Promise!

Promise!
Perkara gaun


__ADS_3

Acara pertama adalah sambutan yang dilakukan oleh William. Dia naik ke atas panggung sementara yang lain duduk di meja bundar yang telah di sediakan sesuai tempat duduk masing-masing.


Chana bersama keluarganya, dan William bersama ibunya dan Tata. Melihat Tata duduk bersama keluarga inti William, ada sedikit bara yang memanas dalam hati Chana.


"Pertama saya ucapkan banyak terima kasih pada tamu undangan yang sudah datang. Terimakasih atas waktu yang telah diberikan pada acara ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu. Ibu yang sudah melahirkan saya dengan penuh perjuangan. Mendidik saya agar menjadi pria kuat. Malam ini, saya sengaja membuat acara ini meski ibu menolaknya dengan keras. Saya hanya ingin memberikan kebahagiaan pada beliau yang selama hidupnya dihabiskan untuk menghidupi saya dan adik saya. Saya juga mau minta maaf karena ...."


Ucapan William terhenti saat tenggorokannya tercekat oleh tangisan yang dia tahan.


"Maaf karena belum bisa menjadi anak yang berbakti. Belum bisa menjadi anak yang ibu inginkan. Memang ... jasa seorang ibu tidak akan terbalas tapi ... ya, memang saya belum bisa memberikan apa-apa pada Ibu. Bu, Willi minta maaf karena selama ini banyak melakukan kesalahan dan sering tidak mendengarkan nasehat Ibu. William minta maaf."


Ibu William menangis sesenggukan pun dengan adiknya dan suami berserta anaknya. Di sana Tata terlihat sigap merangkul ibunya William, mengusap air matanya dengan tisu.


Chana tersenyum miris melihat pemandangan itu. Hatinya tiba-tiba merasa perih. Air matanya menetes tapi bukan karena sambutan William, melainkan karena rasa yang entah kenapa.


Ibunya William naik ke atas panggung ditemani Tata. Sesampainya di sana William bersimpuh sambil menangis di kaki ibunya.


Tangisan William pecah. Seolah semua beban yang selama ini dia pukul tumpah saat itu juga di waktu yang bersamaan.


Mereka saling memeluk menguatkan satu sama lain.


Selesai sudah sambutan William. Kondisi mulai tenang dan acara selanjutnya pun kembali berlangsung.


Kali ini adalah acara pemotongan tumpeng. Seorang ustad naik ke atas untuk mendoakan ibu William sebelum memotong tumpeng.


Potongan pertama dia berikan pada William, selanjutnya pada putrinya, menantunya, dan cucunya.


"Nah, potongan kali ini diberikan pada siapa ibu?" tanya MC menggoda.


"Barang kali calon menantu satunya ada di sini."


Orang-orang bertepuk tangan dan menunggu. Mereka pun penasaran pada apa yang akan dilakukan ibunya William.


"Ada."


Jawaban ibunya William membuat semua orang semakin kencang bertepuk tangan.


"Bu." William menarik tangan Tata. Ibunya terkejut, namun dia segera berusaha tenang saat sadar di mana sekarang dia berada.


"Ini akan saya berikan pada Tata. Teman dekat putra saya."


"Woooow, teman dekat yang sebentar lagi akan merapat, ya, Bu. Merapat sebagai menantu."


Ibunya William tersenyum canggung. Dia diam-diam melirik pada Chana. Iksia menyadari hal itu.


"Chana, dari mana gaun ini?" tanya Iksia berbisik.


"Ibunya William. Termasuk kalung dan liontin yang aku pakai."




Ikisa menahan nafas. Dia melirik suaminya, Arzhan.


Arzhan membalas lirikan istrinya dengan rangkulan agar istrinya tenang.


Selesai acara, ibunya William mengadakan acara sendiri. Dia dan teman-temannya melakukan karaoke. Bersuka cita khas para lanjut usia. Bernyanyi menyanyikan lagu lawas. Lagu yang hits pada masanya.


Iksia yang memang sangat doyan makan, merasa sakit perut karena terlalu banyak yang ia masukkan ke dalam perutnya. Dia pun berpamitan pada orang tuanya untuk ke kamar mandi.


Iksia hanya diam mematung di depan cermin toilet. Mengatur nafas yang sesak karena banyaknya makanan membuat oksigen berkurang pada tubuhnya.


Setelah dirasa lega, dia pun lekas keluar.


"Astaga, ya ampun!" Chana mundur beberapa langkah saking terkejutnya melihat seseorang berdiri di depan pintu toilet.

__ADS_1


William berjalan menghampiri Chana, membuat wanita itu mundur dan kembali masuk ke dalam toilet.


"Loh, ini toilet wanita. Kenapa masuk ke sini?" tanya Chana yang melihat William ikut masuk dan mengunci pintunya.


"Sejak kapan kamu kenal dengan ibu saya?"


"Baru sehari."


"Sehari?"


"Kenapa? gak percaya? Bukankah kamu punya cctv akurat bernama Elizer. Tanya saja dia kalau gak percaya."


"Tidak masuk akal."


"Masukin botol aja kalau ke akal gak bisa masuk."


"Dari mana kamu mendapatkan itu?" William menunjuk pakaian dan perhiasan yang Chana pakai.


"Beli di online shop. Why?"


Bugh!


William menonjok pintu kamar mandi dengan kepalan tangannya. Chana yang kaget dan takut pada hal-hal yang bersuara keras, langsung duduk sambil menutup telinganya.


"Saya serius. Dari mana kamu mendapatkan baju dan perhiasan itu, jawab!"


Chana semakin ketakutan saat William membentaknya. Jangankan menjawab, membuka mata saja dia kesulitan.


