Promise!

Promise!
Secangkir cokelat panas


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan? Emm, maksudku kita baru saja kenal dan itupun saat menikah. Aku tidak tahu siapa kamu, dan semua yang berkaitan dengan hidup kamu. Aku bingung harus berbuat apa sekarang."


"Tapi aku tahu semua tentang kamu."


Sakya menatap istrinya.


"Aku tahu apa yang kamu sukai, aku tahu apa yang kamu benci. Aku tahu kamu alergi udang, aku tahu kamu adalah orang yang tepat waktu. Aku tahu kamu tidak bisa minum kopi setelah pukul 5 sore."


Sakya menatap Tata tidak percaya.


"Aku Tata, sodara William. Lebih tepatnya aku adalah anak bibinya. Ibu dan ayahku meninggal sejak kecil, untuk itulah aku ikut William ke mana pun. Aku suka warna hitam dan putih. Tidak memiliki alergi apa-apa dan tidak suka minum kopi. Aku paling suka makanan pedas. Itulah aku. Jika mau bertanya, silakan."


Sakya kembali diam. Dia sedetik heran dengan sikap istrinya yang ternyata sangat cerewet. Tentu saja orang tidak akan menyangka jika hanya melihat wajahnya saja. Tata terlihat jutek.


"Emm, oke. Tapi bagaimana kita akan tidur?"


"Menutup mata."


"Aku tahu, maksudnya adalah ...."


"Kita bisa tidur satu ranjang. Toh kita tidur jadi tidak akan bisa ngapain-ngapain, kan tidur."


"Kamu benar."


"Ya sudah, sini aku bantu buka pakaian kamu." Tata menghampiri Sakya dan berusaha membantunya mengganti pakaian.


"Eh, eh, mau ngapain? Aku bisa buka baju sendiri kok. Sudah, tidak perlu kamu bantu."


"Bu Sari bilang aku harus melakukannya. Aku harus membantu kamu mengganti pakaian, membuka sepatu, menyiapkan makanan untuk kamu, dan menyiapkan pakaian kerja. Aku harus melayani kamu dengan baik."


Saya tertawa canggung.


"Tidak perlu. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Lebih baik, tidak usah. Aku akan merasa canggung nantinya. Jadi kita lakukan saja aktifitas masing-masing."


"Baiklah. Aku buatkan cokelat hangat saja, ya. Tunggu sebentar."


Tata pergi meninggalkan kamarnya menuju dapur id lantai satu. Saat sedang berjalan, dia tidak sengaja bertemu Chana yang sedang duduk menonton televisi di lantai dua, di depan kamarnya.


"Mau ke mana, Kak?" tanya Chana.


"Mau bikin cokelat panas."


"Ngapain ke bawah?"


"Mau ke dapur."


"Gak usah capek-capek ke bawah, dapur ini juga ada kok. Bikin aja di sini."


"Beneran? Syukurlah kalau ada. Haha, maklum baru pertama kali tinggal di sini jadi gak tau apa-apa."


"Wajar, kok. Itu cokelatnya ada di atas. Cangkirnya ada di samping basah sebelah kanan. Sendoknya ambil di laci yang deket microwave."

__ADS_1


"Oh, makasih, ya."


Tata mulai menyalakan kompor untuk memasak air. Dia kemudian mengambil cokelat dan cangkir.


Chana memperhatikan Tata yang sejak tadi terus tersenyum. Dia sepertinya begitu senang membuat cokelat untuk Sakya.


Aku pikir dia kekasih William, eh, ternyata malah jadi kakak ipar aku. Ck ck ck!


"Ini satu untuk kamu." Tata memberikan cangkir yang isinya cokelat panas untuk Chana.


"Eh, gak usah repot-repot, Kak."


"Udah terlanjur dibikin, minum, ya."


"He-em. Makasih, loh."


"Aku ke atas dulu."


Chana masih menatap Tata hingga wanita itu menghilang dia atas anak tangga. Tata yang terlihat jutek ternyata sangat ramah pikir Chana.


Untuk menemani cokelat panas, Chana berdiri mencari camilan. Dia kemudian melanjutkan menonton film kesukaannya. Fast Furious 7.


Chiki yang hendak masuk ke dalam mulut Chana, berhenti di bibir saat melihat Tata kembali turun.


"Kenapa turun lagi?" tanya Chana saat Tata duduk di dekat dia.


"Sepertinya Mas Sakya tidak nyaman aku ada di kamarnya."


