Promise!

Promise!
Ibu


__ADS_3

"Non, ada kiriman hadiah untuk Non."


"Dari siapa, Mba?"


"Kurang tau, tapi udah disimpan di kamar Non Chana."


"Iya, terimakasih."


"Chana."


Chana menoleh saat Raga memanggilnya.


"Kenapa, Paman?"


"Ada orang mengirimkan mobil tadi pagi, tapi mereka datang lagi dan minta kuncinya."


Chana berpikir. Lalu ingat pada kunci mobil pemberian William. Pria itu meminta kembali hadiah uang dikirimnya.


"Tunggu sebentar. Aku ambil dulu."


Raga mendesah.


"Ini." Chana memberikan kunci mobil itu pada Raga.


"Chana, jangan sampai kamu salah melangkah, ya."


"Maksudnya?"


"Jangan ikuti kata hati yang melintas sesaat, tapi dengarkan kata hati yang paling dalam. Kadang, hati sering kali berbelok pada bisikan yang muncul sekedar lewat."


Raga tersenyum sambil mengusap kepala Chana lalu pergi.


Chana mengambil ponselnya bermaksud untuk menghubungi William, namun ternyata nomor Chana diblokir olehnya.


"Sepertinya dia marah besar. Ya sudahlah, aku juga gak bisa merubah perasaan orang untuk suka atau benci padaku."


Undangan untuk menghadiri acara ulang tahun ibunya William pun datang kepada orang tua Chana.


"Undangan ini hanya untuk dua orang saja, tapi jika ingin membawa seseorang juga tidak masalah."


Iksia mengangguk.


Meski William marah dan tidak mengundang Chana secara pribadi, tapi secara tidak langsung dia ingin Iksia membawa putrinya serta. Iksia mengerti itu.


"Mom tidak bisa lagi mengatur kamu harus seperti apa. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, hanya saja kamu harus tau bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya. Kamu harus siap dengan itu. Chana ... mom pernah melakukan kesalahan dan akibatnya benar-benar membuat Mom tersiksa cukup lama. Mom berharap kamu selalu bahagia dengan apa pun yang kamu lakukan. Hanya itu yang bisa Mom dan Dad lakukan untukmu."


"Besok kamu siap-siap, kita akan datang ke acara pesta ulang tahun ibunya William. Berpakaian dengan sopan karena ibunya William wanita baik-baik dan sederhana."


"Iya, Dad."


Meski tahu dirinya telah diblokir, Chana tetap saja melihat ponselnya dan berharap William menghubungi. Diluar kendalinya, Chana terus mencoba menghubungi William meski dia tahu itu hal yang sia-sia.

__ADS_1


"Kenapa aku rindu suaranya?"


Dengan langkah gontai, Chana pergi keluar menuju mobil untuk pergi ke kampus. Saat dalam perjalanan Chana berkali-kali melihat kaca spion.


"Kenapa? Nyari seseorang?"


"Hmmm."


"Mereka datang diam-diam, lalu pergi dengan berpamitan. Elizer bilang tugasnya sudah selesai. Dia tidak akan mengikuti kita lagi. Kamu senang?"


"Ya, tentu saja. Gak enak banget tau di mata-matain tuh. Gak bisa bergerak bebas."


Raga tertawa kecil mendengar ucapan keponakannya.


Chana menatap keluar jendela, melihat apa yang sebenarnya tidak dia lihat. Fokusnya entah sedang ada di mana. Hatinya berkecamuk tapi entah sedang membicarakan apa.


Begitu sampai depan kampus, Chana melihat mobil Ze sudah terparkir.


"Aku kuliah dulu."


"Hati-hati, ya."


Chana mengangguk pelan pada Raga.


"Sayang ...." Ze melambaikan tangan.


Chana merasa risih saat melihat beberapa orang menatapnya, lalu saling berbisik sambil tertawa cekikikan.


"Aku kangen," bisik Ze di telinga Chana.


"Aku kuliah dulu, ya."


"Semangat, ya, Sayang. Aku mampir sebentar ke sini buat ketemu kamu."


"Ze boleh minta foto?" Seorang wanita menghampiri. Pengawal Ze bersiap untuk menghalau namun Ze meminta agar dibiarkan saja.


Melihat satu fans boleh berfoto, yang lain mulai mengikuti, lama kelamaan Ze dikerumuni para fans hingga Chana tergeser menjauh. Dia bahkan hampir jatuh karena terdorong.


