
"Sudah sampai rumah?"
"Hmm."
"Langsung tidur, ya."
"Hmm."
"Sampai ketemu lagi nanti."
"Hmm."
Telpon itu dibiarkan menyala meski mereka tidak saling bicara. Baik Chana maupun William sama-sama bingung mau berkata apa.
"Kalau begitu, aku tutup telponnya."
"Tunggu sebentar," ucap Chana buru-buru karena takut William mematik telponnya.
"Ya, kenapa?"
"Eumm, tidak. Bukan apa-apa."
"Ya sudah. Bye."
"Good night. Sweet dream, William."
William tersenyum malu-malu saat mendengar ucapan selama malam dari Chana. Pun dengan gadis itu, dia yang berucap dia juga yang dibuat ketar-ketir. Tertawa berguling-guling di atas kasur.
Suasana rumah Chana menjadi hangat setelah ada Tata di sana. Setiap pagi dia sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya.
Mereka hanya sarapan bertiga karena sudah dua hari Iksia dan Arzhan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis dan pameran karya seni.
"Kak, ada banyak pelayan di rumah ini. Chef juga ada, ke apa repot-repot segala?"
"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik. Lagi pula aku ini pengangguran, kalau tidak bekerja di rumah, mau ngapain lagi?"
"Pengangguran? Bukannya ...."
"Aku mundur dari dunia modeling. Aku hanya ingin fokus mengurus keluarga kita. Sepertinya Mom sudah terlihat lelah bekerja di kantor, pulang masih harus mengurus ini itu di rumah. Aku ingin dia lebih banyak istirahat agar bisa menghabiskan masa tuanya dengan bahagia dan sehat."
"Uuuuhh, Kakak. Baik banget, sih. Kopein sehektar."
"Makasih, Chana. Kamu juga baik banget udah menerima aku di rumah ini."
__ADS_1
"Aku gak masalah kalau kamu masih mau ikutan modeling. Asalkan bisa menjaga batasan sebagai wanita. Contoh saja Mom yang begitu baik menjaga dirinya sebagai istri dan seorang ibu."
"Mas, kamu mau aku berhijab juga?" tanya Tata pada suaminya.
"Memangnya kamu mau melakukan itu jika aku meminta?"
"Tentu saja. Aku akan melakukan apa saja selama kamu yang menyuruh."
"Hadeuuuh, bucin akuut. Berangkat, ah! Males banget jadi obatnya nyamuk."
"Eh, bawa ini." Tata segera berlari ke meja makanan untuk mengambil cup berisi buah-buahan.
"Aku bukan anak TK, Kakak. Ngapain bawa bekal?"
"Kamu belum makan buah pagi ini, makan ini di jalan nanti."
"Duuuh, yaaa, ada-ada aja. Makasih loh, Kak."
"Sama-sama."
"Aku berangkat dulu, ya. Dadah."
"Tunggu sebentar."
"Apa lagi?"
"Hati-hati di jalan, ya, jangan pulang terlalu malam."
"Hehe. Iya, kak. Duh, berasa punya ibu dua kalau gini." Gimana Chana sambil melangkah keluar rumah.
"Non, tunggu sebentar, ya. Saya lap dulu mobilnya."
"Saya tunggu di depan, ya, Paman."
Chana berjalan keluar gerbang. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Kosong. Sepanjang mata memandang hanya ada jalanan aspal hitam dan rumah-rumah besar yang berderet di pinggirnya. Di depan Chana ada bundaran yang di tengahnya terdapat air mancur buatan. Bunga-bunga tumbuh subur di sampingnya.
Bayangan itu muncul di kepala Chana. Bayangan saat William datang menjemputnya. Dari balik kaca, dia melihat William tersenyum manis sambil menunjukkan sarapan yang dia bawa dari rumah untuknya.
Tidak dia sadari, senyuman terukir begitu saja di wajahnya.
"Non, ayo."
Ajakan Raga pun tidak indahkan. Chana masih sibuk dengan bayangan William.
__ADS_1
Terpaksa Raga membunyikan klakson dengan keras agar Chana mendengar ucapannya.
"Iiih, kaget tau, Paman!"
"Habisnya, kenapa coba bengong di situ sambil senyum-senyum. Liat apaan di air mancur itu? Pangeran?"
Chana tersenyum sambil mengangguk cepat.
Raga menggelengkan kepala.
Pagi itu nampak berbeda di lain tempat. Tepatnya di sebuah kamar hotel kelas presiden suite. Seorang wanita tengah menangis sambil menutupi tubuhnya dengan yang telanjang bulat dengan selimut tebal berwarna putih khas hotel.
Sementara seorang pria sedang memakai baju setelan merasa segar dengan guyuran air hangat di kamar mandi.
"Sudahlah jangan menangis. Semalam kita menikmatinya bersama bukan? Tidak perlu lagi menyesalinya."
"Tapi aku masih virgin, kenapa kamu tega melakukan ini?"
"Oh, iya. Untuk hal itu aku sangat berterima kasih. Baru pertama kali aku merasakan kegadisan seseorang. Biasanya wanita yang datang padaku sudah pernah digarap pria lain sebelumnya. Benar-benar beruntung bukan? Makasih, ya." Dia berucap tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Brengsek! Harusnya jika kamu tahu aku masih perawan, hentikan saja. Kenapa malah melanjutkannya? Bagaimana jika aku menikah nanti? Suamiku pasti tidak akan menerima keadaanku ini!"
"Bukan urusanku."
"Tidak! Kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus menjadikan aku sebagai istri karena telah merenggut mahkotaku, sialan!"
"Hey!" pria itu memegang wajah wanitanya dengan kasar.
"Dengar, semalam kamu mabuk dan datang padaku. Aku berusaha menjauhkan kamu tapi kamu memakasa, kamu bahkan begitu liarnya menjilat wajahku. Menghisap bibirku penuh gairah. Aku? Mana mungkin aku menolak jika sudah dipancing begitu dalam. Ingat! Bukan aku yang meminta, tapi kamu yang memaksa. Kenapa aku harus bertanggung jawab?"
Cuiiiiih!
Kesal diludahi wanita itu, dengan keras laki-laki yang telah menikmati mahkota gadis itu menamparnya sampai pipi gadis itu memerah.
"Sekarang, pakai saja bajumu agar aku tidak kembali naik ke atas ranjang itu."
Tangisannya semakin menjadi.
"Aku pergi. Kamu segeralah pergi sebelum pukul sebelas nanti, atau kamu bayar sendiri untuk biaya kamar ini selanjutnya."
Pria itu telah berpakaian rapi.
"Aku akan menjemput kekasihku. Ehmmm, andai saja kamu adalah Chana, aku sudah dengan senang hati akan menikahi kamu. Chana ... senikmat apa tubuhmu itu, Sayang."
__ADS_1
"Kurang ajaaaar! Aaarghhh! dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Ze hanya tertawa seperti iblis melihat Aya menjerit histeris dalam keadaan kacau balau di atas ranjang.