Promise!

Promise!
Someone


__ADS_3

Hari ini Chana pergi ke cafe tempat Ela bekerja. Sejak banyaknya masalah yang terjadi, Chana sangat jarang menemui gadis itu. Ela, anak sahabat Iksia, Hilda.


"Hai." Ela melambaikan tangan. Dia sepertinya sedang sibuk melayani beberapa customer. Setelah membalas lambaian tangan Ela, Chana duduk di kursi yang persis ada di samping kaca. Setiap datang ke sana, Chana suka sekali duduk di kursi itu. Terutama saat hujan turun.


Pesanan Chana datang.



Sambil menunggu Ela, Chana mengisi perutnya terlebih dahulu, hingga makanan yang dia pesan menyisakan setengah porsi. Ela datang.


"Duh, sorry lama. Hari ini banyak banget yang datang."


"Kerja aja dulu. Kelar jam berapa?"


"Setengah jam lagi, sih."


"Aku tunggu kok. Kerja dulu gih, nanti kita ngobrol-ngobrolnya biar santai."


"Ya udah, aku tinggal lagi ya."


Chana tersenyum melihat Ela yang selalu saja ceria meski dia tidak bisa menutupi rasa lelahnya. Rasa kagum itu sering menghampiri pada gadis muda yang umurnya lebih muda dari Chana. Terus saja, Chana lahir bahkan saat orang tua Ela masih sekolah.


Tiga puluh menit berlalu, Ela datang dengan pakaian santainya. Tidak seperti tadi, datang menghampiri dengan baju kerja.


"Mau pesan?"


"Boleh, deh." Ela memesan makanan dan minuman.



Saat pesan makanan di sini, Ela selalu memesan menu utama, katanya biar kenyang sampai sore. Jadi dia tidak perlu lagi makan di rumah. Lebih baik jatah makanannya dia berikan pada adiknya.


Ela memang tidak miskin, tapi dia hidup pas-pasan. Hanya pas untuk makan dan biaya hidup sehari-hari. Jika ingin membeli sesuatu, dia akan lembur bekerja.


"Habis makan, kita belanja."


"Buat apa?"


"Aku butuh kaos untuk tidur. Temenin, ya."


"Oke."


Chana selalu mencari alasan agar Ela bisa menerima pemberiannya. Jika sengaja memberi begitu saja, dia akan menolak.


Sesampainya di mall, mereka pergi mencari pakaian. Chana sengaja memilih kaos yang bisa kembaran dengan Ela, jika tidak pakai alasan itu, Ela pasti tidak akan mau menerima pemberiannya.


Ponsel Chana berbunyi, William menelpon.


"Hallo, Beb. Kenapa?"


"Di mana?"


"Lagi beli baju sama Ela. Ada apa?"


"Oh, beli baju?" tanya William dengan nada menyindir.


"Ooopps, maaf ya, Beb. Aku lupa mau minta izin. He he he."

__ADS_1


"Iya, gak apa-apa kok. Lagi pula anak buah Elizer mengawasi kamu. Tenang, dia berpakaian santai kok, jadi gak akan mencolok."


"Oh, oke deh. Kamu di mana, Beb? Udah makan belum? Nanti sore jadi mau ke rumah?"


"Aku di kantor, baru aja makan siang dengan klien. Emmm, sore ini aku ada meeting. Mungkin agak malem baru bisa ke rumah."


"Yaaah, orang tua aku udah tidur dong kalau malem."


"Aku mampir cuma mau ketemu kamu aja sebentar. Gak masuk, cuma di depan aja. Soalnya besok pagi sebelum subuh harus pergi ke luar kota."


"Sibuk banget, bos."


"Jangan ngambek. Aku sedang cari biaya buat lamaran kita nanti."


"Tadi meeting sama siapa? Pasti cewek."


"Nanti Elizer kirim kamu videonya. Ya sudah, selamat shoping, Honey. Jangan pulang malem-malem."


"Hehe. Bye, Beb."


"Siapa? Pak William?"


"Jangan pak, sih, panggilnya. Berasa tua banget."


"Lah, emang udah tua kan?" ledek Ela.


"Mulai, mulai."


Ela tertawa.


