
Maksudnya apa coba? Dia minta aku kalah, apa dia ingin aku jatuh cinta padanya? Kenapa? Kenapa aku harus jatuh cinta padanya? Apa jangan-jangan dia juga suka sama aku? Masa sih?
Chana melirik William yang sedang fokus pada layar laptop.
Dia emang ganteng. Matanya selalu bisa membuat aku membeku. Lihatlah pria itu, dia begitu sempurna. Ya ampun, aku harus gimana coba?
Chana kebingungan sendiri saat sedang dalam perjalanan. Dia yang biasanya cerewet kini menjadi pendiam.
Kalau aku beneran jatuh cinta sama dia, apa yang akan Daddy dan Mom lakukan? Jika dilihat dari tampangnya, William terlihat seumuran dengan Daddy. Bener kata Daddy, kalau dia punya istri gimana? Wah, jangan sampai deh aku menyandang gelas pelakor. Gelar sarjana aja belum punya. Masa udah punya gelar lain, sih. Pelakor pula, amit-amit.
"Ada apa? kenapa harus diam-diam begitu melihatku? Lihat saja sampai puas."
"Om, udah punya isteri?"
William menoleh lalu tertawa begitu keras. Chana sangat terkejut melihat reaksi tidak terduga dari William.
"Kamu pikir di umurku yang sekarang aku masih singel?" William menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
Chana syok mendengar jawaban William.
Nah, kan. Bener kata orang tuaku. Dia tidak mungkin masih sendiri. Pria tua seperti dia seharusnya sudah memiliki anak yang seumuran denganku, atau paling tidak seumuran dengan bocah yang ada di bioskop tadi.
"Om, aku berhenti di sini saja."
"Ok."
Chana mengerjapkan mata tidak percaya. William mengentikan mobilnya.
Chana yang telanjur malu, keluar dari mobil begitu saja meski saat melihat keluar dia sangat ketakutan. Bagaimana tidak, ini ada di tengah jalan bebas hambatan. Jika dia turun di sini, maka untuk mendapatkan kendaraan umum sangatlah tidak mungkin.
Sialan! Meski sudah memiliki istri setidaknya dia bertanggung jawab karena ingin mengantar aku sampai rumah, ya harusnya sampai rumah lah! Timbang nganterin doang mah kan gak bisa disebut selingkuh.
Chana berjalan sambil menghentakkan kaki. Dia mengayunkan tasnya dengan kesal seiring dengan gerakan kakinya.
__ADS_1
Mulutnya komat-kamit entah sedang membaca mantra apa.
William berdiri di samping mobil dengan tangan menyilang di dada.
"Dasar anak kecil, mudah sekali marah."
William mengikuti Chana dari belakang, dan diikuti dua mobil anak buahnya.
Lama bejalan, Chana pun merasa lelah. Terlebih dia memakai high heels. Dia menunduk untuk mengusap kakinya yang lecet.
Melihat hal itu William bergegas mendekati Chana dan langsung menggendong Chana tanpa permisi.
Chana yang ingin marah pun hanya bisa diam.
"Om pasti akan mendapatkan masalah jika ada yang melaporkan ini pada istri Om. Dan aku pasti akan dicari untuk dia labrak."
William tidak menggubris ucapan Chana sedikitpun.
"Ngapain coba capek-capek gendong, gak usah diturunin aja sejak awal. Masa mau berbuat baik harus jahat dulu. Mau jadi pahlawan kesiangan apa gimana?"
Sampai depan rumah, Galuh sudah menunggu di depan gerbang. Pengasuhnya itu sangat cemas karena Chana tidak bisa dihubungi. Selain itu dia juga khawatir karena pergi bersama Sakya tapi saat pulang Sakya hanya seorang diri.
Melihat pengasuhnya menunggu, Chana segera membuka pintu mobil dan dia keluar menghampiri Galuh. Melihat Chana berjalan tanpa sandal, Galuh semakin cemas.
"Kenapa nyeker, Non?" tanyanya sambil memutar tubuh Chana. Memastikan keadaan majikannya itu.
"Kakinya lecet. Ini sandalnya." William datang sambil membawa sandal Chana.
Galuh memperhatikan wajah William, dia sepertinya sedang meneliti untuk memastikan dugaannya tidak salah.
"Non, apa saya akan menang? Wah, bisa pensiun dini kalau begitu. Saya bisa bersantai di kampung." Galuh tertawa.
"Mba Galuh, iiihhh."
__ADS_1
"Mba gak akan cape lagi empok-empok pantat Non kalau mau bobo, iya kan?"
"Iiih, Mba. Malu!" Galuh menggerakkan kedua tangannya dan juga badannya manja.
"Mba, saya akan kasih uangnya asal jangan pensiun dulu. Pensiunnya tunda sampai saya yang menggantikan posisi Mba."
"Apa?" tanya Galuh dan Chana berbarengan. Mereka bukannya tidak mendengar hanya memastikan kalau mereka tidak salah dengar.
William tersenyum. "Selamat malam anak ayam." William mengusap kepala Chana sebelum dia pergi.
Galuh melambaikan tangan pada William saat mobilnya pergi. Sementara Chana masih diam kebingungan.
"Aduh, Non. Mba setuju aja kalau dia jadi pacar Non, meski tua tapi ganteng puoolll. Kan sekarang mah lagi musim, semakin tua semakin cool. Mateng sempurna tanpa karbit, Non," ucap Galuh kegirangan.
"Ih, kenapa jadi Mba Galuh yang seneng?"
"Lima ratus juta, Non." ucapannya lagi sambil cengengesan.
Galuh dan Chana masuk ke dalam rumah sambil berdebat tentang uang lima ratus juta dan tentang tampannya William.
Malam itu ditutup dengan berbagai macam rasa dari beberapa hati insan manusia.
Sakya yang masih tidak tahu tentang apa yang sedang dia rasa saat ini. Setelah menghabiskan waktu bersama Aya, dia merasa selalu bahagia. Senyumannya pun tidak pernah pergi dari wajahnya.
William yang merasa aneh dengan dirinya karena selalu teringat pada sosok Chana. Gadis pertama yang membuat dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Di sisi lain, seorang artis ternama bernama Ze sedang tersenyum sendiri sambil minum wine di balik apartemen mewahnya. Bayangan lucu Chana saat makan, kepolosan dan kejujuran Chana berhasil membuat hatinya menghangat. Sekali-sekali dia menatap layar ponselnya karena di sanalah ada foto gadis itu. Chana.
Namun, dari semua rasa yang ada, hanya Chana yang terlihat santai dengan semua yang telah dia lewati.
Chana kini sedang tertidur nyenyak sambil di pukul lembut oleh pengasuhnya, Galuh.
"Non, sampai kapan akan seperti ini? Non sudah besar, sudah bukan anak kecil lagi. Mba juga sudah mulai tua. Kalau seperti ini terus, bagaimana Mba bisa tenang jika suatu saat nanti Mba pergi. Mba berharap, laki-laki tadi yang akan menjadi jodoh Non Chana. Sepertinya dia pria baik dan dewasa. Dia akan menjaga dan mengayomi Non yang selalu saja seperti anak kecil."
__ADS_1
"Mbaaa ...." Chana mengigau.
"Sssst, Mba di sini. Non bobo lagi, ya." Galuh mengelus-elus punggung Chana sambil membenarkan letak selimutnya.