Promise!

Promise!
Sang mata-mata cinta


__ADS_3

Chana ingin menolak ajakan Tata karena dia takut Tata punya tujuan tidak baik. Belajar dari pengalaman saat bersama Ze. Gara-gara keluar malam hari, dia merelakan bibirnya dijebol oleh Ze.


Mengingat kejadian itu, Chana langsung ingin muntah. Dia berkali-kali mengelap mulutnya dengan tisu. Namun, tiba-tiba dia teringat bagaimana rasanya saat mencium pipi William. Jantungnya tiba-tiba berirama tidak karuan. Dia membayangkannya saja merasa salah tingkah sendiri.


Chana akhirnya mau karena dia mengajak Raga ikut serta. Chana merasa aman.


"Kita mau ke mana, Non?"


"Jalan aja dulu, Paman."


Chana melihat Tata yang terus tersenyum sendiri.


Mobil melaju perlahan. Gerbang tinggi itu perlahan-lahan terbuka.


"Kita mau ke mana?"


"Lihat saja sendiri." Tata menunjuk sebuah mobil yang tiba-tiba menyala lalu pergi dengan cepat.


"Kenal itu mobil siapa?"



"Itu kan ...." Chana menoleh pada Tata mencari kepastian.


Tata mengangguk. "Udah, Paman. Kita kembali lagi ke rumah."


"Hah? Kita cuma keluar gerbang doang, Non?"


Tata tertawa.


"Ya udah lah. Udah terlanjur keluar. Kita nyari angkringan aja, yuk. Kakak gak bisa tidur kan?"


"Boleh."


"Tapi besok saya harus mengantar Nyonya ke bandara."


"Emanga Mom mau ke mana?" tanya Chana.


"Ke Singapura. Katanya ada urusan, mana perginya subuh."


"Kalau begitu saya saja yang menyetir. Gak apa-apa, kok. Ada angkringan yang gak terlalu jauh dari sini."


"Tapi, Non."

__ADS_1


"Gak apa-apa, kok, Paman. Saya bisa jaga diri sendiri. Lagi pula kalau ada Chana, pasti banyak pengawal tak kasat mata yang mengawasi. Ha ha ha."


"Oh, bener-bener. Ya sudah, saya juga tenang kalau gitu. Saya permisi, ya. Dah semuanya. Selamat bersenang-senang."


"Ha ha ha. Makasih, Paman." Tata dan Chana pindah ke jok depan.


Mereka berkeliling di tengah malam kota besar.


"Beda banget ya kalau malam hari. Rasanya terlihat lebih indah. Gak ada kemacetan, gak ada bising kendaraan. Berasa gak di kota."


"Iya, Kak."


Tata tertawa lagi.


"Kak, ada apa lagi, sih?"


"Apa aku bilang, tuh liat ke belakang."


"Apa, sih?" tanya Chana sambil melihat apa yang ada di belakang mobil mereka.


"Ah, ya ampun. Mereka siapa, Kak? Jangan-jangan penjahat lagi. Kita gak bawa Pak Raga. Gimana ini, Kak?"


"Chana ... Chana ... kamu sebenarnya ngerti gak sih obrolan aku sama paman tadi? Parah, sih, kalau kamu gak ngeh."


"Apa, sih?"


Ckiiiiittttt.


Tata menginjak rem dadakan saat sebuah mobil berhenti mendadak di depan mobil mereka.


Chana menganga karena kaget.


"Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Tata pada Chana yang terlihat syok berat.


"Iya, Kak." Chana menjawab dengan gelagapan.


"Dia kenapa, sih?" tanya Tata kesal. Wanita langsung turun dan menghampiri pemilik mobil tersebut. Di belakang mobil Chana, berhenti tiga mobil lainnya. Mereka kompak keluar dari mobilnya masing-masing.


"Yang bener aja bawa mobil, kalau aku sama Chana celaka, mau ngapain? hah?" Tata membentak pemilik mobil yang hanya menurunkan kacanya saja.


"Kamu mau bawa dia ke mana malam-malam gini? Bahaya tau."


"Kita mau makan di angkringan. Tuh kasian Chana sampe syok. Awas minggir! Kalau mau ikut, ya, ayo."

__ADS_1


William turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Chana yang masih terlihat syok.


"Kamu gak apa-apa?" tanya William saat membuka pintu mobil Chana. Dia jongkok di samping Chana.


"Hmmm." Chana mengangguk masih antara sadar tidak. Dia terlihat bingung.


"Ayo ikut denganku."


Chana turun lalu berjalan dengan menggandeng tangan William.


"Pindah ke mobil aku aja."


"Ck. Ogah, yang ada aku jadi obat nyamuk. Aku ikut aja dari belakang."


"Ya sudah."


Mereka pun pergi menuju angkringan yang terkena dan damai saat malam hari.


Setelah pesanan yang sangat banyak itu datang, Tata dan Chana mulai makan. Tidak dengan William yang hanya memerhatikan Chana dari samping.


Tiba-tiba William mengambil sate usus yang ada di depan Tata. Sementara Tata duduk di sisi Chana. Otomatis, William melewati tubuh Chana, dan itu membuat Chana terkesiap saat lagi-lagi kepala William ada di depan wajahnya.


Tata yang melihat ekspresi Chana pun hanya tersenyum.


"Kamu bisa gak, sih, jangan kaya gitu lagi."


"Kaya gitu gimana?" tanya William.


"Kayak tadi."


"Kayak gini maksudnya?" tanya William sambil mendekatkan wajahnya di depan wajah Chana. Chana kembali membeku.


"Isshhh." Tata mendorong wajah William agar menjauh dari Chana.


William terkekeh. Sementara Chana masih diam, sibuk mengendalikan perasaannya, dan nafasnya agar kembali normal.


Setelah selesai makan, Chana dan Tata memutuskan untuk pulang dalam satu mobil bersama, Chana menolak pulang bersama William. Dia tidak ingin terus-terusan dibuat jantungan oleh tingkah William.


"Ya sudah, hati-hati di jalan, ya. Kasih kabar kalau udah sampai." William mengusap pucuk kepala Chana dengan lembut, dan itu membuat Chana merasa ... nyaman. Wajahnya bersemu.


Mobil William melaju meninggalkan Chana dan Tata yang masih berdiri di samping mobil.


Tata melirik Chana sambil tersenyum saat melihat mata gadis itu terus tertuju pada arah mobil William yang kini sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


__ADS_2