
Hai semuanya... mana nih yang rindu pada Chana dan William?
Maaf, ya, udah lama banget aku gak up karena masih bingung kelanjutan part ini. Awalnya masih melanjutkan kisah Chana dan balas dendamnya, tapi adegannya kok, ya, menakutkan. akhirnya aku hapus dan aku ubah akur ceritanya.
Semoga kalian masih setiap sama kisah mereka.π₯²π₯²
Happy for reading guys ππ
...πΊπΊπΊ...
"Sebaiknya kamu kasih ini ke minuman suami kamu. Dijamin manjur pokoknya," Clarissa memberikan obat kuat pada Tata.
"Efeknya buruk gak? aku gak mau kalau sampai membahayakan kesehatan suami aku."
"Yang bahaya itu kamu. Kamu siap gak menerima keganasan suami kamu nanti di ranjang."
Teman-teman Tata tertawa.
"Beneran gak, nih?"
"Bener apanya? Manjurnya? Kamu pasti puas deh, ah."
"Bukan itu. Maksudnya beneran gak akan ngaruh buat kesehatan suami aku?"
"Asal jangan tiap hari aja. Mentang-mentang ketagihan, terus kamu kasih ini tiap hari ke dia ya pasti ngaruh lah."
"Enggak, aku cuma sekali ini aja. Aku cuma pengen mendapatkan keturunan dari dia."
"Emang kamu pikir sekali jos langsung jadi bayi? Ya enggak lah. Bisa aja, sih, cuma kemungkinannya kecil. Gini aja... kamu kasih ini sekali ini aja, tapi kalau kamu belum berhasil, kasih lagi di lain waktu. Tunggu jarak agak lama dulu biar gak ngasih efek terlalu besar buat suami kamu."
Tata menatap obat yang ada di tangannya. Dia terpaksa melakukan ini pada Sakya karena ingin mendapatkan keturunan. Tata ingin menjadi istri yang sesungguhnya buat Sakya. Namun, pria itu tidak kunjung menyentuhnya sampai detik ini.
Hari ini Tata pergi ke salon kecantikan. Dia ingin melakukan perawatan tubuh mulai dari kepala hingga ujung kuku kakinya. Dia juga melakukan treatment di **** ************* agar lebih segar dan tidak berbau.
Dia juga pergi ke toko underwear untuk memberikan lingerie yang seksi dan cantik untuk dia kenakan nanti malam.
Sore hari tiba. Tata kembali mandi dan berendam di bathtub dengan susu dan bunga. Dia berdandan cantik, lalu memakai lingerie baru yang sudah dia cuci sebelumnya.
Tata bekerjasama dengan Rere. Dia bertugas memberikan makanan dan minuman yang sudah dicampur obat sebelumnya.
"Non, tuan datang." Pesan dari Rere masuk. Hal itu membuat Tata panik dan cemas. Jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
"Kamu kasih makan dan minuman itu, Re."
"Udah, Non. Tuan sekarang lagi makan."
Jantung Rere semakin berdegup kencang menerima chat balasan dari Rere.
Tata kembali ke depan cermin. Dia kembali memeriksa riasan wajahnya. Mengambil parfum khusus yang diberikan sahabatnya di bagian leher, tengkuk, dada dan urat nadi pergelangan tangannya.
Setelah merasa jika riasannya sudah pas, Tata merapikan tempat tidur yang sudah rapi.
"Emmm, sebaiknya aku tidur atau menyambut dia? Tapi ... kalau aku menyambut dia dengan pakaian ini, apa dia gak akan merasa heran? Eh, dia udah terpengaruh obat kan ya, jadi gak akan merasa heran melihatku memakai lingerie ini. Duuuh, atau sebaiknya gimana ya?"
Tok tok tok
Jantung tata hampir copot saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
"Tata, aku masuk."
"Iya, Mas. Masuk aja."
Pintu pun terbuka, Sakya muncul dari sana sementara Tata masih grogi harus melakukan apa. Pada akhirnya dia hanya berdiri gugup saat Sakya datang menghampirinya sambil menatap Tata tanpa jeda.
"A-ada, Mas?" tanyanya.
"Mas ...." Tata mendesah saat Sakya dengan tenangnya memberikan apa yang Tata inginkan.
