buah Raja Genderuwo yang biasa mengikuti kemana pergi nya Wahyu itu telah pulang kedalam kerajaan Raja Genderuwo dalam keadaan babak belur. ia mengaku telah dikalahkan oleh seorang nenek tua yang mempunyai kesaktian taraf tinggi dirumah nya Wahyu. ia pun membeberkan juga bahwa rumah Wahyu susah dimasuki dan seperti telah dipasang pagar gaib.
Disanalah Raja Genderuwo murka karena kejadian nya hampir sama dengan Erwin. tetapi, Raja Genderuwo tak menumbalkan kedua orang tua Wahyu karena ia ditahan oleh sosok Lastri yang sudah menjadi gundik di istana nya itu. Arwah Lastri yang telah menjadi gundik nya Raja Genderuwo itu masih mempunyai rasa bela kasihan kepada Wahyu setelah ia menyadari nya bahwa Wahyu sebenar nya sangat sayang kepada nya dan tak menginginkan diri nya ditumbalkan. tetapi Lastri yang telah menyesali kematian nya akibat diri nya sendiri itu merajuk kepada raja genderuwo agar jangan sampai membawa keluarga wahyu menjadi tumbal kemarahan nya karena mereka tak tahu menahu soal kelakuan anak nya itu.
Raja Genderuwo yang selalu takluk oleh bujuk rayu perempuan pun akhir nya menuruti saran Lastri dan kemudian Raja Genderuwo itu menyuruh Ki Baron sebagai perantara nya itu untuk menuntut apa yang telah di langgar oleh salah satu pengikut pesugihan nya itu yaitu Wahyu. seperti yang telah Erwin lakukan dan para pelaku pesugihan sebelum-sebelum nya, Ki Baron juga yang harus mengurus kesalahan orang yang telah mengikat pesugihan dengan orang yang datang pada nya itu atas perintah Raja Genderuwo. maka dari itu, Ki Baron yang sudah muak akan perintah itu berbalik sikap ingin menaklukan raja Genderuwo itu untuk ia jadikan budak peliharaan seperti tuyul, kuntilanak, pocong dan hantu-hantu lain nya yang seringkali ia taruh dirumah pelaku pesugihan dengan nya.
Dirumah nya Wahyu, Ayu dan Wahyu yang awal nya sedang makan malam bersama kini sudah ada didalam kamar sedang duduk berhadapan diranjang. mereka sedang memperbincangkan soal ucapan Ayu ketika waktu makan malam sebelum nya.
"jadi apa rencanamu sayang?" tanya Wahyu.
"aku akan mencoba meminta petunjuk kepada almarhum nenek ku melalui jimat tusuk konde ini."
"bagaimana cara nya? apakah itu akan berhasil?"
"aku belum memastikan nya ini berhasil atau tidak, karena dulu ketika aku masih gadis dan nenek ku masih hidup. beliau pernah berkata kepada ku sembari memberikan jimat tusuk konde ini padaku."
"apa yang dikatakan nenek mu kala itu memang nya???" tanya Wahyu penasaran.
Ayu pun mengusap-usap tusuk konde yang masih terbalut kain mori itu, kemudian ia menjawab pertanyaan Wahyu.
"kala itu nenek ku pernah berkata, kelak jika nenek ku sudah tiada dan aku merindukan kehadiran nenek ku. maka diberikanlah tusuk konde ini kepada ku untuk aku pakai memanggil arwah nenek. cara nya adalah, aku harus memanggil nama nenek ku secara berulang-ulang kepada tusuk konde ini dalam posisi mata terpejam."
__ADS_1
"sederhana sekali cara nya, tetapi apa itu akan berhasil?" tanya Wahyu sanksi.
"semoga saja berhasil, untuk apa nenek ku memberitahu hal itu jika tak ada guna nya sayang."
"hmm benar juga." gumam Wahyu, kemudian Ayu pun mulai mempraktekan apa yang ia sebutkan itu.
