Promise!

Promise!
Tentang rasa


__ADS_3

"Apa tidak butuh materi untuk kunjungan hari ini, Pak?"


"Tidak perlu. Lagi pula kita akan berkunjung ke sekolah SMA. Mereka tidak butuh materi yang mendetail."


Sakya suka sekali berkunjung untuk memberikan motivasi atau materi tentang bisnis. Dia yang memang terbilang sangat muda untuk menjabat sebagai pemimpin perusahaan, seringkali diundang di beberapa acara.


Tidak heran jika dia terkenal di beberapa kalangan khususnya para pengusaha muda, mahasiswa terutama mahasiswi.


Namun, dinginnya sikap Sakya tidak pernah sekalipun membuat dia tertarik pada wanita. Baginya, perusahaan itu lebih utama.


Sakya sampai di sebuah sekolah menengah atas elit. Begitu datang, para guru dan Dean direksi sekolah tersebut menyambutnya dengan baik.


Setelah berbasa-basi di ruang kepala sekolah, Sakya pun pergi menuju aula sekolah. Di sana sudah banyak siswa terutama jurusan bisnis dan akuntansi.


"Asal mau aja dulu. Itu kunci utama seseorang untuk berbisnis. Apa saja jenis bisnisnya asal kita mau dan tekun, pasti akan berhasil. Sekarang, jika sudah ada kemauan tapi tidak tekun, akan berhenti di tengah jalan. Jadi tekun dan mau itu tidak bisa dipisahkan. Harus bersama."


"Seperti aku dan kamu, ya, Pak."


Gelak tawa di ruang aula pun membahana. Suara gemuruh itu membuat Sakya merasa panas di bagian wajahnya.


Sakya melihat sosok gadis kecil yang bersuara tadi berada di tengah-tengah siswa lainnya.


Dia yang berwajah imut itu sedang tertawa puas karena leluconnya.


"Ya, kamu dan aku hanya akan terpisahkan oleh maut."


"Cieeeee ...." Siwa pun kembali bersorak.


"Siapa nama kamu?" tanya Sakya.


"Aya, Pak. Panggil saja Aya, jangan panggil saya anak kecil, Pak." Ujar Aya menirukan suara Shifa di film kartun India.


"Aya, nama kamu akan saya catat di buku."


"Buku? Buku apa, Pak? daftar tagihan ya?"


Tawa itu pun kembali riuh.


"Bukan, tapi di buku nikah kita."


Suara riuh bergemuruh lebih keras saat Sakya melontarkan gombalan kecil pada Aya, membuat anak itu malu sendiri karena ulah yang dia buat.


Setelah acara selingan dengan gombal receh, Sakya kembali memberikan nasihat dan motivasi bisnis untuk siswa siswi di sana. Namun, matanya tidak pernah bisa jauh dari Aya.


Ke mana pun dia melihat, matanya akan kembali pada siswi imut itu. Sadar ada hal yang tidak beres, Sakya sekuat tenaga agar dirinya kembali normal dan stabil hingga acara selesai.


"Oke, kita lanjutkan ke acara berikutnya yaitu kuis. Siapa yang bisa menjawab dengan benar, akan mendapatkan sebuah tabungan pendidikan dan bea siswa dari perusahaan Pak Sakya."

__ADS_1


"Pertanyaan pertama ...."


"Saya Pak."


"Pertanyaan selanjutnya ...."


"Saya, Pak."


Beberapa pertanyaan sebanyak sembilan pertanyaan sudah dijawab. Tinggal satu pertanyaan lagi uang ternyata Aya lah yang mengangkat tangan.


Aya yang memang termasuk salah satu siswi pintar di sekolah itu pun berhasil menjawabnya. Kini, dia berjalan menghampiri Sakya untuk mendapatkan hadiah.


Langkahnya yang lembut, kulitnya yang putih dan wajahnya yang imut membuat Sakya merasa sesak nafas tiba-tiba.


Aya mengulurkan tangannya. Bukannya hadiah yang diberikan Sakya, tapi Sakya menyambut tangan Aya dengan tangannya.


Aya mengerjapkan mata beberapa kali karena heran.


Sakya mengambil mic. "Saya terima nikahnya Aya dengan mas kawin di bayar ngutang."


Semua orang kembali tertawa.


"Sah?" tanya Aya yang tiba-tiba mendekatkan mulutnya pada mic yang sedang dipakai Aya. Hal itu membuat Sakya membeku.