"Udah dapet belum? Itu juga bagus kayaknya. Kita ambil juga, ya."


"Gak apa-apa, itu masih kurang. Kita belanja sebulan sekali aja enggak. Mumpung aku pegang kartunya William. Kita bisa puas belanja apa aja."


"Ish, dia marah nanti."


"Mana berani. Dia itu gak akan marah sama aku, percaya. Jangankan baju, aku beli mobil atau motor aja dia gak akan komplen. Mau sekalian aku beliin kamu mobil aja gak? Ada kok yang cuma 200 jutaan gitu."


"Cuma? Bagi kamu cuma, bagi aku?"


"Ya udah, kamu mau apa dong? Gak ada yang gak akan aku kasih sama kamu. Kamunya aja yang suka nolak. Gak nganggap aku sama Mom itu keluarga."


"Bukan gitu, aku cuma .... awas!"


Ela hendak menarik tangan Chana, namun sudah terlambat. Dia yang jalan mundur demi mengobrol dengan Ela, akhirnya menabrak seseorang.


"Ma-maaf, saya gak sengaja" ucap Chana pada seorang laki-laki.


"Enggak apa-apa, kok."


"Saya yang salah karena tadi jalannya mundur."


Pria itu hanya tersenyum penuh arti melihat Chana. Membuat Chana merasa canggung dan tidak nyaman.


"Saya yakin kita akan bertemu lagi nanti. Tentu saja di waktu yang sangat baik dan menyenangkan."


Pria itu pun pergi.

__ADS_1


Chana melihat beberapa orang yang sama sejak tadi, itu pasti anak buah Elizer pikir Chana.


Dua orang yang mengikuti Chana berjalan hendak menghampiri laki-laki tadi, namun Chana memberikan isyarat mata agar mereka tetap diam.


"Apaan, sih, maksud cowok tadi. Gak jelas."


"Dia suka sama kamu kali," ucap Ela.


"Cari mati kalau dia suka sama aku."


"Bisa dijadikan rendang sama Pak William, ya 'kan?"


"Pak, pak, pak."


"Om?"


"Serah, deh, serah!"


Mereka tertawa sambil berjalan menuju kasir. Selesai membeli baju untuk mereka, Chana pergi ke toko lain membeli pakai untuk Hilda dan adiknya Ela.


"Yakin ini saja? Kita gak beli bahan makanan? Beras, minyak, gila atau apa gitu."


"Kemarin udah dikirim sama Tante Iksia. Dia kirim lewat kurir, kurirnya maksa ngasih, katanya kalau gak diterima mau dibuang. Itu pasti perintah Mom kamu."


"Ela, kami memberi tidak punya maksud apa-apa. Itu hanya sebagai bentuk kasih sayang aku dan Mom untuk kalian. Mohon jangan tersinggung."


"Bukan tersinggung, aku hanya tidak enak hati dan takut menjadi beban untuk kalian."


Chana memeluk Ela.


"Kamu itu adik bagiku. Tidak ada adik yang menjadi beban kakaknya. Ngerti?"


Ela mengangguk pelan dalam pelukan Chana.


"Aku gak bisa nganter kamu. Pulang naik taksi aja, ya."


"Iya, gak apa-apa kok. Sampai ketemu nanti, ya. Salam buat Tante Iksia."


"Minggu depan jangan lupa datang."


"Pasti."


Chana melambaikan tangan pada Ela yang sudah pergi dengan taksi.


"Paman, aku di depan. Ke sini, ya." Chana menelpon Raga.


"Saya di rumah, Non."


"Rumah? Loh, aku naik taksi gitu?"


"Kamu pulang denganku."


Chana menoleh ke belakang, ke arah sumber suara. Melihat siapa yang berbicara, Chana segera memasukkan ponselnya dan berlari ke arah William.


"Ayo kita pulang. Ibu kamu menunggu kita untuk makan malam."


"Katanya gak bisa datang karena sibuk."

__ADS_1


"Oh, iya. Aku lupa, ya sudah aku balik ke kantor lagi."


"Eeeeeh, jangan!" Chana menarik tangan William. Pria itu tertawa sambil menarik tubuh Chana ke dalam pelukannya.


__ADS_2