"Sudah lah, Chana. Aku gak apa-apa kok. Wajar jika dia merasa begitu, bagaimana pun juga kami baru saling kenal saat di pelaminan."


"Buka cuma dia yang ... tunggu dulu, emangnya kakak gak canggung satu kamar dengan Sakya?"


Tata tersenyum sambil melirik ke bawah.


"Aku justru senang, Chana. Akhirnya aku bisa setiap hari bertemu dengan orang yang aku suka. Itu tuh sangat membahagiakan tau. Aku tidak lagi perlu membuntuti dia hanya karena ingin melihat wajahnya. Tidak lagi merasa gelisah saat hendak tidur karena memikirkan dirinya. Tidak lagi merasa kesal setiap ingin bertemu dengannya tapi tidak bisa."


"Suka? Kakak suka sama Sakya? Sejak kapan?"


"Sebelum dia kenal dengan Aya. Lucu sekali, aku dan William melakukan hal yang sama."


"Maksudnya?"


"Chana, William tidak pernah benar-benar meninggalkan kamu meski dia marah dan kecewa. Dia menari Elizer bukan berarti dia tidak menjaga kamu. Ada pengganti yang terus mengawal kamu ke mana pun."


"Hah?"


"Entah ada apa denganku dan William. Kami bahkan mencintai orang yang cintanya bukan untuk kami."


"Aku pikir kakak pacar William waktu itu," ucap Chana lirih.


"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Tata sambil tersenyum.

__ADS_1


"Rasakan gak suka aja liat kakak deket sama William saat itu. Tapi aku gak tau kenapa? Lagi pula saat itu aku masih berhubungan dengan Ze."


"Kamu cinta sama Ze?"


Chana terlihat berpikir.


"Cinta sama kagum itu beda, Chana. Kamu tanya dan lihat pada hati kamu baik-baik. Jika kamu merasa senang tapi hanya saat bersamanya, dan merasa biasa saja saat jaauh, maka itu bukan cinta. Tapi, jika kamu berada jauh dengannya tapi kamu merasa rindu, kamu merasa senang saat memikirkan kebersamaan dengannya meski sesaat, atau kamu merasa gelisah dan memikirkannya saat mau tidur, itu artinya kamu cinta sama dia."


"Aku merasakan satu hal."


"Apa itu?"


"Aku merasa sedih saat jauh darinya. Aku ingin menangis tapi entah karena apa. Hanya saja saat ingat sama dia, aku merasa ... yaaa sedih aja gitu."


"Kamu pernah merindukan seseorang?"


"Emmm enggak. Maksudnya ingin ketemu gitu?"


"Rindu pada mereka yang kita cintai bukan hanya soal ingin bertemu atau tidak, Chana. Tapi ada perasaan yang begitu kuat sampai kita tidak bisa menjabarkan rasa itu tuh seperti apa."


"Aku gak ngerti, Kak."


"Kalau boleh tau, perasaan sedih saat jauh darinya itu untuk siapa? Ze?"


"Aku saat bersama Ze merasa bahagia, Kak. Terlebih saat banyak mata yang melihat kami berdua. Tatapan mereka yang seolah mengatakan 'duh pengen banget jadi cewek itu' tuh membuat aku merasa bangga aja. Terutama saat mereka bilang bahwa aku beruntung dekat sama Ze. Banyak banget yang ingin berada di posisiku. Bangga tau, Kaaaak." Chana gemas sendiri saat bercerita pada Tata.


Tata tertawa keras sekali. Dia bahkan terpingkal-pingkal di atas sofa.


"Dia kenapa?" tanya Chana heran.


"Chana ... Chana ... segitu doang tafsir kata cinta buat kamu?" tanyanya sambil kembali tertawa.


"Kakak kenapa, sih? Aneh tau! Pantas saja Sakya merasa tidak nyaman, kakak emosinya berubah cepet banget. Masa ketawa gak jelas gitu. Ada lawakan apa, sih?"


"Ku mentertawakan kamu, Chana. Masa bikin orang iri dibilang cinta. Ha ha ha."


"Hiiih, gak jelas banget. Aku ke kamar dulu, ya. Ngeri lama-lama sama kakak."


Chana berdiri hendak kembali ke kamarnya.


"Eh, tunggu sebentar."


"Apaan?"


"Mau keluar sebentar gak?"


"Malem-malem gini? enggak, ah. Kapok keluar malam hari."


"Sebentar, please!"


Chana menatap Tata yang memohon dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2