
"Apa? Mana Sakya sekarang?" tanya Iksia dengan nada yang kesal saat Rere memberitahu segalanya tentang apa yang terjadi.
"Masih kerja, Nyonya."
"Anak itu benar-benar ya!"
"Ada apa, Mom?" tanya Sakya yang kebetulan datang. Iksia melangkah dengan cepat menghampiri anaknya.
"Kamu sadar apa yang kamu lakukan pada Tata?" tanya Iksia sambil menahan amarah.
"Mom, tolong jangan bahas itu sekarang."
"Tidak ada yang memaksa kamu menikah dengannya. Mom sudah bilang kamu tidak perlu mengobarkan diri kamu, tapi apa? Kamu malah tetap menikah dengannya kan? Salah Mom? Daddy?"
"Aku hanya ingin menolong perusahaan dari kebangkrutan, Mom."
"Tapi tidak dengan cara menyakiti orang lain termasuk Tata, Sakya! Bagaimana kamu bisa menikahi dia sementara kamu menunjukkan bahwa masih ada Aya dalam hati kamu. Jangankan Tata, mom aja sakit hati melihat itu semua. Sakya dengar, dia itu istri kamu. Kamu bertanggung jawab pada hidupnya bukan cuma perkara nafkah materi, kamu juga bertanggung jawab pada suka dan luka yang dia rasa."
"Tapi aku harus apa, Mom? Aku gak cinta sama dia."
"Cinta atau tidak, dia istrimu. Tanggung jawab kamu. Dan ini ... ini semua adalah konsekuensi atas pilihan kamu. Take it!"
"Tapi, Mom."
"Mommy dan Chana adalah perempuan. Perlakuan Tata dengan baik jika kamu ingin mama dan Chana bahagia. Sakya, jangan sampai Chana menerima karma dari apa yang kamu lakukan. Ingat itu!"
Sakya meremas kepalanya yang terasa sakit. Dia tidak tahan jika Iksia sudah marah padanya.
Belum sempat mandi ataupun makan, Sakya kembali ke mobil dan pergi untuk menjemput Tata.
Ting tong
Beberapa kali Sakya memencet bel, tidak ada jawaban ataupun rekasi dari dalam rumah. Dia semakin gelisah saat sudah lebih dari satu jam berdiri di depan pintu yang entah kapan akan terbuka.
Tidak patah semangat, Sakya tetap menunggu di teras rumah sampai akan ada yang membukakan pintu.
"Non, bagaimana ini?"
"Suruh dia pulang, Bi. Katakan padanya jika aku tidak akan mau kembali ke rumah. Urus saja perceraian dan kirimkan berkasnya pada saya."
Pelayan Tata pun pergi menemui Sakya.
"Apa? Di mana tata sekarang? Saya mau bertemu."
"Gak bisa, Den."
"Saya mau masuk." Sakya memaksa menerobos. Pelayan itu berteriak hingga bodyguard tata datang. Melihat Sakya memaksa menerobos, dua bodyguard itu segera menghampiri Sakya dan mendorongnya keluar.
"Saya cuma ingin ketemu Tata!"
"Maaf, tapi Nyonya tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini. Silakan keluar!"
Tidak bisa melawan bodyguard yang memiliki tubuh tinggi dan besar itu, Sakya memilih untuk kembali pulang.
Sesampainya di rumah, Sakya begitu khawatir bertemu dengan Iksia. Dia masuk dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan Iksia.
"Tuan."
__ADS_1
"Astaga!"
"Kenapa mengendap-endap begitu?"
"Aaah, bikin kaget saja. Mommy mana?"
"Ke rumah sakit buat jagain Non Chana."
Sakya bernafas lega. Dia tidak lagi mengendap-endap seperti tadi.
Terbiasa bersama seseorang, meski tidak memiliki rasa sama sekali tetap saja menimbulkan rasa yang entah saat tidak lagi bersama. Seperti yang Sakya rasakan saat dia masuk ke kamarnya. Ada yang hilang. Tidak ada lagi sambutan Tata saat dia membuka pintu.
"Tata mana handuknya?" teriak Sakya dari kamar mandi. Jika biasanya Tata selalu menyediakan handuk, kali ini tidak. Sakya lupa jika Tata tidak lagi bersamanya.
"Ini pasti karena aku butuh. Kebiasaan karena dia selalu sok perhatian mengurus semuanya."
Sakya terpaksa melilit tubuh bagian bawahnya dengan baju bekas dia pakai untuk keluar.
