Promise!

Promise!
Will you marry me? Yes!


__ADS_3

Hari ini Chana pulang dari rumah sakit. Hanya ada William yang menemaninya karena yang lain memang dilarang datang oleh Bu Sari. Dia ingin William seorang diri yang menjaga Chana.


Anehnya, semua orang mematuhinya. Mungkin bukan karena perintah Bu Sari, tapi mereka sengaja agar William dan Chana memiliki banyak waktu berdua. Mereka ingin Chana menyadari betapa besar pengorbanan dan tulusnya William padanya.


Chana memakai selimut kecil sambil didorong memakai kursi roda menuju mobil. Saat menaiki mobil pun William tidak mengizinkan Chana turun, dia menggendong Chana memasuki mobil.


Selama di perjalanan, Chana menyandarkan kepalanya pada William. Tangan mereka saling menggenggam erat.


Chana tidak sengaja mengambil ponselnya yang ternyata mati. Di layar hitam itu dengan sangat jelas dia melihat pantulan wajahnya.


Ada bekas luka jahitan di kening dan dagu Chana, cukup menggangu penglihatan menurutnya. Di pipi dan tepat di bawah matanya ada bekas luka kecil. Di sebelah kanan wajahnya terlihat bekas luka lecet-lecet.


Chana membuka selimutnya dan melihat tangannya yang masih diperban. Dia membuka perban itu sedikit dan melihat betapa seriusnya luka yang ada di tangannya.


Belum lagi luka lecet di tempat lain, juga luka bekas kena serpih kaca.


Mata Chana mulai berkaca-kaca, membuat William terkejut melihatnya.


"Sayang, kenapa?" tanya William sambil menatap Chana. Gadis itu menggeleng kepala dengan air mata yang semakin deras.


"Menepi!" William memerintahkan sopirnya untuk berhenti di pinggir jalan.


"Keluar lah."


Sopir dan Elizer pun keluar dari mobil. Mereka membalikkan badan saat berdiri di samping mobil, membelakanginya.


"Sayang, katakan ada apa?" tanya William cemas melihat Chana tak kunjung berhenti menangis. Chana pun tidak lagi menunduk kepala, dia memberanikan diri untuk menatap mata William.


"Ada apa, huh?"


"Aku tidak ingin menjadi istrimu, Aku gak mau."


"Iya, gak masalah jika itu membuat kamu tidak bahagia. Aku tidak akan memaksa, tapi katakan apa alasannya? Jika aku bisa memperbaikinya, akan aku perbaiki."


"Aku yang rusak. Aku yang harus diperbaiki."


"Apa yang kamu bicarakan, Sayang?"


"Kamu bisa melihat bagaimana wajahku sekarang bukan? Hancur, William. Aku kini hanya wanita si buruk rupa. Kamu lihat saja tubuhku. Semuanya dipenuhi bekas luka dan memar. Kita batalkan saja lamarannya, kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih dari aku." Chana menjelaskan sambil terbata-bata karena diselingi oleh isak tangis.


William mengerti bahwa kini Chana sedang terguncang melihat keadaan fisiknya. Dia merasa minder.


"Sayang." William menarik tubuh Chana ke dalam dekapannya.


"Dengar, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Bagaimana pun wajah kamu sekarang, aku tidak masalah. Aku tidak peduli sama sekali. Di mataku kamu tetap cantik. Wanita pertama yang membuat aku hampir gila setiap malam."

__ADS_1


"Aku malu."


"Sama siapa?" tanyanya sambil mengurai pelukan mereka.


"Hey," William menarik dagu Chana dengan telunjuknya agar wanita itu bisa menatap matanya.


"Aku mencintai kamu apa adanya."


Mereka saling menatap satu sama lain. Perlahan William mendekatkan wajahnya sambil menatap intens bibir merah milik Chana. Gadis itu menutup matanya.


Cup!


William mengecup kening Chana. Gadis itu membuka kembali matanya dan sedikit merasa heran pada William.


sial! apa yang baru saja aku lakukan! William memaki dirinya sendiri di dalam hati.


