
"Chana!"
Chana yang sedang asik naik di atas pohon jambu menoleh ke arah sumber suara.
"Apa, Kak?" tanyanya sambil kembali melanjutkan memetik jambu.
"Eh, kutu nyamuk! Kalau naik ke atas pohon jangan pake kolor gombrang gitu. Itu underwear Lo keliatan dodol!"
"Bodo, yang liat cuma Lo ini. Kenapa? Wah, jangan-jangan Lo punya hasrat lagi."
"Amit-amit! Udah turun cepetan. Lo harus kiat berita pokoknya."
"Kenapa? Ada berita apa lagi memangnya? Korupsi? Bencana? Kecelakaan?"
"Bukan itu. Maksud gue gosip, berita gosip."
"Ya Allah, Kak. Lo tuh cowok, ngapain liat acara emak-emak."
Kesal karena Chana masih anteng di atas pohon, Sakya melempar adiknya dengan kerikil.
"Eh, sakit tau."
"Turun makanya. Ini ada berita Lo sama Ze. Mampus Lo!"
Mendengar ucapan Sakya, Chana langsung melompat tepat di hadapan Sakya.
"Astaga!" Sakya terkejut.
"Mana sini." Chana merebut ponsel dari tangan Sakya.
Dalam berita selebritis online dikatakan bahwa Chana adalah kekasih yang disembunyikan Ze selama ini. Namun, yang menarik perhatian Chana adalah hujatan yang mengatakan kalau Chana tidak cocok bersanding dengan Ze, visual Chana tidak bisa menyeimbangi visual Ze.
"Sialan!"
"Woiii, itu hp gue!" Sakya mengambil ponselnya yang dilempar Chana ke tanah.
"Kurang ajar! Dasar syirik, bilang aja kalau mereka iri dan cemburu iya kan? Mereka tuh pengen ada di posisi gue, Kak. Sok aja, gue, sih yakin banget. Pake acara ngatain gue jelek lah, rambut jagung lah, apaan coba?"
"Rambut Lo emang kayak rambut jagung. Ngapain coba diwarnai kayak gitu. Bagus yang dulu kali," ucap Sakya sambil mengusap-usap ponselnya.
"Non, Nona!" Dari kejauhan Galuh berlari sambil membawa ponsel Chana.
"Ada apa?"
"Ini ada telpon dari tadi bunyi terus."
"Makasih, ya, Mba Galuh."
Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Ze. Chana langsung menelpon balik.
"Maaf tadi ponsel ketinggalan di kamar."
"Memangnya kamu di mana?"
"Di atas pohon jambu."
__ADS_1
"Hah? Kamu bisa manjat?"
"Iyalah."
"Kamu bener-bener beda memang. O, iya, udah liat berita belum? Sorry ya untuk semuanya."
"Gak apa-apa. Ya wajarlah namanya juga orang cemburu. Mereka iri sama aku, yaaa kalau kamu bawa cewek lain pun aku juga pasti akan kesal dan marah."
"Beneran?" tanya Ze penuh harap.
"Hmm. Aku pasti akan sangat iri dan ingin menggantikan posisi wanita itu," ucap Chana santai sambil memakan jambu yang dia ambil dari pohon.
"Untunglah wanita itu kamu, iya kan?"
"Benar. Aku sangat bahagia saat ini. Mbaaa, ambilkan bumbu rujaknya. O, iya. Ze udah dulu ya, aku mau rujakan soalnya. Kamu gak usah khawatir, aku baik-baik saja. Lagi pula aku seneng, kok, jadi wanita yang bisa digosipkan sama kamu. He he. Bye, Ze."
Ze tertawa senang mendengar ucapan Chana. Dia terus saja tertawa sambil rebahan di atas ranjangnya.
"Chana ... Chana ... polos banget jadi cewek. Aku benar-benar suka." Ze bergumam. Dia segera bangun menuju kamar mandi sambil bersiul senang.
"Chana, kakak mau ngomong serius sama kamu."
"Apa?" tanya Chana sambil mencolek sambal kacang dengan jambu.
"Kamu sadar gak, sih?"
"Kalau aku gak sadar, mungkin aku sedang di rumah sakit Om Fateeh sekarang alias pingsan."
"Dek, seriusan."
"Iya, apa?"
"Emang ada, ya, cewek yang enggak suka sama dia?"