"Kamu tahu, baju itu, perhiasan itu sama persis dengan yang aku berikan pada ibuku. Perhiasan pertama yang bisa aku beli dengan uangaku. Dress yang kamu pakai itu adalah dress yang pertama kali aku berikan pada ibu di hari ulang tahunnya. Ulang tahun pertamanya seumur hidup!"


Mendengar penuturan William, Chana sadar betapa berharganya apa yang sedang dia pakai saat ini untuk William dan ibunya.


Dengan tubuh yang masih gemetar, dia memberanikan diri untuk berdiri dan menatap William.


"Ini ... ini diberikan oleh ibumu langsung. Dia bilang dia ingin memberikan ini padaku."


Hati Chana terluka begitu dalam saat mendengar ucapan William. Dia menatap William dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Jadi, kamu ingin Tata memakai baju dan perhiasan ini?"


"Ya! Dia lebih layak mendapatkannya."


Tanpa pikir panjang lagi, Chana masuk ke salah satu kamar toilet di sana. Dia melepaskan kalung, liontin dan juga dress itu.


"Berikan ini pada wanita yang lebih layak memakainya." Chana mengulurkan tangannya keluar dengan gaun yang dan perhiasannya.


William terkejut melihat apa yang Chana lakukan.


"Ambilah. Berikan pada Tata. Aku tidak tau jika dress ini begitu berharga sampai wanita hina sepertiku tidak layak memakainya."


Chana....


"Cepatlah ambil tanganku sakit."


Chana menangis tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


William yang kesal merusak cermin kali ini. Dia meninju cermin yang tidak mengerti apa-apa. Tangannya berdarah karena terkena serpihannya. Setelah itu dia langsung keluar meninggalkan Chana yang tidak memakai busana.


Chana sadar dia terlalu lama meninggalkan orang tuanya, dia kembali memakai gaun itu, dan segera keluar menemui keluarganya.


Acara pun selesai, satu per satu tamu berpamitan meninggalkan pesta. Termasuk Tata yang berpamitan dan pergi diantar William. Chana segera memalingkan wajahnya saat tidak sengaja bertemu tatap dengan William.


"Non, ini." Elizer memberikan pesanan Chana. Dia pun kembali ke kamar mandi untuk segera berganti pakaian.


__ADS_1


Begitu Chana kembali, orang tuanya hersn melihat Chana dengan pakaian yang berbeda.


"Sssst." Chana menyimpan telunjuknya di bibir. Menandakan agar Iksia tidak bertanya apapun.


Pun dengan ibunya William. Dia pun merasa heran melihat Chana dengan pakaian lain.


Iksia dan Arzhan pun pamit, sementara Chana masih mengobrol dengan ibunya William.


"Bajunya kenapa ganti, gak nyaman atau gak suka?"


"Bukan, Bu. Tapi saya merasa tidak layak memakainya."


Ibunya William terlihat bingung.


Chana tersenyum.


"Maaf, bukan saya tidak sopan tapi ini saya kembalikan baju dan perhiasannya." Chana memberikan paper bag.


"Chana, ada apa?"


"Bu, jangan salah faham. Meski William pernah menyebut nama saya, atau saya adalah perempuan pertama yang dia ceritakan pada ibu, tapi wanita itu bukan saya, Bu. Ada yang jauh lebih baik dari saya yang pantas memakai gaun ini."


"Maksudnya?"


"Saya kekasihnya Ze, Bu. Bukan William. Pun dengan William, dia memiliki wanita lain yang menemani dia saat ini. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Mohon ibu jangan membenci saya."


Raut kecewa itu terlihat jelas di wajah ibunya William.


"Saya minta maaf, Bu. Tapi ibu harus tahu bukan saya wanita yang panas untuk William." Chana menundukkan kepala, memohon maaf pada ibunya William.


"Chana ... bawalah gaun itu. Itu ibu khusus memberikannya untuk kamu."


"Maaf, Bu. Tapi saya tidak bisa menerimanya karena saya sadar, saya tidak pantas." Chana memberikan paper bag itu pada tangan ibunya William.


"Saya permisi, Bu. Selamat ulang tahun dan semoga ibu selalu ada dalam lindungan Allah."


Chana pun pergi.


Di rumah William



Bu Sari, ibunya William duduk dengan wajah kesalnya. Dia menunggu putranya pulang. Tidak perduli malam sudah sangat larut.


"Bu, sebaiknya ibu tidur saja. Ini sudah sangat malam. Besok kita baru bicara pada Abang."


Sari tidak menjawab. Matanya terus menatap gaun dan perhiasan yang dia simpan di atas meja.


Adiknya William, Nada, beberapa kali mencoba menghubungi kakaknya namun tidak juga diangkat.


"Pak, tolong cari Bang Willi sekarang. Ibu bisa tidak tidur semalaman sampai menunggu anaknya pulang."


"Baik, Nyonya."


Belum sempat pelayan itu keluar, William datang.


Dia bingung melihat semua orang dalam keadaan tegang.


"Ada apa ini?" tanyanya sambil melepaskan jas. Dia akhirnya tau apa yang terjadi saat melihat gaun dan perhiasan itu di atas meja.


"Apa yang kamu lakukan pada Chana?" satu pertanyaan yang akhirnya membuat Sari berbicara setelah lama diam.


"Tidak ada."


"Ibu memberikan gaun dan perhiasan ini karena ibu suka pada Chana. Bukan karena dia wanita yang kamu suka atau tidak. Jika pun kamu menyukai wanita lain, ibu tidak akan memberikan ini pada wanita itu. Ibu hanya akan memberikannya pada Chana. Inget itu."

__ADS_1


Sari yang sejak lama menunggu akhirnya bangun dari sofa menuju kamarnya.


__ADS_2