Chana masih berdiri di kejauhan, menunggu hingga para fans itu pergi. Dia merasa bangga karena wanita- itu harus bersusah payah mendapatkan foto Ze, sementara dirinya bisa mendapatkan apa saja yang ada di dalam diri Ze.


"Kalian, dorong saja aku. Lihat saja, Ze pasti akan mencariku setelah kalian menyingkir." Chana bergumam sendiri.


"Waaah, makasih ya, Ze." sisa satu orang fans yang meminta foto dan tanda tangan.


Melihat sudah tidak ada lagi orang, Chana bersiap melambaikan tangan pada Ze, namun pria itu sama sekali tidak menoleh ke arah Chana, dia tidak mencari kekasihnya dan langsung masuk ke dalam mobil, dan pergi.


Chana kecewa, tentu saja dia merasa diabaikan saat itu.


Setelah pulang kuliah, Chana merasa tidak bersemangat. Tidak ada siapa-siapa yang menjemputnya kali ini, Raga bilang jika dia harus mengantar Sakya. Elizer yang selalu mengawasinya pun tiba-tiba dia rindukan.


"Andai ada Elizer di sini, mungkin saat aku mau jatuh tadi, dia pasti segera menolong dan menanyakan keadaanku."

__ADS_1


Rindu pada kebiasaan William yang selalu ada untuknya di setiap waktu membuat Chana bersedih. Hanya untuk bertanya kabar pun dia kehilangan jejak.


Chana rindu saat William datang menjemput, membawakan cokelat favoritnya. Rindu saat dia menjemput dan menyiapkan sarapan di dalam mobil karena takut Chana tidak sempat sarapan di rumah.


Ponsel selalu berbunyi karena banyaknya chat yang masuk menanyakan kabar padanya. Mengirim obrolan basa-basi yang kini sangat ingin Chana dapatkan kembali.


"Sebenarnya bagaimana dengan perasaanku?"


Di sisi lain Chana merindukan William, namun dia juga menginginkan Ze.


Kali ini Chana terpaksa memesan taksi untuk dia pulang ke rumah. Namun saat taksi itu berhenti di depan Chana, Elizer datang.


"Ini uangnya. Bawa saja."


Sopir taksi itu sangat senang mendapat uang tanpa harus bekerja.


"Non, silakan ikut saya."


"Ke mana?"


"Ikut saja."


"Apa ini perintah William?"


Chana hanya bisa diam saat melihat wanita yang ada di hadapannya. Berkali-kali dia memastikan baju yang dia kenakan, sudah layak atau belum.


Wanita yang sudah sepuh itu tersenyum melihat sikap Chana yang mengkhawatirkan penampilannya.


"Chana, tidak usah mengkhawatirkan apa yang kamu pakai. Baik buruknya seseorang bisa saya lihat dari matanya," ucapnya lembut. Wajah wanita itu sangat cantik meski sudah berkeriput. Tatapannya teduh dan suaranya lemah lembut.


"Nyonya tau nama saya?"


Dia tertawa kecil. " Panggil saja saya ibu. Bukan ibu sebagai penghormatan tapi Ibu sebagai seorang ibu dari anaknya. Ibu."


Chana tersenyum canggung.


"Maaf kalau kamu terkejut karena saya meminta kamu datang secara mendadak."


"Oh, gak apa-apa, Bu. Saya gak sibuk, Kok." Chana menggerakkan kedua tangannya seperti orang sedang dadah.


"Saya sengaja ingin bertemu karena ingin mengundang kamu secara resmi ke acara ulang tahun saya besok."


Chana kembali tersenyum.


"Sebenarnya saya tidak ingin merayakan ulang tahun apa lagi dengan pesta besar-besaran, malu sama umur. Tapi William selalu memaksa."


"Mungkin dia ingin memberikan yang tebaik untuk Ibu. Semua anak ingin membahagiakan orang tuanya."


"Kamu benar. William memang selalu mengutamakan saya. Dia tumbuh tanpa seorang ayah. Menyaksikan bagaimana saya berjuang membesarkan dia, William ingin membuat saya bahagia. Membalas air mata menjadi sebuah tawa. Aduuuh, maaf. Saya jadi cerita masa lalu."


"Justru saya ingin tahu lebih banyak."

__ADS_1


Ibunya William menatap Chana dalam-dalam.


__ADS_2