
"Kamu baik-baik saja, Dek? Maksudnya gak risih atau gimana gitu?"
"Kenapa? Biarin aja, sih, Kak. Mereka itu gak ganggu aku. Justru baik dong karena aku ada yang jagain. Harusnya kakak juga senang karena aku pasti aman ke manapun aku pergi. Lumayan lah, gratis juga."
"Kamu itu mampu menyewa beberapa pengawal lagi. Kenapa suka yang gratisan?"
"Kakak, biarkan saja. Rileks, Broo!"
"Chana, aku tidak setuju jika kamu menjalin hubungan dengan pria itu."
"Maksudnya William? Kenapa? Apa karena dia tua?"
"Itu salah satunya, tapi aku merasa tidak nyaman aja. Rasanya gimana, sih, ya. Bingung jelasinnya gimana."
"Aku juga gak akan berhubungan dengan pria beristri kok. Kakak tenang aja."
"William itu belum menikah, Chana. Banyak rumor mengatakan kalau dia itu kasar makanya gak ada yang betah sama dia."
"Masa? Kenapa dia baik banget sama aku?"
"Itu karena dia sedang mendekati kamu, Chana. Entah apa yang akan dia lakukan jika kamu sudah jadi miliknya."
Chana tertawa keras mendengar ucapan Sakya.
"Kenapa Lo? Gue ngelawak kali." Sakya kesal.
"Habisnya, kakak udah kayak orang parno gitu, berlebihan. Jangan suka mendengar rumor, lebih baik tanya langsung pada orangnya."
Drrrtttt!
Ponsel Chana berbunyi.
"Ah, ini Ze. Dia nelpon. Aku harus apa sekarang?"
"Angkat lah!"
"Eh, iya."
Chana mengatur nafasnya sebelum menerima panggilan dari Ze.
"Halo, Ze."
"Hai. Lagi apa? Ganggu gak?"
"Emm baru pulang kuliah. Kenapa?"
"Sama siapa?"
"Kakak. Kenapa gitu?"
"Enggak, sih. Aku mau minta tolong sesuatu. Boleh gak?"
"Apa dulu, nanti aku baru bisa jawab bisa atau enggak."
"Nanti besok malam Sabtu aku ada promo di mall, kamu mau datang gak? Kita nonton bareng film aku."
"Wah, mau lah."
"Bener, ya."
"Iya. Nanti aku ke sana."
"Jangan, aku aja yang jemput. Kasih tau aja alamatnya."
"Oke, nanti aku kirim lewat chat, ya."
__ADS_1
"Oke. Thanks ya, Chana."
"Wellcome."
Chana menutup ponselnya.
"Ada apa?"
"Kakak ...." Chana meremas gemas tangan Sakya hingga dia meringis kesakitan.
"Apaan, sih, Lo! Sakit banget tau!"
"Aku diajak nonton film dia nanti dia mall, perdana loh."
"Wuidihhhh ...."
Chana tersenyum senang karena dia akan menonton film bersama pemain utamanya langsung. Idola yang selama dia kagumi akhirnya bisa sedekat ini. Sungguh impian yang menjadi kenyataan.
"Bos, Chana dijemput seseorang." Pria yang selalu mengawasi Chana melapor pada William yang sedang bekerja.
"Siapa?"
"Ze, Bos."
"Biarkan saja. Awasi saja dan pastikan Chana dalam keadaaan aman."
"Siap, Bos."
"Kirim fotonya segera."
"Siap!"
William menutup ponselnya. Tidak lama setelah itu sebuah chat masuk dari pria tadi. Dia mengirimkan foto Chana.
"Dasar anak ayam!" geram William saat melihat Chana memakai gaun yang dia berikan, lengkap dengan perhiasannya.
William yang kesal membanting semua benda yang ada di sekitarnya. Kantor yang semula tertata rapi, kini menjadi berantakan tidak beraturan.
"Ayo pergi!" Bentak William pada anak buahnya.
Di dalam sebuah mobil, Chana terlihat duduk manis dan anggun, tidak seperti Chana yang ceriwis seperti biasanya.
"Kamu cantik banget hari ini."
"Kemarin enggak?"
