Promise!

Promise!
Dalang dari semuanya


__ADS_3

Iksia dan Sakya mulai pasrah pada keadaan, mereka dengan terpaksa harus menerima jika perusahaannya benar-benar akan hancur. Sudah hampir menginjak satu bulan dari PHK masal, kemajuan perusahaan tidak memperlihatkan hasil yang memuaskan.


Biaya produksi yang terus dikeluarkan tidak sebanding dengan pemasukan yang didapatkan.


Jika dalam satu Minggu masih saja sama, maka Iksia akan mengumumkan jika perusahaan akan ditutup dan semua karyawan dibubarkan.


"Mom harus kuat, ya. Kita hanya sedang diberikan ujian. Kita harus mampu melewatinya."


Iksia menangis di ruangan yang dulu adalah milik papa Indra.


"Iksia minta maaf, Pah." Tangisan itu pecah. Rasa penyesalan itu memenuhi seluruh ruang hati dan pikiran Iksia saat ini. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaga perusahaan yang dibangun susah payah oleh Papa Indra.


Sakya mengambil ponselnya, sudah waktunya dia mentransfer uang untuk panti asuhan dan panti jompo. Dia pikir dia masih punya uang tabungan untuk hidup mereka.


"Tu-tunggu ... ke-kenapa hanya segini?"


"Ada apa, Sakya?"


"Ini ... uangku kenapa hilang? Perasaan aku belum memakainya, Mom. Uangku buat anak-anak panti sama jompo."


"Kok bisa? Kamu lupa mungkin kalau kamu pernah transfer atau beli sesuatu mungkin. Mana bisa uang kamu hilang, yang tau pin nya cuma kamu kan?"


"Pin?" Sakya teringat sesuatu.


"Astagfirullah.... "


"Kenapa, Sakya?"


"Aya tau nomor pin nya, Mom. Kemarin dia bilang mau beli sesuatu dan minjem ponsel aku buat transfer."


"Ya Allah, Sakyaaa!"


"Aku telpon dia dulu, Mom."


Sakya segera menghubungi Aya.


"Halo, Sayang. Kenapa?"


"Aya, kamu kemarin ambil berapa uangku?" tanya sakya buru-buru.


"Aku transfer buat beli mobil baru. Kenapa?"


"Ya Allah, Aya. Kenapa kamu gak bilang dulu sama aku. Itu uang untuk anak-anak yatim. Kamu bilang mau diganti kan? Aku kirim nomor rekeningnya sekarang, ya."


"Ih, kok gitu sih! Kan kamu bilang kemarin kalau uangnya gak usah diganti. Kenapa sekarang minta ganti?"


"Kamu tahu sekarang keadaan aku seperempat apa, dan itu uang untuk biaya anak-anak yatim-piatu, Aya."


"Anak yatim itu bukan siapa-siapa kamu, aku pacar kamu kenapa malah gak dipentingin, sih!"


"Tapi kebutuhan mereka lebih penting ketimbang mobil kamu itu!" Sakya mulai membentak.


"Mobil?" gumam Iksia.

__ADS_1


"Aku minta kamu balikin sekarang juga, atau jual saja lagi mobilnya."


"Gak mau, enak aja. Udah, ah. Aku mau jalan-jalan dulu. Bye!"


Tut


Tut


Tut


"Aya! Haloo, Aya. Aya!"


Sakya duduk di atas lantai. Dia menangis sejadinya karena kesal.


"Sudah, Nak. Kita masih ada beberapa mobil. Kita jual saja mobil kita."


"Aku minta maaf, Mom."


"Sudahlah, ini pelajaran untuk kita khususnya untuk kamu. Jangan pernah terlalu berlebih pada wanita yang belum menjadi istri kamu."


Sakya meremas kepalanya kesal.


Iksia dan Sakya pulang dari kantor dengan keadaan yang sangat lusuh. Terutama Sakya. Dia terlihat sangat kacau dan depresi. Sakya bahkan tidak makan atau pun minum hingga sore hari.


Begitu sampai rumah, mereka terkejut melihat banyaknya mobil hitam di depan rumahnya. Sakya dan Iksia hanya saling menatap. Di waktu yang bersamaan, Arzhan datang.


"Siapa mereka?"


"Entahlah, ayo kita masuk saja." Arzhan merangkul istrinya.


Sesampainya di dalam rumah, mereka lebih terkejut lagi melihat pemandangan yang ada.


Di sana ada Sari yang sedang duduk bersebelahan dengan Tata. Di kursi yang bersebrangan ada Chana yang sedang duduk sambil menundukkan kepala.


Yang lebih mengejutkan lagi adalah Aya. Tangannya diikat sambil berlutut di lantai, berada di antara kursi Sari dan Chana.


"Selama sore, Iksia ... Arzhan ... Sakya ...."


"Sore ...." Iksia menjawab canggung.


"Chana, ada apa ini? Aya, kamu?" Sakya menghampiri Chana.


"Duduklah." Sari memerintahkan pada mereka. Setelah mereka duduk dengan tenang, Sari mulai berbicara.


"Sakya, saya sangat kasian sama kamu. Kamu anak yang baik, jujur, dan tanggung jawab tapi mendapatkan wanita yang salah. Dia bukan manusia tapi seekor rubah."


"Rubah?" tanya Sakya tidak mengerti.


Sari tersenyum. "Semua kejadian yang kalian lewati adalah ulahnya. Video itu, kebakaran gudang William, uang kamu, dan semuanya karena ulah dia. Bahkan gaun Chana yang melorot pun dia lakukan dengan sengaja."


Ikisa menutup mulutnya tidak percaya. Arzhan dan Sakya hanya bisa melebarkan matanya terkejut.


"Tapi kenapa ... maksudnya, kenapa haru kami? Kenapa dia melakukan itu pada kami dan bahkan pada William?" tanya Arzhan.

__ADS_1


Sari menoleh sambil tersenyum elegan pada Arzhan.


"Apa kamu tidak tahu siapa gadis kecil ini, Arzhan?"


Arzhan diam.


"Dia adalah anak mantan istri kamu."


Iksia semakin terkejut dibuatnya. Pun dengan Arzhan dan Sakya.


"Mungkin dia ingin merusak kebahagiaan kalian karena membenci kalian semua terutama Chana. Setelah ibunya masuk rumah sakit jiwa, gadis ini tumbuh bersama kakek dan neneknya. Entah apa yang mereka katakan hingga dalam hatinya tumbuh besar kebencian dan dendam untuk kalian. Bahkan William pun terbawa karena dekat dengan Chana."


Aya hanya diam menundukkan kepala.


"Saya tidak akan melakukan apa-apa pada gadis kecil ini, saya hanya membantu menangkapnya. Silakan kalian urus sendiri."


"Lepaskan saja dia."


Sakya dan Chana menoleh cepat pada ayah mereka.


"Aya, pergilah. Jangan pernah muncul di hadapan keluarga saya lagi. Jika itu terjadi, saya tidak akan memaafkan kamu."


Bukannya berterima kasih, Aya malah meludah di hadapan Arzhan.


"Laki-laki tidak bertanggung jawab! Demi kekasihmu dan anak-anak haram ini, kamu meninggalkan aku dan ibuku! Kami bahkan harus hidup menderita karena ulah kamu."


Iksia memicingkan matanya.


"Aya, apa yang nenek dan kakek kamu katakan? Apa mereka tidak mengatakan bahwa kamu bukan anak suami saya? Hah, apa tadi kamu bilang? Anak-anak saya anak haram? Apa kamu juga tidak tahu kalau ayah kamu ... ayah kamu ...." Iksia tidak melanjutkan ucapannya. Dia meremas tangannya sendiri dengan keras.


"Aya, kamu pun lahir di luar pernikahan. Arzhan menerima ibu kamu meski dia hamil oleh laki-laki lain. Jadi, jangan berpikir jika Arzhan adalah ayah kamu." Sari menjelaskan.


"Tidak mungkin! Kalian pasti berbohong demi kebahagiaan kalian sendiri, iya kan?"


"Tanyakan saja pada kakek dan nenek kamu, atau mau test DNA saja biar kamu puas?" tanya Arzhan.


"Sekarang pergilah sebelum kesabaran saya habis."


Sari memberikan isyarat mata pada anak buahnya agar membawa Aya keluar dari rumah.


Gadis itu meronta dan menjerit histeris sambil mencaci maki keluarga Arzhan.


Sakya ambruk ke lantai, dia tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Hatinya benar-benar sakit.


"Sakya, bangunlah. Laki-laki harus tetap kuat menghadapi masalah apapun. Masih banyak wanita lain selain dia."


"Saya hanya merasa marah pada diri saya sendiri. Jika saja saya tidak membawa dia ke dalam hidup saya, mungkin keluarga ini masih baik-baik saja."


"Saya akan membantu kamu, tenang saja."


Sakya menatap Sari.


"Dengan satu syarat."

__ADS_1


__ADS_2