Setelah memakai baju, Sakya membaringkan tubuhnya di atas kasur. Untuk menghilangkan jenuh, Sakya membuka ponsel. Berselancar di media sosial tanpa tujuan yang jelas.
Merasa matanya lelah, Sakya menyimpan ponsel lalu menarik selimut. Matanya kembali terbuka karena lampu kamar masih menyala.
"Kok tumben lampu kamar masih nyala. Ah, benar juga. Wanita itu tidak ada di sini."
Dengan kesal Sakya harus kembali turun dari tempat tidur untuk mematikan lampu utama kamarnya.
"Akhirnya bisa tidur dengan leluasa."
Pagi pertama tanpa Tata membuat Sakya melupakan beberapa hal. Dia bahkan lupa di mana letak kaos kakinya.
Tidak hanya itu, Sakya pun bangun kesiangan karena tidak ada yang membangunkan dirinya. Dengan terburu-buru, Sakya memakai baju dan turun menuju meja makan.
"Ada apa, Tuan?"
"Ada apa? Saya masih hidup dan ada di rumah ini. Kenapa meja masih kosong? Mana sarapan saya?"
"Aduh, maaf, Tuan. Semua orang di sini sedang di rumah sakit. Kami lupa menyiapkan sarapan untuk tuan karena biasanya ada Nyonya Tata."
"Lalu saya harus makan apa sekarang?" Sakya kesal.
"Saya buatkan, Tuan."
"Tidak perlu!"
Dengan penuh emosi, Sakya pun pergi meninggalkan rumah menuju kantor. Saat di tengah perjalanan, dia teringat sesuatu.
"Ya ampun! Ponsel dan tas kerjaku mana?"
Sakya mengacak-ngacak rambutnya karena kesal. Dia lupa membawa tas dan ponselnya.
"Pak, kembali ke rumah. Tas dan ponsel saya tertinggal."
"Baik, Tuan."
...***...
"Non, ada apa mondar-mandir terus dari tadi?"
__ADS_1
Tata tidak merespon. Dia seperti setrikaan yang mundur lalu kembali ke titik awal. Tangannya saling meremas karena cemas. Sementara mulutnya komat-kamit entah membaca mantra apa.
"Ambilkan ponsel saya."
"Baik, Non."
Tata segera mengambil ponselnya. mencari nomor seseorang lalu segera mencoba menghubunginya.
"Re, gimana Mas Sakya? Tadi siapa yang menyiapkan sarapan untuknya? Bajunya gimana? Hari ini dia pakai stelan warna navy. Sepatunya ambil yang paling bawah dua dari kanan. Jam tangannya yang hitam, Re. Kamu ikuti saja seusai hari urutannya."
"Non, denger. Hari ini di sini mencekam. Tuan marah karena kami lupa menyiapkan sarapan."
"Apa? Kok bisa?"
"Kami sengaja karena diminta Nyonya Iksia. Dia bilang kami jangan membantu keperluan tuan Sakya biar dia merasakan kehilangan Nona."
"Ya ampun, Mom. Kok idenya ada-ada saja, sih."
"Non, non.Tuan datang."
"Jangan dimatikan aku mau dengerin apa yang terjadi di sana."
"Baik, Non."
Rere menggenggam ponselnya. Dia mengikuti pelayan pribadi Sakya agar Tata bisa mendengar apa yang diucapkan suaminya.
"Ada apa, Tuan?" tanya pelayan pribadi Sakya.
"Tas saya tertinggal, ponsel juga. Mana ini dasi kenapa gak sesuai warna sih."
Sakya terus medumel hingga dia mendapatkan tas dan ponselnya, lalu pergi.
"Halo, Non."
"Ya ampun, Re. Kasian banget suamiku. Dia sampe lupa ini itu karena gak ada yang menyiapkan. Sedih aku."
"Non harus kuat. Ini semua demi hubungan Non dan Tuan. Biarkan dia merasakan hidup tanpa Nona. Hari pertama saja sudah kelimpungan."
"Re, tapi tolong. Jangan biarkan dia kelaparan sebelum pergi kerja. Sediakan makanan sehat untuknya. Nanti aku kirim jadwal menu sarapan dan makan malam dia, ya."
Untuk sesaat Rere hanya diam.
"Non ...."
"Hmmm."
"Saya berdoa agar tuan Sakya bisa membuka hati dan melihat ketulusan dari Non."
"Re ...."
"Non, semangat!"
"Makasih, Re."
...πΊπΊπΊ...
Jangan lupa mampir ππβΊοΈπ€
__ADS_1