Sudah empat hari ini Chana berdiam diri di kamarnya, dia enggan menemui William meski dia datang beberapa kali ke rumahnya. William bahkan menunggu di depan pintu kamar Chana, namun tetap tidak dibuka.


Ini hari ke enam dia menolak untuk bertemu dengan William. Bukan karena kesal atau marah, tapi Chana sedang melakukan perawatan oada wajahnya. Dia ingin saat bertemu dengan William, wajahnya sudah sedikit membaik. Luka di wajahnya tidak separah waktu itu.


Saat mendapat telpon dari Chana bahwa dia ingin bertemu, William segera mendatangi rumah kekasihnya. Dia bahkan lupa menyapa orang tua Chana yang sedang makan, dan malah langsung naik ke atas.


"Ada apa lagi dengan mereka?"


"Chana sudah mau bertemu dengan William, Mom." Tata menjelaskan.


William sudah tidak sabar menunggu Chana membukakan pintu kamarnya. Dia menanti dengan harap-harap cemas.


Gagang pintu berbunyi, tanda ada yang membuka atau menutup pintu itu.



"Bagaimana? Cantik?"



"Sangat cantik. Tapi kenapa harus memakai topi? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. emmm, sebenarnya tidak masalah pakai apa saja, tapi ...."


"Setidaknya biarkan aku memakai ini sampai kita ke salon. Aku tidak ingin luka di keningku terlihat."


"Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi."


William dan chana berpamitan pada seluruh keluarga yang sedang makan malam.


__ADS_1


William membawa Chana pada penata rias paling terkemuka agar Chana merasa percaya diri dengan bekas lukanya yang tertutup.


Hampir empat jam William menunggu, hingga Chana pun selesai didandani.



William tidak berkedip sedikitpun saat melihat Chana begitu cantik dan anggun memakai gaun yang dia silakan sejak lama.


Chana berjalan mendekati William yang terpaku.


"Bagaimana?"


"Sempurna."


Setelah selesai, William mengajak Chana menaiki sebuah kapal miliknya. Kapal yang sudah dihias dengan bunga-bunga dan lampu di pinggirnya.



"Kamu suka?"


"Hmm. Ternyata pemandangan laut di malam hari indah juga."


"Indah karena kita di pinggir kota. Beda cerita kalau di tengah laut."


"Iyalah, aku juga gak mau kalau diajak ke tengah laut. Jangankan malam, siang pun aku bak mau. Takut."


Chana berdiri di bagian depan.


"Lihat ke atas sana." William memeluk Chana dari belakang sambil menunjuk langit. Di sana sudah banyak drone yang disiapkan. Mereka bercahaya seperti bintang-bintang.


Drone itu mulai bergerak perlahan, mereka membentuk siluet sebuah tangan dan cincin secara terpisah.


"Ini." William memberikan remot kecil pada Chana.


"Chana, Will you marry me!"


Chana menoleh pada William, dia lupa jika wajah William ada di sisi pipinya. gerakan Chana membuat bibir Chana begitu dekat dengan bibir William. Kini, bukan hanya William yang dibuat grogi, tapi Chana pun. Mereka sama-sama alah tingkah karena posisi saat ini.


William kembali berbicara dengan sekuat tenaga berusaha agar tetap cool.


"Jika kamu menerimaku, pijit tombol yang ada di remot itu, jika tidak maka pijit tombol yang ada di sisi lain remote itu."


Chana dan William masih diam di posisi yang sama. Tanpa berpikir panjang, Chana langsung menekan tombol pertama. Doren yang membentuk siluet cincin itu kemudian bergerak perlahan dan masuk ke dalam siluet jari manis.


Begitu cincin itu masuk, kembang api pun mulai menyala. Di waktu yang bersamaan, William untuk pertama kalinya mencium bibir Chana dengan lembut dan sangat hati-hati.

__ADS_1


Chana merasakan cinta dan kasih sayang dari ciuman sekilas yang dilakukan William barusan. Berbeda dengan ciuman pertama yang diberikan Ze. Dia melakukannya dengan liar dan brutal, bahkan bibir dan lidah Chana terluka karena ulah Ze saat itu.


Betapa bodohnya aku karena baru menyadari ketulusan William.


__ADS_2