
"Siapa?"
"Apanya?"
"Cewek yang Lo suka."
"Ngomong apa, sih, Lo?"
"Dek, dada gue. Kenapa dada gue panas. Sesak nafas." Chana meledek Sakya.
Seketika Sakya meremat wajah adiknya itu.
"Ngomong aja, sih. Gue juga suka sama Ze."
"Iya kan dia mah artis. Bukan cuma Lo yang suka, saingan Lo banyak."
"Ya biarin aja. Pokoknya gue suka sama dia. Suka banget."
"Gue aja yang cowok suka liat dia. Rapi, ganteng, best attitude. Sebagai artis dia jarang banget kena skandal."
"Gue gitu loh!"
"Ih, kenapa Lo yang bangga?"
"Itu artinya pilihan gue itu gak pernah salah. Gue suka sama apa pun yang kualitasnya super bagus."
"Iya, makanya nyari cowok buat jadiin pacar pun nyari di online. Udah kek belanja aja. Gak sekalian nunggu diskon gede-gedean."
Chana membuat ekspresi jelek di wajahnya tanda kesal pada sang kembaran.
Hari ini mereka sedang dalam perjalanan menuju mall, mereka akan menonton sebuah film hantu yang sedang viral. Di mana pemeran wanitanya mati karena ditebas samurai hingga menjadi hantu gentayangan.
Sakya yang memang takut pada hantu dan sebagainya terpaksa mengikuti keinginan sang adik, meski saat di dalam dia menutup telinganya dengan ear phone dan memejamkan matanya.
Pop corn ukuran besar dan minuman yang berukuran sama besar juga habis dilahap Chana sambil fokus menonton layar.
"Lah, dia molor."
Chana yang tahu bagaimana Sakya setiap diajak nonton film horor, hanya diam sambil memainkan ponselnya. Orang-orang mulai keluar satu per satu hingga bangku mulai terlihat kosong meski ada beberapa orang yang masih duduk. Mungkin masih menenangkan diri dari ketegangan.
Brukkkn!
"Oops!"
Chana hanya bisa diam saat kepalanya terasa dingin.
"Aduuuh, maaf, ya, Kak."
Seorang gadis kecil menghampirinya. Dia yang duduk di bangku belakang Chana menumpahkan sisa soda di atas kepala Chana.
Meski kesal, Chana mencoba tenang dengan beberapa kali mengatur nafasnya sebelum dia melihat siapa pelakunya.
"Gak apa-apa, Kok." Chana tersenyum kaku.
"Aku beneran minta maaf, Kak. Tadi gak sengaja."
"Iya, tau. Ya aneh aja kalau kamu sengaja numpahin air kan?"
"Maaf, ya, Kak."
"Mau berapa kali minta maafnya?" tanya Chana dengan kelembutan suaranya.
Sakya yang mulai terbangun pun segera berdiri di belakang Chana.
"Suamiku?"
"Hah?" Chana heran.
"Eh, enggak. Maksudnya bukan. Aduh, itu." Gadis itu menunjuk Sakya.
__ADS_1
Chana menoleh ke belakang dan melihat Sakya dengan ekspresinya yang aneh. Antara malu, gugup dan bingung menjadi satu.
"Kalian saling kenal?" tanya Chana pada Sakya.
"Dia suamiku, Kak."
"Ih, apaan, sih?" Chana semakin bingung.
"Sepertinya rambut kamu kotor. Ayo, kita bersihkan."
Seseorang yang sedari tadi memperhatikan Chana, tiba-tiba menarik tangan Chana dan menyeretnya keluar.
Melihat Chana dibawa orang lain, Sakya tentu saja tidak terima tapi niatnya hanya ada di dalam hati karena tubuhnya membeku.
"Aya, sedang apa kamu di sini?" tanya Sakya gugup.
"Main reog, Pak."
"Oh, reog?" ucap Sakya polos sambil cengengesan tidak jelas.
Sementara Chana yang sadar siapa yang menarik tangannya sibuk menutup mata.
"Ada apa? Kenapa matamu ditutup?"
"Takut jatuh cinta."
"Apa?"
Chana menghentikan langkahnya. William dan beberapa orang yang selalu setia mendampingi di mana pun William berada ikut menghentikan langkahnya.
"Mata Om itu indah. Om juga tampan, badan om bau harum. Om tinggi. Pasti banyak wanita yang suka, bisa saja suatu saat salah satu wanita itu saya, Om."
William mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Memangnya kenapa kalau wanita itu kamu?"
William semakin mengerutkan dahinya.
"Pokoknya kalau bukan aku yang menutup mata, Om yang harus menutup wajah saat kita bertemu."