"Bukan, kemarin juga cantik. Sekarang... lebih cantik. I like it."
Chana tersipu malu.
Sesampainya di mall yang dimaksud, Ze meminta Chana agar menggandeng tangannya. Mereka berjalan dengan elegan. Semua mata dan reporter menyorot kedatangan keduanya.
Chana yang baru pertama kali disorot kamera begitu banyak merasa risih dan canggung. Cahaya dari kamera wartawan itu membuat Chana memejamkan mata karena silau.
Melihat kondisi Chana saat itu, Ze menutup mata Chana dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya merangkul pundak Chana.
Kedatangan Chana bersama Ze menjadi sorotan berbeda. Pada fans yang datang riuh membicarakan dan bertanya tentang siapa sebenarnya Chana.
Begitu film selesai, semua pemain mengadakan konferensi pers. Mereka berbincang dengan para fans dan wartawan mengenai film yang diperankan oleh Ze.
"Ze, tanya dong. Wanita yang bersamamu tadi, siapa dia?" tanya seorang wartawan.
"Oh, dia tamu spesial saya."
"Tamu spesial atau teman spesial?"
__ADS_1
"Emmm, tergantung. Dianya mau yang mana, tamu spesial boleh, teman spesial juga no problem."
"Pacar kali, Ze."
"Untuk saat ini, sih, belum. Doakan saja yang terbaik. Siapa tau nanti kalian mendapatkan undangan."
Chana yang mendengar ucapan Ze dari ruangan sebelah pun tersipu. Dia tidak mengira jika keberadaannya akan begitu menarik perhatian.
Di satu sisi dia merasa senang dan bangga karena dia menjadi wanita yang dekat dengan Ze. Artis yang selama ini dia idolakan. Di sisi lain dia juga merasa khawatir karena Ze adalah seorang artis terkenal, dia takut dibully oleh fans Ze yang fanatik.
Biasanya fans fanatik seorang artis akan berkomentar bahkan terkesan mengatur kehidupan idolanya. Termasuk urusan asmara. Mereka bersikap seolah untuk mendapatkan kekasih harus atas restu mereka, jika tidak setuju maka sang idola harus meninggalkan wanita itu.
Ponsel Chana berdering, sebuah nomor tidak dikenal melakukan panggilan.
"Halo."
"Di mana kamu?"
"Ini siapa? Aku sedang nonton, kenapa?"
"Degan baju yang aku kirim? Lengkap dengan perhiasannya."
"Oh, ini. Eh, ini Om? Ya ampun, Om. Makasih loh bajunya, cantik banget. Perhiasannya juga bagus. Aku jadi terlihat cantik banget hari ini. Bahkan Ze juga memujiku. Om pinter banget milih pakaian. The best emang."
William memejamkan mata. Dia memijat pangkal hidungnya yang terasa sakit.
"Om, udah dulu. Konferensi pers Ze udah selesai kayaknya. Aku izin save nomor Om ya. Nanti aku telpon balik. Bye, Om."
"Eh, halo. Chana!"
William menatap layar ponselnya.
"Sialan!"
Ponsel itu pun mendarat entah di mana saat William melemparnya ke kursi belakang.
"Lagi nelpon?"
"Iya, itu tadi Om William."
"William? Kenapa dia nelpon kamu?" tanya Ze sambil duduk di dekat Chana.
"Gak tau kenapa, tapi aku habis ngucapin terima kasih sama dia. Kamu tau, gak. Baju dan perhiasan yang aku pakai sekarang adalah pemberian dari Om William. Pinter banget ya dia milih gaun."
Ze menatap Chana tanpa kedip.
"Ada apa? Kenapa malah bengong?"
"Chana, apa William sering memberikan hadiah sama kamu?"
"Emm, baru kali ini, sih. Entahlah kalau makanan yang sering datang ke rumah kiriman dari dia juga atau bukan."
"Makanan?"
Chana mengangguk.
"Hampir setiap hari ada aja makanan yang datang tanpa orang rumah pesan. Ya cokelat, cemilan, buah dan banyak lah pokonya."
Ze mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
"Udah selesai?"
"Hmm. Mau makan?"
"Boleh. Kalau soal makanan, aku tidak akan menolak."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi."