Promise!

Promise!
Scandal


__ADS_3

Benci itu bisa muncul dalam hati kita setelah kita merasa tersakiti atau terhina. Besar atau kecil, dia akan muncul jika kita diremehkan oleh orang lain.


Itulah yang dirasakan Chana saat ini. Dia merasa kesal dan benci pada William. Rasa sakit hatinya karena masalah gaun itu membuat dia menghapus nomor William dari ponselnya. Mengirim kembali semua barang yang telah dia terima dari William.


Ibunya William hanya diam berdiri, menatap kesal saat anak raga mengantarkan semuanya ke kediaman mereka.


Wanita itu marah pada kelakuan anaknya yang membuat Chana bersedih dan marah.


"Apa yang William perbuat sebenarnya hingga Chana begitu kesal?" gumam Sari.


Raga yang mendengar gumaman itu pun menjawab, karena dia tahu apa yang terjadi dari Chana.


"Tuan William mengatakan kalau gaun itu lebih layak dipakai Tata, Bu."


"Apa?" tanyanya sambil menoleh pada Raga.


Tidak ada orang yang suka dibandingkan dengan siapapun atau dengan apapun. Rasanya seperti kita terlihat buruk di mata seseorang.


"Jangan marah pada Tuan William, Bu. Ini semua Chana yang salah. Tuan William hanya tidak suka karena Chana kembali bersama Ze. Mungkin dia cemburu."


"Apa Chana mencintai artis itu?"


"Kalau itu saya kurang faham, hanya saja mereka memang menjalin hubungan."


Rasa marah itu kini perlahan berubah menjadi rasa iba. Sari merasa kasian pada William yang ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan.


Setelah Raga pergi, asisten pribadi Sari datang menghampiri dengan membawa i-pad.


Mata wanita itu membelalak saat melihat isi video yang diberikan oleh asistennya.


Sementara di tempat lain, keluarga Chana dan Aya sedang makan siang di sebuah restoran.


"Astaga!" Aya memekik sambil melihat ponselnya.


"Ada apa, Aya?" tanya Iksia.


"Ini, Tante." Aya memberikan ponsel miliknya pada Iksia. Reaksi Iksia sungguh mengejutkan. Dia bergetar sambil menitikkan air mata.


Arzhan dan yang lainnya saling melirik.


"Itu video Kak Chana sedang di club malam bareng Ze."


Sakya dan Chana terkejut. Kejadian yang sudah lama terjadi tiba-tiba muncul di internet. Orang tua Chana yang tidak tahu detail kejadian waktu itu, kini mengetahuinya. Rahasia yang selama ini Sakya dan Chana simpan, terbongkar sudah.


"Mom, itu ...."

__ADS_1


Iksia tidak berkata apa-apa, dia mengambil tas dan pergi meninggalkan acara makan siangnya.


"Daddy pergi dulu. Sakya jaga adikmu."


Chana seperti tidak mendapatkan tenaga saat melihat video itu. Video yang menunjukkan dirinya tengah minum bersama Ze dan teman-temannya. Bukan hanya itu, video itu memperlihatkan teman-teman Ze yang melakukan aksi tidak senonoh.


Chana memang tidak melakukan apa-apa, hanya saja hukum alam itu tidak pernah meninggikan manusia di dalamnya. Pribahasa mengatakan, kita akan terkenal tergantung dengan siapa kita bergaul.


Pergaulan buruk teman Ze, berdampak juga oada image Chana.


Pemberitaan pun mulai merebak. Nama besar keluarga Chana terbawa. Perusahaan pun ikut kena dampaknya. Bukan hanya itu, nama Iksia menjadi tercoreng karena dia dianggap tidak bisa mendidik anaknya. Memakai hijab tapi memiliki putri yang liar. Setidaknya itu yang dikatakan media.


Perusahaan Iksia mendapatkan kerugian besar karena klien dan rekan kerja banyak yang memundurkan diri.


"Kami tidak bisa melanjutkan kerja sama kita. Image anak anda sangat buruk, bagaimana kita bisa menjual produk kita jika image kita sudah hancur. Maaf, tapi kami akan membatalkan kontrak kerja kita."


Satu per satu rekan kerja mulai mundur. Tentu saja itu merupakan berita yang sangat buruk. Investor pergi, sementara produk sudah mulai diproduksi. Penjualan menurun drastis.


"Bagaimana ini, Mom? Kalau seperti ini terus, perusahaan akan pailit. Kita akan bangkrut. Jangankan untuk menghidupi anak asuhanku, karyawan saja terancam tidak bisa kita gaji di bulan depan."


Iksia meremas kepalanya yang terasa sakit. Tidak hanya masalah perusahaan, dia juga terkena mentalnya akibat nyinyiran beberapa teman arisannya.


"Namanya juga anak hasil zinah, ya gak akan jauh beda lah sikapnya."


Iksia tidak tahan dengan semua beban pikiran yang dia terima dan itu membuat dia kembali jatuh tidak berdaya. Dia kembali mendapatkan perawatan di rumah sakit.


"Jangan dulu."


"Kenapa, Dad? Aku mau ketemu Mom."


"Untuk saat ini lebih baik kamu menjauh dulu saja. Beri dia waktu untuk menenangkan dirinya. Chana, perusahaan terancam bangkrut karena investor banyak yang memundurkan diri. Mom kamu sangat tertekan."


"Apa?"


"Rumah kita akan disita pihak bank jika perusahaan sampai kolaps."


"Dad, tapi aku hanya datang ke sana tanpa melakukan apa-apa. Yang aku minum pun hanya soda bukan alkohol."


Arzhan mengajak Chana duduk.


"Sayang, Mom bukan tidak percaya sama kamu. Daddy, Sakya, Om Fateeh, dan semuanya percaya sama kamu. Kamu tahu alasan Mom tidak suka kamu bergaul dengan Ze?"


Chana menggelengkan kepala.


"Karena ini. Gerak-gerik kamu akan dipantau wartawan. Hidup kamu akan dipublikasikan dan yang paling ditakutkan adalah hal sekarang yang sedang terjadi. Kamu kena dampak dari ulah mereka."

__ADS_1


"Dad, aku minta maaf."


"Nak, percaya lah. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Mom tegas dan terlihat galak karena itu semua demi kebaikan kamu. Kami ingin melindungi kamu dari semua bahaya yang ada."


Hati Chana semakin sakit mendengar pernyataan daddy-nya.


Di lain waktu, Chana bertemu dengan Ze setelah beberapa hari ini Ze menghilang entah ke mana.


"Kenapa video ini sampai ada? Siapa yang merekam ini semua?"


"Ini video dari hp temenku, Sayang. Tapi dia hanya menyimpan untuk koleksi pribadi."


"Lalu kenapa sampai tersebar ke mana-mana? Ze, perusahaanku akan tumbang karena ini. Ibuku syok dan sekarang di rumah sakit!"


Untuk pertama kalinya seumur hidup Chana berteriak pada seseorang.


"Kamu pikir kamu saja yang mengalami kerugian? Aku juga! Aku kehilangan beberapa proyek akibat kejadian ini, tau!"


Ze kembali membentak. Tentu saja itu membuat Chana syok karena dia belum pernah dibentak seseorang sebelumnya.


"Temenku bilang hp nya hilang saat diambil seseorang. Aku yakin dia orang yang ingin membuat aku, atau bisa saja ingin membuat kamu jatuh."


"Aku? Siapa yang ingin membuat aku jatuh? Aku hanya manusia biasa. Aku yakin ini ulah hatters kamu. Kamu itu artis terkenal, selain fans musuh kamu juga banyak."


"kamu nyalahin aku, hah!"


Chana mundur beberapa langkah saat Ze mengangkat tangannya hendak menampar Chana.


"Jika kamu datang ke sini hanya untuk mengajak aku bertengkar, enyah lah!"


"Ze ...."


"Pergi dari sini sekarang juga. Aku pusing."


"Bagaimana denganku, Ze? Bagaimana dengan ibu dan perusahaan aku? Rumahku akan disita bank."


"Apa aku harus menjadi super Hero yang menyelamatkan keluarga kamu? Hei, Chana ... aku sendiri sedang bingung karena karirku rusak. Sudahlah, pergi dari sini sekarang juga."


"Oh, segini saja cinta kamu untuk aku, Ze?"


"Persetan dengan cinta. Karirku hancur, mana mungkin aku masih memikirkan cinta. Sudahlah, Chana. Pergilah aku mohon padamu."


Tubuh Chana hampir terjatuh karena lemas. Dia tidak menyangka Ze akan seperti ini. Dia yang selalu berusaha percaya pada Ze, mendapatkan balasan yang diluar dugaan.


Chana datang bukan untuk meminta ganti rugi dari Ze. Dia juga sadar jika itu tidak mungkin. Chana hanya ingin Ze menenangkan dirinya. Memberikan keyakinan dan semangat kepadanya yang sedang terpuruk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2