Promise!

Promise!
Siksaan pada Chana.


__ADS_3

Sakya dan Raga pun segera berlari menuju rumah yang dimaksud oleh pemilik warung dan temannya. Melihat betapa lambatnya dua wanita itu berlari, Raga memberi kode pada anak buahnya agar menggendong kedua wanita itu.


Pemilik warung dan temannya berteriak minta diturunkan. Namun, para anak buah Raga tidak mendengarkan sama sekali dan terus berlari.


Teriakan wanita itu menarik perhatian beberapa warga yang kebetulan sedang ada di sana. Mereka ikut berteriak dan mengatakan jika pemilik warung itu hendak diculik. Mendengar kata culik, para warga yang sedang di dalam rumah ikut keluar.


Suasana pun semakin riuh.


"Itu istrinya Udin mau dibawa ke mana? Woiii, culik!"


"Itu istrinya Udin sama istrinya Marjan diculik!"


Mereka terus berteriak sambil mengejar dari belakang Raga dan rombongan.


Mereka pun berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas. Sisi halaman itu dipagar dengan tinggi hanya sebatas pinggang orang dewasa normal, bukan tinggi Raga dan teman-temannya.


Warga yang kesal berusaha menghakimi Raga dan yang lainnya. Mereka menyeruduk lalu berusaha memukul Raga.


"Woiii, hentikan. Tunggu dulu." Ucapan pemilik warung tidak mereka pedulikan. Warga masih tetap menyerang meski mereka dikalahkan oleh Raga dan anak buahnya.


Perkelahian itu tidak bisa dihindarkan. Raga memerintahkan agar anak buahnya hanya melindungi diri dan tidak menyerang secara brutal.


Perkelahian itu semakin lama semakin tidak terkendali saat warga yang lain ikut datang. Anak buah Raga mau tidak mau melawan dengan sedikit serius demi menjaga diri mereka. Beberapa warga tumbang karena terkena bogem mentah. Ada yang memegang perutnya, ada yang memegang pipinya. Ada juga yang memegang 'masa depan' nya karena tidak sengaja terkenal tendangan.


Kekacauan itu berhenti saat sebuah helikopter berputar di atas mereka.


Anak-anak yang melihat langsung antusias sambil berkata, "Helikopter minta uang."


Ada juga yang berkata, "Helikopter minta robot baja hitam."


Dan masih banyak permintaan anak-anak yang lainnya. Ibu-ibu pun antusias melihat helikopter begitu dekat dengan kepala mereka.

__ADS_1


Tali yang seperti tangga pun jatuh, tidak lama kemudian seseorang turun perlahan dari sana. Dia adalah William.


Melihat bagaimana para William anak-anak kembali berteriak.


"Presiden Amerika datang."


Warga pun berhenti berkelahi dan perhatian mereka teralihkan pada William. Begitu kaki William menginjak tanah, anak- anak langsung menghampiri. Raga dan anak buahnya segera melindungi William.


"Dengarkan semuanya!" Raya berteriak. Warga pun diam.


"Kami di sini hendak masuk ke rumah itu."


"Benar, ternyata istri laki-laki yang tinggal di sini itu bukan istrinya. kata dia itu penculik!"


Warga semakin riuh saat mendengar penjelasan pemilik warung. Sementara itu William dan Sakya tidak membuang waktu lagi dan langsung berlari menerobos pintu pagar. Beberapa warga ikut menerobos masuk. Mereka bersama-sama mendobrak pintu rumah itu.


Di sisi lain, warga ada yang berteriak.


"Itu orangnya datang," teriak salah satu warga menunjuk mobil yang datang.


Tanpa basa-basi lagi, William langsung mendobrak pintu dibantu Sakya dan beberapa warga. Langkah William yang terburu-buru terhenti saat dia sudah masuk di dalam rumah.


"Tunggu! Kalian sebaiknya jangan ikut masuk," ucap William pada warga


"Kenapa?" tanya Sakya.


"Chana tidak dalam keadaan layak untuk dilihat orang banyak."


Sakya langsung mengerti apa maksud William. Benar, di dalam video itu Chana tidak memakai baju.


"Kalau begitu, kamu jangan ikut. Biar aku saja."

__ADS_1


William mengangguk mantap pada Sakya. Beberapa ruangan sudah mereka geledah sebelumnya dan Chana tidak ditemukan. Kini hanya sisa satu pintu yang masih tertutup. Mereka pun yakin Chana ada di dalam ruangan itu.


William menunggu dengan cemas saat Sakya masuk ke dalam.


"Aaaarrghhh!" Sakya berteriak, lalu disusul tangisan histeris. Mendengar itu, William segera masuk.


Pria itu pun sama. Tubuhnya langsung bergetar hebat saat melihat tubuh Chana yang dalam keadaan telanjang dan penuh luka itu berada dalam pelukan Sakya.


William mengambil selimut tipis yang ada di dalam kamar itu dan menutupi tubuh Chana. Dia pun ikut menangis melihat keadaan calon istrinya.


Sakya yang syok berat bahkan tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis dan menjerit karena kesal.


William segera melilit tubuh Chana dengan selimut, lalu dia tutupi tubuh bagian atasnya dengan jas yang dia pakai.


Dia langsung menggendong tubuh Chana keluar, sementara Sakya yang lemas dibopong anak buahnya.


Dengan rahang mengeras dan wajah memerah, William membawa tubuh kekasihnya. Air matanya perlahan menetes.


Tidak hanya luka, rambut indah Chana pun dipangkas sembarangan. Bahkan ada beberapa bagian kepalanya yang pitak.


Pada warga pun ada yang histeris dan menangis sedih melihat keadaan Chana. Meski tubuhnya tertutup, tapi wajah Chana pun dipenuhi luka lebam. Bahkan bibirnya sobek. Pelipisnya terluka seperti bekas sayatan benda tajam seperti silet atau cutter.


Beberapa luka sudah hampir mengering, tapi ada yang masih basah dan mengeluarkan darah. Mungkin baru dilukai tadi pagi atau malam hari.


Kerumunan warga pun perlahan menyibak, memberikan jalan untuk William dengan spontan tanpa diberikan aba-aba. Mereka terlihat sedih dan syok bahwa di desa tempat mereka tinggal, ada sosok gadis yang sedang dianiaya fisik dan mentalnya.


Mobil segera melaju dengan kecepatan tinggi, dikawal oleh polisi yang baru saja tiba setelah ditelpon oleh Raga.


Sakya tidak hentinya menangis, sementara William berusaha menguatkan diri meski sebenarnya dia begitu terpukul melihat keadaan calon istrinya.


William terus mendekap tubuh Chana sambil sesekali mengecup erat kepalanya. Ari mata William menetes membasahi wajah Chana. Gadis itu tidak sadarkan diri. Tubuhnya bau karena tidak tersentuh air sama sekali.

__ADS_1


Yang membuat William semakin murka karena tubuh Chana berbau alkohol. Mungkin pria itu menyiram Chana dengan minuman.


Aku bersumpah akan membuat dia menderita karena telah menyentuh tubuh kekasihku. Sumpah William dalam hatinya.


__ADS_2