Promise!

Promise!
Basa-basi lamaran


__ADS_3

"Bos, ada meeting pagi ini. Bagaimana?"


"Siapkan saja zoom. Saya tidak akan meninggalkan Chana untuk alasan apa pun."


"Baik, bos."


Elizer memanggil asisten pribadi William untuk urusan pekerjaan. Dia pun datang membawa laptop dan persiapan lainnya.


"El, bawakan saya pakaian ganti."


"Segera, Bos."


Dengan menggenggam tangan Chana, William melakukan meeting melalui zoom. Di saat yang bersamaan, Ikisa datang.


Melihat apa yang sedang dilakukan William, Iksia memelankan langka kakinya agar tidak menimbulkan suara sedikit pun.


"William ...." Chana bangun.


"Untuk sementara meeting saya tunda dulu. Kita akan lanjutkan sore hari nanti. Terimakasih." William segera menutup laptopnya dan langsung mendekati Chana.


"Aku di sini."


"Haus."


Iksia segera mengambilkan gelas.


"Bantu dia duduk, William."


"Baik, Bu."


Dengan sangat hati-hati, William membantu Chana untuk bangun dan duduk, alih-alih mengangkat tempat tidur di bagian kepala untuk bersandar, William menggunakan tubuhnya.


Chana menyandarkan tubuhnya pada William.


"Mau tidur lagi?" tanya William.


"Gini aja dulu, pegel tidur terus."


William menatap Iksia meminta persetujuan. Iksia mengangguk.


Akhirnya Chana pun tertidur bersandar pada tubuh William. Laki-laki itu terlihat kaku dan kebingungan harus melakukan apa. Dia ingin memeluk Chana agar tubuhnya tidak terjatuh ke samping, tapi malu oleh Iksia.


"Saya merasa tenang karena Chana kamu yang jaga. Saya titipkan Chana sama kamu."


William mengangguk samar karena dagunya terhalang kepala Chana.


"Saya pulang dulu. Mungkin besok ke sini lagi dengan Arzhan dan Tata."

__ADS_1


"Ya."


Iksia mengusap kaki Chana sebelum dia pergi.


Baru saja Iksia melangkah keluar, tubuh Chana oleng dan hampir terjatuh. William segera menahannya dengan tangan. Kini, dia memeluk tubuh Chana agar tidak terjatuh lagi.


Rasa sakit yang Chana rasakan membuat dia serba salah. Sebentar dia bangun, pindah posisi, tidur, lalu kembali bangun dan mengubah posisinya mencari yang ternyaman.


Chana yang memang sangat manja, bahkan tidur pun harus di tepuk-tepuk, terkadang menangis entah itu lagi, siang, bahkan malam hari saat merasa kesakitan.


Saat itulah William dengan sigap menenangkan bahkan menuruti apa yang Chana mau.


"sssttt, aku di sini, Sayang. Apa yang sakit?"


"Kaki aku pegel," rengek Chana. Maka William akan segera mengusapnya dengan lembut.


Chana kembali tertidur, namun tidak lama dia akan terbangun lagi dan menangis merasakan sakit.


William memeluknya dengan lembut sambil menenangkan Chana.


"Mba Galuh mana? aku mau di tepuk-tepuk."


William bingung karena itu tengah malam, tidak mungkin dia meminta Galuh ke rumah sakit.


Maka dengan terpaksa, William menepuk-nepuk pantat Chana seperti sedang menidurkan anak kecil.


Elizer sadar, bos nya tidak baik-baik saja. Mata William memerah. Rambutnya acak-acakan tanda dia sudah melupakan kerapihannya yang berarti fokus William sudah menurun. Bagaimana tidak, dia kurang istirahat dan makan tidak tepat waktu. Juga makanan yang dia makan pun tidak sehat.


Di hari ke tujuh, Chana mulai membaik. Kesadarannya kembali seutuhnya. Makan pun sudah masuk banyak, serta tidurnya pun sudah mulai nyenyak.


Saat Chana keluar dari kamar mandi, dia melihat William tertidur begitu saja di sofa. Chana merasa kasian, dia mengambil bantal untuk dia berikan pada William.


Dengan sangat hati-hati, Chana mengangkat kepala William agar dia menyelipkan bantal. Namun, air dari rambutnya yang basah menetes mengenai mata William. Pria itu membuka matanya, namun hanya terdiam saat tahu apa yang sedang dilakukan Chana padanya.


Setelah Chana selesai, William segera menutup kembali matanya dan pura-pura tertidur.


Chana duduk di sofa yang sama dengan tubuh William yang tertidur. Dia menatap lama wajah William yang terlihat lelah itu.


Tangan dingin Chana mengusap lembut pipi dan kening William.


Lalu, Chana mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah William.


"Saat tidur pun pria ini terlihat begitu tampan."


William menahan keinginannya untuk membuka mata.


"Terimakasih untuk segalanya," gumam Chana lalu mencium kening William cukup lama.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Ya."


Elizer masuk.


"Ada Nyonya Sari, Non."


William membuka matanya namun segera dia menutupnya kembali. Dia ingin mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


"Chana, Sayang."


"Bu." Chana berdiri. Bu Sari yang baru datang langsung memeluk Chana dengan wajah penuh kecemasan. Dia memindai tubuh Chana dari atas hingga bawah.


"Pasti sakit sekali."


"Udah enggak, Bu."


Sari kembali memeluk Chana, saat itu dia melihat William sedang tertidur.


"Ya ampun, nungguin orang sakit malah tidur. William, bangun."


"Bu, Bu, Bu. Jangan. Biarkan dia istirahat. Kasian dia lelah menjaga saya. Biarkan dia istirahat sejenak, ya. Tolong."


Sari menatap Chana penuh haru dan bangga.


Chana dan Dari pun duduk bersama di sofa. Di saat yang bersamaan Iksia dan Arzhan pun datang.


"Eh, Bu. Saya kira tidak ada Ibu di sini."


"Apa kabar?" tanya Sari sambil memeluk Iksia.


"Alhamdulillah, baik. Ibu sendiri gimana?"


"Saya juga sehat. Ini loh, saya minta maaf karena baru bisa jenguk. Banyak sekali urusan yang tidak bisa saya tinggal. Tapi meski begitu saya selalu update kabar Chana dari Elizer."


"Kami sungguh mengucapkan terima kasih atas perhatian Bu Sari pada Chana," ucap Arzhan.


"Sudah sewajarnya, Pak. Chana sudah saya anggap seperti putri saya sendiri. Sukur-sukur mau menjadi putri saya yang sebenarnya."


"Ah, ibu bisa aja."


"Serius loh, jika diperkenankan, saya ingin menjadikan Chana sebagai menantu saya."


"Ibu, kenapa melamar anak orang di tempat yang aneh seperti ini?" William menghembuskan nafas berat.


Semua orang menoleh padanya, termasuk Chana.

__ADS_1


"Aku akan melamar wanitaku dengan cara yang spesial," ujarnya sambil menatap penuh arti pada Chana.


__ADS_2