"Maksudnya suka sebagai perempuan. Yaaa cinta lah atau ...."
"Aku suka sebagai fans, Kakak ... dia itu idolaku, semua lagu, film, dan apa saja yang berhubungan dengan dia aku suka, tapi bukan berarti cinta."
"Tapi ucapan kamu bisa membuat orang salah faham, tau, Dek."
"Yang mana?"
"Tadi kamu bilang kalau kamu akan cemburu jika wanita yang sekarang digosipkan dengannya adalah wanita lain."
"Loh, salahnya apa? Ya buktinya sekarang wanita di luaran sana banyak yang cemburu, mereka menghujatku habis-habisan. Mungkin aku melakukan hal yang sama jika Ze tiba-tiba muncul dengan wanita lain."
"Aku hanya memberikan pendapat sebagian laki-laki, takutnya dia salah faham sama kamu."
"Gak mungkin. Udahlah jangan dipikirkan, jangan merusak suasana siang ini, aku sedang ingin maka rujak dengan damai sentosa."
Sakya hanya menarik nafas panjang melihat sikap adiknya itu.
Chana memang sepolos itu, dia tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Dia hanya mengungkap apa yang ada di pikiran dan hatinya. Baik atau buruk tidak bisa Chana pendam, dia akan begitu saja mengutarakannya. Entah pada siapa pun itu.
"Banyak banget masaknya," ujar Chana saat berada di ruang makan. Tangannya yang mulus itu mengambil tahu goreng yang terlihat kuning keemasan dan masih mengepulkan asap.
__ADS_1
"Eittsss!" Iksia memukul tangan anak gadisnya.
"Kenapa, sih, Mom?"
"Tunggu semuanya datang dulu, jangan asal comot aja. Gak sopan."
"Ih, kenapa, sih? Biasanya juga gitu."
"Jangan berisik, kamu sudah mandi belum? Mandi dulu terus ganti bajunya yang rapi. Jangan lupa pakai parfum sedikit aja, jangan terlalu menyengat."
"Ya Allah, Mom. Mau makan doang ini."
"Udah sana ...." Iksia mendorong anaknya hingga ke tangga.
"Ih, kenapa ibuku aneh banget hari ini."
Mau tidak mau Chana pun naik menuju kamarnya dan mandi sesuai keinginan Iksia, dia juga memakai pakaian yang rapi dan dandan tipis-tipis.
"Udah cantik belum, Dad?" tanya Chana pada Arzhan.
"Putri Daddy selalu cantik."
"Siapa, sih, tamu yang mau datang? Kenapa kita harus berpakaian serapi ini?" tanya Sakya sambil merapikan pakaiannya.
"Tunggu, jangan-jangan ...."
"Tuan, Nyonya, tamunya sudah datang."
"Oh, kami akan segera ke depan."
Arzhan dan Iksia pergi ke depan rumah untuk menyambut tamu. Sementara Sakya masih termenung dengan dugaannya.
"Heh, Lo jangan makan mulu. Kena marah mom nanti." Sakya menyenggol Chana yang sedang memakan tau goreng kesukaannya.
"Biarin aja."
"Chana, Sakya, tamu kita sudah datang."
Chana yang sedang makan tahu langsung tersedak saat melihat William. Dia segera mencari air dan meminumnya sekali habis dalam satu tegukan.
Iksia menahan amarahnya melihat sikap Chana yang tidak ada cantiknya sama sekali.
"Hai, Om. Jadi ini yang mau makan malam sama kita? Pantas saja masaknya banyak banget, padahal Om William makanya gak banyak."
Arzhan dan Iksia mengerutkan dahinya mendengar perkataan Chana.
"Kami pernah makan bersama, Pak." William mejelaskan pada Arzhan dan Iksia yang kebingungan.
Sementara Chana masih bersikap acuh tak acuh. Dia kembali mengambil tahu dan duduk memakannya.
"Chana ...." Iksia memanggilnya dengan nada amarah yang ditahan.
"Tidak apa-apa, Bu. Biarkan saja. Bukankah lebih baik apa adanya, jadi tidak perlu bersikap mengada-ada. Saya lebih suka seperti itu," ujar William sambil melirik Chana. Sedangkan Chana masih asik dengan tahunya.
__ADS_1
"Mba tolong ambilkan kecap."
Iksia menghembuskan nafas kesal.