
"Mas, ini." Tata memberikan ponselnya. Sebuah berita yang ada di layar itu membuat Sakya syok untuk sesaat.
"Kalau kamu mau ke sana, gak apa-apa. Setidaknya berikan penghormatan terakhir padanya."
"Tidak mungkin, kenapa ini bisa terjadi?"
"Dia hamil, Mas. Dia mengandung anak--"
"Cukup! Tolong jangan mengatakan apapun lagi."
Sakya pergi meninggalkan Tata begitu saja seorang diri di kamar mereka. Kembali tata mengambil ponsel miliknya lalu membaca ulang berita yang sedang ramai di berbagai media.
Ze dikabarkan sedang berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan karena namanya ada di surat yang ditinggalkan Aya sebelum dia mengakhiri hidupnya.
Dalam surat itu Aya mengatakan jika dia malu karena hamil anak Ze. Dia juga sedih karena Ze tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan yang dia alami saat itu. Ze meminta Aya untuk menggugurkan kandungan Aya. Namun, gadis malang itu memilih untuk pergi bersama dengan janin yang dia kandung.
"Aya, bisakah kamu pergi tanpa membawa cinta suamiku? Setidaknya berikan itu padaku," gumam Tata sambil terisak.
Berkali-kali Sakya memukul kemudi yang tidak tau apa-apa. Benda yang selalu jadi sasaran kemarahan sang sopir.
Sakya kesal dan kecewa karena Aya hamil anak Ze, itu artinya mereka telah melakukan hubungan badan padahal mereka belum menikah. Sementara dia masih menjaga kesuciannya karena selalu teringat pada Aya dan merasa berdosa pada gadis kecil itu.
Rasa sedih pun turut hadir karena kenyataan bahwa Aya telah pergi. Pergi bersama luka dan cinta Sakya untuknya. Kini Sakya tidak lagi bisa melihat Aya secara diam-diam dari jauh.
Rasa rindu dalam hatinya benar-benar tidak akan pernah bisa terobati.
Sakya menangis di dalam mobilnya yang berada di pinggir jalan. Kesedihan karena apa yang menimpa Chana belum hilang, kini ditambah lagi dengan berita tentang kepergian sosok wanita yang sampai saat ini masih di cintainya.
Sementara itu, Iksia hanya terdiam tanpa kata setelah mengetahui berita tentang Aya. Dia merasa kasian dan sedih dengan apa yang terjadi pada anak itu. Gadis kecil yang kini berakhir dengan tragis.
"Ibunya masuk rumah sakit jiwa setelah melahirkan dia. Kini, dia pergi bahkan mungkin ibunya tidak tahu jika putri yang dia kandung selama sembilan bulan sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Sayang, sudahlah. Mungkin ini memang sudah menjadi takdirnya. Jangan membebani pikiran kamu dengan masalah ini. Kita harus menyimpan energi lebih banyak untuk mendampingi Chana," ucap Arzhan menasehati istrinya.
"Iya, Mas. Kamu benar. O, ya. Bagaimana Sakya? Apa dia sudah tau berita ini?"
"Entahlah."
__ADS_1
"Coba aku telpon dulu." Iksia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sakya.
"Tidak diangkat, Mas."
"Coba lagi."
Satu kali, dua kali, dan ini yang ke lima kalinya Iksia mencoba menghubungi Sakya tapi tidak diangkat.
"Sepertinya dia sudah tau. Biarkan saja dulu dia tenang. Kalau ada apa-apa dia pasti nelpon atau cerita pada kita."
"Setiap musibah pasti ada hikmah, semoga saja dengan kejadian ini, Sakya bisa lebih menerima kenyataan dan mau membuka hati untuk Tata."
"Aamiin."
"Bos, sudah baca berita?" tanya Elizer pada William saat sedang menjaga Chana di rumah sakit.
"Ada apa?"
"Ini, Bos." Elizer memberikan i-pad William.
William membaca berita yang sudah sangat viral itu dengan seksama. Dia tersenyum sinis.
"Baik, Bos."
Elizer segera pergi menuju kantor media kenalan William untuk memberikan video yang sudah lama disimpan William. Tidak ada niat untuk menjatuhkan Ze mengingat hubungan William dan artis itu memang cukup baik, hanya saja sikap Ze yang selama ini ditutupi manajemennya tidak bisa dimaafkan lagi.
"Mom ...."
William segera bangun begitu mendengar suara Chana. Dia mendekat dengan ragu karena takut Chana akan kembali marah dan histeris jika melihat laki-laki.
Dia hanya berdiri menatap Chana. Memastikan gadisnya aman.
Chana sadar bahwa William ada di dekatnya. Dia ingin menoleh tapi dia ragu. Entah karena dia malu atau ... entahlah.
"Sayang ... kamu butuh apa? Aku akan meminta suster untuk membantu kamu."
"Berhentilah memanggilku dengan kata sayang. Itu tidak layak. Lihat aku saat ini seperti apa? Aku bahkan merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku mohon pergilah."
__ADS_1
"Sayang ...."
"Berhenti aku bilang!"
William yang hendak mendekat kembali mundur saat melihat Chana mulai kesal. Dia tidak ingin wanitanya kembali histeris. Tidak ingin membiarkan Chana sendiri, William segera menelpon Iksia agar dia segera ke rumah sakit.
Sambil menunggu Iksia dan Arzhan datang, William meminta perawat untuk menemani Chana di dalam, sementara dia kembali duduk di kursi di luar kamar.
Tidak berapa lama Iksia dan Arzhan datang.
"Bagaimana Chana? Apa dia sudah sadar?" tanya Iksia khawatir.
"Dia bahkan sudah mau bicara padaku. Hanya saja ...."
"Ada apa?" tanya Iksia semakin cemas. William tidak menjawab dan dia hanya menundukkan pandangannya karena merasa sedih.
Iksia segera masuk ke dalam sementara Arzhan menemani William di luar. Mereka pun duduk.
"Dia ingin aku menjauh." William membuka obrolan.
Arzhan menarik nafas dalam-dalam.
"Mungkin dia merasa malu dan minder."
"Ya."
"Jangankan Chana, aku sebagai ayahnya pun merasa malu pada kamu dan keluarga kamu. Itu sangat wajar. Dia tidak seperti dulu. Chana yang sekarang sudah berbeda kondisinya."
"Aku tidak tahu apa yang berbeda."
"William ...."
"Aku bisa mengerti Chana, tapi kenapa harus anda juga? Tidak bisakah kita menganggap Chana masih seperti dulu? Anggap saja semua ini tidak terjadi."
"Tidak semudah itu. Bagaimana pun juga ini adalah hal yang sangat berat untuk Chana dan kita semua. Bagaimana mungkin kita menganggap tidak pernah terjadi apa-apa?"
"Bukan menyepelekan, tapi ... entahlah. Aku bingung harus mengatakan apa. Kalian selalu merasa minder dan malu, lalu apa pernah memikirkan bagaimana perasaan yang aku rasakan? Tidak peduli bagaimana kondisinya saat ini, perasaanku tidak akan pernah berubah. Tolong mengerti karena rasanya sakit jika kalian memintaku untuk selalu pergi dan menjauh."
__ADS_1
Tanpa berkata apa-apa lagi, William bangkit dan pergi meninggalkan Arzhan.