William semakin tidak mengerti dengan ucapan Chana, namun diam-diam dalam hatinya rasa penasaran dan ketertarikan pada Chana mulai merasukinya.
Chana dibawa ke sebuah salon untuk membersihkan rambutnya. Setelah selesai dia diajak makan, akan tetapi Chana menolak.
Alasannya sama.
"Saya takut jatuh cinta sama Om dan uang saya akan hilang."
William hanya diam berdiri melihat Chana pergi menaiki taksi.
"Ada yang tahu maksudnya apa?" tanya William pada anak buahnya.
Mereka semua menggelengkan kepala.
"Ma-maaf, Bos. Mungkin dia sedang taruhan."
"Taruhan?"
"Iya, Bos. Dia selalu mengatakan takut jatuh cinta sama bos, kalau dia jatuh cinta maka dia akan kehilangan uang nya yang lima ratus juta itu."
"Dengan siapa dia taruhan? dan kenapa?"
"Saya tidak tahu kalau itu."
"Makanya segera cari tau!"
"Siap, Bos!" anak buah William menjawab kompak.
"Bos, makanan kali ini mau dikirim jam berapa? Apa tidak ingin ganti menu? Yang asin atau gurih misalnya." anak buahnya mengajukan ide.
__ADS_1
"Kamu sendiri yang bilang kalau dia suka manis."
"Takutnya dia diabetes, Bos. Dia sudah manis nanti kelewat manis," ucap anak buahnya dengan sedikit guyonan. Namun, guyonan itu seperti ranjau bagi dirinya saat melihat tatapan tajam William.
"Aduuuh, perutku laper. Niat mau date sama Sakya, malah nyalon gak jelas. Pake acara ketumpahan soda segala. Eh, itu bocil malah ngaku-ngaku sebagai istrinya Sakya pula." Chana menggerutu sepanjang jalan.
"Neng, kita mau ke mana?"
"KUA."
"Mau daftar nikah, Neng?"
"Iya, saya mau nikah sama siapa aja lah yang mau."
"Saya daftar kalau begitu."
"Boleh, tapi tunggu yang lain dulu. Bapak antri paling belakang."
"Waduh, pake nomor antrian juga, gak, Neng."
"Dikira mau ke dokter kali, ah, Bapak."
"Ha ha ha. Jadi kita mau ke mana?"
"Saya lapar, Pak. Tolong anterin saya ke caffe yang lagi viral itu, deh. Nanti saya tunjukkin arahnya."
Dengan arahan dari Chana, taksi itu pun akhirnya sampai di cafe tempat pertama dia bertemu dengan William.
Dari luar terlihat begitu lebih ramai dari hari biasanya. Saat melihat beberapa poster yang ada di depan cafe, Chana begitu terkejut karena ternyata sedang ada acara yang dibintangi oleh Ze.
Chana spontan berlari hendak masuk, namun dicegah oleh keamanan di sana.
"Mana tiketnya?"
"Tiket?"
"Iya, masuk ke sini harus memiliki tiket. Jika tidak, maka tidak boleh masuk."
"Biasanya saya gak pake tiket bisa masuk, kok." Chana pura-pura bego.
"Iya, tapi cafe ini sedang dipakai acara Ze. Jadi harus punya tiket dulu."
"Kalau gak punya gimana?"
"Gak bisa masuk."
"Tapi pengen masuk, gimana?"
"Harus punya tiket."
"Tapi tiketnya gak ada."
"Ya berarti gak boleh masuk."
"Tapi pengen ke dalam. Laper mau makan."
"Sekarang gak jual makanan, Nona."
"Teus jual apa? Jual Ze?"
"Ya kali artis nya dijual. Sudah, sudah. Bikin pusing aja debat sama kamu. Kalau lapar silakan cari tempat lain. Besok baru ke sini lagi."
"Maunya sekarang disuruh besok. Gimana, sih!"
Baru saja Chana akan pergi, tiba-tiba suara teriakan histeris dari fans bergemuruh. Mereka keluar mengikut idolnya yaitu Ze. Tidak ingin ketinggalan, Chana pun ikut bergabung.
Tubuh Chana yang tidak terlalu tinggi kesulitan untuk melihat dengan jelas Ze dari dekat. Dia berjinjit dan sesekali melompat agar bisa melihat idolanya.
Tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh Chana hingga dia terlihat lebih tinggi dari orang lain. Sontak saja perhatian Ze tertuju pada Chana. Tidak hanya itu, Chana dibuat terkejut saat Ze melambaikan tangan padanya. Penasaran ingin tahu siapa yang mengangkat tubuhnya pun teralihkan pada Ze.
__ADS_1