
"Chanaaaa ...."
Semua orang seperti sudah tau dari arti teriakan itu. Suara Nyonya rumah yang membangunkan anak gadisnya yang jika tidur seperti orang mati.
Hari ini mereka akan pergi ke luar kota untuk menghadiri undangan pernikahan ayang akan dilaksanakan nanti malam.
Namun, saat semua anggota keluarga sudah siap dan sedang sarapan, tuan putri rumah itu masih asik dengan selimut bulunya.
Pintu digedor beberapa kali tapi tetap saja hasilnya nihil. Chana masih tidak membuka pintu kamarnya.
Arzhan dan Sakya pun sampai turun tangan karena tidak tega melihat Iksia kelelahan berteriak memanggil anaknya.
"Ada yang tidak beres. Tidak mungkin jika Chana tidak bangun sama sekali. Padahal Mom udah teriak begitu kencang."
"Sakya dobrak saja pintunya, Dad takut adik kamu kenapa-kenapa."
Arzhan dan Sakya bersiap untuk mendobrak saat pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri.
Chana muncul dari balik pintu dengan keadaan sudah rapi.
Iksia, Arzhan dan Sakya diam terpana melihat sang putri tidur sudah terbangun.
"Kalian kenapa ribut terus? Berisik tau. Gak sarapan?" tanyanya polos.
Tanpa merasa bersalah dia pergi meninggalkan mereka bertiga untuk sarapan. Chana mengambil sendiri sarapannya.
"Kalau sudah bangun kenapa gak bilang? Kan Mom biar gak teriak-teriak jadinya."
"Ya mommy kenapa harus teriak coba? Kan bisa pelan-pelan banguninnya."
"Dibangunin keras aja gak gerak sama sekali, gimana pelan-pelan." Iksia kembali emosi. Sementara Chana asik sarapan tanpa memperdulikan ibunya sama sekali.
Selesai sarapan, mereka segera menuju bandara agar tidak tertinggal penerbangan.
Begitu masuk pesawat, Chana kembali tidur. Arzhan yang duduk di sebelahnya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Iksia yang melihat kelakuan anaknya terlihat kesal, namun ditenangkan oleh Sakya.
Tiba di kota tujuan, keluarga Arzhan langsung disambut oleh petugas yang dikirim oleh pemilik acara. Mereka dijemput menggunakan mobil pribadi dan dibawa menuju hotel tempat berlangsungnya acara nanti malam.
"Jangan bilang kamu akan tidur lagi di hotel," ucap Iksia memperingatkan.
"Tergantung, Mom. Jika ngantuk ya tidur lagi," jawabnya sambil menyandarkan kepala pada Iksia.
"Nak, kamu itu perempuan, jangan cuma tidur aja. Kamu ngapain gitu untuk mengisi waktu. Kalau gak suka kuliah, kamu bisa melakukan kegiatan lainnya sebagai pengganti. Coba, deh, sesekali kamu main sama Ela."
"Ela sibuk kerja, Mom."
"Nah, dia sibuk kerja, kamu juga cari kesibukan lain dong. Jangan kalah sama Ela."
__ADS_1
"Mom suka sama Ela?"
"Mom sayang sama dia karena dia anak sahabat mom. Suka karena dia baik dan rajin, tapi meski begitu, perasaan mom sama kamu jauh lebih besar daripada apa pun. Chana, mom hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Kalau kamu tidur terus, nanti pas jadi istri mau ngapain? Gak ngurusin suami kamu gitu?"
"Aku mau cari suami yang mau menerima aku apa adanya. Aku si putri tidur harus mendapatkan pangeran yang bisa membuat aku bangun."
Iksia menggelengkan kepala.
Sesampainya di hotel, mereka beristirahat sebentar sebelum makan. Di rasa tubuh sudah memiliki tenaga baru, dan perut sudah tesis. Iksia dan keluarganya bergegas kembali ke kamar untuk di dandani.
Perias yang telah di sediakan oleh pemilik acara.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Mereka selesai berdandan lalu pergi menuju ballroom tempat acara di mulai. Chana dan Iksia tampak cantik dengan gaun putih, sesuai dengan dress code undangan. Black or white.
Iksia menggandeng lengan kembarannya, dan mengikuti orang tuanya dari belakangan.
Seperti biasa, pada orang tua akan saling menyapa dengan para rekanan bisnis dan kenalan mereka. Memperkenalkan anak-anak mereka dengan anak orang lain.
