
Tidak ada sentuhan fisik. Itu syarat utama William untuk bisa dekat kembali dengan Chana. Meski ingin, dia selalu menahan kuat agar tidak menyentuh kekasihnya.
Meski sekedar membelai kepalanya yang kini mulai ditumbuhi rambut.
Kehadiran Tata yang sedang hamil membuat Chana semakin melupakan traumanya. Dia senang membelai perut Tata meski belum begitu besar. Menemani Tata mengobrol saat Sakya dan William bekerja.
Kegiatan mereka kini berkebun di belakang rumah. Meneruskan hobi orang tua Iksia.
Berbagai jenis sayuran dengan sistem hidroponik pun tumbuh subur dan hijau. Mereka terlihat bahagia memetiknya untuk dijadikan lauk saat makan nanti.
"Aku sudah sebulan lebih di rumah ini."
"Ya, kenapa?"
"Aku gak denger kehebohan kamu saat keram perut karena haid. Aku benar-benar bangga karena kamu semakin dewasa. Kamu ingat? Terakhir kali kamu sampe teriak tengah malam dan membuat semua orang bangun. Hahaha. Aku pikir ada maling masuk ke kamar kamu ...."
Tata masih asik ngoceh sambil metik tomat. Sementara Chana terpaku karena memikirkan apa yang Tata ucapkan.
Chana menyadari satu hal. Dia memang sudah lama tidak haid. Entah sejak kapan, dia tidak ingat pasti hanya saja dia tahu kalau dia sudah lama tidak haid.
Mood Chana berubah sejak di kebun tadi. Memasak hingga makan malam. Dia yang mulai kembali ceria, kini murung. Semua orang heran dan takut tapi tidak ada yang berani bertanya dan hanya ikut terdiam.
Suasana makan malam kembali dingin dan terasa suram.
"Mom."
"Iya, Sayang. Ada apa?'' tanya Iksia antusias keran sejak tadi dia memang ingin berbicara dengan anaknya.
"Saat aku sakit, apa Mom mengurus datang bulanku juga?" tanya Chana sambil memegang sendok dan garpu di atas piring.
"Oh, itu?" Iksia hendak menjawab masih dengan perasaan antusias. Namun, dia kembali diam setelah mengingat satu hal.
"Kenapa diam? Aku tidak haid kan? Ya, sudah sejak lama aku tinggal di rumah dan aku sadar aku tidak haid."
Tangan Chana gemetar. Dia menundukkan kepala dan mulai menangis.
"Sayang ...."
"Jangan sentuh!'' Chana langsung bangkit dari kursi saat William spontan membelai punggungnya. Bermaksud ingin menenangkan.
"Jangan sentuh wanita hina sepertiku lagi. Itu menjijikan."
"Chana, hentikan! Aku tidak suka kamu mengatakan kalau kamu itu hina. Sayang ... bagi aku, kamu yang sekarang ataupun yang dulu gak ada bedanya. Kamu kasih sama wanita yang aku cintai."
"Tapi aku berbeda sekarang. Apa? Aku tidak haid? Itu artinya aku hamil bukan?" tanya Chana berteriak.
"Nak, sayang. Belum tentu."
Pranggggg!
Iksia yang bangun dari kursinya, hendak menghampiri Chana tidak sengaja menjatuhkan gelas hingga membuat keributan.
"Ha ha ha. Aku hamil anak penjahat."
__ADS_1
Chana tertawa. Tidak lama kemudian dia menangis histeris.
"Aku tidak mau dia hidup di perut aku," ucap Chana sambil memukul-mukul perutnya.
"Hentikan, sayang!"
William segera menghampiri Chana dan berusaha menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Pun dengan Arzhan.
Tenaga Chana memang wanita, tapi dia begitu kuat hingga Arzhan terhempas. Tapi tidak dengan William. Meski dia merasa sakit karena dicakar dan pukul Chana, dia tetap memeluk kekasihnya agar tidak memukul perutnya.
"Aku akan tanggung jawab, Sayang. Aku akan jadi ayah anak itu. Hentikan."
Chana semakin histeris menjerit. Kaa?lpdang dia tertawa sambil mengoceh tidak karuan.
Keluarga yang khawatir membawa Chana untuk berkonsultasi dengan ahlinya. Sungguh, hasilnya membuat keluarga terkejut karena Chana harus di rawat dalam pengawasan dokter dan psikologi. Tidak bisa dibawa pulang ke rumah.
Iksia nyaris pingsan, sementara William masih berusaha tegar. Saat pihak rumah sakit meminta keluarga pulang, William bersikukuh tidak ingin pergi.
Dia menunggu kekasihnya meski harus tidur dalam keadaan duduk di bangku.
Sepekan, dua pekan, hingga berubah menjadi bulan. Keadaan Chana semakin memprihatinkan. Tertawa tanpa sebab, kemudian menangis.