"Saaah!" timpal semua orang yang ada di aula.


"Mana hadiahnya, suamiku."


Melihat Sakya yang kebingungan karena salah tingkah, Aya mengambil begitu saja buku tabungan yang menjadi hadiahnya.


Di dalam perjalanan pulang, Sakya masih merasa salah tingkah saat memikirkan kejadian tadi. Dia bahkan senyum-senyum sendiri tanpa dia sadari.


Asisten yang mendampinginya pun ikut tersenyum. Dia merasa senang melihat Sakya tersipu seperti sekarang.


Apa seperti ini saat freezer jatuh cinta? Tanya asistennya dalam hati.


"Antarkan saya ke rumah. Hari ini saya ingin pulang cepat."


"Baik, Pak." asisten itu kembali tersenyum melihat sikap Sakya yang tidak biasanya ingin pulang lebih cepat.


"Loh, jam segini udah pulang Lo?" tanya Chana yang ikut heran melihat kakaknya pulang di saat langit masih cerah.


"Dek." Sakya menarik tangan adiknya dan menyimpannya di dada.


"Eh, kenapa? Lo kena serangan jantung apa atsma?" tanya Chana.


"Dada gue."

__ADS_1


"Dada? Dada Lo kenapa, Kak? Lo baik-baik aja kan? Ayo kita ke rumah sakit, kenapa malah ke rumah." Chana panik.


"Dada gue panas. Kayaknya ada sesuatu yang entah apa itu namanya. Dek, muka gue merah gak? Panas banget sumpah."


"Ih, ini orang kenapa, sih?" tanya Chana yang menyadari ada hal yang aneh pada kembarannya itu.


"Senyuman dia kenapa gak mau hilang dari mata gue?"


"Hah? Apa Lo bilang?"


Tanpa menjawab, Sakya meningkatkan Chana dengan wajah melongo dan mulut terbuka. Sesekali dia tersenyum tanpa alasan.


"Wah, rada-rada kayaknya. Mba, telpon rumah sakit jiwa."


Galuh tertawa. "Harusnya telpon dokter cinta, Non."


"Dokter cinta?" tanya Chana sambil menatap Galuh. Dengan mangap Galuh mengangguk kepala pada Chana seolah membenarkan apa yang ada di dalam pikiran Chana.


"Aaah, iya! Dia jatuh cinta. Hahaha. Sakya jatuh cinta." Chana tertawa namun tidak lama. Stelah sadar apa yang sebenarnya terjadi, Chana segera berlari menyusul kakaknya ke kamar.


Galuh hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah dua majikannya itu.


"Mba Galuh, ini ada titipan untuk Non Chana." Penjaga rumah membawa sesuatu.


"Apa ini, Pak?"


"Saya kurang tau, tapi katanya ini untuk Non Chana. Eh, sebenernya gak bilang gitu, sih. Dia bilang ini untuk anak perempuan yang ada di rumah ini."


"Duuh, siapa lagi ya? Nah, ini dia, nih. Akibatnya kalau mungut cowok dari aplikasi, segala macam dikirimnya ke rumah. Tapi gak ada yang berani datang langsung. Untung makanannya gak berbentuk gambar. Ketemu di dunia maya, makanannya Alhamdulillah nyata."


Galuh menyimpan makanan itu di ruang keluarga.



"Enak box sekaligus. Isinya manis semua. Ini kalau keluarga ini kena diabetes semua yang repot kan kami para pelayan di sini. Hadeuhhh!"


Galuh tidak berhenti menggerutu setelah menyimpan kue-kue itu di ruang keluarga.



Iksia, Arzhan dan Raga hanya diam menatap makanan yang ada di meja, sementara Sakya dan Chana sibuk mencicipi.


"Siapa lagi ini, Chana?"


"Makan aja, Mom. Jangan nolak rezeki, pamali."


"Chana, tapi kita tidak tahu siapa yang kirim. Kalau ada racunnya, gimana?"

__ADS_1


Mendengar ucapan Iksia, Chana memegang lehernya. Dia terlihat kesakitan, dan seperti orang mau muntah. Dia pun tergeletak di lantai dengan tubuh kejang-kejang.


Semua orang yang ada di sana panik kecuali Raga. Dia tau bagaimana sikap Chana yang selalu saja senang mengerjai orang tuanya.


__ADS_2