Ayu memejamkan mata nya dan kemudian menyebut nama nenek nya 'Nini Iroh Sulawasi' secara berulang-ulang. Wahyu masih menatap Ayu yang melakukan ritual sederhana itu dengan cara duduk bersila dan tangan nya memegang tusuk konde didepan mulut nya. kemudian Ayu berkata,
"tutup mata mu juga sayang."
"apakah itu harus?"
"baiklah." ujar Wahyu tak mau berdebat dan kini ia sudah memejamkan mata nya sembari ikut memanggil nama nenek nya Ayu itu ke jimat tusuk konde itu.
Agak lama Ayu dan Wahyu mengulang-ulang menyebut nama nenek nya Ayu itu, kemudian tusuk konde yang dipegang Ayu itu bergerak sendiri. Wahyu tersentak kaget dan begitu juga dengan Ayu, tetapi mata mereka masih tetap terpejam dan mulut mereka masih terus saja menyebut nama nenek nya Ayu. tusuk konde itu semakin bergerak-gerak dengan liar nya dan membuat Wahyu serta Ayu menggenggam erat tusuk konde itu. makin lama tusuk konde itu pun mengeluarkan asap putih dalam sekejap tusuk konde itu berhenti tak bergerak lagi dan tiba-tiba lenyap dari tangan mereka.
Kemudian terdengar suara nenek tua berkata,
"sudah buka mata kalian berdua." Wahyu dan Ayu pun membuka mata mereka dan melihat ada sosok nenek tua disamping mereka berdiri di teras kamar itu. Wahyu menatap kaki nenek tua itu dan terlihat menapak tanah, Ayu langsung turun dari ranjang dan memeluk nenek nya itu sembari menangis pilu. Ayu menangis sembari menceritakan pengalaman hidup nya yang pahit itu kepada nenek nya dan nenek nya pun berkata kepada Ayu.
"cucu ku sayang, maafkan nenek ya sayang. saat ini lupakan dulu kesedihan masa lalu mu itu Ayu, ada bahaya yang mengancam nyawa mu dan anak muda itu." Ayu melepas pelukan nya dan mengusap air mata nya.
__ADS_1
Wahyu merasa tak enak hati ditatap tajam oleh nenek nya Ayu itu, kemudian Wahyu turun dari ranjang dan membungkuk kepada nenek Ayu untuk salim.
"maafkan saya jika saya telah membuat Ayu dalam bahaya nek, saya masih ingat ketika nenek bilang kepada saya agar saya jangan sampai menumbalkan Ayu demi kepentingan pesugihan ini."
"hmm kau masih ingat rupa nya, nak Wahyu. nenek sebenar nya bukan benci kepada mu, nenek hanya mengkhawatirkan hidup cucu nenek ditangan mu."
"tapi aku baik-baik saja kok bersama mas Wahyu nek." ujar Ayu dan nenek nya menjawab.
"memang kau baik-baik saja dan nenek senang anak muda ini bisa membuat mu bahagia, tetapi jelas kebahagiaan kalian berdua tak akan bertahan lama."
"apa nenek bisa menjelaskan nya???" tanya Wahyu.
"tak perlu nenek jelaskan pun kalian berdua sudah tahu." Wahyu dan Ayu saling tatap seakan paham maksud dari ucapan nenek nya Ayu itu.
Kedua nya saling bungkam kemudian menatap nenek Iroh lagi yang berkata,
"ada orang yang tak senang kepada kebahagian kalian, bukankah niat kalian memanggil nenek hanya untuk menanyakan soal pemutusan ikatan pesugihan itu bukan???" Wahyu dan Ayu mengangguk, kemudian nenek itu berkata.
"nenek bisa membantu kalian, kita akan mulai..."
plettakkk! plettakk! plettaaak! ucapan nenek iroh terhenti karena mendengar suara letupan kecil di atas genteng rumah itu.
__ADS_1