Terkadang dia marah tanpa tahu alasan. Mencoba mencelakai dirinya sendiri dengan memukul perutnya yang semakin membuncit. Dengan sangat terpaksa dia harus diikat.
Selama itulah William setia mendampingi meski kini dia tidak setiap malam tidur di depan kamar Chana dengan pintu jeruji.
Kabar bahagia datang di tengah duka lara keluarga. Tata melahirkan seorang bayi kembar laki-laki dan perempuan.
Meski gila, tapi penampilan Chana tidak seperti orang gila. Orang tuanya membayar lebih agar Chana dirawat dengan baik. Bahkan Sakya masih memperhatikan skincare adiknya.
"Sayang ... bayi Tata sudah lahir. Dia tampan dan cantik. Nak, Mom berharap kamu akan segera pulih dan kembali ke rumah. Mungkin keadaan di rumah akan sangat bahagia lagi jika kamu ada di sana. Mom, kangen sama kamu." Iksia membelai kepala anaknya dengan deraian air mata.
Jauh di sana, William menatap keduanya dengan mata sembab. Lalu dia pergi.
"Chana, kamu adalah wanita paling beruntung di dunia ini. Ada seseorang yang amat sangat mencintai kamu. Dia selalu setia dalam keadaan apapun. Mencintai tanpa melihat keadaan dan kondisi kamu seperti apa. Ketulusan yang dia berikan belum tentu bisa didapatkan wanita lain. Sayangnya, dia yang mungkin tidak beruntung, mencintai wanita yang tidak memiliki nasib baik. Mom berduka untuk dia dan terutama kamu."
"William...."
Iksia terdiam saat setelah sekian lama dia tidak mendengar Chana berbicara.
"Chana ... sayang. Kamu inget William itu siapa?" tanya Iksia penuh harapan.
Chana menatap Iksia seperti dia sudah kembali seperti dulu.
"Aku akan hidup bahagia bersamanya. William, aku akan bersamanya."
"Chana, apa kamu sudah inget siapa William? Sayang?"
Chana berbicara namun seolah tidak mendengar apa yang Iksia ucapkan dan terus mengatakan jika dia akan hidup bersama dengan William.
Iksia sadar, harapannya adalah sebuah harapan belaka. Chana hanya berbicara tanpa tau apa yang dia ucapkan.
Tapi benarkah?
__ADS_1
Chana terlihat tenang dari biasanya. Dia hanya diam menatap jauh ke depan. Iksia berusaha memeluknya dengan hati-hati, tidak ingin kejadian waktu itu terulang. Saat itu Chana marah dan mendorong Iksia hingga terjatuh karena tidak mau disentuh.
Tidak kali ini. Chana membiarkan Iksia memeluk tubuhnya.
Iksia tersenyum karena merasa bahagia.
"Chana, Mom sayang sama kamu."
"Aku juga."
Iksia hanya memejamkan mata. Meski hatinya penuh dengan harapan tapi dia sadar diri jika Chana hanya ngelantur.
"Mom ...."
Iksia terbelalak mendengar ucapan Chana. Dia segera melepaskan pelukannya untuk bisa menatap anaknya. Tatapan Chana masih sama. Hampa.
"Aku akan hidup bersama William."
Iksia mengangguk sambil tersenyum dibarengi air mata yang menetes.
"Mom ...."
Brukkkkk!
Chana terjatuh ke atas tanah. Iksia menjerit meminta bantuan. Dia mencoba membangunkan anaknya yang tidak sadarkan diri.
...***...
"Kenapa berhenti dokter? Lanjutkan! Kenapa diam saja?''
Bu Sari berteriak pada dokter yang memutuskan menghentikan tindakannya memacu jantung milik William.
Dokter tidak bisa berkata apapun dan tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Tubuh William kehilangan banyak darah. Luka di bagian kepalanya pun membuat dia akhirnya tidak bisa bernafas.
Bu Sari menangis histeris sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.
...***...
Gerimis perlahan turun. Angin bertiup pelan namun cukup memberikan rasa dingin yang menusuk tubuh.
Tidak ada suara selain Isak tangis mereka yang benar-benar merasa kehilangan. Kepergian anggota keluarga yang mereka cinta.
Penantian dan penderitaan tidak akan lagi dirasakan oleh keduanya. Mereka kini telah berada di alam yang berbeda. Entah sedang apa dan entah bagaimana keadaannya. Yang hidup hanya berharap agar mereka ada di surga.
Chana menepati ucapannya jika dia akan hidup bersama William. Hidup di tempat yang berbeda. Kesetiaan William kini terbayar dengan kehidupan abadi di alam sana.
Semoga mereka hidup bahagia.
Harapan seluruh keluarga tercinta untuk mereka yang menunggu dengan setia kekasih yang sedang menderita.
William dan Chana.
...The end ...
__ADS_1