Tujuannya berbeda-beda, ada yang hanya sekedar basa-basi atau ingin 'menawarkan' anak mereka untuk dijadikan menantu. Itulah ajang acara inti pesta sebenarnya. Itulah kenapa selain para tamu undangan, di sana juga banyak anak muda yang berkumpul.
Termasuk....
"Hai." Sakya melambaikan tangan pada seorang gadis imut, Aya.
"Jangan pergi!" bisik Chana.
"Gue sama siapa nanti?"
"Nanti juga pasti akan ada cowok yang nyamperin, kok."
Sakya melepaskan tangan adiknya yang mencengkram kuat. Chana cemberut saat melihat Sakya pergi dengan Aya.
Chana pamit pada orang tuanya untuk mengambil beberapa cemilan yang tersedia. Jika sudah ada di depan makanan, Chana akan anteng tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Eh tau gak pemimpin Elang Shaka Group? Dia datang loh ke sini?"
"Masa? Ih tau gitu aku dandan lebih cantik."
Chana menoleh pada dua wanita muda yang sedang berbincang di sampingnya.
"Udah cantik, kok. Mau didandanin apa lagi?"
"Secara dia itu ganteng banget, duuuh. Gak kebayang kalau aku jadi pacarnya, bangga banget gak sih?"
"Bangga tapi pasti dibenci banyak wanita."
"Wanita yang iri."
Mereka berdua cekikikan.
__ADS_1
Siapa, sih yang mereka bicarakan? Sehebat itu kah? Bisik Chana dalam hati.
Saat sedang menyuapkan potongan cokelat, Chana mendengar suara riuh orang-orang.
"Eh, itu dia datang."
Spontan Chana pun menoleh ke belakang. Di sana orang-orang berebut menyapa pemimpin Elang yang dibicarakan dua wanita tadi.
Chana menggerakkan kepalanya untuk bisa melihat sosok yang menjadi incaran banyak wanita, namun dia tidak melihat apa-apa karena tertutup beberapa orang.
Gadis itu kembali mengambil beberapa makanan dan memasukkannya ke dalam mulut hingga penuh. Karena masih penasaran, dia kembali menoleh ke belakang.
Betapa terkejutnya Chana karena orang yang dibicarakan dua wanita tadi adalah William.
dia? ck ck ck!
William menoleh pada Chana dan mata mereka saling bertemu. Untuk sesaat Chana sempat bingung harus melakukan apa, akan tetapi dia hanya bisa memelototi William dan mulut mengunyah banyak makanan. Setelah itu dia kembali berbalik.
Chana segera mengambil minum, lalu dia seperti teringat sesuatu. Chana langsung berbalik dan kembali melihat William dan beberapa anak buahnya. Namun bukan itu yang ingin Chana pastikan, tapi sosok wanita yang ada di sampingnya.
Dia siapa? Istrinya? beneran isterinya?
Chana mengerjapkan mata beberapa kali.
Dari kejauhan Chana melihat Arzhan melambaikan tangan padanya, meminta agar Chana mendekati ayahnya.
"Ada apa?"
"Ayo kita memberi selamat dulu pada pengantin dan keluarganya."
"Oh, iya. Kakak mana?"
Iksia dan Chana celingukan kekiri dan kanan untuk mencari Sakya. Sakya sedang asik berbincang dengan Aya.
"Heh!" Chana menarik kerah baju Sakya dari belakang. "Ayo pergi, Mom dan Dad nunggu, jangan pacaran mulu."
"Awwww! awwww! lepas dulu, dek."
"Ya udah, ayo."
"Kak, masih marah ya sama aku? Maaf ya."
"Enggak, kok. Aku udah lupa kejadian waktu itu."
"Tapi Kakak sepertinya tidak suka padaku. Setiap bertemu kakak selalu terlihat kesal dan marah pada Kak Sakya, aku merasa kalau sebenarnya kakak sedang marah padaku."
"Oh, maaf kalau kamu merasa seperti itu. Tapi aku dan Sakya memang sering bertengkar di mana pun tanpa memandang tempat."
"Syukurlah kalau begitu."
"Kalau begitu, kami permisi dulu."
Sakya dan Chana berbalik untuk menghampiri orang tuannya. Di saat yang bersamaan Aya memanggil Chana dan melangkah ke depan.
__ADS_1
Kaki saya menginjak ujung gaun Chana, dan itu membuat gaun bagian atas Chana melorot. Chana yang sadar gaunnya melorot langsung menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya.
Sakya yang berada di sampingnya langsung melepaskan jas untuk menutupi tubuh adiknya yang sekarang sedang menunduk sambil menutupi dadanya.