Malam itu pun menjadi malam paling bahagia dalam hidup Tata. Dugaannya tentang pengaruh obat itu salah. Tata pikir Sakya akan seperti harimau kelaparan yang melihat anak rusa. Nyatanya Sakya begitu lembut dan halus memperlakukan Tata.
Saat Tata sudah siap menerima puncak kebahagiaannya, Sakya mengentikan permainannya. Dia menjauh dari tubuh Tata yang tanpa sehelai kain pun.
"Ada apa, Mas? Kenapa kamu berhenti?"
"Kenapa? Kamu begitu bersemangat dan menikmati permainanku? Maaf, Tata. Tapi minuman dan makanan yang kamu beri obat itu tidak aku makan."
"Apa?"
"Kamu ingin kita melakukan apa? Kamu mau anak dari aku? Kenapa tidak bilang terus terang? Minta saja jika kamu tidak kuat menahan birahi kamu. Aku akan berikan tanpa harus menipuku seperti sekarang!"
Untuk pertama kalinya Tata benar-benar merasa sakit hati atas apa yang dikatakan dan dilakukan Sakya padanya. Kali ini dia merasa direndahkan begitu dalam oleh suaminya sendiri.
Dengan air mata yang membasahi wajahnya, Tata menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia melilit tubuhnya lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
__ADS_1
Rasa sakit yang terlalu itu membuat dia tidak bisa berkata-kata selain menitikkan air mata.
"Kenapa diam? Kamu mau kita bagaimana? Ayo ...." Sakya menarik selimut yang melilit tubuh Tata.
"Ayo kita lakukan sampai tuntas!" Sakya menarik selimut hingga tubuh Tata terlihat. Masih dengan tangisan, Tata berusaha menutupi dada dan **** ************* dengan telapak tangan.
"Cukup ...." lirih Tata.
"Kenapa? Bukankah kamu sengaja memberi aku obat kuat agar kamu bisa memenuhi nafsumu itu!"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sakya begitu keras.
"Selama ini aku selalu sabar menahan rasa sakit yang kamu berikan. Tidak untuk kali ini. Kamu menghina dan merendahkan harga diriku. Sebagai suami, bukankah kamu harusnya melakukan hal sebaliknya? Nafsu kamu bilang? Jika aku begitu nafsu, aku bisa membeli laki-laki yang jauh lebih kuat dan gagah ketimbang kamu!"
Sakya terdiam.
"Salah aku apa? aku hanya ingin mendapatkan hakku sebagai seorang istri. Aku hanya ingin merasakan apa yang wanita lain rasakan. Aku ingin punya anak. Apa itu salah? Katakan!"
"Anak? Baiklah, aku akan berikan."
Sakya mendorong tubuh Tata ke atas ranjang. Dia memberikan apa yang menjadi hak Tata sebagai istri dengan paksa. Tidak peduli Tata menolak dalam tangisan yang menyayat hati.
Sakya duduk di tepi ranjang dengan nafas ngos-ngosan. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tata masih meringkuk di atas ranjang dengan ketakutan dan kesedihan yang dia rasakan saat ini. Perlakuan Sakya tidak hanya menyakiti tubuhnya dan harga dirinya, tapi juga hatinya.
Saat Sakya sedang tidur pulas, Tata pergi membersihkan diri, lalu berpakaian dan pergi meninggalkan rumah.
Beberapa pengawal dan pelayan hanya bisa bertanya tanpa berani melarang.
"Kalian tidak perlu cemas, aku akan pulang ke rumahku sendiri. Jika masih tidak yakin, antar saja aku ke sana."
Tata pun pulang ke rumahnya dengan diantar sopir dan dua pengawal keluarga Iksia. Sepanjang perjalanan air matanya tidak henti-hentinya menetes. Mengeluarkan segala ras sakit yang selama ini dia tahan.
Namun, malam ini sikap Sakya tidak bisa ditolerir lagi oleh Tata meski sebesar apapun rasa cinta yang dia miliki untuk suaminya.
"Aku tidak bisa menerim lagi. Sudah, cukup sampai di sini saja. Aku tidak ingin siapapun menginjak harga diriku. Tidak akan aku biarkan meski itu kamu, Sakya." Tata bergumam.
...πΊπΊπΊ...
__ADS_1
Maaf, ya. Aku gak ngeh ternyata part ini ditolak. Ada beberapa kata yang dianggap terlalu vulgar, sementara aku tidak mencantumkan bahwa ini ada adegan dewasanya. Udah lama up, ternyata gak di ACC π€§